Thursday, October 13, 2016

The Jose Flash Review
Snowden

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seluruh kegiatan di dunia maya bisa dengan mudah diawasi oleh pihak yang punya kuasa. Apalagi setelah satu per satu kasus konspirasi tingkat tinggi berkaitan privasi di dunia maya terbongkar. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh di ranah ini adalah Edward Snowden. Pernah diangkat ke sebuah film dokumenter Citizenfour (2014) yang bahkan memenangkan Oscar untuk kategori Best Documentary Feature tahun 2015 lalu, kali ini giliran Oliver Stone yang dikenal sering membuat biopic maupun peristiwa penting dunia kontroversial tertarik untuk mengangkatnya ke medium film.

Biopic Edward Snowden ini tak berjalan benar-benar mulus, apalagi statusnya yang masih buron dan sementara menetap di Rusia sampai film ini dirilis. Proses pembuatan pun dilakukan diam-diam dan harus memastikan terjaga privasinya dari pihak pemerintah Amerika Serikat. Oliver Stone sendiri yang di-approach pertama kali untuk direct sempat ragu karena enggan membuat film yang bisa memicu kontroversi (seperti W (2008), film Stone tentang mantan presiden George W. Bush), ditambah ia sedang mengembangkan biopic Marthin Luther King Jr. Setelah diyakinkan banyak pihak, termasuk Edward Snowden sendiri yang memberikan dukungan penuh, Stone akhirnya setuju untuk men-direct. Novel The Snowden Files karya Luke Harding dan Time of the Octopus karya pengacara Rusia Snowden, Anatoly Kucherena dijadikan dasar naskah yang disusun oleh Stone sendiri bersama Kieran Fitzgerald (The Homesman). Joseph Gordon-Levitt (JGL) yang memerankan karakter nyata Philippe Petit di The Walk (2015) yang mana juga pernah diangkat ke sebuah film dokumenter pemenang Oscar, Man on Wire (2008), didapuk memerankan Edward Snowden. Disusul Shailene Woodley, Zachary Quinto, Melissa Leo, Tom Wilkinson, Scott Eastwood, Timothy Olyphant, dan Nicolas Cage.

Film dibuka dengan pertemuan antara Edward Snowden dengan filmmaker dokumenter, Laura Poitras, dan wartawan The Guardian, Glenn Greenwald di Hong Kong. Keduanya setuju untuk mempublikasikan rahasia negara yang dibocorkan oleh Edward tentang negara (Amerika Serikat) yang diam-diam menyadap semua aktivitas di dunia maya atas nama keamanan nasional. Mulailah Edward bercerita sejak awal karirnya sebagai prajurit hingga menjadi staf penting NSA dimana ia menemukan fakta yang bertentangan dengan keyakinannya sebagai warga negara bebas dan demokratis. Keinginannya untuk ‘membela negara’ tak lagi mendukung pemerintah, tapi semua orang yang ada di dunia. Namun ini tentu beresiko tinggi. Paspornya ditahan sehingga tak banyak negara yang bisa ia kunjungi, tak bisa kembali ke Amerika Serikat, dan tentu saja membuat hubungannya dengan sang kekasih, Lindsay Mills, mengalami pasang-surut.

Berpijak pada keinginan Snowden untuk ‘membela negara’, Stone mencoba membawa arah cerita pada perkembangan karakter Edward Snowden yang sejak awal hanya punya keinginan tersebut. Dilematis moral seiring dengan karirnya di NSA dikembangkan untuk mendefinisi ulang keingin tersebut. Begitu pula dilema pilihan untuk cuek (bungkam) dengan imbalan hidup tenang dan nyaman atau mendengarkan suara hati untuk membongkar rahasia negara demi kepentingan umum dengan resiko hidup tak menentu. Peristiwa demi peristiwa dirangkai oleh Stone sesuai dengan konteks lewat benang pemersatu wawancara di Hong Kong, tanpa mengabaikan urutan kronologis. Hebatnya, Stone membuat semuanya yang sebenarnya terdengar sangat spesifik pada bidang profesi tertentu menjadi mudah diakses serta dipahami oleh penonton awam sekalipun. Tak ketinggalan drama hubungan asmara antara Edward dan Lindsay yang mampu menyatu, bahkan menjadi elemen pendukung yang penting bagi plot utamanya. Stone pun tau betul kapan, di mana, dan bagaimana meletakkan bagian yang bisa berperan seabgai klimaks cerita a la espionage thriller, tanpa mengganggu rangkaian cerita yang sudah tersusun rapi. Snowden pun menjadi sebuah biopic yang tak hanya akurat, tertata dengan rapi, menarik dan seru untuk diikuti, dan yang paling penting, menghantui (baca: membangun awareness) penonton, terutama yang selama ini punya aktivitas tinggi di dunia maya.

Kekuatan lain yang dikerahkan Stone di Snowden adalah mampu membuat semua cast-nya tampak bersinar meski tak semua punya porsi yang setara. Tak hanya faktor aktor-aktris yang mampu menghidupkan karakter-karakternya, tapi juga penulisan karakter yang memungkinkan mereka untuk unjuk kebolehan. Memerankan karkakter sentral dengan porsi yang paling dominan, tentu JGL menjadi fokus penonton. I have to say, semakin hari kemampuan JGL dalam menghidupkan peran semakin mencengangkan. Di sini ia tak hanya mereplikasi gesture dan segala detail Edward Snowden, tapi juga benar-benar mendalami perkembangan kepribadiannya. Bahkan tone suara dan sorot mata yang terasa begitu natural, sama sekali tak terkesan dibuat-buat. I really saw Edward Snowden as Edward Snowden, bukan JGL sebagai Edward Snowden.

Shailene Woodley sebagai Lindsay Mills pun terlihat punya kharisma akting yang makin kuat setelah franchise Divergent. Perkembangan yang cukup signifikan dari aktris remaja ke dewasa. Tak hanya keberaniannya untuk tampil topless, tapi juga dalam menghidupkan karakter yang lebih dewasa serta membangun chemistry yang convincing dengan JGL di balik pasang-surut hubungan Snowden-Lindsay. Di lini pendukung berikutnya, mulai Melissa Leo sebagai Laura Poitras, Zachary Quinto sebagai Glenn Greenwald, Rhys Ifans sebagai Corbin O’Brian, Nicolas Cage sebagai Hank Forrester, Lakeith Lee Stanfield sebagai Patrick Haynes, hingga Scott Eastwood sebagai Trevor James, berhasil memberikan impresi performa yang mengesankan di balik porsi peran masing-masing.

Dengan budget terbatas, Snowden terbukti mampu memaksimalkan segala teknisnya sehingga tetap layak. Mulai sinematografi Anthony Dod Mantle yang menggabungkan berbagai jenis kamera untuk memberikan kesan real sekaligus sesuai konsep yang banyak melibatkan surveillance camera maupun webcam tanpa mengabaikan staging dan framing sinematis. Editing Alex Marquez dan Lee Percy memperkuat rangkaian cerita yang disusun rapi sesuai konsep serta konteks, pun juga mampu bekerja maksimal untuk momen espionage thriller maupun romance drama-nya. Scoring Craig Armstrong dan Adam Peters mampu memperkaya film menjadi lebih asyik diikuti dengan sentuhan warna techno. Desain produksi meski memang terasa simplified di banyak set, seperti headquarter maupun kantor NSA, tapi masih tergolong layak dan bahkan beberapa berhasil menjadi memorable.

Sebagai sebuah biopic dengan sentuhan thriller, Snowden mampu menjadi sajian hiburan yang mudah diakses oleh penonton awam internet sekalipun. Seru diikuti dan punya korelasi antar sub-plot dengan plot utama yang kuat, sehingga durasi yang mencapai 2 jam 14 menit terasa padat tapi tetap enjoyable. Ia memang tak memberikan konklusi yang mengarahkan persepsi penonton, sama seperti kondisi Snowden yang masih menjadi exile sampai saat film ini tayang, yang mana artinya masih sangat mungkin kasusnya terus berkembang. Namun memilih ending seperti yang disajikan di hasil akhir, setidaknya ada titik balik yang dicapai dari pergulatan Snowden sepanjang film. Sisanya, tergantung bagaimana efek yang dipaparkan film terhadap penonton sehingga mampu mengambil sikap. Dengan demikian, Snowden bagi saya adalah salah satu film yang penting untuk ditonton. Tak hanya untuk tahun ini, tapi juga dalam kurun waktu sepanjang jaringan internet ada di dunia.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates