Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
The Girl with All the Gifts

Tahun 2014 lalu novel bertajuk The Girl with All the Gifts (TGwAtG) karya M. R. Carey dirlis. Novel yang berdasarkan cerpen karyanya sendiri yang memenangkan Edgar Award, Iphogenia in Aulis ini dipuji sebagai variasi genre post-apocalypse dan zombie yang menarik. Uniknya, antara novel dan naskah filmnya ditulis secara bersamaan setelah mendapatkan pendanaan dari BFI Film Fund. Colm McCarthy yang selama ini dikenal menggarap beberapa episode dari serial-serial seperti Sherlock, The Tudors, dan Doctor Who, ditunjuk sebagai sutradara. Jajaran cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Glenn Close, Gemma Arterton, Paddy Considine, dan pendatang baru cilik, Sennia Nanua. Jika Anda pernah menyukai film zombie Inggris, 28 Days Later dan 28 Weeks Later, maka TGwAtG bisa jadi sajian yang menarik pula.
Di awal film kita diperkenalkan kepada sosok gadis cilik bernama Melanie yang hidup dalam kurungan bak penjara. Pengamanan terhadapnya begitu ketat seolah ia sangat berbahaya, dan tiap hari mendapatkan pelajaran dari seorang guru wanita muda bernama Helen Justineau, bersama dengan anak-anak seusianya yang juga mendapatkan perlakuan yang sama. Suatu kejadian menyadarkan penonton bahwa Melanie yang terkesan lugu, cerdas, dan penuh rasa penasaran, bisa berubah menjadi sosok monster yang luar biasa buas. Hanya Helen yang punya rasa iba dan koneksi yang kuat terhadapnya. Hingga ketika Melanie terancam untuk dimatikan oleh Dokter Caroline Caldwell, barulah identitas Melanie dan keadaan bumi di luar karantina terkuak. Bumi sudah dipenuhi oleh zombie yang disebut ‘hungries’. Hanya tinggal beberapa orang di dalam karantina yang masih bertahan hidup. Dokter Caldwell percaya bahwa Melanie bisa menjadi penawar dari jamur yang mengubah manusia menjadi ‘hungries’. Sayangnya, harapan itu semakin menipis seiring dengan jumlah manusia yang semakin menurun, termasuk Helen, Sersan Eddie Parks, dan prajurit Kieran Gallagher.
Secara garis besar, TGwAtG mungkin tak benar-benar baru. Ia seperti hybrid dari berbagai kisah post-apocalypse dan zombie dengan pendekatan humanis. Satu hal yang menarik adalah asal mula virus pengubah manusia menjadi sosok ‘hungries’ yang berasal dari jamur dan kelak bisa dengan mudah tersebar melalui spora yang terhembus angin. Masih belum banyak film bertemakan zombie dan post-apocalypse yang menggunakan pendekatan biologis yang ilmiah. Tentu dengan pendekatan biologis, konsep cerita TGwAtG yang memang masih tergolong fiksi tapi menjadi lebih masuk akal untuk benar-benar terjadi. Ini tentu menjadikan aura yang lebih ‘horor’ bagi penonton.
Overall, TGwAtG masih menggunakan formula horror-thriller yang kurang lebih sama dengan film-film zombie lain; serangan tiba-tiba yang brutal dan membangun ketegangan lewat keheningan. In this attempts, McCarthy terbukti melakukan tugasnya dengan sangat baik. Alhasil TGwAtG menjadi film horror-thriller yang begitu menegangkan dan mencekam. Tak ketinggalan gore-fest yang sangat memuaskan para penggemar genrenya.
Sedangkan dari segi penyusunan plot, TGwAtG mampu membangun rasa penasaran penonton sedikit demi sedikit lewat runtutan narasi yang tersusun baik. Karakter Melanie yang ditunjuk sebagai karakter utama sekaligus penggerak narasi mampu menarik simpati penonton, di balik hitam-putih karakternya. Begitu pula karakter-karakter lain, seperti Dokter Caldwell dan Sersan Eddie Parks yang juga dihadirkan dengan hitam-putih yang jelas serta seimbang. Membuat penonton tidak lantas membenci atau membela salah satu karakter. Lebih dari itu, TGwAtG punya momen-momen yang morally thought-provoking sekaligus menyentuh emosi. Konklusinya mungkin kurang memuaskan bagi beberapa tipe penonton, tapi bagi saya punya kekuatan tersendiri, terutama tentang keputusan terbaik yang berorientasi pada masa depan setelah semua harapan yang ada musnah.
Pendatang baru Sennia Nanua sebagai Melanie menjadi daya tarik utama. Tak hanya karena porsinya sebagai penggerak narasi yang paling mendominasi, tapi juga karena kharisma aktingnya yang begitu kuat. Sosok gadis cilik lugu yang berhati besar, cerdas, sekaligus penuh rasa penasaran, tapi juga bisa berubah menjadi luar biasa buas ditampilkan dengan keseimbangan yang luar biasa dan dengan transformasi yang natural. Penampilannya membuat penonton tetap bersimpati meski telah mengetahui sisi terang-gelap dari karakter. Gemma Arterton sebagai Helen Justineau pun tak kalah menarik perhatian, terutama lewat chemistry yang terbangun dengan begitu kuat dengan Nanua. Tak ketinggalan ekspresi dan gesture yang menggambarkan emosi karakter dengan begitu kuat. Glenn Close sebagai Dr. Caldwell, seperti biasa menampilkan kharisma yang kuat. Ditambah sepak terjang yang kick-ass, karakter Dr. Caldwell menjadi karakter yang juga menarik. Selanjutnya ada Paddy Considine sebagai Sersan Eddie Parks, Fisayo Akinade sebagai prajurit Kieran Gallagher, Dominique Tipper sebagai prajurit Devani, dan Anthony Welsh sebagai prajurit Dillon yang cukup mendukung dengan porsi masing-masing.
Faktor keberhasilan TGwAtG sebagai sebuah film horror-thriller zombie adalah sinematografi Simon Dennis dan editing Matthew Cannings yang mampu membangun nuansa seru, menegangkan, sekaligus emosional sepanjang film. Desain produksi Kristian Milsted dan art direction Philip Barber menyulap kota jadi dipenuhi zombie ganas serta gedung karantina yang meski tergolong ‘sederhana’ tapi sangat meyakinkan. Make up department pun melakukan tugasnya dengan sangat baik dalam menggambarkan sosok-sosok ‘hungries’. Dengan sound design yang mumpuni termasuk pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal, ditambah scoring Cristobal Tapia de Veer yang begitu haunting, sound department tak kalah memanjakan indera pendengaran seperti halnya indera penglihatan.

Bak hybrid dari berbagai elemen dari film-film bergenre sejenis dengan modifikasi di sana-sini, TGwAtG berhasil menjadi salah satu film zombie yang paling notable sepanjang sejarah. Tak hanya mampu menjadi sajian hiburan horror-thriller yang intense, mendebarkan, dan brutal, tapi juga menampilkan hati serta elemen humanis yang tak kalah kuat. Pantang dilewatkan oleh penggemar horror-thriller, terutama di sub-genre zombie.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates