Thursday, November 10, 2016

The Jose Flash Review
Shy Shy Cat

Pertengahan tahun 2016 netizen dikejutkan dengan foto aktris Acha Septriasa bersama Nirina Zubir di Instagram. Di tengah marak film-film Indonesia populer di awal era 2000-an yang bereuni, tentu ini menimbulkan spekulasi akan adanya follow up dari film roman karya Hanni R. Saputra rilisan tahun 2006 alias sepuluh tahun lalu, Heart yang melambungkan nama Acha Septriasa dan mantan pasangannya, Irwansyah. Ternyata dugaan itu salah. Acha dan Nirina memang kembali dipertemukan dalam satu layar, tapi untuk sebuah film komedi romantic baru berjudul Shy Shy Cat (SSC). Ini juga bukan remake dari film komedi romantis keluaran 1980, Malu-Malu Kucing yang dibintangi Mutia Datau dan Herman Felani.  Disutradarai Monty Tiwa yang termasuk sangat berpengalaman di genrenya, dan naskah yang disusun oleh Monty bersama Adhitya Mulya (Jomblo, Test Pack: You Are My Baby, dan Sabtu Bersama Bapak), daya tarik utamanya adalah trio Nirina-Acha dan Tika Bravani yang karirnya akhir-akhir ini kian melambung.
Mira yang bekerja sebagai banker sukses di Jakarta baru saja menginjak usia 30 tahun. Bukannya bahagia karena punya karir yang sukses dan sahabat-sahabat ‘nyentrik’ tapi saling memahami; Jessy Bomb, aktris esek-esek yang merasa insecure karena karirnya stagnan, dan Umi, perancang busana yang sering diserang reaksi depresi berlebihan, ia justru gelisah mengingat nazar ke orang tuanya ketika meninggalkan kampung halamannya, Desa Sindang Barang. Kala itu Mira setuju untuk pulang kampung dan menjalani perjodohan dengan Otoy, anak Pak Haji jika sampai usia 30 tahun belum juga menemukan jodoh di kota. Dalam ingatan Mira, Otoy adalah sosok mesum yang menyebalkan. Siasat pun disusun oleh Jessy Bomb dan Umi yang berniat menggoda Otoy supaya image-nya buruk di depan kedua orang tua Mira ketika ketiganya mengunjungi Desa Sindang Barang. Ternyata Otoy yang sekarang jauh berbeda. Selain tampan, kalem, intelektual, juga punya pengaruh besar dalam pembangunan Desa Sindang Barang menjadi lebih modern. Jessy Bomb dan Umi malah benar-benar bersaing untuk menarik perhatian Otoy. Sementara Mira semakin sebal dengan Otoy karena Sang Abah berniat mewariskan padepokan silat miliknya ke Otoy. Persahabatan antara Mira, Jessy, dan Umi terancam retak.
Menggabungkan tema psikologis/sosiokultural tentang thirty-something crisis dengan woman friendship, SSC punya potensi yang sangat besar sebagai sebuah komedi romantis. Apalagi ternyata ketiga aktris ini berhasil melakoni peran masing-masing dengan ‘pecah’ dan gokil dengan keunikannya sendiri, terutama Jessy Bomb dan Umi. Sayangnya, Mira yang seharusnya menjadi karakter utama dituliskan terlalu ‘biasa’, tanpa perkembangan karkter yang cukup (bahkan karakter Inul yang tergolong karakter pendukung nomer sekian, in the end masih lebih berkesan bagi saya) dan kurang simpatik, sehingga terasa kalah pesona dibandingkan Jessy Bomb dan Umi.
Namun faktor penghambat lancarnya laju plot SSC adalah terlalu banyaknya sub-plot yang berusaha dijejalkan ke dalam satu paket. Andaikan saja cerita berfokus pada struktur plot: persahabatan-perjodohan-persaingan-konklusi yang memuaskan semua pihak dan politically correct, mungkin SSC bakal menjadi sebuah komedi satir psikologis/sosiokultural yang tak hanya menggelitik, tapi juga solid dalam menyampaikan value-value-nya. Faktanya, dijejalkan pula sub-plot tentang konflik padepokan silat, konflik batin Mira yang serba egois, pembangunan desa, sampai fenomena bayar hutang dengan pernikahan. Bukannya saling mendukung, sub-plot ini justru membuat plot utama tentang persaingan dalam mendapatkan perhatian dari Otoy sempat terasa tenggelam sebelum akhirnya terangkat lagi. Akhirnya secara keseluruhan, SSC terasa terlalu panjang, bertele-tele, dan poin utamanya pun menjadi samar.
Untuk urusan humor, Adhitya-Monty termasuk berhasil mendesain karakter yang memang sudah berhasil memancing tawa. Apalagi ternyata dibawakan dengan sangat baik oleh para aktor-aktris-nya, yang konon lebih banyak berimprovisasi. Tak hanya untuk karakter-karakter utamanya, tapi bahkan karakter pendukung seperti Asep yang benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memancing kejadian-kejadian kocak.
Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, Nirina Zubir mengisi peran Mira yang sayangnya ditulis dengan sangat ‘biasa’, tanpa perkembangan karakter yang terasa penting, dan kurang mampu menarik simpati penonton. Nirina masih tampak berusaha menunjukkan dilema-dilema yang dipikul karakternya, terutama lewat ekspresi wajah. Sayangnya, itu belum cukup untuk membuat karakternya terasa lebih stand-out. Acha Septriasa sebagai Jessy Bomb menjadi daya tarik utama yang mengalihkan perhatian penonton. Aura karakter yang ‘nakal’, sensual, tapi sekaligus lugu berhasil dibawakannya dengan begitu hidup, convincing, sekaligus mengundang tawa. Tika Bravani sebagai Umi pun masih mampu memancing tawa lewat gesture dan reaksi-reaksi ekspresinya. Fedi Nuril masih membawakan peran tipikalnya lewat karakter Otoy, pria kalem dan baik-baik. Titi Kamal sebagai Inul surprisingly menjadi performance karakter serius yang justru paling bisa mengundang simpati penonton.
Soleh Solihun sebagai Asep yang dimanfaatkan sebagai karakter pemancing suasana-suasana kocak juga berhasil menjalankan peran sesuai tujuannya. Pasangan Budi Dalton dan Fitria Sechan sebagai ayah dan ibu Mira bak mengulang peran serupa di Ngenest (sebagai mama-papa Meira). Sementara kemunculan para pendukung berikutnya, seperti Iszur Muchtar, Dwi Sasono, Tio Pakusadewo, Juwita Bahar, Adelia Rasya, Poppy Sovia, Oon Project Pop, Ikang Sulung, dan Bella Graceva cukup noticeable.
Sinematografi Rollie Markiano mungkin tak memberikan sesuatu yang istimewa, tapi lebih dari cukup untuk menyampaikan ceritanya dengan jelas. Agak FTV-ish dan bahkan beberapa shot aerial dengan drone masih terlihat pecah-pecah, tapi setidaknya keindahan alam pedesaan dan gimmick-gimmick modernisasinya masih cukup bisa memanjakan mata. Editing yang melibatkan Wawan I Wibowo, Cesa David Luckmansyah, dan Artopo P. Setyawan terlihat berupaya menjaga pace dan comedic-timing-nya seefektif mungkin lewat J-cut dan L-cut yang bertebaran di hampir sepanjang film. Penata music dari Ganden Bramanto cukup menarik dengan perpaduan musik tradisional Sunda dan koplo.
Sebagai produk pure-entertainment, SSC masih mampu menjadi tontonan yang menggelitik dan menghibur, terutama lewat penampilan aktor-aktris-nya. Ada potensi konsep cerita dengan value-value yang bold di balik kemasan komedi satir sosialnya. Sayang jejalan-jejalan sub-plot yang terlalu banyak justru ‘mencemari’ maksud dan tujuan tersebut. So, nikmati saja SSC as it was. A pure entertainment that will make you laugh here and there.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates