Wednesday, October 5, 2016

The Jose Flash Review
Deepwater Horizon

Jika kita di Indonesia sempat dihebohkan oleh kasus Lumpur Lapindo yang menjadi bencana nasional dan bahkan menjadi polemik hingga bertahun-tahun, ‘bencana’ yang berkaitan dengan pengeboran minyak ternyata juga pernah terjadi di Teluk Meksiko pada 2010 lalu. Bahkan mungkin jauh lebih buruk. Bencana yang dinobatkan sebagai bencana kebocoran minyak terbesar di dunia sekaligus bencana lingkungan terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat ini menewaskan 11 pekerja dan 17 lainnya luka-luka. Tahun 2011, ketika kasus ini belum sepenuhnya mencapai titik final di pengadilan (yang mana baru berakhir pertengahan 2015 lalu), Summit Entertainment, Participant Media, dan Image Nation membeli hak berdasarkan artikel yang ditulis oleh David Barstow, David S. Rohde, dan Stephanie Saul di The New York Times. Matthew Sand (Ninja Assassin) ditunjuk untuk menyusun naskahnya bersama dengan Matthew Michael Carnahan (The Kingdom, World War Z). Sementara Peter Berg (The Rundown, Friday Night Lights, The Kingdom, Hancock, Battleship, dan Lone Survivor) yang cukup berpengalaman menyandingkan tema aksi dengan drama kemanusiaan akhirnya ditunjuk sebagai sutradara, setelah J. C. Chandor (All is Lost) mundur karena alasan perbedaan kreativitas. Berg menggandeng kembali Mark Wahlberg, menyusul Dylan O’ Brien, Kurt Russell, John Malkovich, Kate Hudson, dan bintang Hispanic berbakat, Gina Rodriguez (yes, she reminded me of Michelle Rodriquez and shared the same last name, but no. They’re not siblings!

Tak ada yang menyangka bahwa kembalinya tim perusahaan penambangan Transocean ke Deepwater Horizon, sebuah unit pengeboran minyak di lepas pantai Louisiana akan berakhir bencana besar. Penambangan yang mereka lakukan untuk BP ternyata tak melalui proses uji yang semestinya. Alhasil terjadi luapan lumpur yang akhirnya mengakibatkan ledakan dahsyat dan meluluh-lantakkan penambangan Deepwater Horizon. ‘Neraka’ belum berakhir karena proses evakuasi tak mudah dilakukan. Tak hanya lokasi mereka yang jauh dari daratan, tapi juga kebocoran minyak yang tentu bisa mengakibatkan bencana yang lebih besar. Salah satu yang berjasa dalam proses evakuasi adalah Mike Williams, seorang teknisi Transocean yang juga seorang suami dan ayah, Jimmy Harrell yang sejak awal menentang keras upaya analis BP, Donald Vidrine, untuk melewatkan uji coba yang semestinya, dan Andrea Fleytas, satu-satunya kru wanita di antara para pria.

Bumbu kemanusiaan, terutama dengan setup keluarga memang sudah sejak lama menjadi formula dasar dari genre disaster. Wajar, mengingat drama keluarga bisa dengan mudah relate dengan range penonton yang begitu luas sehingga mudah pula untuk memancing emosi penonton. Deepwater Horizon (DH) pun tetap mempercayai formula ini. Ia membangun setup cerita dari keluarga karakter Mike. Mulai sang putri yang bangga dan menceritakan pekerjaan sang ayah, sementara sang istri, Felicia, di-‘dekatkan’ ke penonton lewat relasi yang cukup intim, terutama lewat tatapan mata. Karakter Andrea pun diberi sedikit ‘setup’ di awal. Sayangnya, setup-setup ini rupanya hanya untuk syarat di genre sejenis. Nyatanya ini semua tak dimanfaatkan secara maksimal di titik klimaks sebagai materi untuk menyentuh penonton. Terlihat ada upaya ke arah sana, tapi tak pernah benar-benar terasa sebagai elemen yang penting. Efek psikologis pasca bencana pun sempat ditampilkan, tapi lagi-lagi hanya sebagai ‘syarat ada’, tak tergali dengan baik maupun dipresentasikan dengan porsi yang benar-benar mampu memancing emosi penonton.

Naskah (dan juga directing Berg) tampaknya juga kurang mampu secara luwes menjelaskan teknis dari pemicu bencana sehingga membuat penonton yang awam dengan dunia pertambangan mungkin tak sepenuhnya paham apa yang terjadi. Saya hanya sekedar tahu ada proses ini-itu yang harus dijalani sebagai uji coba, tanpa benar-benar paham cara kerjanya seperti apa dan tujuannya untuk apa. Padahal untuk menjelaskan teknis kerja pertambangan yang otomatis berkaitan dengan penyebab bencana, DH meluangkan durasi sekitar 1 jam pertama, sebelum akhirnya masuk ke pertunjukan utamanya.

Kendati demikian daya tarik utama DH ternyata terletak pada suguhan adegan bencana utama yang membuat saya harus mengakuinya sebagai film bencana yang paling horror selama beberapa tahun terakhir, atau malah sepanjang masa. Berg masih piawai dalam menggarap adegan bencana utama dengan alur serta timing yang serba pas. Tiap detail detik-detik bencana tervisualisasi dengan begitu mengerikan, membuat penonton seolah benar-benar berada di tengah kejadian. Harus menghindari objek-objek berat yang runtuh, kobaran api yang siap menyambar kapan saja, dan yang menurut saya paling parah ngerinya: serpihan pecahan kaca yang berhamburan.

Kendati tak ada perkembangan karakter yang benar-benar diperhatikan, performa aktor-aktor DH masih mampu mengundang simpati penonton. Tentu saja Mark Wahlberg sebagai Mike berada di lini terdepan yang porsinya paling mendominasi, termasuk as a husband and a father meski pada proporsi yang seadanya. Lini berikutnya ada Kurt Russell sebagai Mr. Jimmy yang dengan mudah mendapatkan simpati penonton karena keteguhan moral dalam menjalankan profesinya. Gina Rodriguez sebagai Andrea yang notabene satu-satunya karakter wanita di kru Transocean, masih mampu mencuri perhatian penonton lewat tampilan fisiknya yang ‘unik’ dan pembawaannya yang asyik. Seperti yang saya katakan sebelumnya, banyak mengingatkan saya akan Michelle Rodriguez di awal karirnya. John Malkovich sebagai antagonis Donald Vidrine agak terkesan mubazir. Hanya efektif sebagai villain licik semata, tak ada kedalaman maupun kharisma villain yang benar-benar kuat. Terakhir, penampilan Kate Hudson sebagai Felicia, istri Mike yang tergolong minim tapi masih mampu mencuri perhatian saya. Ada gimmick di film yang membuat saya ikut-ikutan terpesona oleh sorot matanya.

Dalam menghidupkan adegan bencananya, DH utamanya didukung oleh sound design yang benar-benar luar biasa. Apalagi dengan fasilitas Dolby Atmos yang benar-benar dimanfaatkan di hampir sepanjang film. Mulai suara bising helikopter hingga suasana di tengah-tengah kebakaran yang begitu detail dan hidup. Malah sound design menjadi kekuatan terbesar dari DH. Sinematografi Enrique Chediak tergolong efektif dalam menghadirkan suasana kengerian yang mencekam dan jump-scare, didukung editing Gabriel Fleming dan Colby Parker Jr. dengan timing yang serba pas, baik untuk adegan thrilling maupun drama kemanusiaannya. Scoring music dari Steve Jablosky lebih dari cukup untuk mengiringi adegan-adegan horror maupun dramatis, kendati tak ada yang benar-benar remarkable.

DH memang masih menggunakan formula-formula standard untuk membangun drama kemanusiaan di balik bencana. Itupun tak benar-benar dikembangkan menjadi elemen yang kuat. Kekuatan utamanya justru terletak pada elemen yang menjadi komoditas utama sejak awal: adegan bencana. Jika Anda penggemar genre disaster, DH jelas termasuk film wajib tonton di teater dengan dukungan tata suara terbaik. Even better, in Dolby Atmos. I don’t know about you, but I think DH was the most horrifying disaster movie in recent years.

Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Visual Effects - Craig Hammack, Jason Snell, Jason Billington, and Burt Dalton
  • Sound Editing - Wylie Stateman and Renée Tondelli



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates