Wednesday, November 2, 2016

The Jose Flash Review
Doctor Strange

Sejak kemunculannya pertama kali sebagai salah satu karakter superhero Marvel tahun 1963, Doctor Strange punya sejarah adaptasi film yang cukup panjang. Setelah muncul sebagai sebuah FTV tahun 1978 yang dianggap gagal secara rating, beberapa kali haknya berpindah tangan. Mulai versi 1992 yang akhirnya naskahnya dimodifikasi menjadi Doctor Mordrid karena haknya sudah keburu expired duluan, hingga film animasi direct-to-video tahun 2007. Untuk rencana versi layar lebarnya sendiri sebenarnya sudah tercetus sejak 1986 ketika naskahnya akan diproduksi Regency tapi batal karena film-filmnya didistribusikan Warner Bros (which of course, has exclusive DC Comic movie adaptation), kemudian pindah ke tangan Savoy Pictures dengan (Almarhum) Wes Craven yang sempat tanda tangan kontrak untuk menulis naskah dan menyutradarai, kemudian ke tangan David S. Goyer, Columbia Pictures dengan naskah yang dikerjakan Jeff Welch, Dimension Films dengan Goyer yang kembali mengemban tugas hingga memutuskan untuk keluar dari proyek tahun 2002.
Tahun 2005 Paramount Pictures mengambil alih haknya ketika memproduksi film-film Marvel Studios. Thomas Dean Donnelly dan Joshua Oppenheimer (iya, sutradara Act of Killing itu!) sempat di-hire untuk menulis naskahnya dengan aktor Patrick Dempsey sebagai pemeran utama. Hingga akhirnya tahun 2013, presiden Marvel Studios, Kevin Feige resmi mengumumkan bahwa film Doctor Strange (DS) akan menjadi bagian dari fase ketiga Marvel Cinematic Universe (MCU) dengan Scott Derrickson yang punya daftar filmografi horor-horor berkualitas, seperti The Exorcism of Emily Rose, Sinister, dan Deliver Us from Evil sebagai sutradara sekaligus menyusun naskahnya bersama partnernya di Sinister, C. Robert Cargill dan Jon Spaihts. Aktor serial Sherlock Holmes, Benedict Cumberbatch didapuk menjadi sosok Doctor Strange, didukung Chiwetel Ejiofor, Rachel McAdams, Benedict Wong, Mads Mikkelsen, dan yang paling menjadi kontroversi karena dituduh whitewashing, Tilda Swinton sebagai The Ancient One yang aslinya adalah sosok pria tua asal Tibet.
Dr. Stephen Strange adalah dokter bedah syaraf yang dikenal jenius dan arogan. Hidupnya berubah ketika mengalami kecelakaan yang menyebabkan syaraf kedua tangannya terluka parah hingga selalu bergetar. Untuk itulah karirnya sebagai dokter bedah syaraf terkesan sudah berakhir. Frustasi, ia diberi tahu tentang sosok Jonathan Pangborn yang sempat lumpuh tapi bisa pulih total secara misterius. Penyelidikan membawanya ke Nepal untuk mencari seseorang/sesuatu bernama Kamar Taj. Adalah seorang guru yang usianya misterius, biasa dipanggil sebagai The Ancient One, menjelasan tentang kekuatan spiritual untuk memasuki dimensi lain. Dengan kekuatan inilah Strange bisa belajar untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Strange yang awalnya memang seorang yang tak percaya hal-hal magis di luar logika, tertarik juga untuk belajar setelah dibawa The Ancient One melihat dimensi lain. Rupanya ini adalah awal baru bagi Strange karena ternyata ada Kaceilius, mantan guru spiritual yang membelot dan berniat membangkitkan Dormammu dari Dimensi Kegelapan dimana tanpa waktu sehingga mampu hidup abadi. Keselamatan dunia pun terancam ketika portal-portal penghubung antara dunia nyata dan dimensi lain yang ada di New York, London, dan Hong Kong diincar oleh kelompok Kaceilius untuk dihancurkan. Strange dipercaya oleh para guru, termasuk The Ancient One, mampu menghentikan sepak terjang mereka dengan dibantu oleh sesama murid The Ancient One, Karl Mordo, dan penjaga perpustakaan Kamar Taj, Wong.
Sebagai sebuah origin story, DS sebenarnya masih menggunakan formula yang tak beda jauh dibandingkan film-film MCU lainnya. Brilliant but arrogant kemudian mengalami titik balik. Tak salah jika banyak yang membanding-bandingkannya dengan sosok Tony Stark alias Iron-Man. Yang membuatnya menarik adalah treatment untuk menyampaikan taste yang sedikit berbeda dari superhero-superhero MCU sebelumnya. Jika kebanyakan superhero MCU ‘berperang’ di dunia nyata dan fisikal, maka Doctor Strange di dimensi lain yang sebenarnya tidak kasat mata secara fisik. Maka imajinasi ‘liar’ pun menjadi kunci untuk memvisualkan universe-nya. Mengingatkan akan elemen-elemen visual ala The Matrix, film-film sci-fi mendiang Stanley Kubrick, Hayao Miyazaki, bahkan Inception, daya tarik utama DS jelas visual spectacle yang memanjakan mata. A trippy spectacle. Petualangan dan pertarungan seru mewarnai hampir sepanjang durasinya. Sempat-sempatnya melontarkan guyonan sarkastik dan bereferensi pada pop-culture pula. Ini jelas berhasil membuat karakter Strange menarik dan down-to-earth, tak seserius di trailer maupun tampilan fisiknya.
Look deeper. Ada moral dilemma yang cukup menarik untuk diangkat sebagai konsep besar ceritanya. Antara doing all in the right manner atau berani melanggar hukum alam demi a greater cause. Moral dilemma yang meletakkan karakter-karakter yang awalnya kita anggap sebagai protagonis bisa jadi berada pada posisi abu-abu. Selalu ada konsekuensi dari tiap pelanggaran yang dilakukan, termasuk untuk tujuan yang baik sekalipun. Membangun plotnya, DS pun mampu menyandingkan dua dunia yang bertolak belakang; dunia iptek (terutama medis) Barat dengan segala logika-logikanya, dan Timur dengan aspek-aspek spiritual sebagai kekuatan. Dengan runtutan plot yang natural dan terjalin rapi, kedua dunia yang (selalu dianggap) bertolak belakang ini justru berhasil digambarkan saling mendukung. Di mata dunia Barat modern yang serba logis, ini termasuk hal yang jarang dilakukan dan DS melakukannya dengan proporsi yang seimbang.
Namun memang harus diakui di tengah-tengah plot utama yang termasuk berjalan mulus dengan visual spectacle yang mengagumkan, DS tak selalu terasa sempurna. Ada kalanya saya merasakan bagian-bagian yang harus ‘mengalah’. Paling terasa adalah transformas sosok Strange yang terlalu signifikan, dari  ‘awam’ bela diri sampai bisa sebanding dengan Kaceilius yang notabene sejajar dengan para guru, tanpa visualisasi proses yang cukup natura. Setidaknya sebanyak visualisasi proses Strange belajar mengeluarkan senjata imajinasi, misalnya.
Benedict Cumberbatch jelas aktor yang paling tepat untuk merepresentasikan sosok Doctor Strange. Di tangannya, segala elemen karakter tervisualisasikan dengan jelas, kuat, dan dengan transformasi-transformasi karakter yang menarik simpati penonton pula. Kharismanya sebagai lead superher mampu sejajar dengan superhero MCU besar dan populer lainnya, seperti Iron-Man dan Captain America. Tilda Swinton sebagai The Ancient One menjawab keraguan dan tudingan whitewashing yang ditujukan kepada karakter yang diperankannya. Swinton jelas punya kharisma yang kuat untuk memerankan sosok guru bijak dan punya kemampuan bela diri yang tinggi. Mads Mikkelsen sebagai karakter antagonis, Kaecilius mungkin tak diberi porsi dan detail yang cukup untuk menarik simpati penonton, tapi kekuatan kharisma vilainous-nya masih jelas terasa.
Chiwetel Ejiofor sebagai Karl Mordo kali ini masih belum diberi porsi yang benar-benar berarti, tapi sedikit teaser di ending menunjukkan porsi yang lebih banyak dan krusial di installment selanjutnya. Rachel McAdams sebagai Christine Palmer mengingatkan saya akan porsi Natalie Portman sebagai Jane Foster di Thor. Tak banyak tapi cukup mencuri perhatian penonton. Benedict Wong beruntung karakternya ditulis dengan menarik dan mampu dibawakan dengan pas pula. Di lini pendukung berikutnya ada Michael Stuhlberg (Dr. Nicodemus West), Scott Adkins (Lucian), dan Benjamin Bratt (Jonathan Pangborn) yang cukup noticeable di balik porsi yang tergolong sedikit.
Desain produksi DS yang menjadi visual spectacle unik dan cantik jelas menajdi kekuatan utama. Semakin grandeur dengan aspect ratio 1.90:1 yang terasa maksimal di layar IMAX. Meski tak direkam dengan kamera IMAX, namun adegan-adegan ber-aspect ratio 1.90:1 jumlahnya banyak dan mampu memaksimalkan visual expreience-nya sehingga jelas tak ada experience yang lebih baik selain di layar IMAX. Apalagi sinematografi Ben Davis yang tau betul bagaimana menghadirkan cinematic experience maksimal lewat pilihan-pilihan angle dan camera movement. Versi 3D menawarkan depth-of-field yang lumayan memanjakan. Kendati tak ada pop-out gimmick yang cukup berarti, beberapa angle mampu memanipulasi persepsi sehingga menimbulkan trik pop-out. Editing Sabrina Plisco dan Wyatt Smith menjaga pace dan porsi menjadi serba pas, dengan keseimbangan elemen-elemen cerita yang baik pula. Scoring Michael Giacchino tergolong variatif dan memberikan warna tersendiri pada nuansa film. Tak hanya basic action epic score, tapi juga racikan Tibetian ethnic yang semakin memperkental nuansa psychadelic yang trippy, dan sedikit 8-bit techno di beberapa komposisi. Tak usah meragukan sound design dan sound mixing yang terdengar begitu powerful dan memaksimalkan fasilitas surround di versi IMAX.
Seperti film-film MCU lainnya, DS yang merupakan origin story tentu menarik minat dan rasa penasaran banyak kalangan penonton. Derrickson dan timnya terbukti mampu memberi rasa serta pengalaman sinematis yang unik dan berbeda pada DS. Visual spectacle, exciting action sequences, comedic presence yang tak kalah menghibur dan pada porsi yang pas, moral dilemma yang menarik, serta elemen West meets East in a very appealing and balanced manner, DS sayang dilewatkan untuk dialami di layar lebar. Apalagi jika Anda punya akses di teater IMAX.

Lihat data film ini di IMDb


The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Visual Effects - Stephane Ceretti, Richard Bluff, Vincent Cirelli, and Paul Corbould


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates