Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
Hacksaw Ridge

Selain menjadi salah satu aktor papan atas Hollywood, Mel Gibson juga beberapa kali duduk di bangku sutradara. Tak tanggung-tanggung, prestasinya sebagai sutradara sempat diganjar Oscar untuk Braveheart (2005). Juga ada film Biblical The Passion of the Christ (2004) yang menuai kontroversi. Setelah Apocalypto (2006), baru proyek biopic tentang prajurit Perang Dunia II yang enggan memanggul senjata, Desmond Doss, yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal sebelumnya ia sempat dua kali menolak proyek yang sudah direncanakan sejak empat belah tahun yang lalu dan telah melalui beberapa kali pemindahan tangan. Bahkan produser Casablanca, Hal B. Wallis, di era 50-an sempat tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar dengan bintang Audie Murphy. Sayang Desmond Doss sendiri tak menyetujuinya karena takut kisahnya akan menjadi tipikal Hollywood. Baru setelah kematian Doss tahun 2006, produser Bill Mechanic mengantongi hak untuk mengangkatnya ke layar lebar. Robert Schenkkan (The Quiet American) dan Randall Wallace (The Water Diviner) ditunjuk untuk menyusun naskahnya, dan aktor The Amazing Spider-Man, Andrew Garfield, didapuk untuk memerankan sosok Doss, didukung Teresa Palmer, Vince Vaughn, Sam Worthington, Hugo Weaving, Richard Roxburgh, dan Rachel Griffiths.
Masa kecil di Lynchburg, Virginia, yang dibesarkan di keluarga riligius dan pernah hampir membunuh sang kakak, Hal, membuat Desmond Doss trauma akan kekerasan. Saat itu ia terus diingatkan akan salah satu dari 10 Perintah Allah tentang membunuh sesama. Ketika tumbuh dewasa dan hampir semua pemuda di kotanya mendaftar untuk menjadi prajurit perang di Perang Dunia II, Desmond pun ikut bergabung. Padahal baru saja ia jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang perawat, Dorothy Schutte. Selama pelatihan, Desmond menjadi bulan-bulanan prajurit lain dan para petinggi, terutama keputusannya untuk tidak mau sekedar memegang senjata. Setelah proses pengadilan militer yang cukup panjang dan ia diperbolehkan berangkat perang tanpa harus memegang maupun berlatih menggunakan senjata, medan perang sesungguhnya di Okkinawa, terutama di bukit bernama Hacksaw Ridge, lah ujian keseimbangan akan iman dan pengabdiannya sebagai prajurit diuji.
Dengan menangkat tema keimanan yang dibenturkan dengan perang, Hacksaw Ridge (HR) sebenarnya dikembangkan dengan treatment yang tak jauh dari film-film perang lainnya, terutama yang mengutamakan sisi humanisnya. Konflik personal (termasuk romansa), perang, brotherhood, kemanusiaan. That’s it. Bahkan setup-nya pun digarap dengan sangat ‘biasa’, bahkan cenderung agak bertele-tele, terutama mengenai imannya untuk tidak memegang senjata. Begitu juga roman antara Desmond-Dorothy yang kisah awal jatuh cintanya kelewat cheesy dan ‘perpisahan sementara’ yang tak terlalu menggugah emosi.
Namun kesemuanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika memasuki paruh kedua, ketika perang telah dimulai. Rentetan adegan-adegan perang yang luar biasa brutal dan digarap dengan tensi tak pernah kendur terus-terusan memompa adrenaline penonton. Akhirnya tema keimanan yang begitu kuat digaungkan sejak awal film mendapatkan porsi yang seimbang dan relevansi yang kuat ke dalam adegan-adegan perangnya. Barulah emosi penonton dikuras habis-habisan oleh sepak terjang Desmond Doss yang luar biasa patriotis. Tak heran jika ada yang sampai tak terasa berkaca-kaca dengan air mata kekaguman dan kebanggaan di penghujung film. Apalagi footage interview dengan sosok Desmond Doss yang asli dan beberapa tokoh penting lainnya yang menambah keotentikan kisahnya.
Andrew Garfield sebagai karakter sentral, Desmond Doss, tampil dengan kharisma penuh. Sosok prajurit pemberani tapi dengan hati yang luar biasa besar dan tulus terpancar dengan sangat kuat dari aktingnya. Teresa Palmer sebagai Dorothy mungkin porsi perannya tak begitu banyak, tapi mampu menjadi daya tarik tersendiri di tengah karakter-karakter pria. Vince Vaughn sebagai Sergeant Howell, Sam Worthington sebagai Captain Glover, dan karakter-karakter prajurit lainnya diberi porsi yang cukup untuk diingat penonton, apalagi berkat keunikan karakter tersendiri. Hugo Weaving sebagai Tom Doss, ayah Desmond, tampil kuat pula dengan porsi yang tergolong terbatas, bersama Rachel Griffiths sebagai Bertha Doss.
Sinematografi Simon Duggan memvisualisasikan adegan-adegan perang dengan sangat baik sehingga mampu memberikan tensi yang tinggi dan konsisten, tanpa ada detail adegan yang membingungkan. Editing John Gilbert tentu punya andil yang tak kalah penting dalam membangun momen-momen luar biasa dengan timing yang serba pas dan porsi yang seimbang. Sementara scoring music dari Rupert Gregson-Williams memperkuat sisi-sisi humanis, patriotisme, dan tentu ke-epic-an. Sound design pun menyumbangkan efek-efek suara yang bombastis di genre-nya, termasuk tata surround yang termanfaatkan dengan maksimal. Membuat penonton seolah diajak langsung ke tengah-tengah medan perang sesungguhnya.

HR sekilas mungkin tak ubahnya film-film perang dengan fokus pada sisi humanis dengan treatment-nya. Aspek keimanan yang menjadi daya tarik lebih pun awalnya dimasukkan dengan treatment yang biasa-biasa saja dan lebih ke verbal yang sangat obvious. Namun kesemuanya dibayar tuntas ketika sudah masuk ke momen-momen perang dimana tak hanya sangat mendebarkan dan brutal, tapi juga berhasil membuat aspek keimanan tersebut menyatu dalam visual yang emosional tanpa dramatisasi berlebihan. HR jelas a-must-see bagi siapa saja, apalagi buat yang memang menggemari tema perang, kemanusiaan, atau Christianity.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Actor in a Leading Role - Andrew Garfield
  • Sound Editing - Robert Mackenzie and Andy Wright
  • Sound Mixing - Kevin O'Connell, Robert McKenzie, Andy Wright, and Peter Grace
  • Directing - Mel Gibson
  • Film Editing - John Gilbert
  • Best Picture
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates