Saturday, November 26, 2016

The Jose Flash Review
Rumah Malaikat

Meski tergolong salah satu genre yang paling diminati, ternyata tak banyak sineas spesialis horror yang (setidaknya) punya visi unik dan menarik selain sekedar menjual jumpscare dengan konsep generik. Salah satunya adalah Billy Christian yang mulai dikenal setelah menangani Kotak Musik, salah satu segmen di Hi5teria (2012). Setelah menjajal berbagai genre lainnya, mulai komedi di The Legend of Trio Macan (2013), drama remaja di 7 Misi Rahasia Sophie (2014), hingga puncaknya, dipercaya untuk men-develop sekaligus menangani Tuyul Part 1 (2015), karir Billy semakin diperhitungkan, terutama di genre horror. Sempat kontroversi lewat Kampung Zombie (2015), Billy move on lewat Rumah Malaikat (RM). Didukung aktris muda, Mentari De Marelle, Roweina Umboh, Dayu Wijanto, Agung Saga, serta beberapa aktor-aktris cilik pendatang baru, RM menawarkan kisah misteri dengan rahasia untuk diungkap di klimaks. Tak banyak yang berani ‘bermain-main’ dengan jenis ini di ranah perfilman Indonesia. Apalagi dengan konsep visual yang ditata serius. Tak heran jika RM lantas mengundang rasa penasaran, terutama dari penggemar horror/thriller.
Alexandra adalah mahasiswi yang sedang menjalankan metode wawancara kepada anak-anak berusia sekitar 9-13 tahun yang tinggal di Panti Asuhan Rumah Malaikat sebagai materi skripsinya. Rasa penasarannya terhadap anak-anak panti ini membuat ia menawarkan diri untuk menggantikan guru yang mendadak mengundurkan diri. Ibu kepala panti, Ibu Maria, menyambut baik niatan Alex. Sejak tinggal di panti, Alex mulai dihantui oleh sosok-sosok misterius. Awalnya Alex menduga ini ulah anak-anak yang menjahilinya, tapi kecurigannya semakin mengarah pada rahasia masa lalu panti tersebut sejak ia mengetahui doktrin-doktrin Ibu Maria kepada para anak-anak penghuni panti tentang Rumah Malaikat dan Rumah Abadi. Hingga akhirnya terkuak rahasia besar di balik keberadaan Rumah Malaikat dan juga masa lalu Alex sendiri.

Secara keseluruhan, jelas bahwa RM adalah tipe horror misteri dimana daya tarik utamanya terletak pada rahasia besar di balik kejanggalan-kejanggalan yang terjadi sepanjang film. Benar, sejak menit pertama ia sudah menyebarkan kejadian-kejadian ganjil dan jumpscare-jumpscare di sana-sini. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Penonton pun diajak untuk mulai menganalisis kejadian demi kejadian dan menerka-nerka rahasia besar seperti apa yang sudah disiapkan untuk dibongkar di klimaks. Sayangnya, RM lebih fokus untuk menghadirkan upaya ketegangan-ketegangan dan jumpscare di hampir sepanjang babak pertama hingga akhir (itupun digarap dengan timing dan kerapian yang kurang sehingga lebih banyak yang miss), ketimbang menebarkan perkembangan cerita (dalam konteks ini, menyikap satu demi satu rahasia hingga terbongkar semua) yang alhasil, justru membuat penonton lelah mengikuti serta kehabisan kesabaran untuk menantikan revealing-nya.
Tak hanya perkembangan cerita sebagai sajian misteri saja yang gagal membuat RM jadi lebih menarik. Detail-detail perkembangan karakter dan chemistry yang seharusnya bisa memperkuat logika sekaligus membuat keseluruhan konsepnya terasa lebih solid, pun tak dihadirkan. Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan mengenai logika jalan cerita di sana-sini. Misalnya yang paling terasa adalah jalinan emosi antara Alex dan anak-anak yang seringkali tidak konsisten. Di satu saat anak-anak begitu membenci keberadaan Alex, tapi tanpa adegan transformasi yang jelas, di adegan berikutnya Alex sudah tampak bermain dengan gembira bersama anak-anak. Ketika rahasia besarnya terungkap pun, wrap up RM digarap dengan kesan menggelikan ketimbang memuaskan.
Dipercaya mengisi peran utama, Mentari De Marelle sebagai Alexandra tampil generik dan mediocre. Sekedar single-layered saja. Tak hanya faktor penulisan karakter yang memang terkesan tanggung, kharisma Mentari memang belum cukup untuk mendapatkan porsi utama. Sebaliknya, Roweina Umboh sebagai Ibu Maria justru berhasil menjadi remarkable berkat karakter misterius yang berhasil dihidupkannya dengan menarik. Dayu Wijanto sebagai Bi Arum terasa terlalu dibuat-buat, sehingga alih-alih misterius dan mengerikan, malah menggelikan. Agung Saga sebagai Ario yang punya keterbelakangan mental, mungkin dimaksudkan untuk menambah kesan misterius. Sayangnya, performa Agung yang masih jauh dari meyakinkan (malah lebih terkesan dibuat-buat) justru membuat adegan-adegan yang menghadirkan penampilannya menjadi terasa ‘mentah’, atau malah menggelikan. Penampilan yang paling mencuri perhatian sepanjang film malahan dipegang oleh para cast-cast cilik pendatang baru. Tak hanya sengaja memanfaatkan keunikan-keunikan fisik sebagai identifikasi yang memang sesuai konsep cerita, tapi ternyata juga punya kualitas akting yang tergolong baik untuk golongan usia maupun track record pengalaman berakting masing-masing. 
Seperti halnya film-film karya Billy, keunggulan utama yang membuat RM (setidaknya) masih menarik perhatian (baca: catchy) adalah look dan berbagai desain produksi yang terasa sekali sudah dikonsep matang-matang sejak awal. Mulai tata kostum, props, hingga tata artistik set. Tak seratus persen orisinil, memang, tapi tetap patut diapresiasi karena tak banyak film Indonesia yang punya concern lebih di aspek desain produksi seperti ini. Sinematografi Joel F. Zola mungkin termasuk cukup sinematis. Namun untuk film horror/thriller pergerakan kameranya masih terasa kurang ber-‘energi’, terutama dalam menghadirkan jump-scare yang tentu butuh timing serta komposisi tepat. Editing Andy Pulung tak banyak berhasil membantu memperbaiki sajian thriller maupun horornya. Hanya sekedar mampu menggerakkan plot sesuai kebutuhan dan setidaknya masih nyaman diikuti kendati pergerakan ceritanya tak banyak, terutama di awal hingga pertengahan film. Tata musik dari Rizal Peterson menghadirkan cukup banyak ornamen-ornamen yang menarik, terutama di genre horror/thriller. Sayangnya di banyak kesempatan terdengar terlalu berlebihan, bahkan tak jarang terlalu generik.

Dari konsep cerita dan revealing yang sebenarnya menarik,  sangat disayangkan RM punya terlalu banyak minus di sana-sini yang cukup mengganggu kenyamanan menikmatinya. Terutama faktor pergerakan cerita yang tak banyak dengan bumbu-bumbu jumpscare yang seringkali missed serta tak efektif, masih ditambah wrap up yang terkesan unfinished dan menggelikan hingga membuat saya melongo sambil mengumpat dalam hati, ‘waddahell’. Nevertheless, jika Anda tertarik untuk menonton setelah membaca sinopsis atau menonton trailer-nya, I’d say just give it a try without any expectation.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates