Sunday, September 11, 2016

The Jose Flash Review
Nerve

Beberapa bulan belakangan pengguna smartphone dihebohkan dengan kemunculan aplikasi social media/chat terbaru yang memungkinkan pengguna untuk live online dirinya dan disaksikan oleh sebanyak mungkin penonton. Penonton pun bisa berinteraksi langsung melalui teks komentar. Yang bikin aplikasi ini jadi populer dalam waktu singkat adalah ‘iming-iming’ bisa mencairkan credit yang terkumpul menjadi cash money. Setelah mencoba beberapa hari saya berani menyimpulkan bahwa aplikasi bernama Bigo Live ini cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi insta-famous, meski tanpa talent apapun. Buang-buang waktu, buang-buang kuota, dan tidak punya esensi yang menarik. I mean, come on, buat yang punya talent atau keahlian khusus tidak bakalan buang-buang waktu ‘siaran’ di aplikasi internet bukan? Lagian kecuali jika memanfaatkan wi-fi gratisan, kuota yang dihabiskan untuk bermain Bigo Live tidak sepada dengan cash money yang dihasilkan. Singkatnya, saya setuju jika ada anekdot yang mengatakan bahwa Bigo Live bikin bego. Hanya yang (maaf) bego saja yang masih bisa di-kadalin Bigo Live.

Speaking of Bigo Live, konsep dari aplikasi ini rupanya punya kemiripan dengan ide cerita dari novel berjudul Nerve karya Jeanne Ryan yang dirilis tahun 2012, jauh sebelum Bigo Live dan bahkan Periscope ada di berbagai application store. Karena kedekatan plot dengan kondisi sosial (khususnya di kalangan remaja) saat ini, Lionsgate membeli hak adaptasi novel ini ke layar lebar. Ditunjuklah Jessica Sharzer yang dikenal sebagai penulis naskah serial American Horror Story, serta duo sutradara muda yang populer lewat film dokumenter (juga mengangkat topik pengaruh internet terhadap kondisi sosial) Catfish (2010) sekaligus dipercaya untuk menggarap Paranormal Activity 3 dan 4, Henry Joost dan Ariel Schulman, sebagai nahkoda project. Dave Franco dan Emma Roberts pun dipasang di lini utama untuk menarik perhatian target audience utamanya; remaja.

Venus Delmonico atau yang biasa dipanggil Vee adalah tipe gadis remaja yang tidak terlalu populer di sekolah dan memilih menjadi fotografer buku tahunan. Ia diterima di California Institute of the Arts tapi tidak berani menyampaikan berita baik ini kepada sang ibu yang seorang single-mother, Nancy. Pasalnya, Nancy lebih memilih Vee berkuliah di kampus lokal di Staten Island, New York agar lebih ringan secara biaya. Tekanan lain diterima Vee dari Sydney yang selamanya ini selalu dianggap sahabat dan kini populer berkat permainan online bernama ‘Nerve’, sebuah permainan online truth or dare tanpa pilihan ‘truth’. Pengguna bisa memilih menjadi ‘player’ atau sekedar ‘watcher’. Player harus menyelesaikan tantangan yang dipilihkan oleh para watcher. Jika sukses, player akan menerima hadiah uang tunai yang dijanjikan di awal tantangan. Jika gagal atau mundur, otomatis akan tereliminasi. Di akhir tiap periode, hanya ada dua player yang berhak atas hadiah utama. Karena permainan online ini tergolong rahasia dan underground, maka siapa saja pengadu ke pihak berwajib diancam untuk ‘menerima ganjarannya’.

Sydney menantang Vee untuk menjadi ‘player’ karena selama ini ia menilai Vee tidak pernah berani mengambil tindakan apalagi resiko atas apa saja dalam hidupnya. Tekanan demi tekanan membuat Vee memutuskan untuk mendaftar sebagai ‘player’. Dengan bantuan sahabatnya, Tommy, Vee menyelesaikan tantangan pertama yang sekaligus mempertemukannya dengan seorang pria charming misterius, Ian. Ternyata Ian juga seorang ‘player’. Chemistry antara keduanya membuat ‘Nerve’ memutuskan untuk menjadikan pasangan ini sangat populer. Sydney yang mendengar semua ini menjadi murka dan tak mau kalah populer dari Vee. Sementara itu Tommy yang mencurigai sosok Ian mulai mencari tahu tentang identitasnya dan latar belakang game berbahaya ini. Siapa sangka Ian punya masa lalu kelam yang bisa saja kali ini memperalat dan mencelakai Vee.

Dari plot yang ditawarkan jelas bahwa Nerve berniat memberikan gambaran bagaimana kondisi sosial, khususnya remaja terpengaruh oleh penggunaan internet, terutama di era smartphone. Bagaimana fenomena remaja berlomba-lomba menjadi selebriti instant yang telah menjangkiti seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia, telah mempengaruhi pola pikir, pola interaksi antar manusia, bahkan nilai kemanusiaan itu sendiri, menjadi fokus utama Nerve yang begitu bold dan konsisten terasa sepanjang durasi. Tentu value ini saja sudah menjadikan Nerve sajian yang berbobot.

Nyatanya tak hanya itu, Nerve juga menjadi paket hiburan yang amat-sangat berhasil. Bahkan in so many senses, tampilannya benar-benar keren. Style visualisasi dunia virtual berhasil ditampilkan dengan begitu catchy apalagi dengan warna-warni vibrant mencolok. Belum lagi pace serba dinamis dan penyusunan momen-momen yang efektif dalam bercerita sekaligus sajian thriller dengan tensi ketegangan yang ditata secara konsisten dan klimaks. Memang di balik grand-design universe yang sedemikian, ada plothole minor yang mustahil, namun secara visual dan membangun mood penonton, Nerve sangat berhasil menjadi tontonan yang mengasyikkan. Tak hanya momen-momen menyenangkan, tapi juga momen-momen berbahaya, memicu adrenaline secara maksimal, sampai tantangan-tantangan berbahaya yang gagal dan berakibat fatal diletakkan di sana-sini tanpa kesan eksploitasi berlebihan (apalagi komitmen awal untuk menjaga rating PG-13 agar bisa menjangkau target audience utamanya secara luas). 

Saya sempat mendengar pendapat teman-teman reviewer yang menyayangkan konklusi yang ditawarkan Nerve yang terkesan menggampangkan atau ‘jalan pintas’. Namun bagi saya, konklusi sekaligus ending Nerve justru punya kekuatan reflektif yang luar biasa bagi penontonnya. Saya jadi mempertanyakan diri sendiri dan fenomena insta-popular; apakah segalanya, terutama kemanusiaan, layak dikorbankan demi mencapai popularitas semu dan sesaat, yang bahkan saat semuanya berakhir, nobody cares anyway. Everybody will just walk away and pretend like everything has never happened. Kekuatan konklusi yang menurut saya, setara dengan Money Monster

Dipercaya mengisi line-up utama, Dave Franco dan Emma Roberts terbukti mampu punya kekuatan kharisma yang lebih dari cukup. Keduanya mampu tampil bersinar sepanjang durasi. Tak hanya sebagai karakter individu yang menarik perhatian, tapi juga sebagai screen-couple dengan keseimbangan  chemistry loveable sekaligus suspicion yang bikin penonton menerka-nerka antara kesungguhan atau sekedar manipulasi dari hubungan keduanya. Emily Meade sebagai Sydney juga berhasil membuat penonton berempati, either it’s the right or wrong one. Karakter yang manusiawi, ada sisi hitam dan juga putih, berhasil dilakoni Meade dengan convincing. Di line-up berikutnya, Miles Heizer sebagai Tommy punya porsi yang cukup untuk menimba dukungan penonton di balik performance-nya yang tergolong biasa saja. Kemunculan aktris senior Juliette Lewis sebagai Nancy, ibu Vee, cukup memberikan daya tarik tersendiri meski karakter yang dimainkan tak punya banyak kesempatan untuk menarik simpati penonton. Terakhir, kehadiran rapper Colson Baker alias Machine Gun Kelly sebagai Ty menambah daya tarik film.

Punya kekuatan visual unik, tak lepas dari peran sinematografi Michael Simmonds dengan pergerakan kamera yang dinamis seiring dengan adegan-adegan fast-paced, seperti kebut-kebutan motor, dan dengan shot-shot yang efektif dalam menyampaikan cerita. Memang ada angle-angle yang tak sinkron dengan posisi bidik smartphone, tapi masih bisa dimaklumi demi kepentingan kejelasan bercerita. Juga visualisasi touch-screen yang bisa dianggap sebagai representasi visual semata, bukan mengejar logika realistis. Editing Madeleine Gavin dan Jeff McEvoy pun turut mendukung nuansa serba dinamis, seru, dan asyik, serta desain produksi Chris Trujillo yang membuat mood ceria warna-warni vibrant, menjadikan tampilan Nerve begitu mengasyikkan dan memanjakan mata. Music score Rob Simonsen dan pilihan-pilihan soundtrack asyik bersinergi sempurna dengan energi visual sehingga makin memperkuat kesan youth, energizing, dan adrenaline-rush. Mulai lagu pembukan Can’t Get Enough dari Basenji, Kamikaze dari MØ, Ride dari Lowell feat. Icona Pop, C.R.E.A.M. dari Wu Tang Clan yang menjadi semacam theme-song karakter Vee, hingga puluhan track-track segar lainnya, semua bergantian memanjakan panca pendengaran.

Tak banyak film yang punya value sosial kuat tentang current issues sekaligus kemasan sebagai paket hiburan yang tak kalah menariknya. Nerve adalah salah satunya. Baik bagi penonton remaja yang dekat dengan perkembangan smartphone maupun orang dewasa dengan pola pikir yang lebih kompleks dan daya analisis lebih tinggi. Bagi penonton yang cermat dan dekat dengan dunia application development, ada minor plothole terutama yang berkaitan dengan logika, tapi dengan mudah terabaikan oleh style audio-visual yang serba memanjakan. Bahkan bagi saya pribadi (dan saya yakin banyak juga penonton lainnya), Nerve adalah tipe tontonan yang ingin saya alami ulang berkali-kali.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates