Saturday, September 17, 2016

The Jose Flash Review
Pete's Dragon (2016)

Tahun 2016 bisa jadi menjadi salah satu tahun paling produktif bagi Disney. Tak hanya mengandalkan film-film Marvel yang sudah membukukan milyaran dolar, Walt Disney juga mencoba menghadirkan film-film dongeng dari old vault mereka, seperti The Jungle Book, sekuel Alice in Wonderland, Alice Through the Looking Glass, kemudian The BFG yang digarap oleh Steven Spielberg, dan kini Pete’s Dragon (PD). Judul yang saya sebutkan terakhir ini merupakan remake film berjudul sama yang dirilis tahun 1977. Kisah PD sendiri awalnya sebuah cerpen karya Seton I. Miller dan S. S. Field yang dibeli oleh Disney tahun 50’an untuk dijadikan salah satu program antologi di Disneyland. Namun rupanya treatment dari penulis naskah Malcolm Marmorstein membuat Disney tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jika versi 1977 adalah film live action musikal yang digabung dengan animasi 2D untuk sosok Sang Naga dan lebih cenderung ke komedi, maka PD versi 2016 tak lagi dibuat musikal, dengan bantuan CGI untuk membuat tampilan Sang Naga yang realistis, dan lebih sebagai drama keluarga yang hangat dan menyentuh. Dipilihlah David Lowery yang dikenal lewat film yang berjaya di Sundance, Ain’t Them Body Saints (2013). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lowery juga menuliskan naskahnya bersama Toby Halbrooks (co-produser sekaligus colorist Upstream Color dimana Lowery bertindak sebagai editor). Persamaan dengan versi 1977 rupanya hanya ada pada judul dan core value, karena Lowery ternyata melakukan perubahan yang cukup signifikan dalam hal plot. Mengaku mengambil referensi dari film-film animasi produksi Ghibli, terutama karya Hayao Miyazaki, PD versi 2016 menjanjikan kehangatan serta kemagisannya sendiri.


Sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya ketika masih berusia 5 tahun membuat Pete harus hidup dan tinggal sendirian di dalam hutan. Tak disengaja Pete bertemu dengan sesosok naga berbulu hijau dan berukuran besar yang lantas menjadi sahabatnya. Mengambil ilham dari buku cerita yang ia gunakan untuk belajar membaca, ia menamai sang naga Elliot. Ajaibnya, Elliot punya kemampuan untuk membuat dirinya invisible alias tak kasat mata.

Enam tahun kemudian, Pete dipertemukan dengan Natalie, gadis seumuran dengannya. Ibu Natalie, Grace, bekerja sebagai ranger penjaga hutan. Iba dengan keadaannya, Grace membawa Pete ke rumah mereka untuk sementara waktu sambil mencari tahu tentang identitas Pete yang sebenarnya. Namun yang paling membuat heran Grace adalah cerita Pete tentang sahabatnya di dalam hutan yang adalah seekor naga. Selama ini Grace merasa sudah mengenali seluruh penjuru hutan tersebut tapi tak pernah sedikit pun melihat sosok naga yang diceritakan Pete. Grace jadi teringat cerita ayahnya, Meacham, yang mengaku pernah melihat naga bersayap seperti yang diceritakan Pete ketika masih muda. Selama ini Grace menganggap cerita ayahnya hanyalah bualan semata karena ia punya prinsip tak akan percaya hal-hal yang tak pernah dilihatnya. Sementara itu, Elliot terus berusaha mencari Pete sampai keberadaannya mulai terekspos oleh warga sekitar. Gavin, saudara kekasih Grace, Jack yang bekerja sebagai penebang kayu di hutan, terobsesi untuk menangkap Elliot dan menjadikannya sebagai sarana memperoleh kekayaan serta popularitas.

Dibandingkan versi 1977, plot versi 2016 mengalami perombakan yang cukup signifikan. Jika di versi 1977 Pete digambarkan sebagai anak tiri dari keluarga yang membencinya, maka di sini ia adalah sosok anak yang hidup di dalam hutan sendirian. Membuat penonton teringat akan sosok Tarzan ataupun Mowgli, tapi ini jelas cara yang jauh lebih baik untuk membuat persahabatan antara Pete dan Elliot jadi lebih masuk akal. Apalagi cerita anak tiri tentu sudah terasa out of date dan overrated. Pertemuannya dengan sosok yang memang ‘dekat’ dengan hutan, yaitu ranger penjaga hutan dan penebang kayu, juga punya fungsi membuat naskahnya punya value lebih selain bangunan konsep cerita yang lebih solid. Secara keseluruhan, konsep cerita dari Lowery mungkin terdengar sangat familiar dan cliché dalam ranah dongeng fantasi keluarga, tapi disusun dengan komposisi yang tepat dan memberikan value lebih.

Namun yang menjadi kekuatan utamanya ternyata terletak pada bagaimana Lowery membawa PD menjadi sebuah dongeng fantasi yang secara konstan bertutur dengan menarik dan drama keluarga yang berhasil menyentuh penonton dengan hati yang begitu besar serta hangat.  Ada cukup banyak momen yang membuat saya merasakan kehangatan serta ketulusan persahabatan Pete-Elliot dan Grace-Pete. Jika Anda pernah dan menyukai keajaiban dari hangatnya film-film keluarga klasik Disney, Lowery berhasil menghadirkannya kembali di PD. Tak heran jika banyak penonton yang mengaku terharu bahkan sampai berkaca-kaca bahagia ketika menyaksikan PD.

Mengisi peran cilik utama, Oakes Fegley sebagai Pete jelas menjadi pusat perhatian penonton. Apalagi Fegley berhasil menunjukkan kepolosan, keberanian sekaligus ketakutan, dan juga ketulusan dengan begitu convincing. Daya tarik berikutnya terletak pada Dallas Bryce Howard yang kali ini menunjukkan aura keibuan yang begitu lembut tapi juga tegas sebagai ranger penjaga hutan. Karl Urban sebagai Gavin, peran antagonis yang juga berfungsi sebagai karakter komedik, memberikan performa yang lebih dari cukup sesuai fungsinya tanpa terkesan berlebihan baik sebagai villain maupun komedik, mengingat ini adalah materi yang seharusnya aman untuk semua usia. Kemudian ada Robert Redford sebagai Meacham, kakek yang mungkin porsinya tak banyak tapi berhasil menjadi loveable apalagi setelah klimaks yang mana karakternya menjadi penting. Oona Lawrence sebagai Natalie cukup baik untuk ‘mendampingi’ Pete di balik keterbatasan screen time dan potensi peran. Begitu juga dengan Wes Bentley sebagai Jack yang terkesan hanya sekedar melengkapi cerita.

Bojan Bazelli punya andil yang penting dalam menghadirkan keseruan adegan-adegan petualangan sekaligus keharuan yang maksimal tanpa kesan eksploitasi berlebihan di momen-momen emosionalnya, lewat bidikan kameranya. Editing Lisa Zeno Churgin menjaga presisi porsi tiap momen. CGI garapan Weta Digital, terutama dalam visualisasi sosok Elliot, mungkin tak ada yang benar-benar unik atau baru, tetapi tetap saja mengagumkan. Namun yang paling membuat saya kagum adalah komposisi music score dari Daniel Hart. Tergolong baru di ranah composing for full-feature, Hart mampu menghadirkan cita rasa kehangatan sekaligus kemegahan bak film-film Disney klasik untuk scoring PD. Bahkan harus saya akui salah satu faktor terkuat dalam menyentuh hati penonton adalah iringan scoringnya yang luar biasa. Selain itu pilihan soundtrack yang bernuansa country pilihan Jack Jackson juga terasa begitu menyatu dengan nuansa film secara keseluruhan. Mulai theme song The Dragon Song dari Bonnie “Prince” Billy, Something Wild dari Lindsiy Sterling dan Andrew McMahon in the Wilderness, Nobody Knows dari The Lumineers, sampai yang menjadi benang merah versi 1977 ke 2016, Candle on the Water yang kali ini dibawakan oleh Okkervil River.

Jika Anda merindukan kisah-kisah dongeng keluarga khas klasik Disney, PD versi 2016 jelas akan membawa kembali feel magis yang pernah Anda rasakan dulu. Tak hanya lewat suguhan petualangannya, tapi juga momen-momen yang dengan mudah menyentuh dan bikin tersenyum bahagia. Ajak pula penonton-penonton cilik untuk merasakan kemagisan yang sama seperti yang Anda pernah rasakan dulu. Di tengah bombardir film-film petualangan yang lebih banyak sekedar mementingkan adegan-adegan bombastis, PD menjadi kesegaran tersendiri lewat hatinya yang begitu besar dan hangat.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates