Friday, October 14, 2016

The Jose Flash Review
Mirzya [मिर्ज्या]

Sejak lama tanah Hindustan dikenal kaya akan kisah folklore yang biasanya diwarnai tema kepahlawanan dan/atau roman. Dari wilayah Punjabi setidaknya ada tiga roman tragis yang paling populer; Heer Ranjha, Sohni Mahiwal, dan Mirza Sahiba. Yang saya sebutkan terakhir ini punya keunikan tersendiri karena basically merupakan pasangan saudara angkat yang berakhir tragis. Tak heran ketika sineas-sineas tertarik untuk mengangkatnya ke medium film layar lebar. Adalah Rakeysh Omprakash Mehra yang dikenal lewat Rang De Basanti (2006) dan Bhaag Milkha Bhaag (2013) yang tertarik untuk mengangkatnya dengan visi artistik tersendiri. Menggandeng penulis naskah sekaligus penulis lirik lagu veteran, Gulzar (bahkan pemenang Oscar untuk Jai Ho, original song Slumdog Millionaire bersama A. R. Rahman), ia memvisualisasikan kembali cerita Mirza-Sahiba versinya sendiri. Di lini pelakon, Rakeysh memasang bintang-bintang muda yang justru memulai debutnya lewat film ini. Mulai Harshvardhan Kapoor yang merupakan putra termuda dari aktor Anil Kapoor, Saiyami Kher yang selama ini dikenal sebagai atlet cricket dan badminton, serta Anuj Choudhry. Meski diberi tajuk Mirzya, Rakeysh sebenarnya menggunakan konsep yang cukup menarik dalam menyampaikan kisahnya; paralel antara dongeng asli Mirzya Sahiba pada masanya dan pasangan yang nasibnya kurang lebih serupa dengan setting masa kini.

Munish dan Suchitra adalah sahabat sejak kecil ketika sama-sama tidak tahu persis apa itu cinta. Ketulusan lah yang menggerakkan hubungan mereka. Munish yang bandel sering terlambat ke sekolah dan tidak mengerjakan PR, sementara Suchitra tergolong murid yang rajin. Suatu ketika Suchitra merelakan diri dihukum fisik oleh sang guru karena PR yang ia kerjakan diberikan kepada Munish. Melihat kenyataan itu, Munish nekad membalas dendam kepada sang guru yang mengakibatkan ia harus dipenjara. Bertahun-tahun kemudian, Suchitra pindak ke luar negeri sementara Munish berhasil meloloskan diri dengan identitas baru; Adil, seorang buruh peternakan kuda milik keluarga kaya raya. Siapa sangka takdir mempertemukan kembali Munish dengan Suchitra yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah tunangan dari majikannya, Karan. Adil enggan mengakui diri sebagai Munish, sementara Suchitra ternyata diam-diam merindukan sosok sahabatnya yang dulu. Hingga akhirnya ketika cinta bersemi kembali di antara keduanya, keluarga Suchitra dan Karan adalah rintangan yang harus mereka hadapi bersama.

Dari permukaan terluarnya, Rakeysh menyuguhkan visual yang luar biasa artistik, grandeur, dan serba cantik, terutama untuk segmen visualisasi kisah Mirzya-Sahiba yang asli. Begitu pula dengan iringan music berlirik bak puisi yang semakin menambah nilai artistiknya. Sayangnya, hanya sampai sebatas itu saja kelebihan Mirzya, karena sisanya benar-benar berantakan.

Saya mulai dari yang paling fatal. Menyajikan dua cerita yang berjalan secara paralel dan bergantian tidaklah mudah. Apalagi jika memang punya korelasi adegan antara keduanya. Visualisasi Rakeysh menurut saya gagal total dalam mengkoneksikan keduanya. Mengabaikan banyak detail kisah aslinya yang menurut saya justru sangat menarik, Rakeysh memilih untuk menghadirkan konflik utama yang jika dilihat dari yang ditampilkan di layar saja, hanya kisah perebutan Sahiba oleh Mirzya yang miskin dan Tahir Khan yang kaya raya. Seklise itu. Tentu saya sadar bahwa memasukkan detail-detail background kisah asli Mirzya-Sahiba bisa makin memperpanjang durasi dan mempersulit koneksi antara dua cerita yang harus berjalan beriringan. Then, why bother making it in two separate parallel story? Adaptasi langsung ke modern saja atau sekedar menceritakan ulang kisah Mirzya-Sahiba secara verbal mungkin akan jauh lebih aman. Tidak menciderai laju penceritaan secara keseluruhan. Jujur, visualisasi kisah asli Mirzya-Sahiba meski dibuat seminimal mungkin, tetap saja mengganggu pace film secara keseluruhan. Di awal film, batas (dan koneksi) antar keduanya terasa begitu samar hingga membingungkan. Pada perkembangannya, dihiasi efek slow-mo yang overused. Kemudian juga klimaks yang mana kisah Mirzya-Sahiba jauh mendahului sehingga membuat kisah Munish-Suchitra tak lagi menarik untuk diikuti ketika gilirannya tiba.

Kisah perkembangan hubungan antara Munish-Suchitra yang (seharusnya) menjadi fokus utama cerita pun punya masalah yang tak kalah seriusnya dari segi kewajaran. Mulai Suchitra yang awalnya tampak baik-baik saja dengan tunangannya, Karan (bahkan terasa jauh lebih hangat dan romantis ketimbang Cinta-Trian di Ada Apa dengan Cinta 2,) bisa berubah begitu drastisnya ketika menemukan Munish kembali. Seolah ada missing moment yang membuat transforamsi Suchitra seharusnya masuk akal. Perubahan sikap Munish yang awalnya menghindari Suchitra tahu tentang identitas aslinya karena merasa tak layak hingga akhirnya memutuskan untuk membawa lari Suchitra juga tak kalah irasionalnya. Belum lagi ternyata pada perkembangannya hubungan mereka menjadi semakin tidak mengundang simpati penonton ketika Munish memutuskan untuk membunuh ayah Suchitra dan Suchitra sendiri seperti tak mempermasalahkan sama sekali. What kind of healthy romantic relationship is that?

Penggunaan aktor-aktris yang masih debutant ternyata tak membuat Mirzya menjadi sajian yang lebih segar. Harshvardhan Kapoor masih terlihat sangat kaku, lebih sering tampak kebingungan, dan gagal menghadirkan kharisma yang (seharusnya) kuat sebagai karakter utama, Munish. Saiyami Kher sebagai Suchitra masih terasa sedikit lebih luwes dan baik, tapi kharisma maupun pesona keanggunan fisiknya masih perlu banyak diasah lagi untuk benar-benar menjadi aktris muda yang layak diperhitungkan. Sementara Anuj Choudhry sebagai Karan yang (seharusnya) juga punya potensi untuk menjadi karakter menarik, harus rela menjadi karakter yang tak begitu dipedulikan penonton. Penyebab utama tentu dari penulisan karakter yang memang tak memberikan ruang cukup untuk bersinar. Namun penampilan Anuj sendiri memang sama sekali tidak punya daya tarik lebih selain just another antagonist character.

Dengan mengandalkan visualisasi artistik sebagai kekuatan utama, Rakeysh beruntung bekerja sama dengan Pawel Dyllus yang berhasil mem-framing gambar-gambar luar biasa cantik, baik terutama dari kisah Mirzya-Sahiba maupun kisah Munish-Suchitra yang memang sama-sama punya desain produksi yang cantik dan grandeur. Pun juga dance performance dengan iringan musik puitis yang menyatu menjadi sebuah visual poetry yang indah, meski ketika dipadukan dengan kedua narasi utama kehadirannya sebenanarnya justru ‘mengganggu’. Editing P.S. Bharathi mungkin tak sepenuhnya salah sebagai penyebab pace dan kurang menyatunya kedua narasi cerita. Setidaknya ia telah mengupayakan transisi semulus mungkin, selaras dengan iringan musik yang menjembatani. Visaul effect mungkin tak semuanya terlihat rapi, tapis ecara keseluruhan masih tergolong acceptable. Lagu-lagu karya Gulzar sebenarnya juga indah. Sayang peletakan dan pengulangan lirik membuat tak ada nomer musikal yang benar-benar membekas dalam memori saya.

Punya potensi yang luar biasa, Mirzya sebenarnya bisa menjadi sajian roman tragis yang tak hanya cantik secara visual, tapi juga menyentuh. Sayang, tampaknya ambisi Rakeysh yang terlalu besar (atau bahkan, mustahil?) ini justru menciderai kenikmatan mengikuti kisahnya secara keseluruhan. Alhasil durasi yang sebenarnya ‘hanya’ 2 jam 8 menit (tergolong pendek untuk film Hindi) terasa begitu melelahkan dengan cerita asmara yang sudah terlalu familiar sehingga membuat saya tak lagi tertarik mengikuti. Belum lagi chemistry yang sama sekali tak terasa dan logika yang unsympathetic dari kisah romansa Munish-Suchitra. Untung setidaknya masih ada sajian visualisasi cantik (yang sebenarnya lebih cocok untuk tampilan sebuah music video) yang setidaknya masih layak dinikmati di layar lebar.  

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates