Tuesday, October 11, 2016

The Jose Flash Review
Ben-Hur (2016)

Tak banyak cerita fiksi yang berani mengambil latar kisah Injil, terutama melibatkan Yesus Kristus. Salah satu yang paling berpengaruh dan bahkan menjadi karya fiksi pertama yang mendapatkan restu dari Paus (yaitu Paus Leo XIII) adalah novel Ben Hur: A Tale of the Christ karya Lew Wallace yang dipublikasikan pertama kali tahun 1880. Dari novel tersebut lahirlah versi bisi berjudul Ben-Hur: A Tale of the Christ (1925) dan puncaknya, Ben-Hur (1959) yang diproduksi secara epik oleh MGM, mencetak box office gila-gilaan pada masanya, serta tentu saja memenangkan 11 Oscar dari 12 nominasi yang mana merupakan rekor perolehan piala Oscar terbanyak sebelum akhirnya disamai oleh Titanic di Academy Awards 1998. Semenjak itu kisah Ben-Hur tergolong jarang diangkat lagi. Terhitung hanya sebuah film animasi (yang rilis direct-to-video), Ben Hur (2003) yang menarik perhatian karena penampilan Charlton Heston dari versi 1959 sebagai voice cast Ben Hur. Sisanya ‘hanya’ ada mini-seri tahun 2010 dan sebuah mockbuster In the Name of Ben Hur (2016) yang dirilis untuk mendompleng popularitas Ben-Hur versi 2016 garapan Timur Bekmambetov ini. Timur bagi saya termasuk sutradara yang ‘menarik’. Sutradara asal Rusia yang mulai dikenal secara internasional lewat Nochnoy Dozor (2004), sekuelnya, Dnevnoy Dozor (2006) ini tergolong cukup piawai dalam menggarap tema-tema aksi fantasi seperti Wanted (2008) dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012). Didukung naskah yang diadaptasi oleh Keith R. Clarke (The Way Back) dan John Ridley (12 Years a Slave), serta Morgan Freeman sebagai salah satu cast, Ben-Hur versi 2016 mencoba untuk me-‘modern’-kan kisah klasik Ben Hur untuk penonton generasi milenial. 

Judah Ben-Hur berasal dari keluarga bangsawan yang tinggal di Yerusalem pada masa pemerintahan Romawi. Kendati terpandang, keluarganya tak segan  mengangkat seorang bangsa Romawi, Messala menjadi salah satu saudara. Namun Messala masih merasa kurang puas dengan perlakuan keluarga angkatnya selama ini, apalagi ia jatuh cinta pada Tirzah, adik perempuan Ben-Hur. Messala memutuskan untuk bergabung dengan tentara Romawi yang sedang berperang di Jerman. Sekembalinya ke Yerusalem, Messala sudah berpangkat tinggi. Dilema moral mulai dirasakannya ketika ia harus menangkap pemberontak Zelot yang diduga dibantu oleh keluarga Ben-Hur. Bahkan Messala harus menyalibkan keluarga angkatnya dan menjadikan Ben-Hur budak kapal perang.

Petualangan naas menghampiri Ben-Hur yang untungnya masih bisa bertahan hidup ketika kapal perangnya hancur diserang musuh. Ia ditolong oleh seorang saudagar Afrika, Sheik Ilderim yang sedang mempersiapkan kuda-kuda untuk pertandingan kereta kuda oleh kaisar Romawi. Mendengar masa lalunya, Ilderim memotivasi Ben-Hur untuk membalas dendam kepada Messala dan kaum Romawi dengan cara yang lebih terhormat, yaitu lewat pertandingan kereta kuda. Tekad Ben-Hur semakin kuat, tapi perjumpaannya dengan Yesus Kristus di beberapa kesempatan membuatnya bimbang. Dendam atau pengampunan.

Tak mudah memang menerjemahkan materi cerita yang tergolong banyak dan panjang ke dalam medium film yang lebih terbatas. Jika Ben-Hur versi 1959 butuh 3 jam 32 menit untuk merangkumnya, Timur bersama timnya mencoba meringkasnya menjadi ‘hanya’ 2 jam 5 menit saja (versi asli, pemotongan terutama yang berkaitan dengan Yesus dilakukan di beberapa negara menjadi 114 menit). Sayang yang mereka lakukan bukannya menjadikan cerita Ben-Hur lebih sederhana dan enak diikuti, justru menciderai feel secara keseluruhan. Laju film menjadi terasa terlalu cepat, dengan dramatisasi bak film TV. Akibatnya penonton tak punya cukup waktu untuk memahami, apalagi merasakan emosi, tiap bagian cerita. Tentu simpati untuk karakter utama, Judah Ben-Hur, sekalipun tak sedikit pun tercapai. Elemen ‘pengampunan’ yang diniatkan untuk lebih kuat ketimbang elemen ‘balas dendam’ di versi 1959 nyatanya justru terasa hanya menjadi sempalan yang tidak menyatu dengan keseluruhan cerita. Apalagi peletakannya di pasca-klimaks yang membuat penonton tak lagi peduli. Begitu juga elemen Yesus Kristus yang seharusnya menjadi jembatan proses elemen ‘pengampunan’ justru terkesan dipaksakan ada.

Memang tak semua elemen di Ben-Hur versi 2016 yang gagal. Satu hal yang patut dicatat adalah adegan pertandingan kereta kuda yang menjadi adegan paling penting dari Ben-Hur versi manapun. Di versi 2016 ini, Timur dan timnya berhasil menyuguhkan adegan pertandingan kereta kuda yang spektakuler dan mendebarkan. Memang masih dengan pace ‘terlalu cepat’ yang mungkin tak membuatnya jadi memorable untuk jangka waktu lama, tapi setidaknya sebagai instant show, it’s entertaining and grandeur. Bagi saya, kurang lebih masih selevel dengan adegan podrace di Star Wars – Episode I: The Phantom Menace (1999).

Treatment yang serba cepat dan dramatisasi berlebihan bak FTV membuat aktor-aktris Ben-Hur versi 2016 gagal untuk benar-benar bersinar. Tak terkecuali Jack Huston sebagai Judah Ben-Hur yang punya porsi paling mendominasi. Ada banyak kesempatan dimana ia terlihat berusaha untuk menghidupkan perannya dan mengundang simpati penonton. Sayangnya, sebelum penonton benar-benar bisa merasakannya, adegan sudah beralih. Apalagi ternyata kharisma Huston sendiri masih belum cukup kuat untuk memerankan Judah Ben-Hur. Toby Kebbell sebagai Messala justru lebih bisa mencuri perhatian berkat karakter antagonis yang lebih terasa ‘hidup’ meski tak sampai menjadi performa yang kuat ataupun memorable. Nazanin Boniadi sebagai Esther, Ayelet Zurer sebagai Naomi Ben-Hur, dan Sofia Black-D’Elia sebagai Tirzah Ben-Hur, berada pada porsi serta kekuatan performa yang setara, mostly karena pesona fisik yang memang tak perlu diragukan lagi. Morgan Freeman sebagai Ilderim lebih berfungsi sebagai daya tarik famous cast saja ketimbang kebutuhan cerita. Terakhir, Rodrigo Santoro sebagai Yesus sebenarnya secara fisik cukup representatif. Sayangnya secara kharisma atau juga mungkin karena porsi yang tidak terlalu berpihak, performanya menjadi sekedar lalu semata.

Dari segi teknis, sebenarnya Ben-Hur versi 2016 tergolong serba mumpuni. Mulai sinematografi Oliver Wood yang mampu mem-framing set serba megahnya, sesekali dengan angle-angle ekstrim yang mempertajam efek gambar, editing Dody Dorn-Richard Francis Bruce-Bob Murawski yang berhasil merangkai adegan secara mulus dengan berbagai teknik, termasuk J-cut (audio dari adegan terdengar sebelum visual dimulai) dan match cut (mencocokkan dua adegan yang berbeda lewat objek yang terkesan nyambung) yang paling sering digunakan. Tentu ini terlepas dari pace cerita yang sudah terasa sudah dikonsep sejak awal. So ini bukan semata-mata kesalahan editing. Desain produksi tak perlu diragukan lagi, meski saya agak terganggu dengan costume design Varvara Avdyushko yang terkesan terlalu modern (baca: potongan dan jahitan terlalu rapi) untuk eranya.

Scoring Marco Beltrami memang terdengar megah meski terkesan dramatisasi berlebihan di banyak kesempatan. Cukup signatural pula. Sayang tak mampu menjadi memorable dalam ingatan untuk jangka waktu lebih lama. Terakhir, tata suara tergarap mantap, apalagi di teater IMAX yang membuat adegan kapal perang dan pertandingan kereta kuda menjadi begitu nyata dan hidup bak penonton benar-benar berada di tengah-tengah medan. Sementara untuk format 3D, Ben-Hur 2016 tergolong flat dan gagal mengeksekusi banyak potensi gimmick pop-out menjadi maksimal.

Ben-Hur versi 2016 tentu bukan tandingan versi 1959, terutama dari segi kedalaman karakter yang seharusnya membuat penonton memahami dan bersimpati pada perkembangannya. Treatment penceritaan yang dibuat serba (terlalu) dinamis dan cepat menjadi faktor yang paling berpengaruh. Namun sekedar sebagai instant-entertainment, ia masih layak untuk dialami dengan fasilitas tata suara dan layar yang mumpuni.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates