Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
#Grace
[Awasarn Lok Suay /
อวสานโลกสวย]

Social media dan cyberbullying memang bisa jadi materi film thriller/horror yang menarik. Setelah Unfriended (2014) yang berhasil mencekam saya dengan treatment yang ‘terbatas’, Kantana Motion Pictures, PH asal Thailand, tahun ini menawarkan gory thriller yang juga mengangkat fenomena cyberbullying dan social media. Meski konsepnya tidak ‘online’ sepenuhnya seperti Unfriended, film bertajuk #Grace (judul asli Awasarn Lok Suay) memadukan tema teenage dengan home invasion thriller bermotifkan perebutan popularitas. Ditulis dan disutradarai oleh pendatang baru, Ornusa Donsawai dan Pun Homchuen, #Grace didukung oleh bintang-bintang muda, seperti Apinya Sakuljaroensuk (4bia, Friendship), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13-Rak Kan Ja Tai), Napasasi Surawan (The Ugly Duckling), dan Hataichat Eurkittiroj (3 A.M. Part 2, Ghost Coins).
Grace, gadis SMA yang gemar membuat kostum cosplay bertemu dengan Jack yang pervert dan juga suka cosplay. Tak hanya sering membuat kostum untuk Jack, Grace akhirnya juga mengenal sosok Care, seorang selebriti internet yang terkenal karena fan-fiction berjudul Summer Trick yang ditulis oleh sahabatnya, Ple. Didorong oleh kecemburuan dan iri hati, Grace membujuk Jack untuk mau menyekap Care. Pada hari yang sudah direncanakan, ternyata Care tak sendirian. Ada pula Ple yang akhirnya ikut diculik. Mulailah Grace menjalankan misi ‘balas dendam’ dan obsesinya untuk menggapai popularitas di dunia maya.
Kisah #Grace sebenarnya tak terlalu istimewa. Film remaja bertema home invasion/penculikan/penyekapan/penyiksaan dengan motif balas dendam maupun perebutan popularitas sudah sering diangkat. Begitu pula medium Facebook yang juga sudah sering dipakai. Namun mau bagaimana lagi. Facebook (masih menjadi) platform paling populer di seluruh dunia. Tak jadi masalah sebenarnya, selama plot yang dijalin tetap menarik untuk disimak.
#Grace menyusun plotnya lewat flashback-flashback yang peletakannya cukup acak dan batasan-batasan dengan current time yang agak samar. Awalnya tentu struktur timeline yang sekilas terkesan berantakan ini membingungkan. Penonton pun dibuat bertanya-tanya tentang detail-detail cerita yang terkesan tak cukup kuat, terutama dari segi motivasi karakter. Namun seiring dengan laju plot, detail-detail cerita pun mulai terjelaskan dan pada akhirnya mampu menggugah pikiran saya tentang dampak psikologis dari fenomena online celebrity. Mungkin apa yang terjadi di #Grace terkesan the most extreme that could’ve happened, tapi tetap bisa saja benar-benar terjadi di dunia nyata. Lebih dari itu, saya juga merasakan #Grace mencoba menunjukkan betapa mudahnya manusia terpicu untuk menghabisi seseorang. Tak hanya dari karakter Grace, tapi juga Care yang di sini sebenarnya diposisikan sebagai korban.
Sebagai sajian gore, #Grace pun lebih dari cukup untuk memuaskan penggemarnya. Adegan-adegan berdarah tersebar di hampir sepanjang film dan tersaji dengan intensitas yang cukup terjaga pula.
Apinya Sakuljaroensuk sebagai Grace yang porsinya paling banyak menjadi daya tarik utama penonton. Sosok ‘sakit jiwa’-nya dihidupkan dengan kuat. Tekanan-tekanan yang menjadi motivasi utama karakternya melakukan kejahatan cukup bisa dirasakan pula lewat ekspresi wajahnya. Nutthasit Kotimanuswanich sebagai Jack tak buruk, tapi juga tak tampil begitu istimewa. Ini juga karena faktor penulisan karakter dan porsi yang memang tergolong biasa saja. Sementara Napasasi Surawan sebagai Care mampu menjadi rival head-to-head yang seimbang untuk Apinya dengan transformasi karakter yang baik.
#Grace punya sinematografi yang tak terlalu istimewa. Cenderung punya cita rasa FTV atau film video, tapi setidaknya masih mampu menuangkan cerita dengan jelas dan adegan-adegan thriller yang efektif. Editing masih jauh dari kesan ‘rapi’, terutama dalam menyusun struktur dan flashback yang seharusnya bisa dibuat lebih nyaman diikuti. Musik dari Chatchai Pongprapaphan juga tak istimewa, tapi cukup dalam membangun suasana ketegangan sepanjang film. Sayang, sound design hanya memanfaatkan kanal front dan center. Fasilitas surround seolah tak termanfaatkan sama sekali.

Dengan mengangkat fenomena social media dan cyberbullying lewat kemasan gory home invasion thriller, #Grace cukup menarik dan seru untuk diikuti kendati perlu sedikit kesabaran. Look deeper, ia mampu mengusik benak saya akan dampak psikologis dan the worst possibility that could’ve happened in real world terkait popularitas di dunia maya. Namun jika Anda sekedar mencari hiburan thriller yang berdarah-darah, #Grace menjadi pilihan yang menarik.
Lihat website resmi film ini.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates