Wednesday, November 9, 2016

The Jose Flash Review
Shivaay

Selain SRK, nama Ajay Devgn di peta perfilman Bollywood juga tak kalah populer. Sejak 1991, suami dari aktris Kajol ini sudah membintangi lebih dari seratus judul. Tak hanya puas menjadi aktor, Devgn pun merambah bangku penyutradaraan yang dilakoninya pertama kali lewat U Me Aur Hum (2008) di bawah bendera Ajay Devgn Ffilms. Salah satu ambisinya adalah membuat film aksi yang sudah direncanakannya sejak lama tapi harus dipending karena over-budget. Setelah mengalami perjalanan yang cukup berliku, proyek yang diberi tajuk Shivaay ini akhirnya siap rilis bertepatan dengan perayaan Diwali tahun 2016, head to head dengan film terbaru Karan Johar, Ae Dil Hai Mushkil. Dengan bekal trailer yang menjanjikan adegan-adegan aksi mendebarkan dan money-shot, Shivaay dengan mudah mengundang rasa penasaran untuk mengalaminya sendiri di layar lebar.
Seorang pemandu pendakian Himalaya, Shivaay, selama ini dikenal penyendiri dan lebih sering sinis. Pandangannya terhadap orang lain berubah ketika bertemu salah satu turisnya yang berasal dari Bulgaria tapi fasih berbahasa Hindi, Olga. Pasca penyelamatan dari bencana longsor, keduanya kian dekat hingga Olga hamil. Konflik terjadi karena Shivaay ingin mempertahankan bayinya, sementara Olga lebih memilih menggugurkannya karena ia harus kembali ke Bulgaria dan tak mau tinggal di India. Perjanjian pun dibuat, setelah melahirkan, Olga kembali ke negaranya sementara sang putri yang diberi nama Gaura, tinggal bersama Shivaay.
Ketika menginjak usia delapan tahun, Gaura tak sengaja menemukan surat berisi rahasia sang ibu kandung yang selama ini dianggap sudah meninggal dunia. Gaura menuntut Shivaay untuk pergi ke Bulgaria menemui sang ibu. Sesampai di Bulgaria, ujian berikutnya menanti. Gaura diculik sindikat human trafficking internasional. Perbedaan ciri fisik ras antara Gaura dan Shivaay membuat pihak kepolisian meragukan status ayah-anak dari mereka berdua. Shivaay tak punya pilihan lain selain memburu sendiri pelaku penculikan Gaura, meski beresiko menjadi buronan polisi Bulgaria bahkan mungkin mengancam nyawanya.
Dari sinopsis, Shivaay seperti perpaduan antara Taken, The Fugitive, dan sedikit Everest. Kendati demikian, pertalian hubungan (terutama secara emosional) mendapatkan porsi yang terbesar. Bagusnya, Shivaay berhasil menyuguhkannya lewat beberapa momen yang memang menyentuh dan menggugah. Di lain kesempatan, kekuatan Shivaay sebagai sebuah action tanpa ampun, intens, dan brutal juga tak kalah membelalakkan mata. Terkesan egois dan mengorbankan banyak pihak tak berdosa demi memuluskan tujuan sang protagonis, mungkin bisa menghilangkan simpati penonton. Namun dengan konsep nama Shivaay berasal dari Dewa Shiva yang bisa ‘menghancurkan’ pada kondisi-kondisi tertentu, maka diharapkan penonton bisa ‘memaklumi’. As for me, dengan meyakinkan diri bahwa ini hanya film yang dibuat untuk bersenang-senang semata, maka aspek moralitas tersebut bisa saya kesampingkan sementara.
Sayangnya, Shivaay tampaknya terlena untuk mengulur-ulur cerita sehingga terasa begitu melelahkan ketika durasi sudah menginjak dua sampai dua setengah jam. Lika-liku menemukan posisi terpuncak dari sindikat perdagangan manusia terasa terlalu berbelit-belit. Memang pada akhirnya memberi kesempatan untuk lebih banyak adegan aksi, tapi nyatanya upaya itu masih belum mampu mengangkat gairah penonton untuk mengikuti arah plot lebih lanjut. Hingga akhirnya klimaks hubungan antara Shivaay dan Gaura yang seharusnya bisa membuat emosi penonton memuncak harus lewat begitu saja. Durasi yang mencapai 169 menit memang akhirnya terasa begitu melelahkan. In my personal opinion, andai saja durasinya dipangkas menjadi dua jam saja, tanpa revealing sindikat yang berbelit-belit, Shivaay bakal jauh lebih asyik untuk diikuti.
Ajay Devgn sebagai Shivaay jelas punya kharisma yang begitu kuat sebagai lead. Adegan-adegan aksi brutal, stunt nekad, sekaligus melodrama emosional ketika berhadapan dengan Abigail Eames (Gaura) maupun Erika Kaar (Olga) berhasil dilakoninya dengan cukup maksimal. Begitu juga amarah terhadap kondisi yang menghimpitnya yang mampu membuat penonton ikut terenyuh. Abigail Eames sebagai Gaura pun menjadi salah satu daya tarik utama yang mustahil terabaikan. Meski harus menghidupkan peran gadis bisu, ia berhasil menampilkan segala emosi dengan tepat. Sayyeshaa Saigal sebagai Anushka mungkin tak lebih dari sekedar pemanis dengan beberapa porsi penting, tapi lebih dari cukup untuk menarik perhatian penonton. Di deretan peran antagonis, Swen Raschka sebagai Ivanovich dan Miroslav Pashov sebagai Ustinov tampil cukup membekas meski punya porsi yang sebenarnya tak begitu banyak.
Aseem Bajaj menawarkan sinematografi yang serba megah untuk Shivaay. Mulai shot-shot adegan di Himalaya sampai kejar-kejaran di jalan tol Bulgaria yang sifatnya serba money-shot. Editing Dharmendra Sharma mungkin sedikit berlebihan dengan penggunaan cut-to-cut berbagai angle yang terlalu banyak. Secara keseluruhan feel terlalu bertele-tele dan berbelit-belit bukanlah merupakan kesalahan editing-nya. Setidaknya dalam menjaga keseimbangan antara romance, drama father-and-daughter, dan aksi brutalnya (untuk durasi dua jam pertama) ia masih bisa dianggap berhasil. Musik dari Mithoon cukup memorable dan hummable, terutama Raatein dan title-song utama, Bolo Har Har Har.
Sebagai paket hiburan, terutama dalam menggabungkan konsep father-and-son dengan aksi brutal, Shivaay sebenarnya masih menarik dan menghibur untuk dinikmati di layar lebar. Jika Anda merasa sudah kelelahan, tak masalah jika berniat untuk walk out. Yakinlah endingnya memuaskan untuk genre sejenis. Bayangkan saja keindahan endingnya, tanpa harus melewati kelokan-kelokan plot yang tak perlu. Namun jika Anda masih penasaran seperti apa kelokan-kelokan plot yang saya maksud tersebut, then go for it. Siapa tau ternyata Anda masih bisa menikmatinya.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates