Saturday, September 24, 2016

The Jose Flash Review
The Magnificent Seven (2016)

Tema Western memang pernah mengecap era berjayanya sendiri, tapi jelas bukan era 2000-an. Tak hanya tak banyak film bertemakan Western yang dibuat, tapi hasil box office-nya tergolong biasa-biasa saja. Dalam ingatan saya, hanya ada Brokeback Mountain (2005), 3:10 to Yuma (2007) yang merupakan remake dari versi tahun 1957, The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007), True Grit (2010), Lone Ranger (2013) remake Disney yang menjadi the biggest flop of that year, Quentin Tarantino’s Django Unchained (2012) dan The Hateful Eight (2015), serta yang terakhir, Jane Got a Gun (2016). Oh iya, jangan lupakan animasi Nickelodeon, Rango (2011). Kendati demikian, Brokeback Mountain, True Grit, Rango, Django Unchained, dan The Hateful Eight sukses mengumpulkan lebih dari US$ 100 juta di seluruh dunia. Artinya, sebenarnya masih ada kemungkinan film bertemakan western menuai sukses besar, tergantung aktor-aktris dan tentu saja sutradara di baliknya.

Antoine Fuqua, sutradara afro-Amerika yang kita kenal lewat action thriller macam Training Day (2001), Tears of the Sun (2003), King Arthur (2004), Shooter (2007), Olympus Has Fallen (2013), The Equalizer (2014), dan terakhir drama-action sport, Southpaw (2015), mencoba untuk me-remake sebuah karya klasik John Sturges yang bertabur bintang papan atas kala itu, The Magnificent Seven (TMS-1960), yang sebenarnya juga merupakan adaptasi dari karya klasik lainnya, Seven Samurai (1954) milik sang maesto, Akira Kurosawa. Status keduanya yang sama-sama klasik dan melegenda, jelas membuat Fuqua harus ekstra hati-hati dalam penggarapannya. Ia pun mencoba memasukkan formula diversity (multi-racial) yang masih menjadi isu hangat di Hollywood. Seperti biasa, ia menggandeng muse-nya, Denzel Washington, serta deretan cast populer lainnya, seperti Chris Pratt, Ethan Hawke, Vincent D’Onofrio, hingga aktor Korea Selatan, Lee Byung-hun untuk menyamai daya tarik versi aslinya. Sementara naskahnya sendiri dikerjakan oleh Richar Wenk (The Equalizer) dan Nic Pizzolatto (serial True Detective).

Sebuah kota fiktif bernama Rose Creek diserang oleh seorang industrialis bernama Barthomolew Bogue. Ia memeras habis hasil bumi Rose Creek tanpa menyisakan sedikit pun untuk warga. Ancaman kematian menghantui mereka jika berani memberontak. Emma Cullen yang suaminya baru saja dibunuh oleh Bogue bertekad untuk tak membiarkannya merajalela. Ia menemui seorang bounty hunter bernama Sam Chisolm yang dikenal piawai dalam menggunakan senjatanya. Sempat menolak karena imbalan yang tak menarik, Chisolm akhirnya menerima juga setelah mendengar nama Bogue. Mulailah ia mengumpulkan jagoan-jagoan lain untuk bersatu menjaga keamanan di Rose Creek. Mulai Josh Faraday, seorang penjudi yang punya kecepatan tangan, Goodnight Robicheaux, seorang penembak jitu bersama sahabatnya, seorang Asia yang juga piawai dalam menjadikan benda apa saja sebagai senjata, Billy Rocks, buronan Meksiko bernama Vasquez, pelacak bernama Jack Horne, sampai seorang Indian Comanche bernama Red Harvest. Strategi pun mereka susun untuk memancing dan menyerang pasukan Bogue.

Apa yang membuat Seven Samurai maupun The Magnificent Seven (1960) menjadi film klasik yang legendaris? Tak lain dan tak bukan adalah sosok tujuh ‘pendekar’ yang heroik, dengan hubungan satu sama lain yang begitu akrab dirasakan penonton. Sayangnya, TMS versi 2016 ini masih jauh jika dibandingkan dua versi orisinilnya. Menghabiskan sekitar satu jam pertama untuk ‘mengumpulkan’ personel ternyata belum mampu untuk memupuk relasi yang kuat di antara mereka. Durasi hanya berfungsi untuk membuat penonton sekedar mengenal masing-masing personel dengan kelihaian masing-masing. Hingga selipan-selipan di satu jam berikutnya pun masih terkesan sekedar basa-basi. Tak ada satupun relasi yang terasa kuat menancap dalam benak penonton untuk terus benar-benar diingat setelah film berakhir. Pengenalan masing-masing personel pun juga sekedar membuat penonton mengingat, tak sampai mengundang simpati penonton yang mendalam. Sehingga di saat ada karakter yang dimatikan, penonton hanya sekedar menyayangkan saja. Tak sampai merasa kehilangan. In short, in almost every moment, TMS versi 2016 felt emotionless. Termasuk wrap-up yang terkesan buru-buru tanpa meninggalkan ‘penghormatan’ yang layak kepada ketujuh pendekar untuk dipersembahkan ke penonton.

Soal action sequence, nama Antoine Fuqua masih mampu jadi jaminan mutu. Meski porsinya terbilang terbatas, tapi kesemuanya mampu menghadirkan keseruan dan ketegangan yang lebih dari cukup, apalagi ntuk tema Western. Terutama sekali final battle yang meski mematikan beberapa karakter utama dengan cara yang tergolong konyol (really? Senekad dan semudah itu setelah selama ini tampak begitu lihai dan berhati-hati dalam berstrategi?), secara keseluruhan mampu memikat perhatian penonton. Though might not be the best or the most intense action sequence ever, tapi masih sangat enjoyable.

Menjadi ‘ketua’ dari genk, Denzel Washington sebagai Chisolm terasa tak sekuat peran-peran di film Fuqua sebelumnya, seperti Training Day atau The Equalizer. Mungkin faktor penulisan karakternya yang seolah hanya sekedar untuk simbol ketimbang kiprah sepak terjang nyata di layar, atau memang miscast. Karakternya mau tak mau mengingatkan saya akan sosok yang diperankan Jamie Foxx di Django Unchained atau Samuel L. Jackson di The Hateful Eight, tapi dengan kekuatan kharisma jauh di bawah keduanya. Chris Pratt sebagai Josh Faraday sedikit lebih mencuri perhatian, tak hanya karena karakternya yang memang lebih menarik, tapi kharisma aktingnya yang juga terasa lebih menonjol dan kuat. Di urutan berikutnya ada Ethan Hawke sebagai Goodnight Robicheaux dan Lee Byung-Hun sebagai Billy Rocks yang juga menarik perhatian karena kepiawaiannya dalam menggunakan senjata api dan berbagai benda menjadi senjata, selain tentu saja kharisma yang lebih dari cukup dan convincing dengan reputasi karakternya. Sementara Vincent D’Onofrio sebagai Jack Horne, Manuel Garcia-Rulfo sebagai Vasquez, memang masih noticeable oleh penonton, tapi dengan porsi seadanya sehingga kurang mampu menempel di benak penonton. Sebaliknya, aktor native American pendatang baru, Martin Sensmeier sebagai Red Harvest yang justru mencuri perhatian penonton meski porsinya tak terlalu banyak pula. Tentu kharisma yang ternyata cukup kuat dan fisik menjadi beberapa faktornya. Haley Bennett sebagai Emma Cullen mungkin satu-satunya sosok wanita di lini depan TMS. Sayangnya, baik sebagai karakter penting maupun sekedar pemanis, penampilannya masih terasa kurang membekas, meski sebenarnya tak buruk-buruk pula. Terakhir, Peter Saarsgard sebagai sosok villain, Barthomolew Bogue cukup badass, meski menurut saya masih jauh jika prean yang sama diperankan oleh Christoph Waltz, misalnya.

Sinematografi Mauro Fiore memframing tiap gambar dengan begitu indah dan membuat semua action sequence terasa seru dan menegangkan. Tak ada yang sampai menjadi perfect frame yang menjadi legendaris, tapi semuanya terasa tampak sesuai guna, terutama pergerakan kamera yang mendukung fungsi aksi. Editing John Refoua mungkin bukan faktor yang salah dalam membuat durasi yang tergolong panjang (2 jam 13 menit) dengan porsi penggalian relasi antar karakter yang terasa sangat kurang. Mungkin dari naskah sudah seperti itu. Refoua sudah melakukan tugasnya dengan membuat film sepadat mungkin dengan pace yang cukup untuk nyaman diikuti. Hanya wrap-up yang terkesan terburu-buru sehingga gagal membuat penonton merasakan penghormatan yang cukup untuk pendekar-pendekar yang gugur. Scoring karya pamungkas Alm. James Horner dan dilanjutkan Simon Franglen mampu memberikan keeleganan nuansa Western dipadu dengan nuansa ketegangan a la masa kini yang  kuat menghidupkan tiap adegannya. Tak ketinggalan original score TMS dari Elmer Bernstein (yang juga populer dalam benak kita sebagai jingle salah satu brand rokok) yang menutup film dengan sahaja dari versi orisinilnya. Terakhir, sound mixing dan sound design menjadi salah satu elemen teknis terbaik menurut saya. Terutama di teater IMAX dimana tata suaranya terasa begitu maksimal, benar-benar menghadirkan desingan suara perang yang hidup. Bass terdengar mantap, dengan detail yang begitu jernih, dan pembagian kanal yang terasa serta tepat guna.

TMS versi 2016 memang masih jauh dibandingkan dua versi orisinil yang sudah menjadi klasik dan legendaries itu. Pun tema diversity dengan menampilkan karakter-karakter dari berbagai latar belakang etnis nyatanya tak memberikan value lebih, selain hanya sekedar gimmick yang (terasa) asal ada. Tak ada penggalian lebih dalam untuk membuat tema diversity-nya menjadi elemen yang lebih menarik. Namun jika Anda tak peduli dengan segala hal tersebut dan hanya mencari instant action movie, TMS versi 2016 masih menjadi pilihan yang enjoyable.  

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates