Wednesday, October 5, 2016

The Jose Flash Review
Miss Peregrine's
Home for Peculiar Children

Sejak lama Tim Burton dikenal sebagai salah satu sineas Hollywood yang punya ciri khas. Mulai desain produksi yang ‘sangat Burton’, seperti perpaduan Gothic dan Baroque, tipikal cerita yang menyentil kondisi sosial dengan karakter yang tidak kalah nyeleneh, dan tak lupa selera humor ganjil yang jadi menggelitik karena diletakkan pada konteks konsep desainnya. Setelah melepas Alice Through the Looking Glass dan lebih memilih biopic pelukis Margaret Keane berjudul Big Eyes (2014), Tim Burton melirik novel dark fantasy young adult karya Ransom Riggs yang dirilis tahun 2011 dan sempat menjadi NewYork Times bestseller, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (MPHPC). Novel yang tergolong unik karena menggunakan fotografi vernacular (foto kehidupan sehari-hari) sebagai pelengkap narasi teks ini tentu dengan mudah menarik perhatian Burton karena punya banyak persamaan style dengan taste-nya. Jane Goldman (Stardust, Kick-Ass, X-Men: First Class, X-Men: Days of Future Past, dan Kingsman: The Secret Service) ditunjuk untuk mengadaptasi ke dalam bentuk screenplay. Burton menggandeng kembali ‘muse baru’-nya, Eva Green (setelah Dark Shadows) dan penata kostum yang sudah menjadi langganannya, Colleen Atwood, DoP Bruno Delbonnel, dan editor Chris Lebenzon. Sayang, kali ini Burton tak bekerja sama dengan komposer Danny Elfman yang karya-karyanya seolah sudah menyatu dengan benchmark Burton.

Jake was might be a just another socially awkward teenager. Namun nasibnya berubah setelah sang kakek, Abe, meninggal dunia dengan kedua bola mata yang menghilang. Sesaat sebelum meninggal, Abe berpesan agar Jake menemukan sang burung, lingkaran waktu, dan 3 September 1943. Jake lantas mengingat cerita-cerita dari Abe tentang monster-monster keji dan rumah penampungan anak-anak dengan kemampuan khusus (peculiar) yang dikepalai oleh Nona Alma LeFay Peregrine. Orang tua Jake yang selama ini menganggap Jake perlu pertolongan dari psikolog karena tidak bisa membedakan fantasi dan kenyataan, akhirnya menyetujui keinginan Jake untuk mengunjungi Pulau Welsh dengan didampingi sang ayah, Franklin untuk menemukan apa yang diisyaratkan Abe. Petulangan Jake membawanya kembali ke tahun 1943 dan mengenal Nona Peregrine, para anak-anak dengan kemampuan khusus, seperti Emma, Olive, Millard, Bronwyn, Fiona, Enoch, Hugh, Claire, Horace, si kembar bertopeng, dan saudara Bronwyn, Victor. Ternyata Nona Peregrine adalah seorang Ymbryne, yaitu bisa memanipulasi waktu. Ia menghentikan waktu dan menciptakan lingkaran waktu, mengulang hari yang sama setiap hari tepat sebelum rumah mereka luluh lantak dijatuhi bom Nazi. Sebagai imbas, mereka sama sekali tak mengalami penuaan sedikit pun. Abe ternyata pernah menjadi bagian dari mereka tapi memutuskan untuk keluar dari lingkaran waktu mereka dan menjalani hidup normal. Namun tentu bukan dengan alasan dan tujuan Abe menggiring Jake menemui mereka. Ada kelompok pemburu pimpinan Mr. Barron yang mengincar mereka sejak lama dan gemar memakan mata kaum peculiar. Petualangan Jake beserta kaum peculiar melintasi waktu pun dimulai.

Materi cerita yang sangat Burton-able sebenarnya sudah menjadi daya tarik tersendiri buat MPHPC. Penggemar setia Burton tentu langsung bisa membayangkan seperti apa hasil akhirnya. Ya, versi film MPHPC memang terlihat sangat Tim Burton, meski tak sekental karya-karya sebelumnya, seperti Charlie and the Chocolate Factory atau Alice in Wonderland, misalnya. Tak hanya dari segi desain produksi, tapi juga sense of humor yang berkesan ‘less-Burton’. Untungnya, ia masih mampu menggerakkan narasi ceritanya dengan menarik. Membutuhkan waktu yang agak lama dengan detail narasi yang memang banyak, dan agak bertele-tele sehingga terkesan terburu-buru.

Tak hanya itu, ada banyak elemen yang juga terkesan seadanya, terutama karakteristik tiap karakternya. Tak hanya anak-anak peculiar yang mungkin ‘hanya’ memamerkan keahliannya, bahkan karakter utama seperti Jake pun tak diberi banyak kedalaman maupun perkembangan karakter. What you see from them from the outside, that’s the only thing you will know about them. Penjelasan teori time loop juga mengalami sedikit kendala dalam penyampaiannya dengan jelas, terutama ketika Jake menjelaskan apa saja yang harus dilaluinya untuk menemukan time loop Miss Peregrine yang baru. Tanpa penjelasa itu semua, menurut saya menemukan time loop tak seharusnya dibuat seribet itu. Entah jika dari novel seharusnya ada penjelasan yang lebih jelas dan masuk akal tentang teori ini. Kesemua kekurangan ini untungnya tak sampai mengganggu laju maupun kenikmatan mengikuti ceritanya sih, tapi tetap menjadi sesuatu yang patut disayangkan. Untung saja masih ada adegan-adegan petualangan dan battle yang masih seru untuk diikuti, meski banyak yang tergolong generik, termasuk dalam menggambarkan sosok villain-nya. Tak bisa dipungkiri, nuansa childish (baca: sedikit komikal) masih ada di sana-sini, tapi ada pula momen-momen yang terasa terlalu mengerikan untuk anak-anak, seperti penampakan bola-bola mata yang akan disantap maupun jantung-jantung untuk menghidupkan boneka yang dilakukan oleh Enoch. Above all, yang paling memikat saya adalah value tentang pilihan menjadi aman atau berani yang menurut saya cukup konsisten dan terasa jelas tersampaikan. Dengan hasil akhir yang demikian, MPHPC mungkin masih menarik untuk diikuti tapi sayangnya, mudah terlupakan dalam jangka panjang, tak seperti kebanyakan karya-karya Tim Burton yang lebih terasa ‘established’.

Dipercaya mengisi peran utama, Jake, Asa Butterfield terasa tak terlalu menarik. Jauh jika dibandingkan ketika ia mengisi peran utama di Ender’s Game, Hugo, maupun The Boy in Striped Pyjamas. Entah penulisan yang memang kurang begitu kuat sebagai karakter utama, atau Asa kebingungan menerjemahkan karakter yang diperankan. Ia lebih sering tampak kebingungan dengan apa yang terjadi ketimbang berkharisma menarik karena punya sikap tersendiri. Eva Green sebagai Miss Peregrine masih lebih menarik dengan keseimbangan antara kemisteriusan sosok dengan kharisma protagonis yang cukup kuat, meski porsinya mungkin tak sebanyak Jake, apalagi di babak ketiga. Ella Purnell sebagai Emma Bloom, yang paling menonjol dibandingkan anak-anak peculiar lainnya, sedikit menarik perhatian meski menurut saya bisa jauh lebih kuat lagi. Judi Dench sebagai Miss Avocet dan Terrence Stamp sebagai Abe menarik hanya karena sosok asli mereka, sementara karakter yang dipercayakan ke mereka nyatanya tak punya daya tarik yang cukup untuk benar-benar dikenang. Sementara Samuel L. Jackson membawakan peran villain, Mr. Barron dengan cukup memorable lewat performa yang sedikit komikal tapi tetap terasa kuat berkat kharisma aslinya.

Meski tak sekental di film-film Burton sebelumnya, desain produksi tetap menjadi salah satu yang paling menonjol dari MPHPC, termasuk desain kostum Colleen Atwood dan desain produksi Gavin Bocquet. Sinematografi Bruno Delbonnel pun lebih dari cukup untuk mem-framing segala keindahan visualnya. Tak ketinggalan adegan battle, terutama tengkorak-tengkorak melawan monster tak terlihat di taman hiburan yang mengingatkan saya akan adegan Jason and the Argonauts (1963). Editing Chris Lebenzon mungkin terkesan terburu-buru dan kurang pendalaman di banyak elemen dengan durasi yang (mungkin) juga dibatasi oleh produser. The least thing, editingnya masih membuat MPHPC kisah petualangan yang runtut dan enjoyable untuk dinikmati. Score musik Michael Higham dan Matthew Margeson memang tak se-notable scoring Elfman di film-film Burton sebelumnya, tapi cukup mendukung adegan-adegannya dengan score klasikal dan yang paling menarik perhatian saya adalah penggunaan musik elektronik untuk adegan skeleton battle yang menurut saya momen langka di karya Burton.

Meski dengan kadar yang jauh di bawah karya-karya sebelumnya yang menjadi benchmark Burton, MPHPC masih punya beberapa ‘aroma’ khas Burton di sana-sini. Harus saya akui memang bukan termasuk karya paling notable dari Burton, tapi setidaknya masih bisa dinikmati sebagai tontonan ringan yang menghibur, terutama lewat adegan-adegan ber-special effect yang masih bisa memanjakan mata.

Liaht data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates