Saturday, November 19, 2016

The Jose Flash Review
Melbourne Rewind

Winna Efendi dikenal sebagai salah satu penulis novel roman young adult populer. Dua judul novelnya sudah diadaptasi ke film layar lebar; Refrain (2013) dan Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta (2014). Tahun 2016 ini giliran Rapi Films yang mengangkat novel Melbourne Rewind (MR) ke layar lebar. Haqi Achmad kembali ditunjuk sebagai penyusun naskah setelah sukses mengadaptasi Refrain dan Remember When, dengan surradara Danial Rifki (La Tahzan, Haji Backpacker, dan Spy in Love). Morgan Oey, Pamela Bowie, Aurellie Moeremans, dan Jovial da Lopez mengisi deretan cast utama untuk menarik perhatian target audience utamanya; remaja dan dewasa muda.

Ketika kembali ke Melbourne, Max tak sengaja mendengarkan suara mantannya, Laura, di radio. Dengan semangat ia lantas menemui Laura lagi. Dari pertemuan tersebut terungkap kisah asmara masa lalu mereka yang harus kandas karena Max mengejar mimpi ke New York sementara Laura yang belum menemukan mimpi dan passionnya tak mau ikut. Laura menganggap Max terlampau egois karena harus serba me, me, me, and me, tanpa peduli perasaannya. Sementara Max tak mau melepaskan kesempatan meraih mimpi setinggi-tingginya begitu saja. Kini ketika Max siap kembali menjalin hubungan dengan Laura, tantangannya bertambah karena Laura jatuh hati pada dokter hewan Evan karena merasa punya banyak persamaan. Evan pun merasakan hal yang sama dengan Laura. Masalahnya Evan adalah kekasih sahabat Laura sejak kecil, Cee.

Dari luar, MR mungkin terdengar seperti just another teenage romance yang diwarnai problema-problema klasik, seperti cinta segi sekian, cinta terhambat status dengan orang lain, dan peraahabatan pasca relationship. Memang, kesemua problematika itu ditampilkan sebagai sajian utama. Namun yang membuat saya memberikan apresiasi lebih adalah adanya proses kedewasaan dalam menyikapi semuanya. Misalnya pertentangan pilihan antara menggapai mimpi atau pasangan sampai keputusan beda sahabat dan relationship yang ditunjukkan (dan diajarkan) dengan sangat baik. Semua keputusan  yang diambil sepanjang film berdasarkan kematangan logika berpikir yang dewasa. Permasalahan terbesar MR justru terletak bagaimana cara menuturkan kisahnya dengan nuansa yang lebih banyak senyap, adem-ayem, dan terlampau laid-back. Padahal ada dukungan chemistry love-hate yang manis sekaligus realistis dari Morgan Oey-Pamela Bowie dan chemistry gokil dari Aurellie Moeremans-Jovial da Lopez. Ada pula dukungan tracklist dan scoring Andhika Triyadi yang serba berkelas dalam membungkus kisahnya. Bagi saya inilah yang membuat pace MR secara keseluruhan seolah kekurangan energi yang menyenangkan. Tak sampai membosankan atau melelahkan sih, tapi tentu bisa jauh lebih dinamis dan menyenangkan, tanpa meninggalkan kesan manis dan romantisnya. 

Kekurangan lain yang cukup terasa adalah konsistensi karakter Evan yang awalnya seperti memang menyambut perasaan Laura, tapi kemudian tiba-tiba memutuskan untuk bisa membedakan antara persahabatan dan relationship. Saya memahami kepentingan untuk memberikan kejutan di penghujung cerita, tapi sebagai kompensasinya, seperti ada lubang pada karakter Evan yang jika seandainya 'ditambal' dengan layak, bisa menambah kesolidan keseluruhan cerita.

Keempat karakter utama mampu menjadi daya tarik yang sama kuatnya kendati pada porsi yang tidak sama besar. Morgan Oey dan Pamela Bowie jelas menunjukkan chemistry charming yang bahkan ketika sama-sama berpotensi mengurangi simpati penonton (khususnya penonton remaja) lewat attitude maupun pengambilan keputusan, tetap saja tak mampu membuat penonton membenci karakter mereka. Jovial da Lopez membuktikan kemampuannya memerankan karakter hang le ih serius ketimbang tipikalnya, sementara Aurellie Moeremans semakin luwes membawakan peran cewek seksi tapi tak sampai slutty. Olga Lidya dan Oka Sugawa mendukung dengan kualitas performance yang sesuai porsinya.

Sinematografi Yoyok Budi Santoso memberikan angle-angle dan pergerakan kamera yang sesuai dengan konsep laid-back dan manisnya. Ada cukup banyak shot outdoor yang terlihat candid dengan kualitas gambar kurang proper, tapi overall masih acceptable. Editing Ryan Purwoko menyusun adegan-adegan secara runtut dan jelas di balik rangkaian flashback yang tersebar. Tata artistik Angela Halim patut mendapatkan kredit lebih, terutama untuk desain interior kamar Max. Apresiasi juga layak disematkan atas pilihan tracklist yang berkelas dan beragam warna (I want a tracklist on spotify or even better a soundtrack album, please!), ditambah scoring Andhika Triyadi yang memperkuat kesan manis.

MR dari permukaannya mungkin masih terkesan just another young adult romance, tapi ada proses kedewasaan yang membuat keseluruhan film terhindar dari jurang drama romantis menye-menye dan ababil. Agak terlalu santai dan sunyi, tapi tak sampai jadi membosankan ataupun melelahkan. Nikmati saja dengan santai, seiring alunan musik-musik berkelas dan ear-catchy, ditambah chemistry manis dari para karakter utamanya. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates