Sunday, September 25, 2016

The Jose Flash Review
Pink

Ada alasan mengapa tak banyak court drama atau drama berlatarkan ruang persidangan dibuat. Selain menyangkut keahlian profesi khusus yang artinya harus dibuat dengan detail yang tidak main-main, court drama juga tak mampu menjangkau range penonton yang terlalu luas karena memang tak banyak yang tertarik dengan intrik-intrik perkara hukum dan ruang persidangan. Padahal mau tak mau sebagai warga negara, tentu semua orang seharusnya paham dengan hukum yang berlaku di wilayah tinggalnya. Beberapa film memilih menggabungkannya dengan sub-genre lain sehingga terasa lebih accessible. Most of them are family-themed karena memang lebih mudah untuk menarik simpati sekaligus menggerakkan emosi penonton karena faktor kedekatan (well, siapa sih yang tak relate dengan isu-isu keluarga?). Contoh yang paling mudah diingat karena tergolong paling baru dirilis adalah The Judge (2014) yang dibintangi oleh Robert Downey, Jr. dan Robert Duvall. Sinema Hindi pun tak mau kalah mencoba menggabungkan genre court drama dengan isu-isu sosial. Pink yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh sineas Bengali, Aniruddha Roy Chowdhury, dibantu oleh Ritesh Shah (Kahaani, D-Day, Airlift, dan Te3n) ini mengangkat tema feminisme di balik kasus perkosaan yang sempat marak di tanah Hindustan. Dengan dukungan aktor sekaliber Amitabh Bachchan dan model/aktris berbahasa Telugu dan Telugu yang makin populer setelah tampil di film Hindi, Baby (2015) lalu, Taapsee Pannu, Pink dengan segera menjadi buah bibir para kritikus serta meraih sukses komersil di negaranya.

Film dibuka dengan tiga gadis muda; Minal, Falak, dan Andrea yang tinggal di sebuah rumah sewaan di kawasan perumahan pinggir kota. Hidup mereka yang semula tentram mendadak menjadi penuh teror, termasuk sang induk semang yang sering mendapatkan telepon gelap untuk mengusir mereka bertiga dengan tuduhan bukan gadis baik-baik. Ketika melaporkan ke polisi, mereka bertiga justru harus menghadapi tuntutan hukum dari keponakan seorang politisi berpengaruh di kawasan India Selatan, Rajveer. Barulah terkuak kejadian yang melibatkan ketiga gadis ini dengan Rajveer dan teman-temannya. Sayang keadilan tak berpihak kepada Minal dan kawan-kawan. Hanya seorang pengacara yang sudah pensiun, yang kebetulan tetangga mereka bertiga yang percaya dan peduli dengan nasib mereka, Deepak Sehgal. Ia sendiri punya masalah pribadi yang tak kalah serius. Mulai bipolar hingga sang istri yang sedang sakit keras. Tidak hanya nasib mereka bertiga, pengadilan ini juga menentukan definisi kesetaraan wanita dalam masyarakat (India) secara luas.

Tema sosial tentang feminisme di tengah isu pemerkosaan yang marak di India tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi Pink selain sekedar court-drama biasa. Apalagi ternyata ia punya naskah yang cerdas dalam membalikkan pola pikir tentang keadilan persepsi terhadap kaum wanita dalam masyarakat lewat argument-argumen yang disampaikan oleh Deepak Sehgal. Kritis, tajam, cerdas, dan relevan. Sayangnya, hanya sampai di situ saja keunggulan Pink. Selebihnya, ia lebih banyak didominasi oleh minus-minus yang membuat alurnya berjalan kurang lancar. Sebelum memasuki babak persidangannya, Pink dibuka dengan setup thriller yang terlalu bertele-tele, dengan pace yang kurang efektif sebagai sebuah thriller yang gripping. Tujuan utama untuk membuat penonton penasaran dengan apa yang terjadi yang menjadi titik mula kasus sudah terlanjur menguap duluan sebelum mencapai klimaksnya. Apalagi ini semua disampaikan dalam durasi yang cukup panjang, yaitu satu jam pertama. Baru ketika masuk ke babak persidangan, Pink menjadi lebih menarik untuk disimak, apalagi argumen-argumen dari Deepak Sehgal yang membuat saya menebak-nebak ke mana arah pertanyaan-pertanyaannya akan berujung. Tak semuanya terkesan terlalu intriguing dan cerdas, tapi berjalan pada koridor yang masih relevan. Kelemahan berikutnya terletak pada sub-plot tentang pribadi Deepak Sehgal. Mengidap bipolar dan kondisi istri yang sedang sakit keras terasa hanya sekedar gimmick tambahan untuk menambah unsur dramatis (yang ternyata juga tak terlalu berefek, eventually), tanpa punya relevansi terhadap perkembangan karakter Deepak, apalagi terhadap kasus Minal.

Tak perlu mempertanyakan performa seorang Amitabh Bachchan yang seperti biasa, tampil penuh kharisma. Apalagi menjadi seorang yang lebih banyak diam, mengeluarkan suara hanya seperlunya, dan cenderung misterius, Bachchan tampak mengancam sekaligus murah hati. Aura terkuat film terletak pada karakter Deepak yang dibawakannya. Tapsee Pannu sebagai Minal pun menampilkan performa seorang gadis berkarakter kuat dan berani, tapi juga bisa rapuh dengan cukup convincing. Begitu juga Kirti Kulhari sebagai Falak Ali dan Andrea Tariang sebagai Andrea yang mendukung dengan kapasitas sesuai dengan porsi masing-masing. Pun juga chemistry persahabatan ketiganya yang berhasil dijalin dengan kuat. Di lini berikutnya ada Piyush Mishra sebagai Prashant Mehra (pengacara Rajveer), Angad Bedi sebagai Rajveer Singh, dan Mamta Malik sebagai Sarla Premchand (polisi Haryanvi) turut memberikan performa yang tak kalah mencuri perhatian penonton dengan porsi masing-masing.

Sinematografi Abhik Mukhopadhyay termasuk efektif dalam bercerita dan menambahkan dramatisasi yang pas di beberapa bagian yang perlu. Sayang editing Bodhaditya Banerjee belum sepenuhnya berhasil di tiap momen. Di babak court drama, ia mampu membuat suasana menjadi menegangkan, asyik untuk diikuti, dan cukup klimaks. Namun sebaliknya, masih gagal mengeksekusi adegan-adegan thriller yang dijadikan sebagai setup cerita sehingga kurang terasa gripping. Belum lagi transisi adegan yang juga jauh dari kesan dinamis. Musik dari Shantanu Moitra, Faiza Mujahid, dan Anupam Roy cukup dalam membangun nuansa lirih dan ketegangan yang dihadirkan, tapi belum ada yang sampai tahap memorable dalam benak untung jangka waktu yang panjang.

Lewat isu yang disuarakan dengan berani, kritis, dan cukup cerdas, utamanya dalam mengubah keadilan persepsi terhadap wanita di tengah kondisi sosial India beberapa tahun belakangan, wajar jika Pink menarik perhatian, bahkan pujian tak henti-hentinya ditujukan kepadanya. Namun saya harus jujur pula bahwa ia tak sepenuhnya sempurna. Intensi yang baik jika dieksekusi dengan kurang tepat hasilnya tentu juga tak maksimal. Terutama babak setup sebagai sebuah thriller yang terlalu lama dan bertele-tele, dan sub-plot yang coba dihadirkan tapi tak terlalu terasa relevan dengan plot utama sehingga terasa sia-sia. Nevertheless, Pink masih menjadi salah satu film penting tahun ini. Apalagi jika Anda merindukan court drama yang berbobot dan semakin jarang dibuat, Pink rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates