Wednesday, September 7, 2016

The Jose Flash Review
Collide [Autobahn]

Pengumuman kebangkrutan Relativity Media Juli 2015 lalu mempengaruhi jadwal rilis banyak film-film potensial, bahkan tidak sedikit yang nasib distribusinya tidak jelas sama sekali. Salah satunya Collide atau yang di beberapa negara berjudul Autobahn yang awalnya rencana rilis 30 Oktober 2015 lalu, terus-terusan diundur hingga hak edar yang sempat dioper ke Open Road benar-benar dihapus. Untungnya untuk peredaran di luar US, Collide sedikit lebih beruntung. Jika tidak, sia-sialah budget yang disumbangkan oleh IM Global, Sycamore, DMG Entertainment (Cina), dan yang paling punya reputasi di genre action Hollywood, Silver Pictures milik Joel Silver (franchise Lethal Weapon, The Matrix, dua film pertama Die Hard, dan Predator). Padahal Collide termasuk film yang punya potensi besar berkat nama Anthony Hopkins, Ben Kingsley, Nicholas Hoult, dan Felicity Jones. Disutradarai Eran Creevy (Welcome to the Punch) yang menuliskan naskahnya sendiri bersama F. Scott Frazier (the upcoming xXx: Return of Xander Cage), Collide menyapa penggemar film aksi Indonesia terlebih dahulu sebelum di negara asalnya yang terakhir direncanakan rilis 30 Oktober 2016. Itupun jika tidak ada perubahan lagi.


Casey, pemuda Amerika dua puluhan memilih untuk mencari jati diri di Jerman. Ia coba-coba bekerja untuk bos mafia narkoba, Geran. Kebetulan Geran menyukai bakat Casey yang cerdas sehingga menjulukinya Burt Reynolds, sementara partnernya dijuluki Grease Lightning. Pertemuan Casey dengan seorang wanita Amerika, Juliette, membuat Casey berjanji tidak lagi berurusan dengan Geran atau bisnis gelap lainnya. Hidup bersama membuat keduanya sempat menghirup kebahagiaan yang sayangnya tak berlangsung lama. Juliette menderita penyakit yang membuatnya harus segera mendapatkan donor ginjal. Karena status kewarganegaraannya yang tidak menetap di Jerman membuat ia tak bisa mendapatkan fasilitas kesehatan sebagaimana mestinya. Mau pulang dan mendapatkan perawatan di Amerika pun mereka tak punya biaya. Maka Casey nekad kembali mendatangi Geran untuk mendapatkan pekerjaan lamanya kembali. Geran tak kehabisan akal. Kebetulan ia sedang kesal dengan seorang bos mafia lain, Hagen Kahl, yang menolak proposal Geran untuk penyetaraan status dalam bisnis mereka. Casey harus menyusun strategi untuk merampok Kahl. Tentu bukan misi yang mudah dan resikonya juga tinggi. Casey pun terjebak di tengah-tengah perseteruan antara Geran-Kahl. Sementara keselamatan Juliette juga ikut terancam.

Tagline ‘how far would you go for the one you love?’ tentu sudah menjadi konsep dasar film aksi yang sudah berkali-kali digunakan. Alasannya simple. Faktor ‘love’ membuat seseorang nekad melakukan apa saja bisa dengan mudah mengundang simpati dari penonton. Tantangannya adalah bagaimana mengemas konsep yang sudah sangat generik itu menjadi sajian yang memang berhasil, baik memuaskan appetite penonton akan sajian aksi gila-gilaan, maupun mengetuk hati penonton. Secara naskah, Collide tergolong sangat standard. Formula-formula klasik dimasukkan, meski ada elemen-elemen yang terasa kurang mendukung (baca: kurang meyakinkan) untuk menjadi rangkaian plot yang solid. Misalnya karakter Casey yang dibuat tidak punya set of skill memadai sebagai lead action hero kecuali kecerdasannya dalam bertaktik, nyawa yang seolah-olah tak ada habisnya, dan kenekadan atas nama cinta. Di sisi lain, kekurangan dan kelebihan ini juga bisa menjadi bekal menarik simpati penonton. He’s just a regular guy, sama seperti kebanyakan kita. Kekurangan lain begitu terasa di ending (penyelesaian) yang mencoba untuk memberikan twist. Tidak masalah sih, tapi twist tersebut diletakkan ketika kita, penonton, sebenarnya tak butuh itu. Tak ada pertanyaan ganjil mengenai nasib sesuatu yang perlu dijelaskan sebagai jawaban sekaligus penyelesaian. Jika memang berniat meletakkan twist tersebut sebagai elemen penting dalam plot, alangkah baiknya meletakkan ‘pertanyaan’ tersebut di atas segalanya. Di sini, elemen tersebut tertumpuk oleh sub-plot-sub-plot lain yang lebih mendominasi dan menjadi concern lebih bagi penonton, seperti perseteruan antara Geran-Kahl dan menyelamatkan Juliette. In the end, twist ini seolah hanya menjadi ‘jalan pintas’ dalam menyelesaikan masalah yang di-wrap dengan terlalu terburu-buru pula hingga tidak memberikan kesan emosi yang cukup maksimal dari penonton. Above all, treatment action scenes yang disuntikkan ke dalam Collide tergolong mind-blowing. To be honest, gelaran adegan-adegan aksi gila-gilaan yang seringkali membuat penonton terpaku sampai mungkin menahan nafas atau memicingkan mata menjadi daya tarik utama Collide. Baku hantam, baku tembak, dan yang paling menjadi highlight, kejar-kejaran di jalan tol, semuanya digarap menjadi benar-benar mind-blowing! Kudos to Eran Creevy!

As a lead action hero, Nicholas Hoult ternyata punya lebih dari cukup kharisma. Mungkin tidak lewat sepak terjang baku hantam dimana ia lebih sering hanya menjadi sasaran hantam, tapi lewat ekspresi wajah dan kharisma kecerdasan yang memang cocok dengan garis wajahnya. Performance paling mencuri perhatian tentu saja Ben Kingsley sebagai Geran yang eksentrik. Mungkin bukan karakter yang terlalu susah untuk diperankan aktor sekelas dirinya, tapi sepanjang durasi, he stole the show. Sementara rivalnya, Anthony Hopkins sebagai Hagen Kahl, seperti biasa punya kharisma intimidatif yang belum beraksi apa-apa saja sudah menimbulkan ancaman terlebih dulu. Sementara Felicity Jones sebagai Juliette menjadi sweetheart pemanis layar yang memang berfungsi sebagaimana mestinya. Setidaknya saya tetap peduli terhadap nasib karakternya.

Adegan-adegan aksi mind-blowing yang ditawarkan Eran bisa berhasil berkat sinergi sinematografi Ed Wild, editing Chris Gill yang pas di banyak bagian. Meski harus diakui ending yang terlalu terburu-buru cukup mempengaruhi after-taste. Mungkin bukan sepenuhnya kesalahan editing, tapi mau tak mau hasil akhirnya juga dipengaruhi oleh tangan editor. Tata suara lebih dari cukup untuk menghidupkan adegan-adegan aksinya menjadi pompa adrenaline rush yang efektif. Tak ketinggalan scoring berenergi tinggi dari Ilan Eshkeri serta pemilihan soundtrack asyik yang didominasi EDM. Bahkan music menjadi salah satu pilar penting keberhasilan Collide.

Ya, Collide memang bukanlah project budget raksasa dari studio besar Hollywood. Sajian naskahnya pun masih jauh dari kata rapi apalagi solid. Namun craftsmanship Erran dalam menghadirkan adegan-adegan aksi seru, asyik, dan bahkan, mind-blowing, membuat ia masih sangat layak dinikmati di layar lebar. Setidaknya masih bisa jadi instant-entertainment yang mengasyikkan. I could see a clear career in Eran Creevy as an action director in the future. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates