Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
Keeping Up with the Joneses

Ada alasan mengapa action dan comedy menjadi genre yang sering dipadukan. Keduanya merupakan genre yang paling mudah untuk menghibur penonton. Sudah ada banyak sekali film dengan perpaduan genre ini yang menuai sukses di box office, bahkan mencatatkan diri dalam sejarah film. Di era 2000-an sebut saja Mr. & Mrs. Smith yang menjadi fenomenal karena memasangkan dua selebriti papan atas yang kemudian menjadi pasangan suami-istri, Brad Pitt dan Angelina Jolie. Tema espionage yang kental dengan genre action dan bumbu komedi kemudian menjadi fprmula yang sering digunakan. Terakhir ada Spy (2015) yang bertumpu pada pesona comedic Melissa McCarthy dan Central Intelligence yang memasangkan Dwayne Johnson dengan Kevin Hart. Kini penulis naskah Michael LeSieur (You, Me & Dupree) dan sutradara Greg Mottola (Adventureland, Superbad, dan Paul) mencoba menggabungkan tema espionage couple ala Mr. & Mrs. Smith dan komedi bertetangga a la The Whole Nine Yards. Menambah daya tarik dari segi komedi, Zach Galifianakis (The Hangover Trilogy) ditunjuk menjadi salah satu aktor di film yang diberi tajuk Keeping Up with the Joneses (KUwtJ) ini. Didukung Isla Fisher, Jon Hamm (serial Mad Men), dan aktris beraura seksi yang sedang naik daun berkat perannya sebagai Wonder Woman, Gal Gadot. 

Jeff dan Karen Gaffney adalah pasangan suami-istri yang tinggal di kawasan suburbia. Setelah punya anak, tak ada banyak waktu bagi mereka untuk bermesraan. Kehidupan sehari-hari mereka tergolong biasa saja cenderung ke membosankan. Jeff bekerja Human Resource Division, sementara Karen seorang desainer interior yang bekerja di rumah. Rasa penasaran mereka pun muncul ketika datang tetangga baru yang tampak seperti pasangan yang ideal, bahkan sempurna, Tim dan Natalie Jones. Tim mengaku bekerja sebagai presenter acara traveling, sementara Natalie adalah blogger memasak yang juga sering menjadi aktivis kemanusiaan. Jeff menyambut baik kehadiran mereka di lingkungan itu, sementara Natalie justru mencurigai mereka sebagai pasangan aneh yang too good to be true dan seperti menyembunyikan sesuatu. Karen nekad menyelinap masuk ke rumah pasangan Jones dan menemukan identitas mereka yang sebenarnya. Sejak itu Jeff dan Karen jadi terlibat dalam kasus berskala internasional yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.



Perpaduan formula yang dilakukan KUwtJ memang bukan sesuatu yang benar-benar baru tapi jelas menarik untuk menimbulkan kondisi-kondisi yang memancing tawa, terutama dari pasangan dengan kehidupan biasa-biasa saja yang tiba-tiba harus spontan bertindak bak mata-mata profesional. Namun rupanya naskah LeSieur yang sebenarnya sudah didesain dan ditulis dengan konsep yang baik masih gagal jadi sajian pengocok perut. Mottola pun belum berhasil menggarap berbagai potensi adegan pengocok perut yang ada menjadi lebih maksimal (baca: 'pecah'). Alhasil penonton disuguhi plot narasi yang berjalan lurus, sesuai pakem action-comedy standard yang pasti dengan mudah ditebak arahnya oleh penonton dengan referensi yang cukup banyak. Sesekali ada situasi dan tingkah-tingkah karakternya yang berpotensi lucu, tapi hanya bisa membuat saya sekedar tersenyum atau tertawa kecil. Tak ada yang sampai berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Mulai sarkasme, silly attitude, failed coolness, sampai slapstick. Sayang sekali.

Jeff yang silly dengan pola pikir polos dan kerap gagal ketika berusaha keliatan keren sebenarnya termasuk karakter yang paling cocok (jika tak mau disebut tipikal) untuk diperankan oleh Zach Galifianakis. Upaya-upaya untuk menjadikan karakter konyol pun ada, tapi sayang somehow efeknya masih belum berhasil membuat saya tertawa sekeras ketika di The Hangover Trilogy maupun Due Date. Justru lawan mainnya, Isla Fisher yang membawakan peran Karen yang 'kepo', curigaan, seringkali tak kalah lugunya, tapi cerdas in the same time, dengan jauh lebih menggelitik, memorable, bahkan loveable. Sementara Jon Hamm dan Gal Gadot sebagai pasangan Jones mampu memberikan kesan chemistry yang seksi sekaligus sepak terjang aksi yang lebih dari cukup, meski mungkin belum sekuat pasangan Mr. dan Mrs. Smith. Di kubu villain, Patton Oswalt sebagai Scorpion porsinya sangat sedikit dan tentu penggalian karakter yang memang sekedar ada, sehingga tak terlalu bisa memberikan impresi lebih, sama seperti karakter-karakter pendukung lainnya.
Aspek teknis yang menarik dari KUwtJ adalah penggunaan kamera film 35 mm sehingga menghasilkan gambar yang classic grainy. Didukung pula oleh sinematografi Andrew Dunn yang termasuk lebih dari cukup dalam menjalankan plot dan menghidupkan adegan, baik action maupun comedic-nya. Tak ada komplain pula untuk editing David Rennie yang membuat semua porsi elemen-elemennya seimbang dengan pace yang juga pas di genrenya. Production design Mark Ricker dan art dari Jeremy Woolsey tak kalah menariknya, terutama dalam mendesain detail interior sesuai karakter-karakternya. Music score dari Jake Monaco tak terlalu istimewa tapi cukup untuk mengiringi berbagai kebutuhan adegan. Pilihan soundtrack sebenarnya cukup menarik dan mampu meng-elevate nuansa sesuai kebutuhan film. Sayang, pilihannya kurang populer dan tak ada yang membekas dalam benak saya setelah film berakhir.
Dengan nama-nama di balik layar yang punya portfolio bagus untuk genre komedi, terutama LeSieur, Mottola, dan tentu saja Galifianakis, KUwtJ menjadi action-comedy mediocre dengan blend formula-formula familiar. Tak sampai jatuh menjadi sajian yang membosankan (apalagi berkat Gal Gadot!) dan masih menghibur. Hanya saja dengan potensi yang sebenarnya bisa jauh lebih ‘pecah’, hasil akhir KUwtJ cukup disayangkan. Kendati demikian, jika Anda memang sekedar mencari hiburan ringan, sedikit tertawa kecil, dan tertarik dengan materi-materi promonya, KUwtJ masih layak untuk disimak.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates