It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Tuesday, November 29, 2016

The Jose Flash Review
Moana

Tema princess selalu punya tempat tersendiri bagi Walt Disney Animation Studios selama puluhan tahun. Terakhir, suguhan princess dengan isu yang lebih modern (dibandingkan karakter-karakter Disney Princess populer sebelumnya), Frozen (2013), sukses besar, bahkan menjadi salah satu Disney Princess modern-classic. Tak salah jika mereka selalu menggali materi-materi ‘princess’ dari berbagai budaya. Pilihannya kali ini jatuh pada budaya Polynesia kuno atau jika dipadankan dengan era sekarang, budaya Hawaii. Merupakan kisah orisinal, bukan diambil dari dongeng atau legenda, Moana atau dalam bahasa Polynesia bermakna ‘lautan’ atau ‘biru’. Naskahnya disusun oleh Jared Bush yang pernah menggarap naskah Zootopia dan serial animasi Penn Zero: Part-Time Hero, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada duet Ron Clements dan John Musker yang pernah sukses dengan Basil, the Great Mouse Detective, The Little Mermaid, Aladdin, Hercules, Treasure Planet, dan The Princess and the Frog. Suara karakter utama, Moana, dipercayakan kepada aktris muda pendatang baru asli Hawaii, Auli’i Cravalho, didampingi Dwayne Johnson, Nicole Scherzinger, dan Alan Tudyk.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Allied

War and romance. Dua elemen yang sudah sejak lama dipadukan kendati termasuk jarang. Sebut saja The English Patient yang pernah mendominasi berbagai ajang penghargaan bergengsi dunia. Begitu pula tema pasangan yang sama-sama menjalani profesi sebagai mata-mata. Judul paling populer di era millenium ini ada Mr. and Mrs. Smith dan bahkan di tahun ini ada Keeping Up with the Joneses. Menambah daftar panjang dari tema dan formula tersebut, salah satu sutradara papan atas Hollywood, Robert Zemeckis, mencoba menyumbangkan pasangan Brad Pitt-Marion Cotillard yang sempat heboh lantaran gosip penyebab retaknya rumah tangga pasangan Brad Pitt-Angelina Jolie, lewat Allied. Kendati merupakan skenario asli, penulis naskah Steven Knight (Eastern Promises, Hummingbird, Locke, The Hundred-Foot Journey, The Seventh Son, dan Burnt) mengaku mendapatkan ilham dari kisah nyata yang diceritakan kepadanya saat berusia 21 tahun. Terlepas dari benar atau tidak, duet pasangan Brad Pitt-Marion Cotillard serta nama besar Robert Zemeckis tentu membuat Allied sebagai sajian yang menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 26, 2016

The Jose Flash Review
Rumah Malaikat

Meski tergolong salah satu genre yang paling diminati, ternyata tak banyak sineas spesialis horror yang (setidaknya) punya visi unik dan menarik selain sekedar menjual jumpscare dengan konsep generik. Salah satunya adalah Billy Christian yang mulai dikenal setelah menangani Kotak Musik, salah satu segmen di Hi5teria (2012). Setelah menjajal berbagai genre lainnya, mulai komedi di The Legend of Trio Macan (2013), drama remaja di 7 Misi Rahasia Sophie (2014), hingga puncaknya, dipercaya untuk men-develop sekaligus menangani Tuyul Part 1 (2015), karir Billy semakin diperhitungkan, terutama di genre horror. Sempat kontroversi lewat Kampung Zombie (2015), Billy move on lewat Rumah Malaikat (RM). Didukung aktris muda, Mentari De Marelle, Roweina Umboh, Dayu Wijanto, Agung Saga, serta beberapa aktor-aktris cilik pendatang baru, RM menawarkan kisah misteri dengan rahasia untuk diungkap di klimaks. Tak banyak yang berani ‘bermain-main’ dengan jenis ini di ranah perfilman Indonesia. Apalagi dengan konsep visual yang ditata serius. Tak heran jika RM lantas mengundang rasa penasaran, terutama dari penggemar horror/thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 19, 2016

The Jose Flash Review
Death Note:
Light Up the New World
[デスノート]

Manga berjudul Death Note karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sudah menjadi salah satu manga paling populer era 2000-an sejak pertama kali kemunculannya di tahun 2006. Sejak itu pula berkembang menjadi sebuah franchise besar meliputi novel, serial animasi, game, FTV, dan tentu saja film layar lebar live action. Versi layar lebarnya pertama kali menyambangi bioskop tahun 2006 dengan dua judul sekaligus, Death Note dan Death Note 2: The Last Name yang sukses secara komersial. Diikuti sebuah spin-off yang mengambil setting setelah seri kedua versi layar lebarnya yang dirilis tahun 2008 bertajuk L: Change the World. Kini setelah berselang 8 tahun, dibuat lagi installment yang merupakan sekuel dari Death Note 2: The Last Name dengan tajuk Death Note: Light Up the New World (LUTNW). Tatsuya Fujiwara, Ken’ichi Matsuyama, dan Erika Toda kembali memerankan karakter dari seri asli, sementara plot utama diisi oleh pemeran-pemeran baru seperti Sosuke Ikematsu, Masaki Suda, dan Sota Aoyama. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Shinsuke Sato yang pernah populer secara internasional lewat I Am Hero (2015), sementara naskahnya disusun oleh Katsunari Mano (serial TV Aibô). Seperti installment ketiganya, kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikan LUTNW di layar lebar hanya tak lebih dari satu bulan setelah penayangan perdana di Jepang. Thanks to Moxienotion to bring this to Indonesia!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Under the Shadow
[زیر سایه]

Meski kondisi negaranya tergolong tidak stabil, Iran selalu mampu memukau dunia internasional lewat film-film yang dilahirkan dari para sineasnya. Satu sutradara berbakat baru yang masuk dalam jajaran ini adalah Babak Anvari. Setelah menulis sekaligus menyutradarai empat film pendek, termasuk Two & Two yang dinominasikan sebagai Best Short Film di BAFTA Awards 2012, ia dipercaya mewujudkan film panjang pertamanya, Under the Shadow (UtS), hasil co-produksi antara Qatar, Yordania, dan Inggris. Tak diduga tanggapan kritikus luar biasa, hingga dipilih untuk mewakili Inggris di Academy Awards ke-89 2017 nanti untuk kategori Best Foreign Language Film. Netflix pun tertarik untuk membeli haknya untuk ditayangkan di Amerika Serikat. Sementara kita di Indonesia punya kesempatan berharga untuk mengalaminya di layar lebar dengan fasilitas yang tentu jauh lebih layak ketimbang di rumahan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Nine Lives

Trend film keluarga dengan value tertentu dan melibatkan hewan peliharaan memang sudah lama lewat. Apalagi dengan genre fantasi magis seperti bertukar jiwa. Maka apa yang coba disajikan Nine Lives (NL) di tahun 2016 ini bisa dibilang cukup berani dan langka di tengah gempuran tema superhero. Mungkin bagi beberapa penonton mungkin tema ringan seperti ini bisa menyegarkan setelah berpuluh-puluh tahun sirna. Tak heran ketika dirilis berbarengan dengan Suicide Squad di Amerika Serikat, ia masih mampu mengumpulkan US$ 10 juta saat opening weekend. Total film produksi Perancis-Cina berbahasa Inggris ini berhasil mengumpulkan US$ 50.5 juta di seluruh dunia dengan budget awal US$ 30 juta. Meski konsepnya sudah usang dan cenderung seperti film direct-to-video, nama Barry Sonnenfeld (The Addams Family, Get Shorty, franchise Men in Black, Wild Wild West) di bangku sutradara dan aktor-aktor populer seperti Kevin Spacey, Christopher Walken, dan Jennifer Garner jelas menjadi daya tarik tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Melbourne Rewind

Winna Efendi dikenal sebagai salah satu penulis novel roman young adult populer. Dua judul novelnya sudah diadaptasi ke film layar lebar; Refrain (2013) dan Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta (2014). Tahun 2016 ini giliran Rapi Films yang mengangkat novel Melbourne Rewind (MR) ke layar lebar. Haqi Achmad kembali ditunjuk sebagai penyusun naskah setelah sukses mengadaptasi Refrain dan Remember When, dengan surradara Danial Rifki (La Tahzan, Haji Backpacker, dan Spy in Love). Morgan Oey, Pamela Bowie, Aurellie Moeremans, dan Jovial da Lopez mengisi deretan cast utama untuk menarik perhatian target audience utamanya; remaja dan dewasa muda.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Offering

Singapura memang bukan termasuk negara dengan industri perfilman yang menggeliat. Namun sesekali ada karya dari Singapura yang menarik untuk disimak. Salah satu sineas asal Singapura yang berhasil minat produser Hollywood untuk mendanai filmnya adalah Kelvin Tong yang dilirik lewat horror The Maid (2005), action-thriller co-production dengan Hong Kong, Rule Number One (2008), serta komedi keluarga It’s a Great, Great World (2011). Tahun 2016 ini ia menawarkan sebuah horror dengan unsur-unsur relijius Katolik dan teka-teki misteri kematian berantai. Film berjudul The Offering (atau dikenal dengan judul alternatif The Faith of Anna Waters) ini dibintangi aktris Amerika Serikat yang belum begitu populer, Elizabeth Rice dan Matthew Settle (masih ingat Will Benson dari I Still Know What You Did Last Summer?).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 16, 2016

The Jose Flash Review
Fantastic Beasts
and Where to Find Them

Siapapun harus mengakui bahwa Harry Potter merupakan salah satu fenomena pop-culture paling besar sejak akhir 90-an sampai sekarang. Maka ketika novel terakhir selesai difilmkan, sayang rasanya jika franchise sebesar itu harus berakhir pula. Untungnya J.K. Rowling adalah penulis dengan visi yang luar biasa detail. Ini merupakan bakat yang jarang ada dari seorang penulis. Dengan demikian ia sudah bisa disejajarkan dengan J.R.R. Tolkien yang juga membuat universe Lord of the Rings dan begitu mendetail. Seiring dengan buku-buku ‘pelengkap’ yang ia terbitkan untuk tujuan amal, seperti Fantastic Beasts and Where to Find Them (FBaWtFT) yang merupakan buku pelajaran bak ensiklopedia tentang makhluk-makhluk magis, Quidditch Through the Ages yang merupakan buku perjalanan sejarah olah raga Quidditch, dan The Tales of Beedle the Bard yang merupakan buku kumpulan dongeng. Warner Bros. tertarik untuk mengangkat FBaWtFT ke film layar lebar. J.K. Rowling sendiri yang memulai debut penulisan naskah, dengan sutradara David Yates (Harry Potter and the Order of Phoenix sampai The Deathly Hallows Part 2) setelah Alfonso Cuarón menolak. Mengingat ini adalah sebuah spin-off dengan setting jauh sebelum cerita orisinilnya, tentu diperlukan konsep serta karakter-karakter baru. Eddie Redmayne didapuk memerankan karakter sentral, Newt Scamander. Didukung Katherine Waterston, Dan Fogler, Alison Sudol, Colin Farrell, Ezra Miller, Ron Perlman, dan Jon Voight. Untuk pertama kalinya pula aktor-aktor asal Amerika Serikat masuk ke dalam universe sihir ini mengingat setting-nya pun berpindah dari Inggris ke Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros. dan Rowling sudah mengumumkan akan ada lima seri dari Fantastic Beasts.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 15, 2016

The Jose Flash Review
Rock On 2

Tahun 2008, Rock On!! (RO), film musikal tentang perjalanan karir sebuah band rock bernama Magik berhasil menarik perhatian di India. Ditulis dan disutradarai oleh Abhishek Kapoor dengan bintang Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, dan Luke Kenny, RO yang mendapatkan respon kritik beragam menjurus ke positif serta pendapatan box office yang tergolong biasa-biasa saja, keputusan pembuatan sekuel tak perlu waktu lama. Kendati demikian, perjalanan menyusun cerita dan pembuatan sekuelnya ini yang ternyata memakan waktu lama. Terhitung ada jeda delapan tahun sampai sekuelnya, Rock On 2 (RO2) ini dirilis. Abhishek Kapoor masih menyusun naskahnya bersama Pubali Chaudhuri, sementara bangku penyutradaraan diberikan kepada Shujaat Saudagar yang sebelumnya ditunjuk produser Ritesh Sidhwani sebagai second unit director di Don 2. Arjun Rampal, Farhan Akhtar, Purab Kohli, Prachi Desai, dan Shahana Goswami kembali, dengan tambahan dukungan dari bintang muda yang tengah bersinar, Shraddha Kapoor (Aashiqui 2, Ek Villain, Any Body Can Dance 2, Baaghi).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 14, 2016

The Jose Flash Review
Billy Lynn's
Long Halftime Walk

Perang dan dampak psikologis seperti yang pernah diangkat oleh Clint Eastwood di American Sniper (2014) memang menarik dan bisa menggugah siapa saja. Konsep yang mirip inilah yang diusung oleh Billy Lynn’s Long Halftime Walk (BLLHW). Diangkat dari novel karya Ben Fountain yang dirilis tahun 2012, proyek ini tak main-main. Meski adaptasi naskahnya dipercayakan kepada Jean-Christophe Castelli yang menandai debutnya sebagai penulis naskah (sebelumnya menjadi associate producer Life of Pi), tapi bangku penyutradaraan diberikan kepada Ang Lee yang seolah sudah punya jaminan mutu dalam bercerita. Setelah memaksimalkan penggunaan teknologi di Life of Pi, kali ini Ang Lee lagi-lagi mencoba teknologi baru untuk memvisualkan ceritanya, yaitu high frame rate 120 frame per second (frame rate tertinggi saat ini, melebihi rekor 48 fps dari The Hobbit: An Unexpected Journey) dengan format 3D pada resolusi 4K. Konon kabarnya ini untuk memberikan kesan serealistis mungkin dari adegan-adegan yang ia sajikan. Sayangnya, teknologi yang benar-benar baru pertama kali ini tidak bisa ditayangkan di semua teater. Hanya ada enam teater di seluruh dunia yang mampu memutar format ini (dua di Amerika Serikat, sisanya di Taipei, Beijing, dan Shanghai). Teater lain harus puas dengan format normal atau ‘hanya’ 24 fps.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Keeping Up with the Joneses

Ada alasan mengapa action dan comedy menjadi genre yang sering dipadukan. Keduanya merupakan genre yang paling mudah untuk menghibur penonton. Sudah ada banyak sekali film dengan perpaduan genre ini yang menuai sukses di box office, bahkan mencatatkan diri dalam sejarah film. Di era 2000-an sebut saja Mr. & Mrs. Smith yang menjadi fenomenal karena memasangkan dua selebriti papan atas yang kemudian menjadi pasangan suami-istri, Brad Pitt dan Angelina Jolie. Tema espionage yang kental dengan genre action dan bumbu komedi kemudian menjadi fprmula yang sering digunakan. Terakhir ada Spy (2015) yang bertumpu pada pesona comedic Melissa McCarthy dan Central Intelligence yang memasangkan Dwayne Johnson dengan Kevin Hart. Kini penulis naskah Michael LeSieur (You, Me & Dupree) dan sutradara Greg Mottola (Adventureland, Superbad, dan Paul) mencoba menggabungkan tema espionage couple ala Mr. & Mrs. Smith dan komedi bertetangga a la The Whole Nine Yards. Menambah daya tarik dari segi komedi, Zach Galifianakis (The Hangover Trilogy) ditunjuk menjadi salah satu aktor di film yang diberi tajuk Keeping Up with the Joneses (KUwtJ) ini. Didukung Isla Fisher, Jon Hamm (serial Mad Men), dan aktris beraura seksi yang sedang naik daun berkat perannya sebagai Wonder Woman, Gal Gadot. 

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
#Grace
[Awasarn Lok Suay /
อวสานโลกสวย]

Social media dan cyberbullying memang bisa jadi materi film thriller/horror yang menarik. Setelah Unfriended (2014) yang berhasil mencekam saya dengan treatment yang ‘terbatas’, Kantana Motion Pictures, PH asal Thailand, tahun ini menawarkan gory thriller yang juga mengangkat fenomena cyberbullying dan social media. Meski konsepnya tidak ‘online’ sepenuhnya seperti Unfriended, film bertajuk #Grace (judul asli Awasarn Lok Suay) memadukan tema teenage dengan home invasion thriller bermotifkan perebutan popularitas. Ditulis dan disutradarai oleh pendatang baru, Ornusa Donsawai dan Pun Homchuen, #Grace didukung oleh bintang-bintang muda, seperti Apinya Sakuljaroensuk (4bia, Friendship), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13-Rak Kan Ja Tai), Napasasi Surawan (The Ugly Duckling), dan Hataichat Eurkittiroj (3 A.M. Part 2, Ghost Coins).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Girl with All the Gifts

Tahun 2014 lalu novel bertajuk The Girl with All the Gifts (TGwAtG) karya M. R. Carey dirlis. Novel yang berdasarkan cerpen karyanya sendiri yang memenangkan Edgar Award, Iphogenia in Aulis ini dipuji sebagai variasi genre post-apocalypse dan zombie yang menarik. Uniknya, antara novel dan naskah filmnya ditulis secara bersamaan setelah mendapatkan pendanaan dari BFI Film Fund. Colm McCarthy yang selama ini dikenal menggarap beberapa episode dari serial-serial seperti Sherlock, The Tudors, dan Doctor Who, ditunjuk sebagai sutradara. Jajaran cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Glenn Close, Gemma Arterton, Paddy Considine, dan pendatang baru cilik, Sennia Nanua. Jika Anda pernah menyukai film zombie Inggris, 28 Days Later dan 28 Weeks Later, maka TGwAtG bisa jadi sajian yang menarik pula.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Barakati

Indonesia memang kaya akan kisah sejarah, legenda, mitologi, maupun cerita rakyat yang menarik untuk dijadikan materi film aksi petualangan. Sayangnya, tak mudah untuk memproduksinya. Mungkin Sumber Daya Manusia kita sebenarnya sudah mampu, tapi budget yang tentu jauh lebih besar ketimbang genre drama atau komedi, misalnya, masih menjadi kendala terbesar. Terakhir yang paling notable dalam ingatan saya mungkin hanya Ekspedisi Madewa (2006) dan Dead Mine (2013) yang sebenarnya merupakan produksi bersama dengan HBO Asia, bukan sepenuhnya produksi Indonesia. Setelah itu masih ada Firegate produksi Legacy Pictures yang sampai tulisan ini diturunkan masih belum menetapkan tanggal rilis pasti. Sambil menantikannya, sebenarnya ada satu lagi film aksi-petualangan ala Indiana Jones dengan memanfaatkan legenda Nusantara masa lampau yang sudah rampung sejak awal tahun 2014 lalu. Film bertajuk Barakati (dalam Bahasa Buton artinya “yang diberkati”) ini disutradarai Monty Tiwa yang sekaligus menuliskan naskahnya bersama Eric Tiwa. Fedi Nuril, Acha Septriasa, Dwi Sasono, Jono Armstrong (mantan basis Gugun Blues Shelter) dipasang di lini utama, serta didukung Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, dan Mario Irwinsyah. Dengan mengambil kisah legenda Patih Gajah Mada dan latar Pulau Buton yang eksotis, di atas kertas Barakati sebenarnya sangat menarik. Setelah penantian yang lama, Barakati akhirnya mendapatkan jadwal tayang yang entah kebetulan atau memang disengaja, hanya satu minggu setelah perilisan Shy Shy Cat yang juga merupakan kerjasama Monty-Acha-Fedi. Let’s saya ini adalah momentum yang bisa dimanfaatkan jika memang tak ada banyak dana untuk melakukan promosi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Hacksaw Ridge

Selain menjadi salah satu aktor papan atas Hollywood, Mel Gibson juga beberapa kali duduk di bangku sutradara. Tak tanggung-tanggung, prestasinya sebagai sutradara sempat diganjar Oscar untuk Braveheart (2005). Juga ada film Biblical The Passion of the Christ (2004) yang menuai kontroversi. Setelah Apocalypto (2006), baru proyek biopic tentang prajurit Perang Dunia II yang enggan memanggul senjata, Desmond Doss, yang berhasil menarik perhatiannya. Padahal sebelumnya ia sempat dua kali menolak proyek yang sudah direncanakan sejak empat belah tahun yang lalu dan telah melalui beberapa kali pemindahan tangan. Bahkan produser Casablanca, Hal B. Wallis, di era 50-an sempat tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar dengan bintang Audie Murphy. Sayang Desmond Doss sendiri tak menyetujuinya karena takut kisahnya akan menjadi tipikal Hollywood. Baru setelah kematian Doss tahun 2006, produser Bill Mechanic mengantongi hak untuk mengangkatnya ke layar lebar. Robert Schenkkan (The Quiet American) dan Randall Wallace (The Water Diviner) ditunjuk untuk menyusun naskahnya, dan aktor The Amazing Spider-Man, Andrew Garfield, didapuk untuk memerankan sosok Doss, didukung Teresa Palmer, Vince Vaughn, Sam Worthington, Hugo Weaving, Richard Roxburgh, dan Rachel Griffiths.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 10, 2016

The Jose Flash Review
Shy Shy Cat

Pertengahan tahun 2016 netizen dikejutkan dengan foto aktris Acha Septriasa bersama Nirina Zubir di Instagram. Di tengah marak film-film Indonesia populer di awal era 2000-an yang bereuni, tentu ini menimbulkan spekulasi akan adanya follow up dari film roman karya Hanni R. Saputra rilisan tahun 2006 alias sepuluh tahun lalu, Heart yang melambungkan nama Acha Septriasa dan mantan pasangannya, Irwansyah. Ternyata dugaan itu salah. Acha dan Nirina memang kembali dipertemukan dalam satu layar, tapi untuk sebuah film komedi romantic baru berjudul Shy Shy Cat (SSC). Ini juga bukan remake dari film komedi romantis keluaran 1980, Malu-Malu Kucing yang dibintangi Mutia Datau dan Herman Felani.  Disutradarai Monty Tiwa yang termasuk sangat berpengalaman di genrenya, dan naskah yang disusun oleh Monty bersama Adhitya Mulya (Jomblo, Test Pack: You Are My Baby, dan Sabtu Bersama Bapak), daya tarik utamanya adalah trio Nirina-Acha dan Tika Bravani yang karirnya akhir-akhir ini kian melambung.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 9, 2016

The Jose Flash Review
Shivaay

Selain SRK, nama Ajay Devgn di peta perfilman Bollywood juga tak kalah populer. Sejak 1991, suami dari aktris Kajol ini sudah membintangi lebih dari seratus judul. Tak hanya puas menjadi aktor, Devgn pun merambah bangku penyutradaraan yang dilakoninya pertama kali lewat U Me Aur Hum (2008) di bawah bendera Ajay Devgn Ffilms. Salah satu ambisinya adalah membuat film aksi yang sudah direncanakannya sejak lama tapi harus dipending karena over-budget. Setelah mengalami perjalanan yang cukup berliku, proyek yang diberi tajuk Shivaay ini akhirnya siap rilis bertepatan dengan perayaan Diwali tahun 2016, head to head dengan film terbaru Karan Johar, Ae Dil Hai Mushkil. Dengan bekal trailer yang menjanjikan adegan-adegan aksi mendebarkan dan money-shot, Shivaay dengan mudah mengundang rasa penasaran untuk mengalaminya sendiri di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ouija: Origin of Evil

Jika kita di Indonesia mengenal Jelangkung, maka publik Amerika Serikat mengenal Ouija Board. Ditemukan sejak 1980 oleh Elijah Bond, Ouija Board yang punya kaitan erat dengan praktik okultisme nyatanya berkembang menjadi komoditas board game tersendiri hingga trademark dan patennya dimiliki oleh Hasbro sejak 1991. Kemudian Universal Pictures-Blumhouse-Platinum Dunes tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar pada tahun 2014 dengan judul Ouija yang disutradarai oleh Stiles White. Kendati dianggap horror mediocre dengan penanganan yang seadanya, Ouija berhasil mengumpulkan US$ 103 juta lebih di seluruh dunia. Padahal budget produksinya ‘hanya’ sekitar US$ 5 juta saja. Tentu tak perlu waktu lama untuk memutuskan pengembangan franchise baru ini. Michael Flanagan yang mulai dilirik sebagai sineas spesialis horror setelah Absentia dan Oculus dipercaya untuk menyutradarai sekaligus co-writer bersama partnernya di Oculus, Jeff Howard. Film bertajuk Ouija: Origin of Evil (OOoE) yang merupakan prekuel dari installment sebelumnya ini menandai film ketiga Flanagan yang dirilis di tahun 2016 ini setelah Hush dan Before I Wake.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 4, 2016

The Jose Flash Review
Café Society

Woody Allen bisa jadi salah satu sineas Hollywood paling produktif. Bagaimana tidak, terhitung sejak debutnya di tahun 1966, hampir tiap tahun (bahkan benar-benar tiap tahun sejak 1982) ada film yang ia sutradarai sekaligus ia tulis dan bahkan sesekali turut membintangi. Meski tak semuanya selalu diakui sebagai karya yang bagus, tapi sudah tak terhitung pula yang termasuk Hollywood’s classics. Seperti Annie Hall (1977), Manhattan (1979), Vicky Cristina Barcelona (2008), hingga Midnight in Paris (2011). Para bintang Hollywood kelas A pun sulit menolak ajakan untuk meramaikan film-filmnya. Tak terkecuali untuk karya terbarunya, Café Society (CS) yang dihiasi Jesse Eisenberg (sebelumnya pernah bekerja sama dengan Allen di To Rome with Love), Kristen Stewart, Steve Carell, dan Blake Lively. CS mengambil setting era 1930-an antara gemerlapnya Hollywood dan kerasnya Bronx, New York.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Trolls

Mainan memang menjadi salah satu sumber inspirasi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Tak terkecuali untuk boneka troll atau Dam doll/good luck trolls yang pertama kali dibuat oleh orang Denmark bernama Thomas Dam sebagai hadiah Natal buatan sendiri tahun 1959. Karakter berwujud ‘unik’ ini segera menjadi fenomena dunia, tak terkecuali di Amerika Serikat sekitar tahun 60-an. Kemudian karakter troll ini berkembang menjadi franchise dengan produk video game, film video, dan lebih banyak karakter boneka. Adalah DreamWorks Animation yang tertarik untuk membeli haknya tahun 2010 (kemudian pembelian keseluruhan hak merchandising di tahun 2013) untuk diangkat ke layar lebar. Mike Mitchell (Deuce Bigalow: Male Gigolo, Sky High, Shrek Forever After, dan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked) ditunjuk sebagai sutradara bersama Walt Dohrn, sementara naskahnya disusun oleh duo Jonathan Aibel dan Glenn Berger (Kung Fu Panda 1-3, Monsters vs Aliens, Alvin and the Chipmunks: The Squeakquel dan Chiprwrecked, dan The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water). Justin Timberlake yang pernah mengisi suara Artie di Shrek the Third, dikontrak sebagai voice talent karakter utama sekaligus music director, bersama Anna Kendrick, Zooey Deschanel, Christopher Mintz-Plasse, Russell Brand, John Cleese, Jeffrey Tambor, dan masih banyak lagi. Mengusung konsep musikal, animasi Trolls sedikit melakukan modifikasi ciri fisik karakter Trolls, tapi tetap mempertahankan bentu serta rambut warna-warninya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 2, 2016

The Jose Flash Review
Doctor Strange

Sejak kemunculannya pertama kali sebagai salah satu karakter superhero Marvel tahun 1963, Doctor Strange punya sejarah adaptasi film yang cukup panjang. Setelah muncul sebagai sebuah FTV tahun 1978 yang dianggap gagal secara rating, beberapa kali haknya berpindah tangan. Mulai versi 1992 yang akhirnya naskahnya dimodifikasi menjadi Doctor Mordrid karena haknya sudah keburu expired duluan, hingga film animasi direct-to-video tahun 2007. Untuk rencana versi layar lebarnya sendiri sebenarnya sudah tercetus sejak 1986 ketika naskahnya akan diproduksi Regency tapi batal karena film-filmnya didistribusikan Warner Bros (which of course, has exclusive DC Comic movie adaptation), kemudian pindah ke tangan Savoy Pictures dengan (Almarhum) Wes Craven yang sempat tanda tangan kontrak untuk menulis naskah dan menyutradarai, kemudian ke tangan David S. Goyer, Columbia Pictures dengan naskah yang dikerjakan Jeff Welch, Dimension Films dengan Goyer yang kembali mengemban tugas hingga memutuskan untuk keluar dari proyek tahun 2002.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 1, 2016

The Jose Flash Review
Ae Dil Hai Mushkil

Nama Karan Johar di industri perfilman Bollywood sudah tak perlu diragukan lagi. Lewat Dharma Productions yang didirikan oleh sang ayah, Yash Johar, ia memulai sukses karirnya lewat film Hindi paling fenomenal, Kuch Kuch Hota Hai (1998), Kabhi Khushi Kabhie Gham (2001), Kabhi Alvida Naa Kehna (2006), My Name is Khan (2010), dan Student of the Year (2012). Diwali (hari raya masyarakat Hindi) tahun ini, Johar mempersembahkan karya terbarunya, Ae Dil Hai Mushkil (ADHM, terjemahan Inggrisnya: This Heart is Complicated). Ia menggandeng aktor populer Ranbir Kapoor, didukung Anushka Sharma, Aishwarya Rai Bachchan, Imran Abbas, Fawad Khan, bahkan cameo dari Alia Bhatt dan Shah Rukh Khan. Sempat diwarnai kontroversi boikot karena keterlibatan aktor Pakistan, Fawad Khan, akhirnya ADHM bisa rilis secara serentak di seluruh dunia, berkompetisi dengan film Diwali lainnya, Shivaay.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates