Monday, October 31, 2016

The Jose Flash Review
The Doll

Seperti namanya, Hitmaker Studios yang merupakan anak perusahaan dari Soraya Intercine Films sejak didirikan tahun 2012 sudah memproduksi film-film hit yang rata-rata bergenre horor dari tangan sutradara Jose Purnomo, seperti Rumah Kentang (2012), 308 (2013), Rumah Gurita (2014), Mall Klender (2014), dan Tarot (2015). Akhir tahun lalu untuk pertama kalinya Hitmaker Studios mencoba menelurkan film di luar horor lewat Sunshine Becomes You. Tahun 2016 ini Hitmaker Studios kembali memproduksi genre ‘akar’ mereka, yaitu horor. Masih mengusung nama Shandy Aulia yang seolah sudah menjadi Soraya’s sweetheart dan Denny Sumargo yang sudah dua kali bekerja sama dengan Hitmaker Studios, yaitu lewat 308 dan Mall Klender. Kali ini Rocky Soraya yang selama ini lebih sering bertindak sebagai produser turun tangan langsung sebagai sutradara setelah Chika (2008) dan Sunshine Becomes You. Riheam Junianti yang juga sudah bekerja sama dengan Soraya-Hitmaker sejak Apa Artinya Cinta (2005) hingga Tarot, kembali menuliskan naskah untuk film yang menambah panjang daftar horor dengan sosok boneka lewat tajuk The Doll ini.
Anya dan Daniel adalah pasangan suami istri yang memulai hidup mereka yang baru di Bandung. Daniel dipercaya menjadi tangan kanan kontraktor besar yang menangani proyek pembangunan ruko baru di Jalan Siliwangi. Kejanggalan demi kejanggalan dalam hidup baru mereka dimulai ketika Daniel menyuruh karyawannya untuk menebang pohon yang menurut warga sekitar angker. Konon di pohon itu berdiam roh seorang anak kecil yang sekeluarganya dibunuh oleh perampok beberapa tahun lalu. Roh anak itu berdiam di dalam sebuah boneka yang duduk manis di salah satu dahannya. Boneka misterius itu mengikuti Daniel hingga ke rumah. Anya yang bekerja sebagai pembuat boneka awalnya tertarik untuk menjadikan boneka itu inspirasi. Hingga teror pun mengganggu ketentraman hidup mereka berdua. Seorang tetangga menganjurkan untuk menghubungi Bu Laras yang dikenal mampu mengusir kekuatan-kekuatan roh jahat. Nyatanya kasus kali ini ternyata tak semudah dibayangkan, karena pengaruh kuasa kejahatan sudah terlanjur kuat mencengkram roh si anak kecil.
Adegan pembuka The Doll jelas mengingatkan akan opening The Conjuring. Tak hanya memperkenalkan sosok boneka angker, tapi juga karakter Bu Laras dan suaminya yang dengan mudah diidentifikasi sebagai impersonasi The Warrens. Adalah hal yang menarik sebenarnya pemilihan pasangan suami-istri betulan di dunia nyata, ilusionis Demian dan istrinya, Sara Wijayanto, untuk mengisi peran tersebut. Sayangnya penggunaan keduanya ternyata hanya untuk daya tarik di awal karena tanpa ada kontinuiti yang jelas, tiba-tiba kedua karakter ini ‘dihilangkan’ begitu saja. Kelak baru kita dijelaskan secara verbal apa yang terjadi hingga menyisakan Bu Laras saja untuk melanjutkan kisah.
Setelah adegan pembuka tersebut barulah penonton diajak masuk mengikuti pasangan karakter Daniel-Anya. Sayangnya plot utama ini ternyata tak terlalu beda jauh kualitasnya dengan film-film horor produksi Hitmaker Studios sebelumnya. Tak ada yang benar-benar istimewa, baru, ataupun menarik. Itupun masih ditambah kejanggalan dan kekonyolan di mana-mana. Alhasil sejak awal pasangan Daniel-Anya sudah terkesan bodoh dan konyol. Let’s start dengan karakter Anya yang digambarkan paling parah. Ia adalah mantan karyawan minimarket yang memutuskan menikah dengan Daniel yang kondisi ekonomi dan sosialnya juga tak berbeda jauh. Bagaimana mungkin ia dipercaya menangani proyek pembangunan dengan latar belakang seperti itu? Lalu bagaimana mungkin Anya mengaku sebagai seniman pembuat boneka sementara boneka-boneka yang ia pajang sebagai karyanya jelas-jelas buatan pabrik?  Jika sampai situ saja Anda sudah ilfill seperti yang saya rasakan, maka urungkan niat Anda untuk menontonnya. Namun jika Anda masih bisa mentolerirnya, silakan melanjutkan nonton.
Teror demi teror yang disajikan The Doll pun masih setara dengan film-film horor Hitmaker Studios sebelumnya. Jangankan mengharapkan perkembangan cerita berupa terkuaknya fakta-fakta di balik misteri yang seru dan bikin penasaran, semuanya ternyata teramat sangat generik, terutama jika Anda termasuk punya referensi film horor yang cukup banyak. Malah mungkin cerita terkesan mandeg, hanya sekedar teror-teror pengulur durasi. Hingga ketika revealing ‘twist’-nya terkuak, saya hanya berujar dalam benak, “Oh begitu to”. Bukan sebuah twist dengan plothole, tapi sudah tak berhasil membuat saya tertarik karena saking came out of nowhere-nya, tanpa setup-setup yang bikin penasaran. Anyway, ada sih satu-dua momen horor yang masih tergarap dengan baik sehingga menghasilkan nuansa ngeri yang cukup. Misalnya ketika muncul sosok seorang anak dengan jas hujan hitam dan wajah tak terlihat yang sempat berinteraksi dengan Anya.  Other than that, momen-momen horor maupun thriller The Doll masih tergolong level rendah. Thrill dan jumpscare Tarot maupun Rumah Kentang malah masih tergarap lebih seru dan lebih bikin deg-degan.
Elemen ‘baru’ yang mungkin ditambahkan di The Doll dan tak ada di film-film horor Hitmaker Studios sebelumnya adalah gore. Ya, The Doll cukup banyak mengumbar darah terutama di babak ketiga hingga konklusi. Sayangnya, kehadirannya hanya sekedar pelengkap saja. Tak terlalu inovatif dan masih tergolong ‘aman’ untuk sekedar lolos sensor. Masih belum berhasil membuat saya memalingkan pandangan dari layar.
Menjadi ‘langganan’ Hitmaker Studios (dan Soraya Intercine Films) ternyata tak membuat penampilan Shandy Aulia dan Denny Sumargo semakin berkembang. Shandy masih stuck pada peran-peran tipikal di semua horor Hitmaker Studios dengan kualitas performa yang kurang lebih sama. Sedikit kredit lebih mungkin untuk satu performanya ketika kesurupan yang memang terlihat mengerikan. Sementara Denny Sumargo secara keseluruhan terlihat kaku, canggung, dan ketika mencoba berakting ‘(sok) asik’ justru sangat terlihat dibuat-buat.  Sementara chemistry antara Shandy-Denny juga tak terasa lebih baik. Meski mencoba untuk terlihat semesra mungkin, tetap saja terasa ada ‘jarak’ antara mereka berdua. Cium pipi saja tak terlihat nempel dan ketika tidur berpelukan terkesan kaku sekali. Vitta Mariana sebagai Niken sebenarnya terasa lebih menarik dan enak diikuti. Sayang porsi karakternya memang masih tergolong terbatas. Begitu juga dengan Sara Wijayanto sebagai Bu Laras yang meski menarik tapi karakternya kurang dikembangkan. Padahal meski karakternya belum sekuat dan semenarik Lorraine Warren, Bu Laras masih bisa dikembangkan menjadi sebuah franchise, mengikuti trend horor saat ini.
Sinematografi Asep Kalila menghasilkan shot-shot yang cukup sinematis kendati masih belum benar-benar berhasil menciptakan nuansa horor yang efektif dan menarik. Editing Kelvin Nugroho dan Sastha Sunu masih mampu membuat laju cerita yang memang tak banyak berkembang menjadi masih watchable untuk diikuti. Untuk urusan sound design, entah faktor teater tempat saya menonton yang memang kurang baik (biasanya sih sound di teater ini terdengar mantap-mantap saja) atau dari masteringnya yang memang terdengar kurang powerful. Sound design inilah yang cukup mempengaruhi nuansa horor The Doll menjadi tak seseru Tarot atau Rumah Kentang. Scoring music dari Profound Music masih tergolong generik untuk genre horor. Kredit tersendiri untuk tata rias (terutama dalam merias si sosok hantu cilik) dan efek visual yang di beberapa kesempatan terlihat cukup rapi. Well, setidaknya di layar teater tempat saya menonton, karena ada seorang teman yang nonton di teater lain menilai efek visualnya masih terlihat sangat kasar dan ada sling yang terlihat di layar.
So, jika Anda termasuk penonton yang bisa menikmati atau malah menjadi penggemar horor-horor Hitmaker Studios, The Doll agaknya mash bisa menjadi sajian yang menghibur. Namun bagi saya, ia masih semenggelikan dan sekacau film-film horor mereka sebelumnya. Memang benar secara teknis The Doll masih digarap tak asal seperti image horor Indonesia kebanyakan selama ini. Namun menurut saya itu saja belum cukup karena terbukti masih ada horor Indonesia yang digarap baik, dari segi naskah maupun teknis, dengan nuansa horor yang berhasil dibangun. Sayangnya, Hitmaker Studios belum sampai pada tahap itu.  Nevertheless, mengingat mayoritas penonton Indonesia adalah penggemar horor, tak akan sulit untuk The Doll mencetak box office lagi (ketika tulisan ini dibuat, ia sudah berhasil mengumpulkan 200.000 penonton dalam kurun waktu 5 hari).
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates