Tuesday, November 29, 2016

The Jose Flash Review
Moana

Tema princess selalu punya tempat tersendiri bagi Walt Disney Animation Studios selama puluhan tahun. Terakhir, suguhan princess dengan isu yang lebih modern (dibandingkan karakter-karakter Disney Princess populer sebelumnya), Frozen (2013), sukses besar, bahkan menjadi salah satu Disney Princess modern-classic. Tak salah jika mereka selalu menggali materi-materi ‘princess’ dari berbagai budaya. Pilihannya kali ini jatuh pada budaya Polynesia kuno atau jika dipadankan dengan era sekarang, budaya Hawaii. Merupakan kisah orisinal, bukan diambil dari dongeng atau legenda, Moana atau dalam bahasa Polynesia bermakna ‘lautan’ atau ‘biru’. Naskahnya disusun oleh Jared Bush yang pernah menggarap naskah Zootopia dan serial animasi Penn Zero: Part-Time Hero, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada duet Ron Clements dan John Musker yang pernah sukses dengan Basil, the Great Mouse Detective, The Little Mermaid, Aladdin, Hercules, Treasure Planet, dan The Princess and the Frog. Suara karakter utama, Moana, dipercayakan kepada aktris muda pendatang baru asli Hawaii, Auli’i Cravalho, didampingi Dwayne Johnson, Nicole Scherzinger, dan Alan Tudyk.

Sejak kecil, Moana diajarkan sang ayah untuk tak pernah meninggalkan Pulau Motunui, tempat sukunya bermukim. Padahal ia penasaran dengan apa yang ada di balik karang. Apalagi dari dongeng Nenek Tala tentang sosok pahlawan setengah dewa yang bisa bertransformasi menjadi berbagai hewan, Maui, yang telah lama hilang setelah batu permata (simbolisasi jantung) dari Dewi Te Fiti dicuri olehnya demi kebahagiaan manusia. Dalam perjalanannya, Maui diceritakan dikalahkan oleh monster lava bernama Te Ka yang juga mengincar batu permata Dewi Te Fiti. Maui kemudian dianggap hilang sementara Te Ka perlahan memusnahkan satu demi satu pulau dan membuat ikan-ikan hilang dari lautan.
Ribuan tahun kemudian, Pulau Motunui yang didiami suku Moana hidup dalam kelimpahan dari kekayaan alam. Mendadak bencana demi bencana menimpa. Puncaknya ikan-ikan yang menghilang dari lautan. Moana yang teringat kisah Nenek Tala tentang Maui tergerak untuk menentang larangan sang ayah dam memutuskan untuk berlayar ke balik karang demi mengembalikan kondisi Pulau Motunui menjadi gemah ripah loh jinawi kembali. Tentu bukan kenekadan yang mudah, karena Moana belum pernah berlayar sebelumnya. Maka ia pun harus belajar banyak hal baru sambil mempraktekkannya secara langsung.
Kisah Disney Princess kerap dikaitkan dengan tema feminisme yang kental. Jika princess klasik digambarkan sebagai sosok yang ‘nerimo’, maka princess-princess modern diajarkan untuk lebih berani mengambil keputusan sendiri. Puncaknya, Disney berhasil membuat sosok Elsa dan Anna di Frozen sebagai penyuara feminisme modern yang sangat kuat. Kini, Moana pun kembali menyelipkan tema feminisme sebagai salah satu elemennya. Konsepnya tak benar-benar baru atau malah memang masih tipikal Disney Princess lainnya (meskipun tak menghadirkan sosok love interest seperti kebanyakan kisah Disney Princess lainnya); seorang ‘princess’ yang ‘memberontak’, mengambil keputusan untuk bertindak sendiri di tengah-tengah kultur yang menentang atau melarang. Bedanya, tema feminisme di Moana terasa hanya sebagai sekedar ada saja. Pada frame yang lebih besar, Moana justru mengangkat tema yang cukup banyak untuk disampaikan lewat guliran ceritanya. Mulai redemption hingga pelestarian lingkungan. Sayangnya, hampir kesemua isu yang coba diangkat dan dihadirkan di Moana terkesan tumpang-tindih tanpa ada salah satu yang lebih menonjol hingga menjadi fokus utama yang bold. Termasuk isu feminisme yang boleh dibilang berada pada porsi yang paling kecil. Mungkin alasan mengapa feminisme tak lagi dijadikan konsep terbesarnya adalah untuk merangkul range audience yang lebih luas. Terutama anak laki-laki yang tentu akan cenderung menghindari materi yang terlalu girly. Sayangnya, tak ada satu pun isu yang terasa bold hingga membekas dalam benak untuk jangka waktu yang lama. Secara keseluruhan, saya tak bisa benar-benar menikmati sajian yang utuh selama durasi selama 1 jam 43 menit, selain nomor-nomor musikal yang cukup catchy (tapi tak akan se-‘infected’ lagu-lagu di Frozen, for instance) dan beberapa guyonan ringan yang mungkin bisa dipahami oleh penonton anak-anak sekaligus tetap menggelitik penonton dewasa. Bagi saya pribadi, hanya joke tentang ‘tweeting’ dan bereferensi pada karakter-karakter Disney lain, terutama Sebastian dari The Little Mermaid yang mampu membuat saya tertawa secara spontan.
Para voice talent yang mendukung Moana termasuk cukup mampu menghidupkan film, meski tak juga ada yang benar-benar istimewa. Sebagai pendatang baru, Auli’i Cravalho, bisa dikatakan cukup memberikan nafas kepribadian serta emosi yang hidup pada karakter Moana. Sementara Dwayne Johnson sebenarnya tampil lebih mencengangkan dengan voice performance Maui yang sangat berbeda dari tipikal aksen suaranya selama ini, termasuk singing performance yang ternyata juga bagus. Rachel House sebagai suara Nenek Tala mungkin terdengar ‘just another grandmas’, tapi setidaknya memberikan sedikit ‘warna’ unik pada karakternya. Begitu pula Jemaine Clement sebagai suara monster kepiting, Tamatoa, yang somehow mengingatkan saya akan performa Christopher Walken sebagai King Louie di The Jungle Book. Sedangkan Temuera Morrison sebagai Chief Tui dan (terutama) Nicole Scherzinger sebagai Sina tak memberikan keunikan maupun kekhasan apa-apa pada karakter.
Animasi Moana mungkin tak menghadirkan teknologi yang benar-benar baru, tapi di banyak kesempatan berhasil mencengangkan saya. Terutama pada animasi air laut yang begitu detail dan real, serta desain karakter, set, maupun ornamen-ornamen art yang cantik nan eksotis. Animasi 2D pada tato Maui pun menjadi elemen animasi yang cukup menarik. Nomor-nomor musikal yang terasa menjadi salah satu elemen terpenting dalam film memang ear catchy dan sing-along, seperti Where You Are, How Far I’ll Go, I Am Moana, dan yang tak kalah menariknya, You’re Welcome. Mungkin tak sampai se-infected nomor-nomor musikal di Frozen, tapi cukup hummable. Tak ketinggalan scoring khas Polynesia yang eksotis, breezy, dan relaxing, tanpa kehilangan nuansa epicness dan sinematis dari Mark Mancina, didukung Opetaia Foa’i dan Lin-Manuel Miranda. Sound design menghadirkan detail-detail suara yang begitu terdengar jernih dan crisp, terutama dalam menghadirkan adegan-adegan dahsyatnya, kendati fasilitas Dolby Atmos tak begitu memberikan efek yang signifikan.

Moana mungkin bagi saya tidak termasuk dalam karya animasi yang akan menjadi klasik untuk jangka waktu yang lama. Faktor utamanya adalah absennya tema besar yang fokus dan benar-benar bold untuk diangkat. Tentu tema yang diangkat tak perlu yang terlalu berat. Let’s say, baru saja ada Trolls dengan tema yang selama ini kita anggap remeh tapi bisa dihadirkan menjadi sesuatu yang bold dan juga sangat menyenangkan. Begitu pula kebanyakan animasi-animasi Disney yang sudah menyandang predikat ‘klasik’, termasuk Frozen untuk kategori Disney Princess. Sayangnya, menurut saya Moana tidak. Let’s see beberapa tahun ke depan. I’m not sure you will remember most of the details from the movie like we’ll easily reprise any elements from Frozen. Namun setidaknya Moana masih bisa jadi sajian hiburan murni lewat petualangan yang cukup seru dengan visualisasi yang memanjakan, desain karakter yang cute, serta humor-humor yang mungkin masih bisa berhasil menggelitik Anda. Even better jika Anda bisa merasakan isu dan tema besar yang ingin diusungnya, yang tak bisa saya rasakan. Tak ada salahnya mencoba.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Animated Features - John Musker, Ron Clements and Osnat Shurer
  • Music (Original Song) - How Far I'll Go (music and lyric by Lin-Manuel Miranda)

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates