Monday, September 12, 2016

The Jose Flash Review
Baar Baar Dekho

‘Ajaran’ untuk menghargai tiap momen dalam hidup bersama orang-orang terkasih di atas ambisi pribadi sudah sangat sering disampaikan lewat film, apalagi Hollywood. Yang paling mudah terlintas dalam benak saya adalah Click, film drama komedi Adam Sandler yang harus saya akui menjadi film terkelamnya sampai saat ini. Saking menghantuinya, Click menjadi salah satu referensi utama saya jika menyebut tema ‘embracing every moment in life’. Tahun 2016 ini ada satu judul film Hindi yang mencoba mengangkat tema ini. Lahir dari buah pikiran Nitya Mehra (astrada di Life of Pi dan The Reluctant Fundamentalist) di akhir 2013, Excel Entertainment mempercayakan project ini sebagai debut layar lebarnya, baik sebagai penulis naskah (dibantu Sri Rao, Anuvab Pal, dan Anvita Dutt – Queen dan Shaandaar) maupun sutradara. Produser Karan Johar melalui Dharma Production kemudian tertarik untuk ikut terlibat, seiring dengan rumor masuknya Aamir Khan, Hrithik Roshan, dan Deepika Padukone di jajaran cast-nya. Hingga akhirnya diputuskan Sidharth Malhotra, aktor yang tergolong baru namun sudah menarik perhatian di mana-mana terutama lewat Student of the Year dan baru saja, Kapoor & Sons, serta salah satu Hindi’s sweetheart, Katrina Kaif sebagai sang lawan main. Secara plot, Baar Baar Dekho (BBD - English: Look Again and Again) dinilai mengambil inspirasi dari film Hollywood yang tak terlalu populer, Shuffle (2011).


Sejak kecil, Jai dan Diya adalah pasangan yang tak terpisahkan. Ketika dewasa, keduanya punya ambisi yang berbeda. Sementara Diya menjadi seorang seniman, Jai memilih mengejar ambisinya di bidang matematika. Ujian datang ketika Diya merasa sudah saatnya untuk meresmikan hubungan mereka. Jai merasa takut akan perubahan dalam hidup mereka, terutama berkaitan dengan ambisinya untuk mengajar di Cambridge. Di satu malam ketika Jai hampir mengacaukan semuanya, ia tertidur dan terbangun saat 10 hari kemudian, saat Jai dan Diya sedang berbulan madu di Thailand. Meski kaget dan penasaran, awalnya Jai masih mencoba menikmati tiap momen. Hingga tiap kali terbangun ia sudah melompati waktu makin jauh dan mendapati makin lama keadaan keluarganya semakin semrawut. Jai pun bertekad untuk memperbaiki semuanya sambil mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi penyebab ia melompati waktu sekian jauh.

Ide cerita BBD memang bukan hal baru. Bahkan dari premise-nya saja, kita pasti bisa menebak value apa yang ingin di-‘ajar’-kan. Namun bagi saya, daya tariknya terletak pada kejadian-kejadian di tiap lompatan waktu dan tentu saja memecahkan misteri apa yang menjadi penyebab sang karakter utama mampu melompati waktu, secara acak pula. Sayangnya, sebagai drama romantis dengan konsep yang tergolong complicated, BBD tidak mempunyai penjelasan yang jelas (apalagi rasional) atas semua yang terjadi. Penonton hanya bisa menerka-nerka (atau memilih sesuai kepercayaan masing-masing) dari elemen-elemen yang dihadirkan. Elemen matematika yang coba dimasukkan pun ternyata tak menjadi sesuatu yang punya pertalian apapun dalam penjelasan, bahkan sekedar 'aturan' atau 'pola' lompatan waktu sekalipun. Well, sebenarnya bisa saja sih ini disengaja untuk mempertegas konsep, ‘hidup tidak selalu bisa dijawab lewat matematika dan rasional’. But I can’t hide, I demand more explanation about the details it’s spread around that complicated.

Permasalahan lain lantas muncul dari penyebab konflik sebenarnya. Ketika Jai freak out sehari sebelum pernikahan, dengan jelas bisa disimpulkan bahwa Jai hanya belum siap untuk menikah karena ada cita-cita yang belum ia capai. Jika mau adil, seharusnya Jai dan Diya masih bisa mengkomunikasikan kepentingan keduanya dan mencari jalan tengahnya. Sayangnya, Nitya mengarahkan cerita pada sudut pandang feminis dimana pihak laki-laki yang salah karena lebih mementingkan ambisi daripada pasangannya. Saya tak melihat ada yang salah dengan pola pikir Jai. Justru di saat yang sama, Diya lah yang tarasa egois karena selalu harus dituruti. Nitya bukan tak menyadari ini, karena ada dialog dimana Diya mengakui dirinya yang harus selalu mengambil keputusan atas mereka. Sepanjang film, Nitya tak pernah sedikit pun menaruh kesalahan kepada Diya, bahkan terus-terusan menjadi sosok yang harus dibela. Sorry but since the very first place, BBD sudah tidak punya keadilan dan terus dibiarkan sampai akhir film. Bagi saya, ini bukanlah pondasi cerita yang baik sehingga selalu saja ada yang mengusik pikiran serta perasaan hingga akhir film.  

Jika penjelasan yang jelas bin rasional dan ketidak-adilan konsep cerita tidak terlalu menjadi soal bagi Anda, BBD masih punya permasalahan lain lagi yang cukup membuat penceritaan kurang berjalan dengan lancar. Mungkin karena ini merupakan project debut-nya, penceritaan Nitya Mehra masih terasa terbata-bata di hampir tiap momen.  Ini yang membuat pace cerita yang seharusnya dibuat dinamis agar tetap membuat penonton penasaran apa yang terjadi selanjutnya, masih terkesan agak bertele-tele. Alhasil hampir di tiap lompatan momen, saya jadi tak sabar untuk menemukan inti sarinya untuk kemudian langsung melompat ke momen berikutnya. Mungkin juga faktor formula yang terlalu familiar sehingga membuat otak saya berujar ‘I’ve seen that before, fast forward to the next moment, please!'. Other than that, Nitya Mehra masih tergolong lumayan dalam menghadirkan kehangatan momen-momen dramatis terpentingnya, sekaligus menyampaikan value utamanya untuk ‘embracing every moment in life’.

Melakoni karakter dari usia ke usia, kemampuan akting Sidharth Malhotra terlihat makin terasah. Meski tak diberi perkembangan karakter yang signifikan di tiap jenjang usia, tapi ekspresi wajahnya cukup mewakili tiap emosi yang dibutuhkan. Begitu juga Katrina Kaif yang porsi perkembangan karakternya lebih sedikit lagi. Tak buruk, namun juga tak istimewa. Sebagai pasangan, keduanya menunjukkan chemistry yang cukup meyakinkan. Di lini cast pendukung, ada Sarika sebagi ibu Jai dan Ram Kapoor sebagai ayah Diya yang makin menghangatkan nuansa film dan loveable. Lalu ada Sayani Gupta sebagai Chitra, Rohan Joshi sebagai Raj, dan Taaha Shah sebagai Anand sedikit mencuri perhatian di balik screen presence-nya tergolong terbatas. Namun tentu saja daya tarik yang tak terelakkan adalah Rajit Kapur sebagai Pandit yang memberikan performa seimbang antara wise dan komedik.

Salah satu yang membuat saya harus angkat topi untuk Nitya adalah visi visualnya, terutama dalam menghadirkan berbagai elemen futuristik. Tak terlalu orisinil, tapi divisualisasikan lewat visual effect yang mumpuni. Tata rias juga menjadi kekuatan yang tak kalah pentingnya, terutama dalam penggunaan prostetik yang meski masih terlihat sedikit kaku, tapi masih layak untuk diapresiasi. Sinematografi Ravi K. Chandran mampu mengeksplorasi tiap latar desain produksi cantik dan futuristik tanpa meninggalkan emosi tiap momen. Editing Amitabh Shukla pun termasuk pas dalam mempertahankan emosi yang dibutuhkan meski pace cerita harus sedikit mengalah. Lagu-lagu penghias masih bisa memberikan warna emosi pada beberapa bagian, tapi tak ada satupun yang benar-benar berhasil membekas dalam ingatan saya setelah film berakhir.

Sebagai sebuah project debut dari Nitya, BBD memang tak sepenuhnya gagal. Cukup banyak kekurangan, terutama dalam mengembangkan setup plotline dan storytelling yang lebih lancar, tapi setidaknya Nitya masih cukup baik dalam menyampaikan emosi cerita. Semoga saja skill dan sense-nya makin terasah dari project ke project. Sementara itu, jika Anda tertarik dengan premise-nya atau memang menyukai tema-tema sejenis, BBD masih layak dimasukkan ke dalam daftar referensi tontonan.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates