Friday, November 4, 2016

The Jose Flash Review
Café Society

Woody Allen bisa jadi salah satu sineas Hollywood paling produktif. Bagaimana tidak, terhitung sejak debutnya di tahun 1966, hampir tiap tahun (bahkan benar-benar tiap tahun sejak 1982) ada film yang ia sutradarai sekaligus ia tulis dan bahkan sesekali turut membintangi. Meski tak semuanya selalu diakui sebagai karya yang bagus, tapi sudah tak terhitung pula yang termasuk Hollywood’s classics. Seperti Annie Hall (1977), Manhattan (1979), Vicky Cristina Barcelona (2008), hingga Midnight in Paris (2011). Para bintang Hollywood kelas A pun sulit menolak ajakan untuk meramaikan film-filmnya. Tak terkecuali untuk karya terbarunya, Café Society (CS) yang dihiasi Jesse Eisenberg (sebelumnya pernah bekerja sama dengan Allen di To Rome with Love), Kristen Stewart, Steve Carell, dan Blake Lively. CS mengambil setting era 1930-an antara gemerlapnya Hollywood dan kerasnya Bronx, New York.
Bosan dengan kehidupan dan pekerjaannya membantu sang ayah di Bronx, New York, Bobby Dorfman memutuskan untuk merantau ke Hollywood. Ia berharapa sang paman yang bekerja sebagai agen artis, Phil, mau memberinya pekerjaan sebagai apa saja. Ternyata butuh berminggu-minggu bagi dirinya bisa sekedar bertemu langsung. Phil menyuruh sekretarisnya, Vonnie untuk mengajak Bobby berkeliling Hollywood, sekedar mengenal environtment yang baru. Seperti bisa diduga, Bobby mulai jatuh hati pada Vonnie sementara Vonnie yang sebenarnya juga manaruh hati pada Bobby enggan membalas karena ia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria beristri. Gayung bersambut ketika si pria beristri memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya dan memutuskan hubungan dengan Vonnie. Sakit hati, Vonnie berpaling ke Bobby. Hubungan mereka kembali diterpa badai ketika Vonnie memutuskan untuk menikahi pria tersebut.
Patah hati, Bobby memutuskan kembali ke Bronx dan bekerja di klub malam yang dikunjungi petinggi serta pesohor New York tiap malam, milik sang kakak, Ben Dorfman yang merupakan mafia disegani. Karir dan reputasinya terus meningkat hingga membuatnya jatuh hati kepada Veronica. Hubungan Bobby dan Veronica tampak diliputi kebahagiaan tiada akhir. Namun siapa sangka Bobby dan Vonnie ternyata sama-sama belum bisa saling melupakan.
Jika Anda pernah menyaksikan atau malah nge-fan dengan karya-karya Woody Allen, maka pasti Anda tahu bagaimana karya-karyanya yang mengalir lancar begitu asyik untuk dinikmati. Seringkali plotnya sangat ringan dan sehari-hari, tapi tak jarang pula sebenarnya menyimpan konsep serta value yang berbobot dan krusial. Tak ketinggalan dialog-dialog witty, cerdas sekaligus menggelitik, terkadang sarkas, tapi selalu relevan. CS pun termasuk karya Allen yang demikian. Kisahnya yang basically kebimbangan cinta segi-sekian bisa jadi cheesy. Namun setidaknya Allen masih men-deliver-nya sebagai kebimbangan yang logis dan jauh dari kesan cheesy.
Above all, ia ingin menyuarakan bahwa perasaan cinta yang sesungguhnya sebenarnya susah padam meski mungkin masing-masing sudah memilih jalan sendiri dan bahagia. Dilema perasaan dan kenyataan menjadi highlight terkuat CS. Sebagai pasangan karakter utama, tentu penonton diarahkan (dan memang berhasil) untuk bersimpati pada Bobby dan Vonnie. Namun di sisi lain, penonton juga diarahkan untuk tidak memusuhi, bahkan dibuat kasihan pada sosok Phil maupun Veronica. Tak ada yang antagonis di sini, baik secara naratif maupun morally. Sayangnya, CS memang seringan dan se-simple itu. Dialog-dialog cerdas dan menggelitik khas Allen pun mungkin hanya satu-dua line yang benar-benar berhasil. Sisanya tergolong mediocre.
Bak novel yang punya sub-plot-sub-plot untuk memperkaya cerita (Allen pernah mengatakan bahwa ia ingin mengimplementasikan konsep narasi a la novel di sini), CS pun juga punya ‘selipan-selipan’ yang terkesan tak terlalu penting, alih-alih mengganggu fokus cerita, terutama elemen latar belakang serta sepak terjang Ben sebagai mafia Bronx. Nyatanya, selain untuk sekedar ‘memuluskan’ karir Bobby di kancah pesohor New York, detail-detail adegan Ben tak punya pengaruh apa-apa terhadap karakter Bobby, apalagi hubungan antara Bobby dan Vonnie yang merupakan plot utama. Untungnya elemen-elemen selipan ini tak sampai mengganggu pace secara keseluruhan. Bikin saya berceletuk, “ini ngapain sih ada ginian?”, tapi tak sampai membuat saya resah kenapa filmnya tak kunjung selesai. Durasinya yang ‘hanya’ 96 menit masih membuat CS tergolong enjoyable untuk diikuti, seiring dengan iringan musik jazz sepanjang film khas Allen. Setidaknya dengan melibatkan rasa penasaran penonton di banyak kesempatan sampai membuat penonton berempati terhadap karakter-karakternya.
Entah disengaja atau tidak, Jesse Eisenberg sebagai Bobby Dorfman terasa seperti berusaha meng-impersonate sosok Woody Allen, terutama di Annie Hall dan Manhattan di mana Allen menjadi karakter utamanya. Tiap gesture dan cara bicaranya sangat identik. Untungnya ia memang cocok dalam meng-impersonate Allen. Tak ada kesan dibuat-buat atau canggung. Kristen Stewart sebagai Vonnie menjadi sosok yang loveable dan mempesona setelah selama ini lebih sering menyandang gelar Miss Tanpa Ekspresi. Sorot matanya seringkali menyiratkan perasaan terdalam tanpa perlu berdialog. Chemistry yang ia bangun bersama Eisenberg maupun Carell pun sangat natural dan convincing. Tak salah jika penonton sampai turut dibuat bingung untuk menentukan simpati.
Steve Carell sebagai Phil tampil tak berbeda jauh dari karakter-karakter yang ia perankan sebelumnya, terutama di Crazy, Stupid, Love. Masih menarik tapi tidak istimewa. Begitu juga Blake Lively sebagai Veronica yang masih memainkan peran tipikalnya dengan masih anggun dan mempesona.
Di teknis, CS terasa unggul di desain produksi yang mampu membawa semua elemen klasik Hollywood dan New York era 30-an. Mulai eksterior dan interior rumah hingga kostum. Sinematografi Vittoro Storaro pun mampu mem-framing serta mengeksplor semua keindahan desain produksi secara maksimal, terutama dari segi camera movement yang smooth, eksploratif, dan sinematis. Penggunaan kamera digital (film pertama Allen dengan kamera digital!) menangkap dan menyuguhkan detail-detail gambar yang mengagumkan. Editing Alisa Lepselter yang sudah menjadi langganan Allen sejak Sweet and Lowdown masih mengantarkan feel yang konsisten dengan film-film Allen sebelumnya. Begitu pula dengan music supervisor Stewart Lerman yang lagi-lagi memilih musik-musik jazz yang menyatu dengan film.
Dibandingkan film-film Allen sebelumnya, unfortunately CS bukan termasuk karya-karya terbaiknya. Jauh jika mau dibandingkan dengan Annie Hall, Manhattan, atau Midnight in Paris (bahkan saya masih lebih menyukai Magic in the Moonlight). Mungkin faktor plot yang terlalu ringan, tanpa value tertentu yang powerful, dengan dialog-dialog yang tak setajam film-film lini atasnya. Mediocre, tapi masih sangat enjoyable untuk diikuti, mengalir bak mengikuti alunan musik jazz. Bagi penggemar Woody Allen, tentu pantang untuk melewatkan.


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates