Wednesday, September 7, 2016

The Jose Flash Review
The BFG


Nama Roald Dahl memang sudah populer sebagai penulis cerita anak-anak dan fantasi. Tak sedikit karyanya yang diangkat ke media audio-visual, di antaranya Charlie and the Chocolate Factory, Matilda, Fantastic Mr. Fox, dan bahkan Gremlins yang diadaptasi bebas dari karya tulisnya. Ada satu judul lagi yang sebenarnya punya perjalanan menarik untuk menjadi film layar lebar, yaitu The BFG yang pertama kali dipublikasikan tahun 1982. Ide awalnya sejak 1991 yang dikembangkan oleh produser Frank Marshall-Kathleen Kennedy dan diproduksi lewat Paramount Pictures. Bahkan tahun 1998, mendiang Robin Williams sempat bernegosiasi untuk peran BFG dan ikut reading, tapi sayangnya dianggap kurang memuaskan. Tahun 2011 DreamWorks akhirnya mengambil alih rights-nya dan naskahnya ditulis ulang oleh mendiang Melissa Mathison (E.T.) yang meninggal dunia akhir 2015 lalu. Awalnya John Madden ditunjuk sebagai sutradara, hingga akhirnya nama Steven Spielberg diumumkan sebagai sutradara di tahun 2014. Kemudian Walden Media, Amblin, dan terakhir, Walt Disney setuju untuk ambil bagian dalam project ini. Sayang perjalanan panjang project ini tak sebanding dengan hasil box office-nya yang tergolong salah satu ‘biggest bomb of the year’, bersama Alice Through the Looking Glass dan Ben-Hur.


Tinggal di sebuah panti asuhan di London, Sophie yang sering mengalami insomnia gemar mengeksplorasi banyak hal baru, terutama lewat buku. Suatu ketika perhatiannya teralihkan oleh bayangan raksasa di jalanan. Benar saja, ada sesosok raksasa yang gemar berkeliling kota di saat witching hour (sekitar jam 3 dini hari). Raksasa itu kaget dan langsung membawa Sophie ke Negeri Raksasa yang letaknya jauh. Awalnya Sophie mengira dirinya akan dimakan oleh sang raksasa. Ternyata raksasa yang berprofesi sebagai penangkap mimpi ini berbeda. Raksasa berjuluk BFG (Big Friendly Giant) ini hanya ingin rahasia keberadaannya tak diketahui manusia sekaligus berteman dengan Sophie. Di sisi lain, Sophie dilarang keluar dari rumah BFG karena ada ancaman raksasa-raksasa lain yang ukurannya jauh lebih besar dan gemar memakan manusia. Gerombolan 9 raksasa yang dipimpin oleh Fleshlumpeater ini ternyata juga gemar mem-bully BFG yang dianggap memalukan kaum raksasa karena tak suka makan manusia dan malah dijadikan teman. Sophie meng-encourage BFG supaya melawan kesewenangan gerombolan raksasa ini. Maka keduanya menyusun siasat untuk menghentikan aksi gerombolan raksasa.

Tak semua dongeng anak-anak cocok diadaptasi ke layar lebar. Belum lagi pilihan format animasi atau live-action yang lebih sesuai untuk visualisasinya. Ada alasan mengapa tak ada yang berani mengangkat The BFG ke layar lebar (selama ini hanya ada versi film TV animasi yang dirilis tahun 1989). Selain faktor visual effect yang saat itu belum cukup mengakomodir, faktor banyaknya ‘punya momen sinematik’ juga menjadi pertimbangan. Tentu penonton yang sudah repot-repot nonton di bioskop tidak bisa dikecewakan dengan ‘cinematic moment’ yang kurang. Dari materi aslinya, jujur saja The BFG termasuk tak banyak punya potensi cenmatic moment. Untungnya, The BFG punya talent-talent yang bisa membuat materi ‘biasa saja’ jadi punya nafas magis sinematik. Terutama sekali Steven Spielberg yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam menyampaikan cerita. The BFG pun menjelma menjadi sebuah kisah petualangan seru yang terasa sangat spektakuler di layar bioskop (bahkan terasa lebih lagi di layar IMAX) dengan magical-magical moment yang bikin melongo sepanjang film, lengkap dengan feel hearty yang begitu terasa hangat, terutama lewat pertalian hubungan antara Sophie dan BFG.

Sadar tak punya materi klimaks yang bombastis, Spielberg lebih menitik beratkan dan mengeksplor hubungan antara Sophie dan BFG. Terbukti perkembangan hubungan mereka dari saling curiga sampai akhirnya saling memahami, bahkan saling dukung ini berhasil memikat saya sehingga saya tertarik untuk terus mengikuti perkembangan hubungan antara Sophie dan BFG, meski saya sadar sempat tak ada konflik besar yang mengancam sejak awal hingga akhirnya dimunculkan dan menjadi klimaks dari cerita. Sambil menunggu menjelaskan konflik utamanya, penonton disuguhi pengenalan Negeri Raksasa dan Negeri Mimpi yang sama-sama punya kadar ke-spektakuleran visual tingkat tinggi. Hingga akhirnya momen klimaks yang ternyata juga berlangsung tak begitu lama, kisah ditutup dengan konklusi khas dongeng klasik yang manis dan menyenangkan semua pihak, terutama target audience utamanya, anak-anak.

Menghidupkan karakter BFG yang unik, Mark Rylance tampak tak sedikit pun canggung. Ia mampu menghidupkan segala keunikan BFG dengan begitu nyata, tanpa terkesan dibuat-buat sedikit pun, termasuk yang paling menonjol kemampuannya dalam berkata-kata dengan berbagai miss-spelled. Serta yang paling penting, menjadi karakter yang loveable. Tak salah jika Spielberg langsung melihat sosok BFG dalam diri Rylance sejak bekerja sama untuk Bridge of Spies. Si cilik pendatang baru, Ruby Barnhill pun berhasil mencuri perhatian serta hati penonton lewat keberanian serta kepolosan yang terasa kuat dilakoni. Sementara pendukung seperti Penelope Wilton sebagai Sang Ratu Inggris, Rebecca Hall sebagai Mary, dan Rafe Spall sebagai Mr. Tibbs cukup memberikan warna tersendiri dalam film lewat karakter-karakter yang screen time-nya tak banyak. Terakhir, mungkin karakter-karakter gerombolan sembilan raksasa; Jemaine Clement (Fleshlumpeater), Bill Hader (Bloodblotter), Adam Godley (Manhugger), Michael Adamthwaite (Butcher Boy), Daniel Bacon (Bonecruncher), Jonathan Holmes (Childchewer), Chris Gibbs (Gizzardgulper), Paul Moniz de Sa (Meatdripper), dan Ólafur Darri Ólafsson    (Maidmasher); mungkin masing-masing tak punya banyak kesempatan untuk menjadi familiar (dan tak perlu juga), tapi setidaknya cukup mengancam di banyak momen mendebarkan.

Visual memang menjadi formula terpenting di The BFG. Since it’s Spielberg’s, jadi tingkatkan ekspektasi Anda karena hasilnya selalu berada di atas ekspektasi Anda. Mulai tim desain produksi yang dipimpin langganan Spielberg, Rick Carter (Jurassic Park, The Lost World: Jurassic Park, Amistad, A.I.: Artificial Intelligence, Munich, War Horse, dan Lincoln), sampai visual effect yang menggunakan teknik Simulcam yang memungkinkan karakter Sophie dan BFG berinteraksi secara langsung (dan otomatis menjadi lebih ‘hidup’) meski BFG adalah hasil CGI motion-capture. Sinematografi Janusz Kaminski yang juga langganan Spielberg lagi-lagi berhasil membawa penonton ke keajaiban Negeri Raksasa secara maksimal, terutama dari sudut pandang Sophie yang manusia biasa. Bersiap-siap dibuat melongo berkat pergerakan kamera dan shot-shot yang juga maksimal mengeksplor desain-desain produksi indah penuh keajaiban. Sebisa mungkin alami The BFG di layar IMAX 3D untuk experience yang maksimal. Format 3D menawarkan depth yang lebih dari cukup dengan visualisasi serba raksasa yang menjadi lebih terasa. Sayang tak ada pop-out gimmick yang dimunculkan. Editing dari Michael Kahn membuat laju cerita The BFG tetap nyaman diikuti meski durasinya tergolong panjang dengan bangunan konflik yang tergolong ‘biasa’, sekaligus membuat momen-momen petualangan mendebarkannya efektif. Tak perlu meragukan lagi tata suara yang begitu maksimal dalam mendukung tiap momen yang disuguhkan. Semua terdengar mantap, deep bass luar biasa, dialog tetap terdengar sangat jelas, serta pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Terakhir, scoring John Williams yang begitu khas memang sudah sangat klop ‘kawin’ dengan visual serta penceritaan a la Spielberg. Meski tak sampai menjadi sangat memorable, setidaknya sudah membuat nuansa The BFG menjadi sekelas film-film fantasi timeless Hollywood lainnya.

Dibandingkan film-film fantasi Hollywood beberapa tahun terakhir, The BFG memang tak punya momen-momen  klimaks bombastis. Bahkan mungkin terlalu ‘sederhana’ untuk ukuran film keluarga era 2000-an. Tapi The BFG menyuguhkan storytelling dongeng fantasi klasik khas Spielberg seperti halnya E.T.: Extra Terrestrial yang family-friendly dan sarat value. As for me, film fantasi keluarga seperti ini yang sering saya rindukan untuk dialami lagi di tengah bombardir film fantasi yang menjual adegan-adegan million-dollars semata. The heart, the chemistry, the innocent adventure, the cinematic magical visual... The BFG tidak boleh dilewatkan di layar IMAX 3D!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates