Thursday, October 27, 2016

The Jose Flash Review
Bridget Jones's Baby

Thirty-something single career woman. Mungkin tema yang memang menjadi problema personal kebanyakan wanita (bahkan mungkin juga pria?) modern hingga sekarang inilah yang membuat novel chicklit Bridget Jones’s Diary (BJD) karya Helen Fielding yang dipublikasikan pertama kali tahun 1995 menjadi sebuah hit, bahkan fenomena internasional. Hingga 2006 bukunya sudah terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia. Diikuti sekuelnya, Bridget Jones: The Edge of Reason (EoR - 1999) dan Bridget Jones: Mad About the Boy (2013). Buku yang awalnya adalah sebuah kolom artikel di The Independent, dilanjutkan di The Daily Telegraph selama total hampir tiga tahun ini akhirnya diadaptasi ke layar lebar oleh Working Title Films (2001) dengan Renée Zellweger, Colin Firth, dan Hugh Grant sebagai bintang utama. Sukses membukukan US$ 281.9 juta di seluruh dunia. Buku kedua pun melanjutkan sukses film pertamanya (2004) meski tak sebesar yang pertama dengan penghasilan total US$ 262.5 juta.
Dua belas tahun kemudian, Bridget Jones kembali menyapa penggemarnya di layar lebar lewat Bridget Jones’s Baby (BJB). Bukannya mengadaptasi novel ketiga, BJB merupakan naskah asli yang awalnya disusun Fielding dan Nicholls dengan mengambil setting tepat sebelum novel ketiganya. Hampir keseluruhan cast asli (kecuali Hugh Grant yang konon tidak tertarik dengan naskahnya) kembali, termasuk sutradara installment pertamanya, Sharon Maguire dengan naskah yang ditulis oleh Fielding sendiri, dibantu Dan Mazer (Ali G Indahouse, Borat, dan Brüno) dan Emma Thompson, setelah sebelumnya sempat disusun pula oleh Paul Feig dan David Nicholls. Aktor roman Patrick Dempsey kemudian menyusul bergabung dalam jajaran cast. Berkat kerinduan yang cukup mendalam terhadap karakter Bridget Jones dan semua di universe-nya, ditambah jajaran nama pendukung, tentu BJB adalah salah satu installment yang layak dinantikan.
Di usia yang sudah 43, Bridget menjalani hidup dengan lebih santai meski masih single. Ia juga menjalani profesinya sebagai produser acara TV dengan bahagia. Bahkan menjalin persahabatan dengan host acara yang ia produseri, Miranda. Masalah berat badan mungkin sudah bisa ia atasi dengan luar biasa, tapi urusan asmara tak mudah. Sang ibu yang sedang sibuk berkampanye menjadi ketua perkumpulan gereja, kembali merecoki urusan asmara Bridget. Kebetulan, Bridget bertemu dengan sesosok pria charming misterius di  sebuah festival musik dan melakukan one night stand. Tanpa ekspektasi apa-apa, Bridget meninggalkan pria itu begitu saja di pagi hari. Tak berselang lama, Bridget kembali bertemu Mark Darcy di sebuah acara pembaptisan anak seorang sahabat. Uniknya, Bridget dan Mark didaulat sebagai orang tua baptis si anak. Curhat Mark tentang rencana perceraian dengan istrinya berlanjut ke ranjang.
Bridget kaget setengah mati ketika mendapati dirinya hamil beberapa minggu kemudian. Menurut hitungan, Mark dan si pria misterius (yang ternyata adalah Jack Qwant, seorang miliarder penemu situs kencan yang menggunakan algoritma untuk mencocokkan pasangan) punya probabilitas yang sama untuk menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Tak hanya bingung bagaimana harus menyampaikan kepada keduanya, Bridget juga harus menimbang-nimbang dengan bijaksana, yang mana yang lebih layak untuk dijadikan pasangan tetap ketimbang sekedar siapa ayah biologis anaknya. Masa-masa sulit kembali harus dihadapi Bridget. Ditambah lagi kehadiran orang baru yang berniat me-rebrand TV dengan pendekatan modern (baca: milenial), membuat posisi Bridget di tempat kerjanya semakin tersudut.
Sebagai sebuah surat cinta dan obat kangen, BJB adalah film yang begitu memuaskan. Semua karakteristik dan aura yang begitu dicintai jutaan penggemar sejak installment pertamanya kembali dihadirkan dengan kualitas yang tetap terjaga. Jika BJD adalah sebuah introduksi yang bagus pada masanya (masih relevan sih untuk masa sekarang, hanya mungkin sudah tak terasa seistimewa ketika pada masanya), EoR adalah pengulangan (atau perpanjangan) plot dengan kadar humor yang dilipat-gandakan, maka BJB adalah gabungan dari keduanya. Masih dengan tema ‘old single’, BJB punya update sesuai perubahan pandangan seiring dengan berkembangnya jaman. Sedikit mengingatkan akan tema Sex and the City, hanya saja dengan fokus yang tak melulu seksual. Untuk urusan dengan plot utama, adalah hal yang bijak untuk memilih ke arah pasangan yang lebih layak untuk dijadikan pendamping hidup ketimbang sekedar siapa ayah biologisnya. Tema yang mungkin kontroversial di budaya Timur, tapi kalau mau dipikir-pikir jauh lebih bijak dan realistis. Tentu sebagai sebuah romantic comedy, BJB menghadirkan charm yang sama seperti film-film bergenre sejenis khas Inggris produksi Working Title-StudioCanal.
BJB pun tak luput menyelipkan kritik (atau nyinyiran) sosial di sana-sini. Mulai soal tuntutan atas hak wanita sampai millenial vs previous generations yang disampaikan dengan porsi pas. Tak sekedar numpang lewat tapi juga tak sampai mendominasi sampai mengalahkan fokus plot utama. Bahkan ada momen-momen di mana selipan kritik ini ditampilkan dengan begitu powerful hingga saya nyaris memberikan applause. Tak lupa, humor yang disebar merata di sana-sini yang secara kuantitas maupun kualitas di atas BJD maupun EoR. Hampir kesemuanya berhasil menggelitik syaraf tawa saya, terutama humor khas sejak installment pertamanya; salah tingkah, kebohongan yang berbuntut malu, situasional, celetukan-celetukan ‘nakal’, hingga slapstick.
Renée Zellweger melanjutkan peran Bridget Jones dengan smooth dan seamlessly, sekaligus menandai kembalinya berakting setelah vacuum selama kurang lebih 6 tahun. Tampilannya yang kini langsing mungkin agak ‘aneh’ bagi yang sudah terbiasa lekat dengan image Bridget Jones yang chubby. Namun karakter Bridget Jones seperti yang sebelumnya masih dihadirkan secara utuh oleh Zellweger, terutama that ‘strange charm’. Colin Firth sebagai Mark Darcy juga masih mempertahankan karakternya dengan utuh. Canggung, agak dingin, tapi in the same time, menampilkan tingkah yang menggelitik. Pun juga chemistry yang semakin kental dibangunnya bersama Zellweger. Patrick Dempsey sebagai Jack pun mampu masuk ke dalam universe Bridget Jones dengan mulus dan menarik perhatian. Justru karakternya ditampilkan lebih simpatik dan loveable ketimbang Daniel Cleaver (Hugh Grant) sehingga membuat penonton semakin dilematis dan bingung untuk memberikan dukungan. Pun Dempsey bisa juga membawakan joke dengan luwes.
Di deretan pemeran pendukung, Sarah Solemani sebagai Miranda mampu menjadi sosok sahabat yang tak kalah menggelitik. Disusul Gemma Jones dan Jim Broadbent sebagai kedua orang tua Bridget yang masih se-loveable sebelum-sebelumnya, terutama Gemma yang porsinya lebih banyak dan punya perkembangan karakter lebih.Terakhir, tentu susah untuk tak memasukkan cameo Ed Sheeran yang dimasukkan secara menggelitik pula.
Sinematografi Andrew Dunn melanjutkan kesuksesan penyampaian storytelling yang sudah dicapai oleh Stuart Dryburgh maupun Adrian Biddle. Malahan dengan efektivitas yang melebihi sebelumnya. Editing Melanie Ann Oliver yang membuat tiap detiknya berjalan lancar dengan pace seimbang dan comedic-timing yang pas, membuat BJB sajian yang mengalir santai tapi tak terkesan draggy sama sekali di balik durasinya yang mencapai 123 menit (ini merupakan durasi terpanjang dari keseluruhan installment Bridget Jones). Pujian juga patut diberikan kepada scoring Craig Armstrong yang berhasil mengembalikan nuansa romantis yang pernah menghanyutkan kita dalam manisnya romansa a la romcom Inggris produksi Working Title-Studio Canal, terutama era 90 hingga awal 2000-an. Pemilihan soundtrack-soundtrack populer mulai yang ‘wajib’ ada seperti All by Myself dari Jamie O’Neal, yang era 90’an banget seperti Jump Around dari House of Pain, romance generic macam Let’s Get It On dari Marvin Gaye dan Up Where We Belong dari Joe Cocker dan Jennifer Warnes, hingga yang kekinian seperti Sing dan Thinking Out Loud dari Ed Sheeran, Stay dari Rihanna dan Mikky Ekko, Hold My Hand dari Jess Glynne, dan King (The Magician Remix) dari Years & Years. Tak lupa Fuck You dari Lily Allen yang ditampilkan pada momen yang sangat pas. Juara!
Dengan perpaduan dan keseimbangan antara bobot cerita, pengembangan plot yang amat-sangat baik, jokes yang mostly berhasil, penyutradaraan yang makin matang, dan performa akting yang rata-rata mampu melanjutkan peran dengan mulus, ditambah pembuka serta penutup salah satu karakter penting dari universe Bridget Jones yang ditampilkan secara cerdas, BJB adalah sebuah paket obat kangen yang ultimate, esensial, dan menyenangkan. Pantang untuk dilewatkan oleh penonton dewasa, worked even better for the thirties something or soon-to-be-forties.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates