Wednesday, September 7, 2016

The Jose Flash Review
Ini Kisah Tiga Dara


Sejak awal kemunculannya sebagai produser, sutradara, maupun penulis naskah, Nia Dinata bisa dianggap punya ketertarikan lebih dalam mengangkat tema wanita dari sudut sosial budaya. Lihat saja Ca  Bau Kan  (2001), Arisan! (2003), Berbagi Suami (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), dan terakhir, Arisan! 2 (2011) yang punya benang merah karakter wanita di tengah hiruk pikuk kondisi sosial Indonesia. Saya pun tak kaget ketika mendengar kabar ia tertarik membuat film yang terinspirasi dari film musikal Nasional klasik karya Usmar Ismail, Tiga Dara (1956). Saya langsung membayangkan kisahnya yang ternyata masih relevan dengan kondisi sosial saat ini dengan balutan artistik serba cantik, berkelas, dan dialog-dialog satir yang menohok sekaligus menggelitik, khas Nia Dinata. Singkatnya, Arisan!-esque (atau istilah yang lebih umum: a little bit hipster) version of Tiga Dara. Masih menggandeng sahabat-sahabat dari circle-nya yang sering diajak ikutan main di film-filmnya, seperti Shanty Paredes, Rio Dewanto, Reuben Elishama, Cut Mini, dan Joko Anwar, Nia juga mempercayakan peran-peran penting ke actor-aktris yang tak kalah menariknya, mulai aktris senior legendaries, Titiek Puspa, Tara Basro, Ray Sahetapy, Richard Kyle, dan pendatang baru yang sempat kita lihat di Ada Apa Dengan Cinta 2 sebagai asisten Cinta, Tatyana Akman. Momen perilisan ulang Tiga Dara (1956) versi restorasi 4K menjadi momen yang tepat pula sebagai salah satu gimmick promosi versi Nia yang diberi tajuk Ini Kisah Tiga Dara (IKTD).

Film dibuka dengan Oma yang sedang membereskan barang-barangnya untuk pindah tinggal di Maumere bersama putranya, Krisna yang sudah menduda, dan ketiga cucu daranya; Gendis, Ella, dan si bungsu Bebe. Kehadiran Oma menambah keribetan hidup mereka yang sama-sama mengelola sebuah boutique hotel di Maumere, terutama urusan perjodohan untuk ketiganya yang tampak terlalu sibuk mengurusi pekerjaan hingga lupa dengan status single padahal sudah menginjak usia yang pas untuk menikah. Gendis lebih banyak mengurusi dapur sebagai head-chef tak punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang, sementara Ella lebih agresif tapi belum ada pria yang ‘klik’, sementara si bungsu, Bebe yang ceria dan selalu antusias diam-diam menjalin hubungan dengan turis berdarah Inggris-Indonesia yang sedang bertualang menjelajahi Maumere dan menginap di hotel mereka. Concern Oma terutama pada Gendis yang sudah berusia 32 tahun. Maka strategi pun disusun untuk mencarikan Gendis jodoh. Pilihan jatuh kepada Yudha, pemilik jaringan hotel berkelas internasional di seluruh penjuru Nusantara yang menjadi partner bisnis Krisna. Sayang first impression antara Gendis dan Yudha tidak enak, sehingga perlu ‘strategi’ yang lebih gencar untuk mendekatkan keduanya. Melihat ketidak-tertarikan Gendis, Ella terus berusaha menebar pesona untuk menarik perhatian Yudha. Semua berjalan mengalir hingga Gendis mulai membuka diri dan ada rencana lebih besar dari Yudha yang berpotensi memecah-belah keutuhan keluarga mereka.

Pada permukaan terluar, seperti treatment Nia di film-film sebelumnya, IKTD adalah sebuah drama komedi satire yang menohok sekaligus menggelitik, bahkan kadang terkesan terlalu ‘cerewet’ dalam mengkritisi banyak hal, yang tak relevan dengan topik utama sekalipun. Di pembuka sudah ‘ngomel’ soal kemacetan Jakarta, lalu mulai masuk ke topik utama; perkawinan adat yang ribet, matriarki, kedudukan anak wanita dalam keluarga, dan yang paling penting, penyampaian problematik yang menjadi semacam suara hati ketiga dara, terutama Gendis dan Ella sebagai anak kedua. Kesannya mungkin terlalu banyak yang ingin disampaikan (atau ‘dikeluhkan’?), tapi untungnya dengan balutan musikal yang meski ada beberapa pilihan kata lirik yang ‘maksa’ masuk ke dalam ketukan nada, masih cukup menjadi hiburan tersendiri. Sing-along-able pula. Bagi penonton yang relate, at least punya lifestyle atau pola pikir yang serupa dengan karakter-karakter di film, aliran cerita IKTD sangat enjoyable di balik durasinya yang tergolong panjang; 124 menit. Stuff-studded, tapi sangat enjoyable.

Masuk ke lapisan yang lebih dalam, IKTD terasa ingin menyampaikan potret sekaligus kritik sosial yang lebih serius lewat representasi ketiga karakter dara. Gendis yang diburu oleh usia padahal ia punya ambisi karir yang besar untuk diwujudkan dan masih percaya jodoh akan datang dengan sendirinya. Agak bias dengan alasan ‘takut gagal’ yang membuat karakternya kurang konsisten, tapi setelah dipikir-pikir lagi, hey, banyak juga lho yang mengalami kompleksitas problem demikian. Ella, sebagai anak tengah yang kalah dalam mendapatkan ‘spotlight’ dibandingkan si sulung, tapi juga harus mengalah dengan si bungsu. Serta Bebe yang sebagai bungsu, ia bisa belajar banyak dari kakak-kakaknya, sehingga ia lebih santai, open-minded, selalu ceria dan bisa memahami orang-orang di sekitarnya, bahkan punya trik tersendiri yang ‘menantang’ tuntutan dari masyarakat (dalam konteks di film, Sang Oma). Sneaky, sedikit kebablasan, tapi menurut saya, tergolong cerdas dalam menjawab tuntutan sosial. Nia dan Lucky Kuswandi (Madame X) meramu semua problematika ini mungkin tidak dengan porsi yang serba seimbang, tapi cukup jelas dan jika mau mempertimbangkan faktor kepaduan kemasan, pada porsi yang pas sesuai kebutuhan.

Permasalahan sebenarnya terletak pada penulisan yang terkadang terlampau ‘hipster’ sehingga sering mengganggu logika. Misalnya, ‘A for Apple, but I for Ironic…’ untuk mengajarkan cara baca dalam bahasa Inggris untuk anak SD. Really? Koreografi arahan Adela Fauzi yang banyak memasukkan unsur balet (sesuai dengan latar belakang Adela sendiri) termasuk oke. Sayangnya, di layar beberapa koreo kurang menyatu dengan mood adegan sehingga saya kurang bisa merasakan emosi pemain yang sesungguhnya secara maksimal. Ini terjadi terutama pada nomor solo yang menyingkap karakter secara lebih mendalam, seperti  Anak Dara yang dibawakan Shanty dan Nomor Dua oleh Tara. 

Mengisi tiga peran utama, Shanty Paredes, Tara Basro, dan Tatyana Akman berhasil memikat penonton dengan caranya sendiri-sendiri. Shanty menunjukkan kemandirian seorang wanita dengan passion tinggi, jutek sebagai bentuk defensif trauma, sekaligus kerapuhan meratapi nasib sebagai dara sulung dalam kondisi sosial keluarga Indonesia dengan keseimbangan yang lebih dari cukup. Sayang, meski Rio Dewanto juga tampil baik, chemistry antara keduanya masih sering terasa awkward ketimbang convincing sebagai pasangan yang diam-diam saling jatuh cinta. Bukan juga faktor naskah yang sebenarnya cukup memberikan perkembangan hubungan. Somehow there’s an X-factor yang membuat chemistry keduanya kurang terasa ‘klik’ sebagai pasangan asmara. Sebagai Ella, Tara Basro juga memberikan performa yang tak kalah kuatnya. Bahkan ada satu momen where she stole the show. Saya dibuat diam terhenyak dan dengan mudah bersimpati pada kondisi dan perasaannya pada momen tersebut. Sementara Tatyana Akman sebagai Bebe yang dari luar terkesan paling tidak diberi perkembangan karakter maupun konflik yang berarti dibandingkan kedua kakaknya, justru memikat lewat porsinya sebagai penengah dari para karakter, termasuk memberikan konklusi yang ‘berani’. Tatyana surprisingly mampu menghidupkan karakter Bebe yang ceria, free-spirited, cerdas, open-minded, sayang anak-anak, serta berani dengan begitu adorable dan tentu saja, loveable. Mungkin ada yang menganggap karakternya just another bule-hunter Indonesian girl typical yang nggak peduli dengan apa kata orang tentang dirinya, yang penting punya anak dari bule, it’s ok. Setidaknya naskah tidak membuat ceritanya bertendensi ke arah tersebut.

Selain ketiganya, Oma Titiek Puspa jelas menjadi daya tarik tersendiri lewat performa yang sebenarnya masih menjadi diri sendiri, tapi celetukan dan gaya bahasanya mustahil untuk tidak membuat siapapun tertarik. Reuben Elishama sebagai Bima punya momen yang manis meski secara keseluruhan porsinya tergolong sangat sedikit, sementara Richard Kyle sebagai Erick justru hanya menjadi pemanis yang yaaa… setidaknya berhasil lah sesuai tujuannya. Terakhir, Ray Sahetapy sebagai Krisna juga tak punya banyak porsi yang penting selain sekedar menjelaskan bahwa ketiga dara masih punya ayah kandung. Bahkan karakternya tak diberi ruang untuk punya andil penting dalam keputusan berkaitan dengan nasib ketiga putrinya.

Film musikal jelas membutuhkan effort yang lebih di banyak departemen. Sinematografi Yudi Datau mungkin masih bisa menghasilkan gambar-gambar cantik, termasuk eksplorasi alam Maumere sebagai latar di shot-shot statis. Sayangnya, di banyak kesempatan musikal yang membutuhkan pergerakan kamera serta variasi shot lebih, sinematografi masih terasa kurang mampu mengeksploitasi. Saya (dan saya yakin, banyak juga penonton lain) yang bisa membayangkan tampilan yang lebih padu dengan koreografi dan tata artistik. Misalnya opening scene di jalanan dengan melibatkan banyak street performer yang terkesan riweh dan agak bikin pusing atau tarian Tara di Nomor Dua yang… yeah, I can imagine better than that. Momen Gendis menemukan kembali Yudha juga seharusnya bisa lebih dramatis ketimbang single long shot yang bahkan tidak menunjukkan ekspresi wajah keduanya dengan jelas. Editing Aline Jusria berperan cukup penting dalam menata shot dan adegan sehingga durasi 124 menit bisa berlalu tanpa begitu terasa. Tata suara tergarap baik. Tak ada dialog yang bahkan banyak menggunakan Bahasa Inggris dan Belanda, yang terdengar tak jelas. Begitu pula keseimbangan antara dialog (termasuk lirik), musik, dan sound effect. Kendati saya rasa adegan perdebatan Gendis dan Bebe di Gereja Portugis seharusnya lebih meyakinkan jika dengan ekspresi bicara bisik-bisik, bukan dengan ekspresi suara biasa lalu dikecilkan volume-nya semata. Tak perlu meragukan musik dan score dari Aghi Narotama dan Bembi Gusti yang selalu menonjol, very enjoyable, bahkan hummable. Terakhir yang layak mendapatakn kredit lebih adalah tata artistik Eros Eflin yang serba cantik, mulai rumah di Jakarta, tiap ruang boutique hotel di Maumere, serta tata busana Tania Soeprapto yang selalu terlihat menonjol di tiap momen.

Seperti film-film Nia sebelumnya, IKTD sarat dengan kritik sosial, bahkan seringkali terlalu cerewet dan kebablasan. Masih banyak departemen yang belum benar-benar sempurna, apalagi jika dibandingkan dengan versi Usmar Ismail. Untung lewat kemasan musikal, dialog-dialog witty, penulisan karakter-karakter utama yang mampu mewakili kondisi keluarga dalam tatanan sosial Indonesia, dan tentu saja performa akting serta musical performance yang rata-rata mumpuni, ia masih menjadi sajian hiburan yang sangat enjoyable. Jika dibandingkan dengan film-film Nia sebelumnya, perlu nonton lebih dari sekali untuk membuatnya jadi memorable dalam benak.  

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates