Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Monday, October 31, 2016

The Jose Flash Review
The Doll

Seperti namanya, Hitmaker Studios yang merupakan anak perusahaan dari Soraya Intercine Films sejak didirikan tahun 2012 sudah memproduksi film-film hit yang rata-rata bergenre horor dari tangan sutradara Jose Purnomo, seperti Rumah Kentang (2012), 308 (2013), Rumah Gurita (2014), Mall Klender (2014), dan Tarot (2015). Akhir tahun lalu untuk pertama kalinya Hitmaker Studios mencoba menelurkan film di luar horor lewat Sunshine Becomes You. Tahun 2016 ini Hitmaker Studios kembali memproduksi genre ‘akar’ mereka, yaitu horor. Masih mengusung nama Shandy Aulia yang seolah sudah menjadi Soraya’s sweetheart dan Denny Sumargo yang sudah dua kali bekerja sama dengan Hitmaker Studios, yaitu lewat 308 dan Mall Klender. Kali ini Rocky Soraya yang selama ini lebih sering bertindak sebagai produser turun tangan langsung sebagai sutradara setelah Chika (2008) dan Sunshine Becomes You. Riheam Junianti yang juga sudah bekerja sama dengan Soraya-Hitmaker sejak Apa Artinya Cinta (2005) hingga Tarot, kembali menuliskan naskah untuk film yang menambah panjang daftar horor dengan sosok boneka lewat tajuk The Doll ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Catatan Dodol Calon Dokter

Dunia literasi Indonesia era 2000-an diramaikan oleh buku-buku sketsa komedi. Mungkin harapannya bisa menumbuhkan minat baca di Indonesia yang tergolong rendah. Tak sedikit buku sketsa komedi yang juga sukses ketika diangkat ke layar lebar. Buku-buku Raditya Dika dan My Stupid Boss menjadi bukti nyatanya. Mengikuti jejak-jejak kesuksesan itu, Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya dokter mata Ferdiriva Hamzah yang sudah terbit hingga tiga jilid akhirnya diangkat juga ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, Radikal Films (Love is U dan The Legend of Trio Macan) berhasil menggandeng CJ Entertainment, salah satu PH terbesar di Korea Selatan yang film-filmnya sudah sering mencetak box office. Dengan naskah adaptasi yang disusun oleh Ardiansyah Solaiman dan Chadijah Siregar, serta sutradara Ifa Isfansyah (Sang Penari, 9 Summers 10 Autumns, dan Pendekar Tongkat Emas), Catatan Dodol Calon Dokter (CDCD) mengusung aktor-aktris muda seperti Adipati Dolken, Tika Bravani, Aurellie Moeremans, Albert Halim, dan Rizky Mocil.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 30, 2016

The Jose Flash Review
The Beatles:
Eight Days a Week
The Touring Years

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, October 27, 2016

The Jose Flash Review
Bridget Jones's Baby

Thirty-something single career woman. Mungkin tema yang memang menjadi problema personal kebanyakan wanita (bahkan mungkin juga pria?) modern hingga sekarang inilah yang membuat novel chicklit Bridget Jones’s Diary (BJD) karya Helen Fielding yang dipublikasikan pertama kali tahun 1995 menjadi sebuah hit, bahkan fenomena internasional. Hingga 2006 bukunya sudah terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia. Diikuti sekuelnya, Bridget Jones: The Edge of Reason (EoR - 1999) dan Bridget Jones: Mad About the Boy (2013). Buku yang awalnya adalah sebuah kolom artikel di The Independent, dilanjutkan di The Daily Telegraph selama total hampir tiga tahun ini akhirnya diadaptasi ke layar lebar oleh Working Title Films (2001) dengan Renée Zellweger, Colin Firth, dan Hugh Grant sebagai bintang utama. Sukses membukukan US$ 281.9 juta di seluruh dunia. Buku kedua pun melanjutkan sukses film pertamanya (2004) meski tak sebesar yang pertama dengan penghasilan total US$ 262.5 juta.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 25, 2016

The Jose Flash Review
Jack Reacher:
Never Go Back

Diangkat dari novel karya Lee Child yang pertama kali rilis tahun 1997 dan hingga kini sudah punya 20 jilid, penampilan perdana karakter Jack Reacher di layar lebar tahun 2012 lalu dianggap di bawah ekspektasi. Dengan memasang aktor utama sekelas Tom Cruise, penghasilan ‘hanya’ sekitar US$ 80 juta untuk pasar domestik saja termasuk flop. Sempat ada kabar rencana pembuatan sekuelnya dibatalkan, untung hasil akhir di seluruh dunia mencapai angka US$ 218 juta. Sehingga Paramount Pictures dan Skydance Productions memutuskan untuk melanjutkan franchise ini dan memilih novel ke-18, Never Go Back (2013) yang akan diangkat menjadi installment film kedua. Tom Cruise kembali memerankan sosok Jack Reacher, sementara sutradara Edward Zwick (Courage Under Fire, The Siege, The Last Samurai, dan Blood Diamond) ditunjuk menggantikan Christopher McQuarrie. Zwick kemudian menggandeng penulis naskah Marshall Herskovitz yang pernah bekerja sama dengannya di The Last Samurai dan Love & Other Drugs, untuk menulis ulang naskah yang sudah dibuat oleh Richard Wenk (The Mechanic, The Expandables 2, The Equalizer, dan The Maginificent Seven versi 2016). Kali ini Tom Cruise tak ‘bekerja’ sendiri karena dipasangkan dengan Cobie Smulders yang kita kenal sebagai Robin Scherbatsky di sitkom How I Met Your Mother dan Maria Hill di franchise Marvel’s The Avengers.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Me vs Mami

Tema generation gap atau perseteruan antara orang tua dan anak tentu bukan lagi materi baru di ranah perfilman, baik Hollywood maupun Indonesia. Siapa sangka sebuah FTV bertema generation gap dengan tajuk Me vs Mami yang dibintangi Ranty Purnamasari dan Sharena serta tayang di salah satu televisi swasta nasional 2011 lalu sukses mendapatkan rating yang tinggi. Maka sekuelnya, (Masih) Me vs Mami dan Me vs Mami 3 (dua-duanya produksi tahun 2012) pun menyusul. Tahun 2016 giliran FTV sukses ini diangkat ke layar lebar oleh MNC Pictures dengan tim yang berbeda. Ody C. Harahap (Kawin Kontrak, Punk in Love, dan Kapan Kawin?) ditunjuk sebagai sutradara, sementara naskahnya dikerjakan oleh Vera Varidia yang pernah menggarap naskah Surat Cinta untuk Kartini (produksi MNC Pictures juga). Cut Mini yang tahun ini namanya sedang ‘berkibar’ didapuk menjadi sang ibu, sementara Irish Bella yang selama ini dikenal sebagai bintang sinetron memerankan sang putri. Sumatra Barat, khususnya Padang hingga Payakumbuh, yang dijadikan sebagai latar cerita turut menjadi daya tarik tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
A Monster Calls

Patrick Ness, penulis novel asal Amerika Serikat yang hijrah ke London, dikenal lewat novel anak Monsters for Men (2011) dan young-adult A Monster Calls (AMC-2012). Khusus yang saya sebutkan terakhir, AMC, adalah sebuah novel yang awalnya atas ide Siobhan Dowd ketika sekarat. Setelah meninggal dunia tahun 2007, Patrick Ness ditunjuk untuk menuliskan ceritanya menjadi sebuah novel dengan ilustrasi dari Jim Kay. AMC berhasil memenangkan medali Carnegie dan Greenaway di tahun 2012 serta sejumlah penghargaan buku bergengsi lainnya, termasuk British Children’s Book of the Year dan masuk daftar terbaik akhir tahun dari The Independent, Chicago Sun-Times, dan The Wall Street Journal. Tentu pencapaian setinggi ini menjadi materi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Adalah Focus Features yang beruntung mengamankan haknya. Sutradara Spanyol Juan Antonio Bayona yang populer  secara internasional lewat The Orphanage (2007) dan The Impossible (2012) ditunjuk menjadi sutradara, sementara naskah adaptasinya dikerjakan sendiri oleh Patrick Ness. Aktor cilik Lewis MacDougall (Pan) ditunjuk mengisi peran utama, Conor, sementara nama-nama yang lebih populer seperti Felicity Jones, Toby Kebbell, bahkan sampai sesenior Sigourney Weaver dan Liam Neeson, dipilih untuk menambah daya tarik film. Di Amerika Serikat, AMC dijadwalkan tayang 7 Januari 2017 (mungkin dengan pertimbangan dekat award season) nanti. Sementara kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikannya lebih dulu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 24, 2016

The Jose Flash Review
The Accountant

Autistik selama ini sering dipandang sebagai sebuah kelainan. Padahal autis sebenarnya suatu kondisi ‘berbeda’ sehingga harus ditangani dengan cara yang berbeda pula. Bahkan tidak jarang autis justru merupakan tanda kejeniusan seseorang. Einstein dan Mozart adalah beberapa tokoh terkenal yang mengidap autistik. Tema itulah yang membuat penulis naskah Bill Dubuque (The Judge) dan sutradara Gavin O’ Connor (Warrior) tertarik untuk mengangkatnya ke dalam sebuah film yang diberi tajuk The Accountant. Menggunakan autistik sebagai dasar cerita, kemudian dikembangkan menjadi sebuah action thriller dengan bumbu crime dan sedikit romance, The Accountant menambah daya tariknya lewat penampilan dari Ben Affleck dan sederetan aktor senior seperti J.K. Simmons, Jeffrey Tambor, dan John Lithgow. Tak ketinggalan Anna Kendrick yang selalu tampil menarik dan Jon Bernthal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Inferno

Karakter Robert Langdon, seorang profesor dan pakar ikonologi serta simbologi yang ditulis oleh Dan Brown sudah menjadi salah satu ikon kisah investigatif, baik di novel maupun film. Kesuksesan film The Da Vinci Code (2006) dan sekuelnya, Angels & Demons (2009) jelas membuat Sony Pictures tertarik untuk mengangkat seri Langdon lainnya ke layar lebar. Sayang sutradara Ron Howard dan Tom Hanks tak begitu antusias dengan seri ketiga novelnya, The Lost Symbol, hingga novel keempat, Inferno rilis di tahun 2013. Sony, Howard, dan Hanks sepakat untuk lebih dulu mengangkat Inferno ke layar lebar dan membuat produksi The Lost Symbol ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. David Koepp yang pernah membantu di Angels & Demons, menggantikan Akiva Goldsman sepenuhnya sebagai penulis naskah. Sempat direncanakan rilis Desember 2015 namun kemudian diundur hingga Oktober 2016 untuk menghindari persaingan dengan Star Wars: The Force Awakens. Setelah Audrey Tautou dan Ayelet Zurer, Hanks kali ini dipasangkan dengan Felicity Jones yang namanya sedang cemerlang tahun ini. Selain muncul di sini, Jones juga tampil di A Monster’s Call dan yang paling diantisipasi, Rogue One: A Star Wars Story Desember 2016 nanti.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 16, 2016

The Jose Flash Review
Wonderful Life

Di Indonesia istilah disleksia sebagai sebuah kondisi yang berbeda seseorang dari umumnya sehingga membutuhkan penanganan khusus agaknya masih dipahami oleh sebagian kecil kalangan saja. Di tengah masyarakat yang mayoritas masih kurang bisa menjangkau informasi, kondisi disleksia lantas dicemooh sebagai lambat belajar, ‘keterbelakangan’, bahkan ‘bodoh’, ketimbang menemukan metode khusus yang lebih tepat dan efektif untuk menanganinya. Berangkat dari fakta tersebut, beruntung ada sosok yang mau membagi pengalamannya menangani anak disleksia agar bisa diterapkan pada anak-anak disleksia lainnya. Ia adalah Amalia Prabowo dan putranya. Aqil Prabowo yang kini berprofesi sebagai seniman, yang menuangkan pengalamannya lewat buku berjudul Wonderful Life (dirilis April 2015). Buku ini yang lantas menggerakkan Handoko Hendroyono dari Creative & Co untuk menyebarkan semangat parenting Amalia lebih luas lagi lewat medium film. Dwimas Angga Sasongko dari Visinema yang telah menelurkan karya-karya berkualitas seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, dan Surat dari Praha, digandeng untuk memproduksinya. Kebetulan Creative & Co juga pernah bekerja sama untuk campaign Filosofi Kopi sebelumnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Pinky Promise

Benar, edukasi dan penyuluhan awareness terhadap suatu penyakit bisa efektif disampaikan lewat medium film. Film Indonesia sudah berkali-kali mencobanya sampai mungkin sudah pada titik jenuh lewat pendekatan yang tak jauh-jauh dari sekedar tearjerker semata lewat visualisasi yang itu-tu saja sementara mengesampingkan logika-logika realita secara medis. Kanker menjadi penyakit ‘favorit’ untuk dihadirkan dengan elemen-elemen cliché-nya, terutama penggundulan rambut sebagai tanda penderitaan yang paling tinggi. Tentu ada juga yang mencoba mengedepankan value ‘harapan’ daripada tearjerker sebagai fokus utama, seperti misalnya I Am Hope yang dirilis tahun 2016 ini juga. Dalam rangka Breast Cancer Awareness Month yang jatuh pada bulan Oktober tahun ini, MP Pro Picture merilis film perdananya yang lagi-lagi bertujuan untuk meningkatkan awareness terhadap kanker payudara. Dengan dukungan penuh dari LovePink, sebuah organisasi yang punya misi memberikan dukungan moral dan edukasi terhadap penderita kanker payudara maupun survivor-nya. Kebetulan organisasi yang kemudian bertransformasi menjadi Yayasan Daya Dara Indonesia ini diketuai oleh Samantha Barbara, yang tak lain dan tak bukan adalah ibunda dari Chelsea Islan sehingga membuatnya turut andil dalam proyek film bertajuk Pinky Promise (PP) meski ‘hanya’ menjadi cameo dan turut mempromosikan di balik kesibukannya. Guntur Soeharjanto (Tampan Tailor, Assalamualaikum Beijing, 99 Cahaya di Langit Eropa, dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea) ditunjuk menjadi sutradara, sementara naskahnya dikerjakan oleh Ginatri S. Noer (Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Habibie & Ainun, dan {rudy habibie}). Berfokus pada kisah persahabatan di atas tema kanker payudara, cast diisi oleh nama-nama populer seperti Agni Pratistha, Ira Maya Sopha, Alexandra Gottardo, Dhea Seto, Dea Ananda, Jajang C. Noer, dan Ringgo Agus Rahman.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ada Cinta di SMA

Tidak bisa dipungkiri bahwa angka moviegoers tertinggi adalah berasal dari kalangan usia remaja. Maka tak heran film remaja termasuk yang paling banyak diproduksi. Sayangnya anggapan ini sering membuat produser dan/atau PH lebih sering memilih cara instan. Hanya memanfaatkan sosok atau materi yang sedang populer, tanpa memperhatikan perkembangan plot yang baik, selesai. Nevertheless, tiap generasi tentu punya satu atau dua judul film remaja yang mewakili sebagai ikon generasi. Jika generasi Y lalu punya Ada Apa dengan Cinta? (2001) dan Catatan Terakhir Sekolah (2004), maka generasi milenial atau generasi Z alias saat ini menjadi PR bagi sineas dan PH. Tak perlu premise yang muluk-muluk. Plot remaja klasik dengan sentuhan serta bumbu-bumbu problematika sesuai perkembangan jaman sudah lebih dari cukup. Tinggal bagaimana mengolahnya menjadi sajian bermutu, tapi bisa dengan mudah dinikmati target audience utamanya, sekaligus membuat generasi sebelumnya (terutama yang merasa punya masa remaja menyenangkan) bisa ikut merasakan keceriaan sambil mengenang masa muda.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, October 14, 2016

The Jose Flash Review
Munafik

Kondisi perfilman Malaysia sebenarnya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Malah mungkin jumlah film yang secara teknis ‘kurang layak’ lebih banyak ketimbang Indonesia karena aturan kuota film lokal dari pemerintah mereka yang lebih ketat dan punya masa tayang minimal yang cukup panjang. Tentu ada banyak juga film yang layak untuk diperhitungkan. Salah satunya adalah nama sutradara muda Syamsul Yusof yang memang berasal dari keluarga sineas. Sang ayah, Yusof Haslam, adalah sutradara yang kerap menggarap film bertemakan kepolisian dan punya PH sendiri bernama Skop Production. Debutnya, Evolusi KL Drift (2008) dianggap berhasil secara komersial. Disusul Bohsia: Jangan Pilih Jalan Hitam (2009) yang kendati menuai kontroversi tapi tetap sukses secara komersial, Evolusi KL Drift 2 yang menyabet penghargaan Best Director, Best Editor, dan Best Screenplay di Malaysia Screen Awards 2010, serta KL Gangster (2011) yang lagi-lagi menganugerahinya Best Director di Malaysia Screen Awards 2011 sekaligus menorehkan rekor pendapatan film Melayu terlaris, yaitu sebesar Rs 12 juta. Tak hanya action, Yusof juga pernah mencoba menggarap film horror berjudul Khurafat: Perjanjian Syaitan (2011) yang juga dipuji kritikus dan mengumpulkan Rs 8 juta. Setelah vacuum selama 2 tahun, sutradara yang bak Anggy Umbara versi Malaysia karena merangkap banyak jabatan, mulai sutradara, penulis naskah, editor, sekaligus penata musik (bedanya Anggy tak ikut-ikutan menjadi aktor utama seperti Yusof) ini mencoba kembali dengan film horror religi keduanya, Munafik. Keberuntungan pun masih berada di pihaknya, karena Munafik memecahkan rekor pendapatan baru, yaitu total Rs 19 juta, menumbangkan rekor sebelumnya sebesar Rs 16.7 juta oleh Ola Bola di tahun yang sama. Beruntung kita yang di Indonesia bisa ikut menjadi saksi fenomena Munafik di layar lebar berkat MD Pictures yang menjadi distributor resmi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mirzya [मिर्ज्या]

Sejak lama tanah Hindustan dikenal kaya akan kisah folklore yang biasanya diwarnai tema kepahlawanan dan/atau roman. Dari wilayah Punjabi setidaknya ada tiga roman tragis yang paling populer; Heer Ranjha, Sohni Mahiwal, dan Mirza Sahiba. Yang saya sebutkan terakhir ini punya keunikan tersendiri karena basically merupakan pasangan saudara angkat yang berakhir tragis. Tak heran ketika sineas-sineas tertarik untuk mengangkatnya ke medium film layar lebar. Adalah Rakeysh Omprakash Mehra yang dikenal lewat Rang De Basanti (2006) dan Bhaag Milkha Bhaag (2013) yang tertarik untuk mengangkatnya dengan visi artistik tersendiri. Menggandeng penulis naskah sekaligus penulis lirik lagu veteran, Gulzar (bahkan pemenang Oscar untuk Jai Ho, original song Slumdog Millionaire bersama A. R. Rahman), ia memvisualisasikan kembali cerita Mirza-Sahiba versinya sendiri. Di lini pelakon, Rakeysh memasang bintang-bintang muda yang justru memulai debutnya lewat film ini. Mulai Harshvardhan Kapoor yang merupakan putra termuda dari aktor Anil Kapoor, Saiyami Kher yang selama ini dikenal sebagai atlet cricket dan badminton, serta Anuj Choudhry. Meski diberi tajuk Mirzya, Rakeysh sebenarnya menggunakan konsep yang cukup menarik dalam menyampaikan kisahnya; paralel antara dongeng asli Mirzya Sahiba pada masanya dan pasangan yang nasibnya kurang lebih serupa dengan setting masa kini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Blair Witch

Meski mungkin bukan yang pertama kali ada, tak bisa dipungkiri bahwa The Blair Witch Project (BWP-1999) adalah salah satu fenomena terpenting dalam sejarah perfilman dunia. Setidaknya, ia telah mendobrak metode mockumentary menjadi sajian yang layak diputar di layar lebar, yang pada akhirnya banyak film dengan metode pembuatan film sejenis hingga saat ini. Tak hanya untuk genre horror, tapi bahkan sci-fi. Pilihan membuatkan sekuel berformat film narasi ‘biasa’, Book of Shadows: Blair Witch 2 (2000) mungkin sebuah kesalahan, apalagi ternyata tidak menawarkan sesuatu hal baru yang menarik pada franchise. Beruntung kemudian seorang sineas horror, Adam Wingard , yang dikenal lewat segmen-segmennya di antologi macamV/H/S (segmen Tape 56 – 2012), The ABC’s of Death (segmen Q is for Quack – 2012), dan V/H/S 2 (segmen Phase I Clinical Trials – 2013), serta home invasion thriller You’re Next (2011), menanyakan kepada pembuat film aslinya. Gayung bersambut, Lionsgate selaku studio tertarik untuk membuatkan sekuel. Penulis naskah Simon Barrett yang menjadi partner tetap Wingard kemudian mem-pitch konsep cerita dan melakukan berbagai riset untuk menjadikan sekuel BWP seseram mungkin.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, October 13, 2016

The Jose Flash Review
Snowden

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seluruh kegiatan di dunia maya bisa dengan mudah diawasi oleh pihak yang punya kuasa. Apalagi setelah satu per satu kasus konspirasi tingkat tinggi berkaitan privasi di dunia maya terbongkar. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh di ranah ini adalah Edward Snowden. Pernah diangkat ke sebuah film dokumenter Citizenfour (2014) yang bahkan memenangkan Oscar untuk kategori Best Documentary Feature tahun 2015 lalu, kali ini giliran Oliver Stone yang dikenal sering membuat biopic maupun peristiwa penting dunia kontroversial tertarik untuk mengangkatnya ke medium film.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, October 11, 2016

The Jose Flash Review
Ben-Hur (2016)

Tak banyak cerita fiksi yang berani mengambil latar kisah Injil, terutama melibatkan Yesus Kristus. Salah satu yang paling berpengaruh dan bahkan menjadi karya fiksi pertama yang mendapatkan restu dari Paus (yaitu Paus Leo XIII) adalah novel Ben Hur: A Tale of the Christ karya Lew Wallace yang dipublikasikan pertama kali tahun 1880. Dari novel tersebut lahirlah versi bisi berjudul Ben-Hur: A Tale of the Christ (1925) dan puncaknya, Ben-Hur (1959) yang diproduksi secara epik oleh MGM, mencetak box office gila-gilaan pada masanya, serta tentu saja memenangkan 11 Oscar dari 12 nominasi yang mana merupakan rekor perolehan piala Oscar terbanyak sebelum akhirnya disamai oleh Titanic di Academy Awards 1998. Semenjak itu kisah Ben-Hur tergolong jarang diangkat lagi. Terhitung hanya sebuah film animasi (yang rilis direct-to-video), Ben Hur (2003) yang menarik perhatian karena penampilan Charlton Heston dari versi 1959 sebagai voice cast Ben Hur. Sisanya ‘hanya’ ada mini-seri tahun 2010 dan sebuah mockbuster In the Name of Ben Hur (2016) yang dirilis untuk mendompleng popularitas Ben-Hur versi 2016 garapan Timur Bekmambetov ini. Timur bagi saya termasuk sutradara yang ‘menarik’. Sutradara asal Rusia yang mulai dikenal secara internasional lewat Nochnoy Dozor (2004), sekuelnya, Dnevnoy Dozor (2006) ini tergolong cukup piawai dalam menggarap tema-tema aksi fantasi seperti Wanted (2008) dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012). Didukung naskah yang diadaptasi oleh Keith R. Clarke (The Way Back) dan John Ridley (12 Years a Slave), serta Morgan Freeman sebagai salah satu cast, Ben-Hur versi 2016 mencoba untuk me-‘modern’-kan kisah klasik Ben Hur untuk penonton generasi milenial. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, October 5, 2016

The Jose Flash Review
Miss Peregrine's
Home for Peculiar Children

Sejak lama Tim Burton dikenal sebagai salah satu sineas Hollywood yang punya ciri khas. Mulai desain produksi yang ‘sangat Burton’, seperti perpaduan Gothic dan Baroque, tipikal cerita yang menyentil kondisi sosial dengan karakter yang tidak kalah nyeleneh, dan tak lupa selera humor ganjil yang jadi menggelitik karena diletakkan pada konteks konsep desainnya. Setelah melepas Alice Through the Looking Glass dan lebih memilih biopic pelukis Margaret Keane berjudul Big Eyes (2014), Tim Burton melirik novel dark fantasy young adult karya Ransom Riggs yang dirilis tahun 2011 dan sempat menjadi NewYork Times bestseller, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (MPHPC). Novel yang tergolong unik karena menggunakan fotografi vernacular (foto kehidupan sehari-hari) sebagai pelengkap narasi teks ini tentu dengan mudah menarik perhatian Burton karena punya banyak persamaan style dengan taste-nya. Jane Goldman (Stardust, Kick-Ass, X-Men: First Class, X-Men: Days of Future Past, dan Kingsman: The Secret Service) ditunjuk untuk mengadaptasi ke dalam bentuk screenplay. Burton menggandeng kembali ‘muse baru’-nya, Eva Green (setelah Dark Shadows) dan penata kostum yang sudah menjadi langganannya, Colleen Atwood, DoP Bruno Delbonnel, dan editor Chris Lebenzon. Sayang, kali ini Burton tak bekerja sama dengan komposer Danny Elfman yang karya-karyanya seolah sudah menyatu dengan benchmark Burton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Deepwater Horizon

Jika kita di Indonesia sempat dihebohkan oleh kasus Lumpur Lapindo yang menjadi bencana nasional dan bahkan menjadi polemik hingga bertahun-tahun, ‘bencana’ yang berkaitan dengan pengeboran minyak ternyata juga pernah terjadi di Teluk Meksiko pada 2010 lalu. Bahkan mungkin jauh lebih buruk. Bencana yang dinobatkan sebagai bencana kebocoran minyak terbesar di dunia sekaligus bencana lingkungan terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat ini menewaskan 11 pekerja dan 17 lainnya luka-luka. Tahun 2011, ketika kasus ini belum sepenuhnya mencapai titik final di pengadilan (yang mana baru berakhir pertengahan 2015 lalu), Summit Entertainment, Participant Media, dan Image Nation membeli hak berdasarkan artikel yang ditulis oleh David Barstow, David S. Rohde, dan Stephanie Saul di The New York Times. Matthew Sand (Ninja Assassin) ditunjuk untuk menyusun naskahnya bersama dengan Matthew Michael Carnahan (The Kingdom, World War Z). Sementara Peter Berg (The Rundown, Friday Night Lights, The Kingdom, Hancock, Battleship, dan Lone Survivor) yang cukup berpengalaman menyandingkan tema aksi dengan drama kemanusiaan akhirnya ditunjuk sebagai sutradara, setelah J. C. Chandor (All is Lost) mundur karena alasan perbedaan kreativitas. Berg menggandeng kembali Mark Wahlberg, menyusul Dylan O’ Brien, Kurt Russell, John Malkovich, Kate Hudson, dan bintang Hispanic berbakat, Gina Rodriguez (yes, she reminded me of Michelle Rodriquez and shared the same last name, but no. They’re not siblings!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates