Tuesday, October 25, 2016

The Jose Flash Review
Jack Reacher:
Never Go Back

Diangkat dari novel karya Lee Child yang pertama kali rilis tahun 1997 dan hingga kini sudah punya 20 jilid, penampilan perdana karakter Jack Reacher di layar lebar tahun 2012 lalu dianggap di bawah ekspektasi. Dengan memasang aktor utama sekelas Tom Cruise, penghasilan ‘hanya’ sekitar US$ 80 juta untuk pasar domestik saja termasuk flop. Sempat ada kabar rencana pembuatan sekuelnya dibatalkan, untung hasil akhir di seluruh dunia mencapai angka US$ 218 juta. Sehingga Paramount Pictures dan Skydance Productions memutuskan untuk melanjutkan franchise ini dan memilih novel ke-18, Never Go Back (2013) yang akan diangkat menjadi installment film kedua. Tom Cruise kembali memerankan sosok Jack Reacher, sementara sutradara Edward Zwick (Courage Under Fire, The Siege, The Last Samurai, dan Blood Diamond) ditunjuk menggantikan Christopher McQuarrie. Zwick kemudian menggandeng penulis naskah Marshall Herskovitz yang pernah bekerja sama dengannya di The Last Samurai dan Love & Other Drugs, untuk menulis ulang naskah yang sudah dibuat oleh Richard Wenk (The Mechanic, The Expandables 2, The Equalizer, dan The Maginificent Seven versi 2016). Kali ini Tom Cruise tak ‘bekerja’ sendiri karena dipasangkan dengan Cobie Smulders yang kita kenal sebagai Robin Scherbatsky di sitkom How I Met Your Mother dan Maria Hill di franchise Marvel’s The Avengers.
Petualangan Reacher kali ini bermula ketika ia berniat bertemu dengan seorang kolega yang pernah membantu investigasi sebelumnya, Major Susan Turner. Ternyata Susan sedang ditahan di penjara militer karena tuduhan mata-mata dan ikut bertanggung jawab atas kematian dua anak buahnya yang bertugas di Afghanistan. Reacher tidak mempercayai tuduhan ini. Ia pun mulai dibuntuti oleh pihak yang tak dikenal. Di saat yang sama ia harus menerima kenyataan bahwa ia punya seorang putri bernama Samantha Dayton yang didaftarkan dalam file-nya. Kematian pengacara Susan, Colonel Sam Morgan yang sempat ditemui Reacher sebelumnya membuat Reacher dituduh sebagai pelakunya. Saat ditahan, Reacher membantu Susan kabur untuk menemukan ada apa dan siapa dalang di balik kasus yang memfitnah mereka berdua. Reacher pun memboyong Samantha yang ternyata juga menjadi incaran, terlepas benar Samantha adalah putrinya atau bukan.
Jack Reacher: Never Go Back (NGB) jelas punya treatment style yang berbeda dengan pendahulunya. Jika Jack Reacher (JR) lebih kental aura investigative suspense, maka NGB lebih ke fugitive action. Maka jika Anda seperti saya, termasuk yang suka style JR yang lebih tenang, elegan, tapi tetap bikin penasaran karena kasusnya bisa agak kecewa. NGB berubah menjadi just another fugitive action dengan lebih banyak baku hantam. Treatment hide-and-seek fugitive-nya mengingatkan saya akan Mission: Impossible pertama, tapi tanpa kejutan-kejutan yang berarti (coba hitung ada berapa film dimana Tom Cruise menjadi karakter yang dikejar-kejar! Mission: Impossible, Minority Report, Edge of Tomorrow…). Tak ada lonjakan ataupun kejutan cerita yang membuat saya penasaran dengan kasus yang sedang coba dibongkar oleh Jack Reacher dan Susan Turner. Semua berjalan dengan formula dasar sub-genre sejenis, dengan penanganan action yang menurut saya, juga tergolong mediocre.
Meski plot utama tergolong generik, NGB sebenarnya punya sub-plot yang cukup menarik, terutama tentang hubungan Reacher-Samantha. Reacher dihadapkan pada pilihan jika Samantha benar atau bukan putrinya sendiri. Sebagai seseorang yang selama ini selalu (beraksi dan juga hidup) sendiri, kehadiran Samantha sempat terlihat sebagai sesuatu yang berharga bagi Reacher. Bahkan di ending, ikatan emosi antara keduanya sempat bertaut dengan cukup manis. Sayangnya reaksi dan dilema emosi Reacher hanya ditampilkan sekilas saja. Almost unnoticeable oleh penonton. Kehadiran karakter Susan Turner yang ternyata mampu menghadirkan chemistry yang baik dengan Reacher juga disia-siakan begitu saja. IMO, jika kehadiran Samantha dan Susan mau dijadikan sebagai emotional dilemma dari sosok Jack Reacher yang dikenal penyendiri, ini bisa jadi salah satu elemen yang sangat menarik. Tidak hanya bagi installment ini saja, tapi sebagai titik balik untuk dikembangkan di installment-installment berikutnya. Sayang sekali NGB melewatkan potensi itu. Isu feminisme sempat juga menjadi menarik untuk diangkat lewat one liner Reacher tentang lebih misogynist mana, melibatkan wanita atau tidak melibatkan wanita. Apalagi isu ini terkait dengan Reacher yang memang lebih terbiasa ‘bekerja sendiri’. Again, isu ini hanya dimunculkan sekilas tanpa pengembangan yang kuat untuk dimasukkan ke dalam plot utama.
Di usianya yang sudah melewati angka 50 tapi masih aktif melakoni jagoan-jagoan di berbagai franchise aksi, spirit Tom Cruise masih belum terasa kendur sedikit pun. Mungkin kali ini sosok Jack Reacher menjadi semakin mirip Ethan Hunt, karakter yang ia lakoni di franchise Mission: Impossible dan tak sekuat karakter Jack Reacher di installment sebelumnya, tapi masih menjadi action hero dengan kharisma tersendiri. Lebih dari itu, saya masih menangkap gesture emotional dilemma yang coba dihadirkan dengan hadirnya Susan dan Samantha, meski tak menjadi highlight yang cukup kuat di sini. Cobie Smulders sebagai Susan Turner terlihat lebih mencuri perhatian, baik faktor fisik, kharisma akting, maupun kepiawaiannya melakoni aksi beladiri. Chemistry yang ia bangun bersama Cruise pun tergolong natural dan asyik diikuti. Danika Yarosh sebagai Samantha mungkin terasa seperti tipikal karakter remaja cewek di film action lainnya, tapi setidaknya di sepanjang film masih bisa jadi karakter yang menarik perhatian. Patrick Heusinger sebagai The Hunter belum cukup kuat untuk menjadi karakter vilain yang notable. Begitu juga Aldis Hodge sebagai Espin yang tidak punya banyak porsi untuk menjadikan karakternya lebih menarik.
Teknis NGB tergolong ‘aman’ dan terjaga baik, kendati tak ada yang benar-benar menarik atau istimewa pula. Sinematografi Oliver Wood cukup efektif untuk bercerita maupun menghadirkan adegan-adegan aksinya, tanpa feel badass lebih. Editing Billy Weber pun masih menjaga tensi dan pace cerita dengan pas. Scoring Henry Jackman cukup mengiringi adegan sekedar asyik diikuti saja. Tidak ada feel tambahan yang dihadirkan untuk memperkuat atau memperkaya film.  Sound design pun mediocre meski didukung teknologi Dolby Atmos yang nyatanya tak dimanfaatkan secara maksimal. Alhasil tata suara NGB tak ubah tata suara surround dengan kualitas average.
Sebagai salah satu penonton yang menyukai style treatment JB yang berbeda di tengah karakter franchise serupa dewasa ini, saya tak merasakan ada sesuatu yang baru dan menarik dari NGB. Kesemuanya berjalan biasa saja. Mulai susunan plot hingga adegan aksi yang mediocre. Tak buruk, tapi juga jauh dari kesan remarkable. Lumayan menghibur jika Anda tak punya pilihan tontonan lain, tapi akan dengan mudah terlupakan dalam tempo singkat. Apalagi jika kemudian Anda menonton film-film yang lebih kuat dan memorable, NGB akan segera tenggelam dari memori Anda. 
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates