Wednesday, November 9, 2016

The Jose Flash Review
Ouija: Origin of Evil

Jika kita di Indonesia mengenal Jelangkung, maka publik Amerika Serikat mengenal Ouija Board. Ditemukan sejak 1980 oleh Elijah Bond, Ouija Board yang punya kaitan erat dengan praktik okultisme nyatanya berkembang menjadi komoditas board game tersendiri hingga trademark dan patennya dimiliki oleh Hasbro sejak 1991. Kemudian Universal Pictures-Blumhouse-Platinum Dunes tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar pada tahun 2014 dengan judul Ouija yang disutradarai oleh Stiles White. Kendati dianggap horror mediocre dengan penanganan yang seadanya, Ouija berhasil mengumpulkan US$ 103 juta lebih di seluruh dunia. Padahal budget produksinya ‘hanya’ sekitar US$ 5 juta saja. Tentu tak perlu waktu lama untuk memutuskan pengembangan franchise baru ini. Michael Flanagan yang mulai dilirik sebagai sineas spesialis horror setelah Absentia dan Oculus dipercaya untuk menyutradarai sekaligus co-writer bersama partnernya di Oculus, Jeff Howard. Film bertajuk Ouija: Origin of Evil (OOoE) yang merupakan prekuel dari installment sebelumnya ini menandai film ketiga Flanagan yang dirilis di tahun 2016 ini setelah Hush dan Before I Wake.
Bersetting tahun 1965 di Los Angeles, Alice Zander, seorang janda mati dengan dua orang putri; Lina dan Doris, berprofesi sebagai peramal pura-pura. Meski termasuk penipuan, tapi Alice selalu meyakinkan putri-putrinya bahwa yang mereka kerjakan selama ini untuk menolong orang-orang yang belum bisa move-on dengan kematian orang terdekatnya. Ketika Alice mulai mencoba menggunakan papan Ouija sebagai media meramal, keanehan demi keanehan terjadi. Nampaknya bakat Doris sebagai anak indigo semakin tajam terasah. Tanpa harus berpura-pura, Doris mampu menggunakan papan Ouija sebagai media komunikasi dengan arwah. Alice semakin senang karena artinya bisnis akan semakin lancar. Tanpa mereka sadari telah membangkitkan roh jahat yang sudah lama mendiami rumah tempat mereka tinggal selama ini. Nyawa mereka dan orang-orang di sekitar mereka pun menjadi terancam.
Melihat dari installment pertamanya yang punya twist menarik tentang masa lalu papan Ouija terkutuk tersebut, pengembangan sebuah prekuel (origin story) memang terasa lebih bijak ketimbang sekuel yang belum jelas arahnya. Malah beresiko jatuh menjadi pengulangan semata. Tidak, OOoE tidak membahas sejarah penciptaan papan Oujia. Ia lebih tertarik mengambil kisah keluarga Zander yang memang sempat disebutkan di installment pertama. Meski sebenarnya premise yang diusung tergolong generik di genre horror, tapi setidaknya kisah personal masih bisa lebih mudah mengikat emosi dengan penonton. Apalagi tema keluarga dalam genre horror sudah terbukti berhasil lewat franchise Insidious maupun The Conjuring. Daya tariknya berada pada kepiawaian Flanagan membuat penonton senantiasa penasaran akan apa yang terjadi berikutnya, ketimbang membuat jumpscare-jumpscare generik. Dengan demikian, atmosfer ngeri dan ganjil praktis menjadi komoditas utama horror OOoE. Meski tak sampai pada level maksimal, Flanagan masih mampu menjalankan plotnya dengan tingkat rasa penasaran yang cukup. Sayang, ketika tiap kali hampir mencapai klimaks, Flanagan menahan-nahan adegan dengan cut-to-cut sehingga klimaks horror yang sudah berhasil dibangun pun terkesan ‘berakhir’ begitu saja.
Kesan keganjilan yang paling berhasil membangun atmosfer horornya adalah performance para aktornya. Terutama sekali Lulu Wilson sebagai Doris yang berhasil menunjukkan kemisteriusan bak sosok Damien Omen di franchise The Omen. Menarik menantikan aktingnya di franchise horror lain, Annabelle 2 yang rilis tahun 2017. Elizabeth Reaser sebagai Alice, sang ibu, mungkin tak diberi porsi yang cukup besar seperti Carolyn Perron atau Peggy Hodgson di franchise The Conjuring, misalnya. Kendati demikian tekanan sebagai single mother dan ekonomi terlihat jelas serta meyakinkan pada karakternya. Chemistry yang dibangunnya bersama Lulu Wilson dan Lina Zander pun termasuk lebih dari cukup. Henry Thomas sebagai Father Tom Hogan dan Parker Mack sebagai Mikey juga tak diberi porsi yang cukup untuk benar-benar menarik. Karakter mereka terkesan sekedar ada kendati penampilan mereka tak buruk juga.
Sebenarnya tak ada yang benar-benar menarik dari teknis OOoE. Mulai sinematografi Michael Fimognari, editing Flanagan sendiri, dan desain produksi Patricio M. Farrell, kesemuanya sekedar tergolong cukup untuk membangun plot, nuansa kengerian, dan setting 1960-an-nya. Jadi sedikit lebih menarik karena faktor vintage buatan yang coba diaplikasikan oleh Flanagan. Seperti black dot pada ujung kanan atas layar sebagai penanda pergantian reel pada medium film gulungan, lengkap dengan efek jittering bak pergantian reel, aspect ratio yang 1.85:1, efek fokus lensa, sampai video bumper Universal lawas. Semuanya seolah OOoE benar-benar produksi tahun 1960-an. Score music gubahan The Newton Brothers, lengkap dengan pemilihan lagu-lagu populer era 60-an, juga menarik dalam membangun nuansa eerie, kendati tak terlalu istimewa ataupun unik juga.

Dibandingkan installment sebelumnya yang terkesan sangat biasa, jauh dari berkesan, atau malah hancur-lebur, OOoE memang terkesan jauh lebih baik. Terutama berkat dukungan plotline yang masih peduli untuk bercerita, tidak sekedar jumpscare murahan. Meski tak pernah benar-benar menjadi horror yang mencekam ataupun drama emosional yang terasa maksimal, OOoE masih layak dijadikan pilihan hiburan intant, terutama bagi para penggemar horror.  Oya, jangan buru-buru keluar dari teater karena ada after-credit yang menjembatani dengan installment sebelumnya. Bagi yang sudah lupa dengan detail installment pertama, seperti yang terjadi pada diri saya sendiri, after credit ini cukup efektif untuk kembali revisit installment pertamanya. Setidaknya, untuk buka-buka lagi detail plot-nya di IMDb atau Wikipedia.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates