Friday, October 14, 2016

The Jose Flash Review
Munafik

Kondisi perfilman Malaysia sebenarnya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Malah mungkin jumlah film yang secara teknis ‘kurang layak’ lebih banyak ketimbang Indonesia karena aturan kuota film lokal dari pemerintah mereka yang lebih ketat dan punya masa tayang minimal yang cukup panjang. Tentu ada banyak juga film yang layak untuk diperhitungkan. Salah satunya adalah nama sutradara muda Syamsul Yusof yang memang berasal dari keluarga sineas. Sang ayah, Yusof Haslam, adalah sutradara yang kerap menggarap film bertemakan kepolisian dan punya PH sendiri bernama Skop Production. Debutnya, Evolusi KL Drift (2008) dianggap berhasil secara komersial. Disusul Bohsia: Jangan Pilih Jalan Hitam (2009) yang kendati menuai kontroversi tapi tetap sukses secara komersial, Evolusi KL Drift 2 yang menyabet penghargaan Best Director, Best Editor, dan Best Screenplay di Malaysia Screen Awards 2010, serta KL Gangster (2011) yang lagi-lagi menganugerahinya Best Director di Malaysia Screen Awards 2011 sekaligus menorehkan rekor pendapatan film Melayu terlaris, yaitu sebesar Rs 12 juta. Tak hanya action, Yusof juga pernah mencoba menggarap film horror berjudul Khurafat: Perjanjian Syaitan (2011) yang juga dipuji kritikus dan mengumpulkan Rs 8 juta. Setelah vacuum selama 2 tahun, sutradara yang bak Anggy Umbara versi Malaysia karena merangkap banyak jabatan, mulai sutradara, penulis naskah, editor, sekaligus penata musik (bedanya Anggy tak ikut-ikutan menjadi aktor utama seperti Yusof) ini mencoba kembali dengan film horror religi keduanya, Munafik. Keberuntungan pun masih berada di pihaknya, karena Munafik memecahkan rekor pendapatan baru, yaitu total Rs 19 juta, menumbangkan rekor sebelumnya sebesar Rs 16.7 juta oleh Ola Bola di tahun yang sama. Beruntung kita yang di Indonesia bisa ikut menjadi saksi fenomena Munafik di layar lebar berkat MD Pictures yang menjadi distributor resmi.

Pasca kematian sang istri dalam sebuah kecelakaan, Ustadz Adam memilih untuk menarik diri dari keahliannya untuk menyembuhkan pasien dan mengusir makhluk halus. Kewajibannya sebagai ustadz terbengkalai, begitu juga imannya yang mulai terguncang dan mempertanyakan tujuan Tuhan mengambil istrinya. Hubungannya dengan sang putra tunggal, Amir pun merenggang karena ia lebih sering memarahi dan membentak. Kasus wanita muda soleh bernama Maria yang tiba-tiba kerasukan setan akhirnya berhasil menggugah Adam. Namun rupanya setan yang mempengaruhi Maria punya rencana godaan yang jauh lebih besar untuk Adam. Sementara itu bos Maria yang menaruh hati padanya menuduh Adam hanya memanfaatkan keadaan Maria demi uang. Adam merasakan tekanan yang semakin menumpuk dan bertubi-tubi hingga imannya semakin goyah.

Menggabungkan horror dengan unsur religius sebenarnya bukan hal baru. Untuk agama Katolik, formula ini sudah seringkali disandingkan. Sementara untuk agama Islam, terutama di ranah perfilman Indonesia sebenarnya juga sudah lama ada dan cukup banyak. Hanya saja beberapa dekade terakhir, genre ini tergolong ‘sepi’. Selain potensi ofensif yang bisa menyulut kontroversi besar jika tidak dikerjakan dengan hati-hati, kemungkinan menjadi terlalu preachy hingga dihindari penonton di luar kaum fundamentalis juga patut menjadi concern tersendiri, meski harus diakui mustahil menghadirkan horror religi yang sama sekali tidak preachy.

Secara naskah, Syamsul Yusof saya akui berhasil meracik unsur religius yang kental ke dalam formula horror yang tergolong umum, yaitu kerasukan setan. Tak hanya itu, ia juga berhasil merangkai elemen-elemen pembangun ceritanya menjadi kesatuan yang solid, relevan, koheren, dan masuk akal.  Ada value-value yang ternyata bersifat cukup universal, tak hanya relevan untuk kaum muslim, terasa dengan cukup kuat tanpa terkesan terlalu preachy. Yang tak pentingnya, ia meletakkan revealing dari misteri yang meski bagi saya masih tergolong mudah diduga, tapi tetap tertata dengan rapi. Ada sedikit part yang mungkin terasa bertele-tele dan/atau memulur laju penceritaan, tapi secara keseluruhan masih termasuk nyaman untuk diikuti.

Untuk urusan scary moment yang biasanya menjadi tolak ukur utama dalam menentukan bagus atau tidaknya sebuah horror, Munafik punya momen-momen mengerikan yang suasananya dibangun dengan timing serba tepat pula. Ada efek jumpscare yang terkesan berlebihan dan ‘berisik’, tapi untungnya tak sampai tahap mengganggu.

Sebagai aktor utama, Adam, Syamsul Yusof punya kharisma lebih dari cukup untuk menggalang simpati penonton. Ekspresi emosionalnya mungkin sedikit terlalu meledak-ledak di beberapa bagian, tapi ia menunjukkan performa perkembangan karakter yang cukup realistis dan convincing. Daya tarik yang lebih besar tertuju pada Nabila Huda sebagai Maria yang mampu menunjukkan kontras akting yang luar biasa. Ketakutan dan kebimbangan sebagai Maria asli sekaligus licik dan mengerikan sebagai Maria yang sudah dirasuki setan, berhasil dihidupkan Nabila dengan sangat maksimal. The rest of the cast turut mendukung dengan performa yang cukup memorable sesuai porsi masing-masing, mulai Sabrina Ali sebagai Zeti, Razif Salimin sebagai Pak Osman, Dato’ Rahim Razali sebagai ayah Adam, Pekin Ibrahim sebagai Fazli, dan tentu saja si cilik Ruzlan Abdullah sebagai Amir.

Meski secara naskah dan penyutradaraan dikerjakan dengan baik, saya harus jujur melayangkan komplain terhadap beberapa teknisnya. Sinematografi Rahimi Mahidin sebenarnya aman-aman saja, kecuali beberapa angle diagonal yang menurut saya tak perlu dan justru membuat sedikit pusing. Variasi berbagai angle yang ditata oleh editing Syamsul Yusof sendiri terasa terlalu banyak dan pada durasi yang terlalu cepat, apalagi untuk adegan percakapan biasa yang justru mengganggu kemulusan adegan serta terkesan terburu-buru. Tata suara mendukung suasana tegang dan mengerikan. Malah menjadi salah satu elemen horror yang paling kuat. Sayang dialog-dialog yang ada terdengar agak kurang powerful dan terasa sekali berasal dari proses dubbing. Musik scoring seringkali terdengar berlebihan, tapi ada kalanya pula ia tahu diri untuk lebih baik menghadirkan kesunyian sebagai pembangun ketegangan. Terakhir, theme song berjudul Kalah dalam Menang yang dibawakan oleh Mawi bersama Syamsul Yusof sendiri dan berirama hip-hop yang diputar sebagai pengiring credit title terasa terlalu kontras dengan nuansa horror film. Sebagai konten yang berdiri sendiri bagus, tapi tidak sebagai pengiring credit title yang justru bisa merusak after-taste secara keseluruhan.

Jika Anda mengaku pecinta horror, tentu pantang melewatkan film Melayu yang menjadi fenomena di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam ini. Memang secara teknis masih ada yang cukup ‘mengganggu’, tapi banyak pula elemen yang tergolong dikerjakan dengan baik sehingga tetap layak untuk diapresiasi dan dinikmati. Begitu pula bagi Anda yang penasaran dengan taste film Melayu selain animasi yang masih tergolong jarang diimpor ke bioskop maupun TV Indonesia. Jika Anda termasuk yang cocok dengan sajian horror Syamsul Yusof, siap-siap menantikan Munafik 2 yang kabarnya sedang dikerjakan untuk tayang pertengahan 2017. Atau bagi yang terpikat oleh daya tarik Syamsul Yusof, siap-siap pula mencicipi drama-aksi-fantasi besutan sutradara Syafiq Yusof (adik Syamsul) yang ‘pamer’ visual effect bertajuk Desolasi mulai 8 Desember 2016 nanti di negara asalnya. Semoga saja ada distributor yang tertarik untuk mengimpor dan menayangkannya di pawagam… ehm maksud saya, bioskop Indonesia.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates