Wednesday, September 21, 2016

The Jose Flash Review
Morgan

Tak banyak anak sutradara yang juga memilih profesi sebagai sutradara. Di Hollywood yang paling populer mungkin Sofia Coppola yang merupakan anak dari Francis Ford Coppola. Sementara di Indonesia ada nama Kamila Andini yang adalah anak dari Garin Nugroho. Diam-diam ternyata dinasti Scott punya satu nama lagi yang memilih jalur penyutradaraan dan patut diperhitungkan. Adalah Luke Scott, putra dari sutradara visioner Ridley Scott yang sudah menelurkan puluhan karya blockbuster sekaligus menjadi legenda sinema seperti Alien, Blade Runner, sampai Gladiator, dan keponakan dari mendiang Tony Scott (Top Gun, True Romance, Man on Fire). Sebelumnya Luke baru menyutradarai 1 episode dari serial TV horror The Hunger dan 1 film pendek bertajuk Loom (2012). Baru pertengahan 2015 lalu, ia memberanikan diri menangani sebuah project yang diproduseri sang ayah berdasarkan naskah yang masuk ke dalam Black List’s Best Unproduced Screenplays tahun 2014 oleh Seth W. Owen (Peepers -2010). Aktor-aktris senior macam Paul Giamatti, Brian Cox, Toby Jones, Jennifer Jason Leigh, Michelle Yeoh, dipilih untuk mendukung aktris muda Kate Mara (Fantastic Four versi 2015 dan TheMartian) sekaligus Anya Taylor-Joy yang pada 2015 lalu sempat mencuri perhatian lewat The VVitch: A New-England Folktale sebagai sosok judul film. Tak beda jauh dari tema favorit sang ayah, Luke mencoba bermain-main di ranah sci-fi meski skala ceritanya masih bisa dibilang terbatas.

Setelah terjadi kecelakaan sebuah individu yang dikembangkan dari DNA sintetis menyerang salah satu kru hingga terluka parah, sebuah perusahaan pengembang teknologi mengutus Lee Weathers, seorang konsultan manajemen resiko untuk meninjau langsung ke lokasi. Diundang pula Dr. Alan Shapiro, seorang psikolog untuk menganalisis kondisi kejiwaan subjek bernama Morgan ini. Kedatangan keduanya mengkhawatirkan kru yang sudah bertahun-tahun menjadi ‘sahabat’ bagi Morgan; Dr. Lui Cheng, kepala penelitian yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri oleh Morgan, Dr. Simon Ziegler, Dr. Darren Finch, Dr. Brenda Finch, Ted Brenner, Skip Vronsky, Dr. Kathy Grieff, dan sahabat terdekat Morgan, Dr. Amy Menser. Ada kemungkinan Morgan dianggap punya kepribadian yang tidak bisa diprediksi, dikontrol, dan dianggap percobaan gagal sehingga harus dimatikan. Keadaan menjadi semakin tak terkendali ketika Morgan benar-benar marah dan menyerang seluruh kru fasilitas.

Dari premise-nya tentu banyak yang teringat akan film Joe Wright, Hanna (2011) yang dibintangi Saoirse Ronan dan Cate Blanchett. Bedanya jika jati diri Hanna yang sebenarnya menjadi jawaban atas film, maka sejak awal film kita sudah tahu bahwa Morgan adalah sosok intelijensia buatan. Namun keduanya membangun simpati penonton lewat karakter sentralnya. Untung saja Morgan punya naskah dan penyampaian cerita yang menarik lewat pengenalan karakter-karakternya. Tak istimewa (bahkan adegan ‘titik balik’ karakter Morgan masih kalah jauh jika dibandingkan Ex-Machina yang begitu signatural dan powerful) tapi tetap menarik untuk diikuti. Seperti ‘dipermainkan’ oleh sosok Morgan yang meski di satu sisi mengerikan tapi tetap saja mengundang rasa iba. Kendati mungkin penonton yang cukup akrab dengan tema serupa tentu bisa menebak bahwa akan meletus sebuah klimaks yang kaput. Tentu ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Hanya saja jika kebanyakan film sejenis meletakkan adegan kaput sebagai awal konflik baru kemudian dikembangkan petualangan pencarian hingga klimaks terletak pada penangkapan, maka Morgan justru meletakkan adegan kaput tersebut sebagai bagian dari klimaks yang letaknya setelah durasi berjalan sekitar 1 jam. Barulah kemudian konklusi dan revealing yang berjalan hanya sekitar 30 menit. Bagi saya, ini tak menjadi masalah. Mungkin universe yang terbatas memang suatu kesengajaan untuk menjaga fokus emosi penonton pada sosok Morgan dan orang-orang di sekitarnya. Apalagi dengan budget yang ‘hanya’ US$ 8 juta saja. Namun tentu ada juga penonton yang mengharapkan skala cerita yang lebih besar akan kecewa dengan hasil akhirnya yang dianggap ‘begitu saja’.

Tunggu dulu. Bagi saya, highlight Morgan bukan lah pada konsep atau filosofis baru apa yang dibawa, tapi lebih sebagai project contoh dari seorang Luke Scott sebagai sutradara debutan yang adalah putra dari sutradara kelas atas, Ridley Scott. Let’s say ini adalah project skala kecil sebagai sebuah tes kepiawaian Luke dalam menangani project. For that purpose, menurut saya Luke punya talenta yang sama besarnya dengan sang ayah, terutama dalam membangun nuansa ketegangan suspense a la Alien, visualisasi adegan aksi yang mendebarkan. Meski jumlah keseluruhan tak banyak tapi selalu berhasil bikin saya meringis karena tersugesti. Serta yang tidak kalah pentingnya, menyusun plot cerita dengan twist yang tergolong rapi kendati tak benar-benar mengejutkan (terutama bagi penonton yang familiar dengan tema maupun formula sejenis). As a debutant, he’s really really good. Singkatnya, ia berhasil membungkus naskah sederhana dengan lingkup sempit Morgan menjadi sajian yang cukup menarik perhatian penonton, dan menampilkan kengerian sekaligus iba terhadap sosok Morgan yang cukup kuat, dari awal hingga akhir film.

Anya Taylor-Joy tentu menjadi perhatian utama penonton sebagai sosok Morgan. Selain karena punya porsi yang paling banyak, Taylor-Joy memang berhasil menghidupkan karakter Morgan yang misterius dan tak terduga degnan begitu gemilang. Keragu-raguan, ketakutan, sampai amarah tanpa kendali ditampilkan dengan begit powerful dengan transformasi yang logis. Kate Mara mungkin dianggap sebagai salah satu aktris dengan ekspresi wajah terdatar di Hollywood. Di sini pun ia tak mengalami perubahan sama sekali. As stiff as ice. Namun di Morgan justru ekspresi wajah datar-nya ini termanfaatkan sesuai konsep cerita. Bagi Anda yang tidak mengira revealing Morgan, awalnya akan menganggap akting Mara memang begitu-begitu saja. Namun begitu Anda mulai punya kecurigaan atas revealing-nya, maka Anda akan memahami kebutuhan tersebut dari karakter Lee Weathers. Untuk urusan performa bela diri, baik Taylor-Joy maupun Mara sama-sama punya kualitas kick-ass yang seimbang.

Di deretan pemeran pendukung, Paul Giamatti sebagai Dr. Alan Shapiro tampil mengesankan. Meski porsinya juga terbatas, tapi menjadi salah satu adegan terpenting sepanjang film. Apalagi Paul melakoni karakternya dengan timing perkembangan emosi yang pas dan memuncak. Kemudian ada Rose Leslie sebagai Dr. Amy Menser yang membentuk chemistry yang begitu kuat dengan karakter Morgan. Dilematis terbesar juga ditunjukkan Leslie dengan begitu baik. Jennifer Jason Leigh sebagai Dr. Kathy Grieff mengingatkan saya akan perannya sebagai Daisy Domergue di The Hateful Eight. Sementara Michelle Yeoh sebagai Dr. Lui Cheng, Toby Jones sebagai Dr. Simon Ziegler, Chris Sullivan sebagai Dr. Darren Finch, Vinnette Robinson sebagai Dr. Brenda Finch, Boyd Holbrook sebagai Skip Vronsky, dan Michael Yare sebagai Ted Brenner, tampil cukup sesuai porsi masing-masing dan masih bisa diidentifikasi serta diingat penonton dengan mudah.

Mark Patten memahami betul style visual Luke Scott (yang harus diakui banyak terpengaruh oleh style sang ayah) sehingga menghasilkan sinematografi yang memenuhi keseluruhan kebutuhan adegan dengan maksimal. Mulai drama, emosi antar personal, hingga action-thriller-nya. Editing Laura Jennings membuat momentum tiap shot-pun selalu terasa tepat dan adegan-adegan secara keseluruhan terangkai dengan menarik untuk diikuti. Score music Max Richter memperkuat nuansa-nuansa misterius Morgan lewat bunyi-bunyian elektronik. Tak begitu stylish tapi lebih dari cukup untuk mewakili sekaligus memperkuat nuansa yang ingin dihadirkan. Terakhir, sound design dan sound editing menjadi salah satu kekuatan terbesar Morgan. Dengarkan kejernihan, detail, sekaligus kedahsyatan suara kaca yang hancur berkeping-keping, tiap kali hantaman maupun tendangan dari Morgan atau Lee yang terdengar begitu mantap. Masih ditambah fasilitas 7.1 surround yang terdengar begitu maksimal dimanfaatkan.

Jika Anda mencari filosofi pada Morgan seperti sci-fi-sci-fi lain, mungkin Anda akan kecewa. Ia mungkin memang tak akan menjadi salah satu judul yang penting dicatat sejarah dalam genre maupun temanya. Namun sebagai debut dari Luke Scott, Morgan adalah bukti yang jelas bahwa ia bisa dan layak diperhitungkan untuk menangani project-project yang lebih ambisius seperti sang ayah. Atau jika Anda tak peduli dengan nama Luke Scott, setidaknya Morgan masih bisa jadi sajian action-thriller-sci-fi ringan yang cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates