Friday, September 2, 2016

The Jose Flash Review
Me Before You

Drama romantis dengan elemen pasien penyakit tertentu (yang seringkali mematikan) sudah menjadi bahan tearjerker di banyak sekali film. Mulai yang sekelas FTV sampai yang timeless seperti Dying Young, The Notebook, atau yang modern classic macam The Fault in Our Stars.  Tentu saja masing-masing dengan variasi sub-plot atau treatment agar tidak jatuh menjadi ‘just another tearjerker romance’. Salah satu novel tearjerker romance era 2000-an yang cukup dikenal adalah Me Before You (MBY - 2012) karya novelis Inggris, Jojo Moyes. Moyes sendiri menjadi salah satu dari sedikit novelis roman yang menerima penghargaan Romantic Novel of the Year Award dari Romantic Novelists’ Association dua kali, yaitu untuk Foreign Fruit (2004) dan The Last Letter From Your Lover (2011). Meski mendapatkan review positif dari media, MBY sempat menuai protes dari kalangan advokasi disability karena dianggap mempromosikan posisi pasien disability sebagai beban masyarakat di sekitarnya dan euthanasia. Namun ini tak menggoyahkan MGM dan New Line Cinema untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Nama-nama di belakangnya termasuk ‘baru’, seperti Moyes sendiri yang menulis naskah film panjang untuk pertama kali dan sutradara Thea Sharrock yang juga merupakan debut pertamanya di layar lebar. Daya tariknya mungkin terletak pada aktor-aktris, seperti Emilia Clarke, Charles Dance, dan Samantha Spiro yang populer lewat serial fenomenal Game of Thrones, serta Sam Claflin yang sebelumnya kita kenal sebagai Finnick Odair dari franchise The Hunger Games dan William di franchise The Huntsman. Berkali-kali mengalami penundaan jadwal rilis tak menyurutkan penggemar drama romantis hingga berhasil mengumpulkan US$ 196.2 juta (and still counting) di seluruh dunia.

Enam tahun sudah Louisa Clark bekerja di sebuah café. Ketika café terpaksa tutup, Louisa pun dirumahkan. Tanpa latar belakang pendidikan dan pengalaman yang mumpuni, padahal harus menjadi tulang punggung keluarga karena sang ayah dan ibu sudah tak lagi bekerja, sementara sang adik menjadi single mother, membuat Louisa mau tak mau menerima pekerjaan apa saja. Pilihannya hanya menjadi perawat bagi seorang pasien lumpuh dari keluarga Traynor yang dikenal kaya raya di wilayahnya. Alih-alih menjadi perawat atau fisioterapis, Louisa ternyata lebih diharapkan untuk menjadi teman William, putra mereka yang baru berusia 30 tahunan tapi harus lumpuh dari dada ke bawah setelah mengalami kecelakaan. Semenjak itu, William yang sebelumnya hidup dalam rangkaian petualangan merasa tak berguna lagi. Kekasih, sahabat, bahkan kedua orang tuanya sudah angkat tangan bagaimana lagi harus menolong Will.

Kedatangan Louisa awalnya juga ditanggapi dengan sinis oleh Will. Namun perlahan Will menemukan sesuatu yang menarik pada kepribadian Louisa serta potensi yang luar biasa. Along with the time, Louisa pun tergerak untuk membuat Will kembali live bold seperti sebelum kecelakaan dan membatalkan niatan untuk euthanasia. Sebaliknya melihat nasib Louisa yang passion-nya seperti terbelenggu oleh keterpaksaan kondisi, Will berniat mengajarkan ‘live bold’ kepada Louisa.

Ya, dari segi premise memang MBY tak menawarkan sesuatu yang baru. Bagi saya pribadi, MBY bak Dying Young dengan karakter-karakter berkepribadian lebih muda (baca: segar) dan lebih banyak momen manis ketimbang penguras air mata. Memang ada momen dimana mau tak mau membuat penonton tersentuh, bahkan meneterskan air mata, tapi untungnya Sharrock tak mau MBY tenggelam dalam suasana duka yang berlebihan. Plotnya yang lebih banyak bertutur ala novelish ketimbang filmis, sempat membuat beberapa bagian film terasa draggy. Untungnya Sharrock menggarap tiap adegan MBY dengan manis dan berhasil membuat saya terus-terusan tersenyum. Baik karena tingkah, pilihan fashion, maupun celetukan-celetukan Louisa, atau pun interaksi antara Louisa dan William yang kadang sinis, witty, namun juga manis di bagian yang lain. Tak ada konflik karakter lain yang berarti selain antara Louisa dan William mampu menjaga fokus penonton untuk menaruh simpati kepada keduanya.

Hal lain yang menurut saya menarik adalah kondisi sosial keluarga Clark yang membuat Louisa terpaksa mengalah menjadi sumber penghasilan keluarga ketimbang mengembangkan potensi diri, menjadi semacam simbol sosial yang terjadi di negara mana saja, apalagi di negara dunia ketiga. For that matter, MBY menawarkan semacam ‘fairytale’ yang meski belum tentu terjadi pada tiap orang, tapi setidaknya bisa menjadi pengingat untuk memikirkan perkembangan diri juga.

Mendominasi porsi membuat Emilia Clarke sebagai Louisa jadi daya tarik utama. Untungnya ia memang mampu menarik perhatian penonton secara penuh. Karakter Louisa yang ceria, agak polos, tacky, namun tulus berhasil dimainkan dengan mulus oleh Emilia. She’s definitely adorable and lovable. Chemistry yang dibangunnya bersama Sam Claflin sebagai Will pun termasuk kuat dan convincing, dengan perkembangan yang wajar serta masuk akal. Sam Claflin sendiri memerankan William dengan kharisma yang pas. Meski karakter maupun ekspresi wajahnya tak sampai membuat saya berderai air mata, tapi dengan mudah saya bersimpati pada tiap sikap dan keputusan yang diambilnya. Matthew Lewis sebagai Patrick  menjadi supporting comedic character yang cukup menghibur. Janet McTeer-Charles Dance sebagai Camilla-Steven Traynor, orang tua Will, tampil menghangatkan suasana kekeluargaan, along with Brendan Coyle dan Jenna Coleman sebagai Bernard-Katrina Clark, orang tua Louisa.

Sinematografi Remi Adefarasin dan editing John Wilson mungkin tak ada yang benar-benar menarik ataupun baru, tapi lebih dari cukup untuk melantunkan plotnya yang berjalan lembut dan cantik tanpa menambah kesan draggy. Desain produksi, termasuk desain kostum punya andil yang cukup besar dalam membuat visual MBY bernilai lebih. Above all, tentu saja scoring Craig Armstrong yang mengalun seiring dengan flow cerita. Lembut, cantik, dan menghanyutkan emosi di banyak kesempatan. Pilihan lagu-lagu populer yang ditempatkan pada momen tepat sebagai soundtrack juga patut mendapat kredit tersendiri. Tak hanya Ed Sheeran yang menyumbangkan Thinking Out Loud dan Photograph, tapi juga The Sound dari The 1975, Not Today dari Imagine Dragons, dan banyak lagi.

MBY mungkin punya segudang cliché dari genre romance dengan elemen pasien penyakit, tapi Moyes dan Sharrock masih berhasil membawa MBY ke nuansa serba manis tanpa terkesan cheesy, tearjerker yang pas tanpa kesan mendayu-dayu berlebihan, serta tentu saja konsep ‘live bold’ yang menjadi semacam underlined reminder bagi target audience utamanya, penonton muda.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates