Saturday, November 19, 2016

The Jose Flash Review
Nine Lives

Trend film keluarga dengan value tertentu dan melibatkan hewan peliharaan memang sudah lama lewat. Apalagi dengan genre fantasi magis seperti bertukar jiwa. Maka apa yang coba disajikan Nine Lives (NL) di tahun 2016 ini bisa dibilang cukup berani dan langka di tengah gempuran tema superhero. Mungkin bagi beberapa penonton mungkin tema ringan seperti ini bisa menyegarkan setelah berpuluh-puluh tahun sirna. Tak heran ketika dirilis berbarengan dengan Suicide Squad di Amerika Serikat, ia masih mampu mengumpulkan US$ 10 juta saat opening weekend. Total film produksi Perancis-Cina berbahasa Inggris ini berhasil mengumpulkan US$ 50.5 juta di seluruh dunia dengan budget awal US$ 30 juta. Meski konsepnya sudah usang dan cenderung seperti film direct-to-video, nama Barry Sonnenfeld (The Addams Family, Get Shorty, franchise Men in Black, Wild Wild West) di bangku sutradara dan aktor-aktor populer seperti Kevin Spacey, Christopher Walken, dan Jennifer Garner jelas menjadi daya tarik tersendiri.
Tom Brand adalah taipan bisnis di New York yang workaholic selalu punya ambisi untuk ‘lebih’ daripada taipan lainnya. Itulah mengapa istri pertamanya, Madison, menceraikannya. Istri kedua, Lara Brand kini sedang merasakan apa yang istri pertamanya dulu rasakan. Apalagi putrinya yang masih berusia 11 tahun, Rebecca, haus akan perhatian dari sang ayah. Sementara itu perusahaan Tom sedang di ujung tanduk karena Ian, salah satu manager teratas, berniat untuk menguasai perusahaannya. Ia berusaha membunuh Tom ketika sedang membawa seekor kucing sebagai kado ulang tahun Rebecca di tengah hujan lebat dan petir menyambar. Ajaib, Tom gagal tewas. Sementara badannya dalam kondisi koma, jiwanya justru merasuk ke dalam tubuh kucing yang ia bawa, Mr. Fuzzypants. Segala upaya untuk memberi tahukan jati diri sesungguhnya kepada keluarga tak mudah dengan tubuh kucing. Namun Tom justru sadar untuk lebih memberikan perhatian kepada Rebecca dan Lara. Masalahnya kemudian, bagaimana Tom bisa kembali ke tubuh manusianya.
Bagi yang punya banyak referensi film (terutama tema keluarga), plot NL termasuk sangat mudah ditebak arahnya. Sejak baca premise-nya saja pasti sudah bisa menebak ‘pesan moral’ yang coba disampaikan. Yang (seharusnya) menjadi menarik adalah bagaimana film bisa memanfaatkan upaya-upaya Tom dalam tubuh kucing untuk berkomunikasi dan beradaptasi menjadi sajian penggelitik syaraf tawa. Bagi penyayang kucing, tentu apa yang disajikan NL dengan mudah bikin berceletuk, “Awwww lucunya…”. Sayangnya, hanya sampai sejauh itu saja kemampuan NL mengeksploitasi potensi-potensi humornya. Dengan comedic-timing yang terlampau santai sehingga seringkali meleset dari tujuan mengocok perut. Tak ada pula setup-setup yang memancing kejadian-kejadian mendebarkan, exciting, tapi tetap fun. Kalau boleh jujur, sajian humor-humornya hanya sampai sekelas film direct-to-video atau FTV. Ekspresi wajah si kucing dan gerak bibir pun tak diberi effort lebih sekedar sebagai gimmick cuteness tambahan.
Tak sampai di situ saja. NL menyelipkan sub-plot tentang kondisi perusahaan Tom Brand yang terlalu banyak menyita durasi. Bahkan bisa dikatakan lebih mendominasi sehingga plot keluarga, terutama momen antara Tom-Rebecca-Lara, yang seharusnya menjadi plot utama jadi terasa sebagai sub-plot semata. Intriknya terlalu rumit dan berat untuk film keluarga, apalagi bagi penonton cilik yang jelas tak tertarik dengan tema seperti ini. Diperparah pula dengan proses kembalinya Tom ke tubuh manusia yang terkesan terlalu menggampangkan dan tak se-masuk akal proses masuknya roh Tom ke tubuh kucing. Well, I know it’s in term of fantasy, tapi tetap ada konsep yang setidaknya bisa dibayangkan ketimbang sekedar ‘asal balik’. Wrap up yang biasanya mampu menggali emosi dan keharuan penonton di film-film bertema serupa, juga gagal dihadirkan di NL. Kesemuanya seperti sekedar lewat begitu saja, tanpa kesan apa-apa.
Kevin Spacey tak memberikan sesuatu yang istimewa ataupun unik ke dalam karakter Tom Brand. Masih karakter tipikal seperti di Horrible Bosses. Not that he’s no good at it, tapi dengan reputasinya yang demikian tinggi, ini jelas bukan peran yang notable maupun memorable. Begitu juga Jennifer Garner sebagai Lara, si cilik, Malina Wellsman sebagai Rebecca, maupun Talitha Bateman sebagai Nicole. Cheryl Hines sebagai Madison sedikit lebih menarik. Kemudian ada Robbie Amell sebagai David Brand dan Mark Consuelos sebagai Ian Cox yang lebih menarik perhatian karena faktor porsi yang memang lebih banyak. Terakhir, Christopher Walken sebagai Felix Perkins yang nyentrik sebenarnya cukup menarik. Sayang karakternya tak dibekali gimmick lebih supaya terasa lebih memorable.
Teknis NL pun tak menawarkan sesuatu yang istimewa. Mulai sinematografi Karl Walter Lindenlaub yang lebih terasa seperti film direct-to-video, sampai editing Don dan David Zimmerman yang sekedar menjalankan plot tanpa taste lebih, meski banyak comedic moment yang missed mungkin bukanlah kesalahan mereka. Desain produksi Michael Wylie sangat terlihat dilakukan di studio seperti serial TV. I don’t know if it’s in purpose sebagai konsep visualnya. Scoring music dari Evgueni dan Sacha Galperine memang memberikan sedikit nuansa witty dan playful, tapi nyatanya tak banyak membantu menambahkan fun-factor film secara keseluruhan. Mungkin hanya nomor Three Cool Cats dari The Coasters yang membekas pasca film berakhir.
Sebagai sebuah komedi keluarga ber-value (baca: pesan moral), NL gagal di cukup banyak aspek. Mulai sub-plot tentang bisnis yang terlalu berat dan mendominasi sehingga mendistraksi plot utamanya, sampai momen-momen comedic maupun family warmth yang missed, jatuh menjadi biasa-biasa saja. Namun jika melihat tingkah lucu kucing saja sudah cukup bagi Anda, maka tak ada salahnya menikmati NL tanpa ekspektasi apa-apa. Siapa tahu masih bisa menghibur Anda setelah stres seharian menjalani rutinitas sehari-hari. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates