Tuesday, October 25, 2016

The Jose Flash Review
A Monster Calls

Patrick Ness, penulis novel asal Amerika Serikat yang hijrah ke London, dikenal lewat novel anak Monsters for Men (2011) dan young-adult A Monster Calls (AMC-2012). Khusus yang saya sebutkan terakhir, AMC, adalah sebuah novel yang awalnya atas ide Siobhan Dowd ketika sekarat. Setelah meninggal dunia tahun 2007, Patrick Ness ditunjuk untuk menuliskan ceritanya menjadi sebuah novel dengan ilustrasi dari Jim Kay. AMC berhasil memenangkan medali Carnegie dan Greenaway di tahun 2012 serta sejumlah penghargaan buku bergengsi lainnya, termasuk British Children’s Book of the Year dan masuk daftar terbaik akhir tahun dari The Independent, Chicago Sun-Times, dan The Wall Street Journal. Tentu pencapaian setinggi ini menjadi materi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Adalah Focus Features yang beruntung mengamankan haknya. Sutradara Spanyol Juan Antonio Bayona yang populer  secara internasional lewat The Orphanage (2007) dan The Impossible (2012) ditunjuk menjadi sutradara, sementara naskah adaptasinya dikerjakan sendiri oleh Patrick Ness. Aktor cilik Lewis MacDougall (Pan) ditunjuk mengisi peran utama, Conor, sementara nama-nama yang lebih populer seperti Felicity Jones, Toby Kebbell, bahkan sampai sesenior Sigourney Weaver dan Liam Neeson, dipilih untuk menambah daya tarik film. Di Amerika Serikat, AMC dijadwalkan tayang 7 Januari 2017 (mungkin dengan pertimbangan dekat award season) nanti. Sementara kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikannya lebih dulu.
Conor O’Malley yang dianggap freak dan menjadi bahan bulan-bulanan di sekolah ternyata sedang menghadapi masalah hidup yang jauh lebih rumit. Ia hanya tinggal bersama ibunya yang sedang mengidap penyakit stadium akhir. Di usianya yang tak lama lagi dan segala bentuk pengobatan tidak berhasil, sang ibu tak bisa memberikan support sebagaimana mestinya kepada Conor. Kedatangan sang nenek juga tak memberikan kontribusi apa-apa. Conor menganggap sang nenek terlalu kolot dan strict. Sementara sang ayah yang sudah pindah ke Amerika Serikat juga tak bisa menampungnya karena sudah punya keluarga lagi. Di tengah himpitan keadaan serba tak menguntungkan ini Conor tiba-tiba didatangi oleh sosok monster pohon raksasa yang berniat menyampaikan tiga cerita sebelum menagih Conor bercerita tentang mimpi buruk yang dialaminya beberapa hari terakhir. Lewat monster pohon raksasa ini Conor belajar banyak hal yang tak bisa ia dapatkan dari kedua orang tuanya.
Basically, AMC adalah sebuah kisah pergulatan coming-of-age dengan himpitan keadaan yang serba tak mendukung, yang disampaikan lewat fantasi yang visioner. Tak heran jika J.A. Bayona menjadi sosok yang tepat untuk memvisualisasikannya. Benar saja, di tangan Bayona AMC menjadi sajian visual grandeur yang cantik dengan momen-momen emosional yang sangat kuat sebagai hasil dari metafora dongeng yang relevan. Tak hanya lewat tampilan visual effect yang memanjakan mata, tapi juga visualisasi dongeng lewat lukisan cat air yang ‘dihidupkan’ sehingga menjadi berlipat-lipat kecantikannya.
Namun tentu di balik visualisasi yang luar biasa, kekuatan utama AMC adalah ceritanya yang memang menarik dan punya value yang luar biasa dan dengan relevansi tema yang realistis. Mulai soal dealing with bully, melihat baik-buruk hitam-putih lewat sudut pandang yang berbeda, sampai yang paling penting di sini; mengikhlaskan segala yang terjadi dalam hidup. Kesemua value penting yang menjawab (atau lebih tepatnya, memandu) karakter Conor lewat dongeng-dongeng yang bagi penonton dewasa seperti saya pun jadi merenung. Luar biasa tajam, menggugah, sekaligus menyentuh. Kemudian jika mencoba untuk menganalisis kehadiran sosok sang monster pohon raksasa yang memang tidak dijelaskan secara gamblang, Anda akan menemukan kajian psikologis yang mendalam dan rasional. Tentu kekaguman terhadap kisah AMC menjadi semakin bertambah. Bayona pun dengan piawai menyusun kesemuanya menjadi satu rangkaian yang serba seimbang, runtut, dan saling mendukung satu sama lain.
Mengisi peran utama, Lewis McDougall sebagai Conor mampu jadi penyedot utama perhatian penonton. Meski memang tak terlalu istimewa pula, McDougall mampu menghidupkan karakter Conor yang depresif, punya ketakutan besar tapi juga rebellious, sesuai dengan kebutuhan serta porsinya. Performa Felicity Jones sebagai sang ibu memberikan dukungan sesuai kebutuhan cerita. Sementara Sigourney Weaver sebagai sang nenek menurut saya memberikan performa yang seperti biasa, mengagumkan, tentu dengan porsi karakter yang memang cukup penting. Transformasi dari nenek yang ketus dan tegas menjadi sosok rapuh dan penyayang mampu menghangatkan film. Toby Kebbell sebagai sang ayah juga memberikan performa yang pas sesuai kebutuhan cerita. Bahkan salah satu line penting terlontarkan dari karakter yang ia perankan dengan level kharisma yang lebih dari cukup. Terakhir, tentu pantang melewatkan voice talent Liam Neeson sebagai sang monster pohon raksasa yang punya kekuatan kharisma tak tertandingi. Mengancam di satu momen sekaligus hangat di momen yang lain.
Visualisasi AMC memang termasuk one of a kind. Tak hanya berkat visual effect yang mumpuni (terutama dalam menghidupkan sosok monster pohon raksasa), dan lukisan-lukisan cat air yang ‘dihidupkan’, tapi juga sinematografi Oscar Faura yang tak hanya efektif dalam bercerita, tapi juga memberikan efek grande di banyak adegan serta perfect shot indah. Editing Jaume Martí dan Bernat Vilaplana pun membuat plotnya mengalir lancar dengan pace tepat pula. Scoring Fernando Velázquez yang powerful memperkuat adegan-adegan yang ada, mulai yang melankoli sampai yang mendebarkan. Terakhir dan menurut saya menjadi salah satu elemen terkuat AMC, yaitu sound design yang begitu detail (dengarkan crack ranting pohon atau gemuruh tanah yang terbelah), terdengar dengan deep bass sehingga terkesan serba bombastis dan pembagian kanal surround yang tak kalah mumpuni. I wonder how it will sound in Dolby Atmos auditorium.
Sama seperti The Orphanage dan The Impossible yang menurut saya termasuk karya visual klasik, AMC pun menjadi karya yang luar biasa dari seorang J.A. Bayona. Memikat lewat visual, dengan value-value yang relevan dan penting terutama sebagai sebuah kisah coming-of-age at the worst case scenario. Indah sekaligus tought-provoking dan moving. Sayang jika sampai melewatkan pengalamannya di layar lebar dengan dukungan tata suara mumpuni.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates