Tuesday, September 20, 2016

The Jose Flash Review
Blood Father

Sebagai salah satu aktor kelas A Hollywood, Mel Gibson bukannya tak pernah bermain di film indie yang bahkan termasuk kelas B, seperti Get the Gringo (2012). Tahun 2016 ini ia kembali bergabung dalam project indie yang ‘nyaris’ menjadi film aksi kelas B, tapi punya background yang sebenarnya menarik. Diangkat dari novel berjudul Blood Father (BF) rilisan 2005 karya Peter Craig (juga menulis naskah untuk film The Town, The Hunger Games : Mockingjay Part 1 & 2, serta upcoming biopic fotografer perang garapan sutradara Steven Spielberg, It’s What I Do), digarap oleh sutradara Perancis, Jean François Richet yang kita kenal lewat duologi biopic Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine: Public Enemy #1 serta Assault on Precinct 13. Naskahnya diadaptasi sendiri oleh Craig, dibantu Andrea Berloff (World Trade Center dan Straight Outta Compton). Meli didampingi oleh aktris muda Erin Moriarty yang pernah kita lihat di The Watch, The Kings of Summer, dan Captain Fantastic. Mendapatkan kehormatan diputar premiere di Cannes Film Festival 2016, BF mendapatkan sambutan yang surprisingly, baik.


Setelah menjalani hidup yang keras sebagai prajurit perang dan juga di balik penjara, John Link memilih untuk hidup tenang sebagai seorang tattoo artist dan tinggal di sebuah trailer. Mulai menata kembali hidupnya, ia dibantu oleh sponsornya dalam komunitas rehabilitasi, Kirby. Suatu ketika, putri tunggalnya, Lydia, yang menghilang sekian tahun tiba-tiba menghubungi untuk meminta pertolongan.  Ketika menghilang, Lydia ternyata berhubungan dengan bos mafia Meksiko, Jonah yang memanfaatkan dirinya atas nama cinta. Sebuah kecelakaan membuat Lydia dikejar-kejar oleh anak buah Jonah. John tak hanya berniat untuk menyelamatkan Lydia, tapi juga menghadapi langsung mafia-mafia Meksiko kejam agar sang putri tak perlu lagi berlari.

Premise tentang seorang ayah (seorang bad-ass old-man pula) yang beraksi demi sang anak memang sudah jadi salah satu formula paling generik untuk genre aksi. Keluarga, khususnya putri, menjadi motivasi yang dianggap paling kuat untuk membuat seseorang rela nekad melakukan apa saja. Remember the phrase ‘daddy’s little girl’. Seorang putri dianggap lebih punya kedekatan emosional dengan sang ayah ketimbang seorang ibu yang biasanya lebih dekat dengan anak laki-laki. Film yang paling populer tentu saja franchise Taken yang berhasil mengangkat kembali nama Liam Neeson sebagai action hero kelas A, terlepas dari usianya yang semakin senja. Sejak keberhasilan Taken pula, tema bad-ass old-man menjadi trend. BF semakin menambah panjang daftar film bertema bad-ass old-man, meski sebenarnya ini bukan pertama kali Gibson mengisi peran serupa.

Sayangnya, sebagai sebuah action-thriller BF terkesan terlalu santai dalam bertutur pun juga terlalu sunyi. Jarak antara satu adegan aksi ke adegan aksi berikutnya terasa terlalu jauh. Padahal ia punya konsep ‘ancaman musuh bisa datang kapan saja’ dan image mafia Meksiko yang terkenal kejam, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencekam penonton. Ada sedikit atmosfer itu, terutama di momen-momen klimaksnya, tetapi secara keseluruhan menjadi terkesan tenggelam oleh elemen dad-and-daughter relationship yang justru lebih menonjol. Malah menurut saya relationship dad-and-daughter yang dimasukkan di sini justru menjadi daya tarik utama sepanjang film, terutama lewat dialog-dialog yang menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing hingga akhirnya saling memahami. Tak sampai benar-benar bold, tapi cukup membuat film menarik untuk terus disimak.

Tak perlu meragukan kharisma Mel Gibson sebagi lead action hero. Seperti biasa, ia memberikan performa yang garang sekaligus sosok ayah yang loveable di tengah-tengah pergulatannya untuk menghindari kriminalitas. Tampil dengan full-bearded maupun clean-shaved, Gibson tetap terkesan bad-ass, tak kalah dengan Sylvester Stallone, misalnya. Sebagai Lydia, Erin Moriarty berhasil menarik perhatian saya lewat pesona fisik dan screen-charm yang semakin terlihat menjanjikan. Chemistry yang ia bangun bersama Gibson pun cukup berhasil mencuri hati saya. Di lini pendukung lainnya, William H. Macy sebagai Kirby mungkin tak punya banyak kesempatan untuk memenangkan simpati penonton, tapi ekspresi wajah ketulusan terlihat jelas pada karakternya. Diego Luna sebagai Jonah, sang musuh utama, juga tak punya banyak porsi untuk benar-benar mengancam para protagonis. Terakhir, penampilan singkat Michael Parks sebagai Preacher dan Raoul Max Trujillo sebagai The Cleaner ternyata bisa memberikan sedikit ‘warna’ tersendiri ke dalam film.

Tidak ada yang benar-benar istimewa di teknis, selain sekedar cukup. Misalnya sinematografi Robert Gantz yang serba standard, baik untuk adegan-adegan aksi maupun dalam memperlihatkan chemistry antara John dan Lydia. Begitu pula editing Steven Rosenblum yang meski tak sampai membuat film menjadi terkesan sangat dragging, tapi tak pula memberikan ‘energi’ apa-apa ke dalam BF, apalagi sebagai film action thriller. Musik dari Sven Faulconer pun tak memberikan nilai lebih apa-apa, justru membuat kesan ‘sepi’.

Tanpa craftsmanship aksi dari Richet yang tergolong layak dan juga naskah dad-daughter yang menarik, BF bisa saja dengan mudah tergelincir menjadi just-another-B-class-action-movie. Ditambah performance kharismatik dari Gibson dan pesona Erin Moriarty, BF setidaknya masih layak, bahkan punya elemen-elemen cerita yang menarik untuk diikuti. Andai saja punya keseimbangan action-thriller yang lebih baik dan konsisten sepanjang film, mungkin BF bisa menjadi salah satu suguhan dad-daughter/bad-ass old-man yang patut diperhitungkan. As it was now, boleh lah menjadikan BF pilihan tontonan jika tak ada film lain yang lebih menarik perhatian Anda.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates