Tuesday, November 15, 2016

The Jose Flash Review
Rock On 2

Tahun 2008, Rock On!! (RO), film musikal tentang perjalanan karir sebuah band rock bernama Magik berhasil menarik perhatian di India. Ditulis dan disutradarai oleh Abhishek Kapoor dengan bintang Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, dan Luke Kenny, RO yang mendapatkan respon kritik beragam menjurus ke positif serta pendapatan box office yang tergolong biasa-biasa saja, keputusan pembuatan sekuel tak perlu waktu lama. Kendati demikian, perjalanan menyusun cerita dan pembuatan sekuelnya ini yang ternyata memakan waktu lama. Terhitung ada jeda delapan tahun sampai sekuelnya, Rock On 2 (RO2) ini dirilis. Abhishek Kapoor masih menyusun naskahnya bersama Pubali Chaudhuri, sementara bangku penyutradaraan diberikan kepada Shujaat Saudagar yang sebelumnya ditunjuk produser Ritesh Sidhwani sebagai second unit director di Don 2. Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, Prachi Desai, dan Shahana Goswami kembali, dengan tambahan dukungan dari bintang muda yang tengah bersinar, Shraddha Kapoor (Aashiqui 2, Ek Villain, Any Body Can Dance 2, Baaghi).
Delapan tahun setelah RO, masing-masing personel Magik sibuk sendiri. Joe menjadi juri ajang pencarian bakat sekaligus pemilik pub sementara Aditya Shroff memilih untuk tinggal dan membangun desa Shillong, Meghalaya, India Timur Laut yang tertinggal. Sementara istrinya, Sakshi, dan putranya tinggal di Mumbai. Ternyata Aditya mengalami trauma dengan Mumbai dan bisnis musik setelah ada seorang pemuda yang mati bunuh diri karena CD demonya tak pernah mereka dengarkan. Bertepatan dengan ulang tahunnya, Joe dan Killer Drummer membujuk Adi agar mau pulang ke Mumbai dan kembali berkarya. Di sisi lain, seorang pemain sarod (semacam kecapi), Uday, berkolaborasi dengan Jiah, putri seorang pemusik tradisional, Pandit Vibhuti, untuk membuat demo musik dan mengirimkannya ke label Joe. Merasa suka dengan musik mereka, keduanya diundang untuk perform di pub Joe. Namun Jiah masih bimbang karena sang ayah menentang upaya bermusik Jiah yang dianggap merusak kesakralan musik.
Di sisi lain, desa tempat Adi selama ini mengabdi ternyata semakin terpuruk karena pejabat korup setelah ditinggal Adi ke Mumbai. Joe, KD, dan Jiah tergerak untuk membantu Adi kembali membangun infratstruktur desa Shillong dengan penggalangan dana lewat sebuah festival musik di desa tersebut. Tentu niat baik mereka tak berjalan mulus karena masih ada pejabat korup yang berusaha menggagalkan festival. Belum lagi Jiah yang masih harus menyelesaikan konflik pribadinya.
Sebagai sebuah film perjalanan karir band dengan ups-and-downs-nya, RO2 sebenarnya punya potensi yang menarik. Sayangnya, ada cukup banyak problematika yang dimasukkan ke dalamnya. Trauma Adi, konflik pribadi Jiah, konflik rumah tangga Adi-Sakshi, hingga misi sosial pembangunan desa tertinggal. Di awal hingga pertengahan, semua konflik ini terasa begitu sesak dijejalkan ke dalam plot hingga menimbulkan nuansa yang terlampau depresif dan agak melelahkan. Untungnya seiring dengan berjalannya durasi, ketika harapan dan semangat mulai dimunculkan, RO2 menjadi lebih menyenangkan untuk diikuti. In the end, ia mampu (sekali lagi) menunjukkan kekuatan musik yang begitu luar biasa, terutama dalam menyatukan dan menggerakkan manusia, hingga membuat penonton ikut tersentuh bangga sekaligus bahagia.
Ketiga pemeran karakter inti; Farhan Akhtar sebagai Aditya Shroff, Arjun Rampal sebagai Joe, dan Purab Kohli sebagai KD kembali dengan performa yang cukup menonjol. Terutama Akhtar yang mendapatkan porsi paling banyak, sesuai dengan penulisan karakter yang memang diberikan kedalaman dan transformasi lebih. Shraddha Kapoor semakin menunjukkan pesonanya lewat karakter Jiah Sharma yang berhasil mencuri perhatian, termasuk untuk urusan tarik suara. Penampilan Priyanshu Painyuli sebagai Rahul, kakak Jiah, cukup haunting dan mengundang simpati. Sementara Prachi Desai sebagai Sakshi dan Shashank Arora sebagai Uday cukup noticeable sesuai porsi masing-masing.
Sinematografi Marc Koninckx berhasil mengeksplorasi berbagai detail produksinya, mulai setting-setting interior yang mewah sampai alam pedesaan Shillong yang tampak luar biasa cantik. Editing Anand Subaya membuat batasan antara flashback dan current day agak samar, terutama di satu jam pertama. Selanjutnya tergolong cukup nyaman untuk diikuti. Nomor-nomor musikal yang ditawarkan cukup ear-catchy sekaligus memorable dengan berbagai warnanya, seperti Woh Jahaan, Manzar Naya, Tere Mere Dil, Jaago, You Know What I Mean, dan yang paling menjadi favorit saya, Hoi Kiw/Chalo Chalo.
Sebagai sajian musikal, RO2 mungkin terlampau serius dan depresif, terutama di awal-awal film. Namun jika Anda mau sedikit bersabar sembari sesekali menyimak nomor-nomor musikal indahnya, ada sajian yang cukup kuat menjelang klimaks yang bisa mengingatkan akan kekuatan luar biasa musik, terutama dalam menyatukan dan menggerakkan manusia. Saya bisa merasakannya dan menganggap kesabaran saya selama kurang lebih dua setengah jam telah terbayarkan. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates