Wednesday, November 16, 2016

The Jose Flash Review
Fantastic Beasts
and Where to Find Them

Siapapun harus mengakui bahwa Harry Potter merupakan salah satu fenomena pop-culture paling besar sejak akhir 90-an sampai sekarang. Maka ketika novel terakhir selesai difilmkan, sayang rasanya jika franchise sebesar itu harus berakhir pula. Untungnya J.K. Rowling adalah penulis dengan visi yang luar biasa detail. Ini merupakan bakat yang jarang ada dari seorang penulis. Dengan demikian ia sudah bisa disejajarkan dengan J.R.R. Tolkien yang juga membuat universe Lord of the Rings dan begitu mendetail. Seiring dengan buku-buku ‘pelengkap’ yang ia terbitkan untuk tujuan amal, seperti Fantastic Beasts and Where to Find Them (FBaWtFT) yang merupakan buku pelajaran bak ensiklopedia tentang makhluk-makhluk magis, Quidditch Through the Ages yang merupakan buku perjalanan sejarah olah raga Quidditch, dan The Tales of Beedle the Bard yang merupakan buku kumpulan dongeng. Warner Bros. tertarik untuk mengangkat FBaWtFT ke film layar lebar. J.K. Rowling sendiri yang memulai debut penulisan naskah, dengan sutradara David Yates (Harry Potter and the Order of Phoenix sampai The Deathly Hallows Part 2) setelah Alfonso Cuarón menolak. Mengingat ini adalah sebuah spin-off dengan setting jauh sebelum cerita orisinilnya, tentu diperlukan konsep serta karakter-karakter baru. Eddie Redmayne didapuk memerankan karakter sentral, Newt Scamander. Didukung Katherine Waterston, Dan Fogler, Alison Sudol, Colin Farrell, Ezra Miller, Ron Perlman, dan Jon Voight. Untuk pertama kalinya pula aktor-aktor asal Amerika Serikat masuk ke dalam universe sihir ini mengingat setting-nya pun berpindah dari Inggris ke Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros. dan Rowling sudah mengumumkan akan ada lima seri dari Fantastic Beasts.
Cerita dibuka dengan kedatangan seorang pemuda bernama Newt Scamander ke daratan Amerika Serikat dengan membawa sebuah koper besar. Begitu tiba ia langsung disambut oleh Mary Lou yang menyerukan gerakan anti penyihir. Usut punya usut gerakan ini dipicu oleh serangkaian kejadian misterius yang akibatnya cukup fatal terjadi akhir-akhir ini di New York. Ia menduga ini merupakan aktivitas sihir. Di saat yang sama, seekor makhluk gaib bernama Niffler kabur dari koper Scamander hingga menuntunnya masuk ke dalam bank dan berakhir dengan tuduhan perampokan. Pertemuan tak mengenakkan dengan seorang No-Maj (istilah Amerika Serikat untuk muggle, kaum manusia biasa) bernama Jacob Kowalski, membuat Scamander mau tak mau mengajaknya ‘bertualang’. Aktivitas mencurigakan keduanya diendus oleh Tina, seorang auror atau semacam ‘polisi’ penyihir. Sayang Tina sendiri rupanya bermasalah sehingga aduannya atas pelanggaran Scamander tak diindahkan. Maka Scamander berinisiatif untuk menyelesaikan sendiri permasalahan yang disebabkan oleh dirinya. Siapa sangka mereka justru terlibat dengan penyebab ancaman kekacauan-kekacauan misterius di New York selama ini yang sebenarnya.
Meski masih satu universe, tapi FBaWtFT jelas punya konsep yang jauh berbeda dari seri Harry Potter. Tak hanya masalah setting waktu yang era 1920-an, tapi juga lokasi di Amerika Serikat dengan culture-culture yang berbeda dari Inggris. Tentu butuh waktu lebih untuk memperkenalkan istilah-istilah dan segala tatanannya yang baru. Jika mau dianalisis lebih dalam, plot FBaWtFT sebenarnya masih kurang lebih pada template serupa dari seri Harry Potter dengan modifikasi di sana-sini. Mulai sosok karakter sentral hingga pengungkapan villain sebenarnya yang tentu mengingatkan kita akan revealing Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Kendati demikian, pembangunan konsep segala sesuatunya yang diciptakan oleh Rowling harus diakui luar biasa detail.
Sayangnya, saya pribadi masih belum bisa merasakan ‘daya magis’ yang (setidaknya) sama kuatnya dengan seri orisinilnya. Awalnya saya sendiri susah menjelaskan faktor X apa yang membuatnya demikian. Apalagi ternyata efek ‘magis’ yang dirasakan oleh tiap orang, baik yang penggemar fanatik Harry Potter maupun muggle (baca: awam), berbeda-beda. Kemudian saya mencoba untuk menganalisis lebih dalam penyebabnya. Saya menemukan adanya storytelling Yates yang masih belum mampu memvisualkan visi Rowling sekuat seri Harry Potter. Terutama di satu jam pertama ketika ia memperkenalkan universe-nya dengan pace yang kurang nyaman untuk diikuti. Terlalu cepat (atau terlalu banyak) untuk dicerna tapi terlalu lambat untuk dinikmati sebagai sajian hiburan. Ya, konsep visualnya mayoritas menakjubkan, seperti desain makhluk gaib dan berbagai efek-efek sihir yang menghibur. Namun tak jarang pula visualisasinya tampak kacau di layar. Lihat saja serangan Obscurus yang membuat adegan-adegan pertarungan dahsyat terlihat kurang jelas detailnya. Satu elemen yang justru berhasil adalah romance antara karakter no-maj, Jacob Kowalski dan Queenie Goldstein. Awalnya menjadi sub-plot sampingan, tapi di klimaks justru menjadi momen manis yang paling memorable.
Eddie Redmayne mungkin masih butuh waktu lebih untuk membuat karakter Newt Scamander terasa lebih menarik dan punya daya untuk menarik simpati lebih besar. Hal yang sama yang pernah terjadi dengan karakter Harry Potter dulu. Namun setidaknya Redmayne sudah cukup menorehkan kekhasan dalam karakter Scamander, mulai ekspresi wajah, gesture, sampai attitude dan pola pikir. Katherine Waterston sebagai Tina masih jauh dari menarik dan mengesankan. Dan Fogler sebagai Kowalski yang sebenarnya secara fisik mengingatkan saya akan karakter Uncle Vernon, tapi rupanya menjadi salah satu karakter paling memorable dan loveable di sini. Chemistry manis yang berhasil dibangunnya dengan Alison Sudol sebagai Queenie menjadi salah satu faktornya. Sementara Sudol sendiri memang tampil lebih menarik dengan aura ‘menggoda’ daripada Waterston. Ezra Miller sebagai Credence cukup noticeable meski tidak diberi detail karakter yang lebih. Begitu juga Collin Farrell sebagai Percival Graves yang tidak diberi porsi lebih mendalam meski sebenarnya cukup penting. Sisanya, Carmen Ejogo sebagai Presiden Seraphina Picquery, Samantha Morton sebagai Mary Lou, Jon Voight sebagai Henry Shaw Senior, dan Josh Cowdery sebagai Henry Shaw Junior tampil noticeable dengan porsi masing-masing. Serta tak boleh dilupakan pula kejutan dari Johnny Depp yang sebenarnya mudah ditebak jika Anda familiar dengan pola cerita universe Harry Potter.
Konsep baru maka kesempatan untuk memasukkan elemen-elemen teknis baru ke dalamnya. Sinematografi Philippe Rousselot melanjutkan konsistensi storytelling dari universe Harry Potter dengan angle-angle dan pergerakan kamera yang terlihat fantastis di layar sebesar IMAX. Sayang beberapa visualisasi adegan pertarungan dan penghancurannya masih tampak kacau di layar hingga mengganggu detail pergerakan adegan. Editing Mark Day bukanlah penyebab ketidak-stabilan pace FBaWtFT. Tampak sekali ia berupaya menjaga laju pace sepanjang film tanpa melupakan ruang bagi penonton untuk merasakan ‘wow’-factor-nya. Desain produksi Stuart Craig, James Hambidge, beserta tim art menyuguhkan sedikit warna baru tanpa menghilangkan warna-warna dari seri orisinilnya sebagai benang merah. Khas New York dengan desain kostum dari Colleen Atwood yang selalu cantik dan classy, serta elemen-elemen pendukung nuansa jazzy. Scoring dari James Newton Howard juga menyuntikkan alunan baru yang cukup hummable dengan masih menyisakan jejak scoring asli Harry Potter yang digubah oleh John Williams hingga Alexandre Desplat.

Jika Anda termasuk penggemar atau sekedar mengikuti dan suka seri Harry Potter, jelas FBaWtFT pantang untuk dilewatkan. Toh sudah terbukti bahwa efeknya berbeda-beda terhadap tiap penonton, baik dari kalangan fans maupun muggle. Siapa tahu Anda bisa merasakan ke-‘magis’-an yang sama atau malah lebih dari seri Harry Potter orisinil. Saya pribadi tentu akan terus mengikuti seri-seri selanjutnya yang sudah disiapkan, mengingat pengalaman dari seri Harry Potter dulu yang semakin lama semakin menarik. Just for a suggestion, untuk mendapatkan pengalaman yang maksimal tentu wajib menyaksikannya di layar IMAX 3D. Apalagi ia punya efek-efek 3D yang cukup banyak dan bagus, baik dari segi ilusi depth of field maupun gimmick frame-breaking sebagai pengganti gimmick pop-out.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Costume Design - Colleen Atwood
  • Production Design - Stuart Craig (Production Design) and Anna Pinnock (Set Decoration)
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates