Monday, October 31, 2016

The Jose Flash Review
Catatan Dodol Calon Dokter

Dunia literasi Indonesia era 2000-an diramaikan oleh buku-buku sketsa komedi. Mungkin harapannya bisa menumbuhkan minat baca di Indonesia yang tergolong rendah. Tak sedikit buku sketsa komedi yang juga sukses ketika diangkat ke layar lebar. Buku-buku Raditya Dika dan My Stupid Boss menjadi bukti nyatanya. Mengikuti jejak-jejak kesuksesan itu, Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya dokter mata Ferdiriva Hamzah yang sudah terbit hingga tiga jilid akhirnya diangkat juga ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, Radikal Films (Love is U dan The Legend of Trio Macan) berhasil menggandeng CJ Entertainment, salah satu PH terbesar di Korea Selatan yang film-filmnya sudah sering mencetak box office. Dengan naskah adaptasi yang disusun oleh Ardiansyah Solaiman dan Chadijah Siregar, serta sutradara Ifa Isfansyah (Sang Penari, 9 Summers 10 Autumns, dan Pendekar Tongkat Emas), Catatan Dodol Calon Dokter (CDCD) mengusung aktor-aktris muda seperti Adipati Dolken, Tika Bravani, Aurellie Moeremans, Albert Halim, dan Rizky Mocil.
Riva, anak orang kaya keturunan Batak yang memutuskan untuk masuk fakultas kedokteran karena mengikuti sahabat (baca: gebetan)-nya sejak lama, Evi. Untung semua berjalan mulus hingga program ko-ass dimulai. Riva kebetulan satu kelompok dengan Evi, bersama dengan calon-calon dokter nyentrik lainnya; Kresno Rapopo yang lebih suka hal-hal berbau klenik ketimbang medis, Budi Harianto, Hani Lubis yang suka pakai bahasa Inggris broken, Uba Ratubo yang punya masalah dengan bau badan, Cilmil yang relijius, dan Kalay Suhaimi yang berlatar belakang Melayu. Niat Riva untuk menjadi dokter kembali diuji ketika Evi tak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada dirinya, ditambah muncul anak pemilik saham rumah sakit, Vena yang tiba-tiba masuk ke dalam kelompok mereka dan diam-diam jatuh hati padanya. Persaingan makin tajam ketika Riva dan Evi berada pada kelompok yang berbeda untuk memperebutkan beasiswa pertukaran pelajar ke Korea Selatan. Tak hanya menguji niat menjadi dokter, tapi juga persahabatan di tengah-tengah persaingan.
Dibandingkan versi novel, film CDCD agaknya punya konsep yang berbeda. Jika novelnya adalah sebuah sketsa-sketsa komedi, maka versi film fokus untuk menjalin satu cerita utuh. Keputusan untuk memilih cerita persahabatan dan asmara dari Riva-Evi-Vena tampaknya cukup jitu untuk menjangkau range penonton yang luas (terutama remaja dan anak muda yang menjadi target audience utamanya). Namun bukan berarti ini menjadikan CDCD sekedar just another roman picisan yang menye-menye dengan latar belakang medis. Elemen persaingan vs persahabatan tak hanya menjadikan plotnya menjadi realistis, tapi juga punya dilematis yang menarik untuk dibahas.
Sebagai sub-plot, dimasukkan pula elemen-elemen yang tak kalah menarik dan krusial, terutama terkait alasan masuk fakultas kedokteran dan hubungan dilematis moral antara dokter-pasien, terutama jika menyangkut ancaman nyawa. Jika Anda sudah tak asing dengan kasus dokter yang mudah dituduh malpraktik tiap kali ada pasien yang gagal diselamatkan, maka CDCD mencoba untuk ‘mendamaikan’ kubu dokter-pasien. Jika selama ini masyarakat awam punya pandangan yang negatif tentang profesi dokter, CDCD menampilkan dari sisi kaum dokter yang manusiawi. Ini semua memperkaya CDCD menjadi satu paket yang terasa komplit, saling mendukung tanpa ada kesan tumpang-tindih, dan punya emotional moment yang berhasil menyentuh tanpa kesan dramatisasi berlebihan. Saya termasuk penonton yang susah dibuat tersentuh apalagi jika punya logika cerita yang mengganggu. CDCD terbukti berhasil menjebol ‘pertahanan’ saya, and it means it’s good. Bahasan medisnya tidak asal, tapi tetap accessible bagi penonton awam sekalipun.
Adipati Dolken sebagi Riva terasa mengalami perkembangan akting yang cukup matang, ditambah kharisma sebagai lead character yang semakin kuat. Karakter gokil sekaligus melankoli mampu dilakoninya dengan cukup pas dan dengan transformasi yang natural serta masuk akal pula. Tika Bravani sebagai Evi menjadi highlight yang mencuri perhatian. Mungkin Evi menjadi karakter paling kuat dan memorable dari semua peran yang pernah dilakoninya sejauh ini, terutama karena gesture unik yang cukup detail. Aurellie Moeremans sebagai Vena yang manipulatif mungkin tak terlalu punya detail yang tegas dan kuat. Dari luar malah tampak seperti protagonis baik hati yang lemah. Namun aura keseksian dan daya tarik fisiknya masih terasa.
Rizky Mocil terasa lebih dewasa sebagai Kresno Rapopo. Masih gokil dengan gayanya sendiri, minus suara cempreng yang memberikan kesan kekanakan pada sosoknya selama ini. Sementara Ali Mensan sebagai Budi, Albert Halim sebagai Hani, Cindy Valery sebagai Uba, Rizka Dwi Septiana sebagai Cilmil, dan Amec Aris (mantan personel Lyla) sebagai Kalay Suhaimi cukup mampu memberi warna tersendiri meski harus diakui tak punya porsi lebih selain sekedar keunikan karakter masing-masing. Kehadiran Adi Kurdi sebagai Profesor Burhan dan sederetan cameo populer, seperti Ingrid Widjanarko, Donna Harun, Torro Margens, Ikke Nurjanah, sampai Gito Gilas cukup noticeable.
Dengan dukungan dari CJ Entertainment, teknis CDCD terkesan punya rasa film Korea Selatan yang serba mumpuni. Mulai tata kamera Gandang Warah yang memberikan angle serta pergerakan kamera sinematis dan enak diikuti, editing Cesa David Luckmansyah yang menjaga pace sebagai drama pada kapasitas yang serba pas. Tak terlalu lambat namun juga masih bisa membuat penonton merasakan emosi adegan-adegan krusialnya. Tata rias Cherry Wirawan dan efek visual Satria Bayangkara memberikan detail terutama berkaitan dengan medis yang real dan convincing. Musik yang ditata oleh Budi Kristanda dan Andre Harihandoyo lebih dari cukup untuk mengiringi tiap adegan dengan warna emosi yang pas. Pilihan lagu-lagu populer dan ear-catchy juga menjadi highlight tersendiri dari CDCD.

Bagi penonton yang mengharapkan film komedi sketsa layaknya My Stupid Boss, agaknya harus kecewa karena versi film CDCD nyatanya punya pendekatan yang berbeda dalam menyampaikan cerita. Di mata saya, film CDCD justru terasa lebih matang dan kaya secara cerita. Tak hanya urusan asmara yang menjadi problematika sejuta umat, tapi juga dilematis-dilematis berkaitan profesi dokter yang dihadirkan sekaligus ‘didamaikan’ dengan begitu hangat. Ringan untuk dinikmati oleh penonton dari berbagai kalangan, awam sekalipun, tapi juga memuat value-value berbobot yang penting untuk diketahui sekaligus direnungkan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates