Friday, September 30, 2016

The Jose Flash Review
Athirah

Biopic agaknya masih menjadi genre favorit di perfilman Indonesia. Setidaknya dari sudut pandang produser yang seolah tak henti mencari sosok yang cerita hidupnya diangkat ke layar lebar dengan label ‘inspiratif’. Untungnya di tengah treatment biopic yang itu-itu saja (baca: glorifikasi berlebihan, delusional, bahkan mengarah ke megalomaniac dan menjadi hagiografi), masih ada upaya untuk membuat biopic dengan tema tertentu dan tidak menjadikan subjek sebagai tokoh sentralnya tapi punya pengaruh terhadap sosok subjek. Pendekatan itulah yang digunakan oleh produser Mira Lesmana, sutradara sekaligus penulis naskah Riri Riza, dibantu oleh Salman Aristo. Nama-nama yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya di industri filmmaking Indonesia. Diadaptasi dari novel berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh penulis biografi tokoh-tokoh terkenal Indonesia mulai KD, Chrisye, Titiek Puspa, Merry Riana, Joko Widodo, sampai Raam Punjabi, Alberthiene Endah berjudul sama, Athirah mencoba mengangkat sosok wakil presiden kita, Jusuf Kalla lewat sang ibu, Athirah dengan fokus pada tema poligami yang sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Tentu tema poligami di ranah perfilman Indonesia juga bukan hal baru, mengingat kita punya Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Surga yang Tak Dirindukan (2015) yang sempat sukses jadi box office melewati angka satu juta penonton. Namun di tangan Riri Riza, tentu penonton bisa mengharapkan hasil yang berbeda. Apalagi sang karakter utama diperankan oleh Cut Mini yang mana tahun 2016 ini bisa jadi salah satu tahun paling gemilang bagi karirnya sebagai aktris layar lebar, setelah tampil di Juara, Koala Kumal, Ini Kisah Tiga Dara, dan Me vs Mami.

Tahun 50-an, Puang Ajji memboyong keluarganya; sang istri, Athirah, dan anak-anaknya dari Bone ke Makassar dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tengah pemberontakan separatis yang sedang berkecamuk. Keberuntungan finansial pun segera menghampiri. Namun godaan menghampiri Puang Ajji yang memilih untuk berpoligami. Tanpa sepengetahuan istri dan anak-anaknya, ia menikahi wanita lain. Ironisnya, Athirah dan sang sulung, Ucu, justru tahu kabar ini dari pergunjingan tetangga dan teman-teman. Awalnya Athirah sempat melakukan berbagai upaya agar sang suami kembali kepadanya. Ucu pun menjadi sosok pendiam luar biasa, bahkan ketika jatuh hati pada seorang gadis di sekolahnya. Bosan dengan upaya yang tak membuahkan hasil, Athirah lebih memilih untuk ‘membangun’ kembali keluarga yang sudah ditinggalkan sang suami dengan menjadi pengusaha kain tenun. Sementara Ucu harus menelan pil pahit dijauhi gadis pujaann, Ida, karena keluarganya takut Ucu juga akan berpoligami kelak.

Sejak awal karirnya Riri Riza merupakan salah satu sineas Indonesia yang punya keseimbangan cukup baik antara nuansa serba arthouse dengan penyampaian yang masih mudah dipahami sekaligus bisa komersial. Meski harus diakui tidak semua pencapaian a la arthouse-nya benar-benar bisa dikatakan berhasil secara komersial, seperti Atambua 39˚C (2012) dan Sokola Rimba (2013), meski secara kualitas tergolong baik. Maka ia menggarap Athirah dengan keseimbangan antara arthouse dan komersial dengan lebih baik lagi. Hasilnya, kisah Athirah berhasil mengalir dengan sangat lancar dengan simbol-simbol semiotika yang terselip di mana-mana tapi maknanya masih dapat dengan mudah diidentifikasi serta dipahami. Riri dan Salman mengadaptasi novel Alberthiene dengan potongan-potongan adegan yang terfokus pada proses perkembangan karakter Athirah mulai dari keluarganya yang masih baik-baik saja, emosinya mulai terguncang karena suami yang poligami secara diam-diam, upaya yang terkesan desperate, bangkit, hingga mencapai titik balik yang seolah merayakan kemenangan. Semuanya dijalin secara dinamis, elegan, dan lebih banyak lewat visual (yang artinya melalui detail adegan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh aktor-aktrisnya) ketimbang dialog. Naskah tau betul mana momen-momen yang sesuai untuk dimasukkan ke dalam film sehingga punya korelasi dan koherensi yang berkesinambungan. Meski cerita berfokus pada sosok Athirah, penonton masih dengan mudah mengakses sosok Ucu, terutama dari segi dampak dan perkembangan psikologisnya. Jauh dari kesan terlalu mengagung-agungkan karakter utama semata, apalagi hagiografi. Baik lewat karakter Athirah maupun Ucu. Alhasil penonton bisa menghargai proses yang kadang mungkin terkesan konyol serta memahami pilihan yang diambil dan dilakukan oleh para karakternya.

Karakter Ucu yang kerap dijadikan sebagai sudut pandang cerita tak diberi dialog sama sekali sampai satu adegan dimana karakternya mengalami titik balik. Tentu ini semua disengaja sebagai bentuk visualisasi dari makna yang ingin disampaikan. Namun pilihan visualisasi ini bukannya tanpa efek samping. Banyak sekali momen-momen yang seharusnya mulai mampu menjerat emosi penonton, langsung disudahi. Dugaan saya, ini disengaja untuk menghindari dramatisasi yang terlalu mendayu-dayu (baca: tearjerker). Bagi penonton yang terbiasa dan mengenali tipikal film arthouse, tentu ini sama sekali tak menjadi masalah. Sebaliknya, bagi penonton umum, ini menjadikan Athirah sebagai drama yang serba tanggung dan gagal mencapai titik-titik emosi yang diharapkan. Padahal sebenarnya bisa saja emosi-emosi terdalamnya dibiarkan mencengkeram penonton tanpa terkesan berlebihan bak sinetron. Riri dan tim rupanya lebih memilih untuk mencoba pendekatan yang lebih idealis. Tak salah dan menurut saya masih sah-sah saja, tapi tentu akhirnya menjadi segmented. Tak salah jika ketika film berakhir, banyak penonton yang berceletuk, “lho sudah? Gitu aja?”, karena ia memang tak punya klimaks yang benar-benar terasa secara ‘rasa’, meski secara naskah bisa ditemukan oleh yang benar-benar paham proses penulisan naskah.

Menghidupkan karakter utama, Cut Mini bertransformasi menjadi sosok Athirah dengan berbagai perkembangan emosi yang paling berarti. Segalanya mampu ia tampilkan lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh dengan jelas tanpa terkesan overacting. Bahkan titik-titik paling emosi yang hampir tercapai di banyak kesempatan, setidaknya masih bisa dirasakan lewat akting gemilangnya. Sementara Christoffer Nelwan yang memerankan sosok Ucu remaja mampu mengimbangi performa Cut Mini, juga mostly lewat ekspresi wajah (yang meski kompleksitasnya masih di bawah karakter Athirah) ketimbang dialog. Nino Prabowo sebagai Ucu dewasa mampu melanjutkan karakter yang dimainkan Nelwan dengan transformasi yang mulus. Performa debut dari seniman Sulawesi Selatan, Arman Dewarti lebih dari cukup dalam menghidupkan karakter Puang Ajji. Jajang C. Noer sebagai ibunda Athirah, seperti biasa memikat meski porsinya juga tergolong terbatas. Indah Permatasari sebagai Ida remaja tampil memikat lewat kemisteriusan sosoknya. Tika Bravani yang memerankan versi dewasa dari Ida juga tak kalah menariknya, meski harus diakui masih terlalu ceplas-ceplos untuk memerankan karakternya.

Sinematografi Yadi Sugandi dan editing W Ichwandiardono menjadi teknis yang paling menjadi highlight di Athirah. Tak hanya berhasil memvisualisasikan kisah yang memang lebih banyak lewat bahasa gambar dengan efektif dan pergerakan kamera yang sinematis, tapi juga stock-stock insert yang mengeksplorasi budaya setempat (Makassar) secara maksimal tanpa terkesan dipaksakan masuk. Editing Ichwandiardono pun mampu menyusun kedinamisan bercerita Riri-Salman dengan nyaman untuk diikuti tanpa kesan terlalu lambat. Memangkas cukup banyak potensi-potensi emosi yang ada, tapi tentu itu merupakan pilihan visual dari Riri. Desain produksi Eros Eflin, termasuk perancang busana Chitra Subiyakto dan penata rias Jerry Octavianus, memberi nilai tambah keindahan visual Athirah. Musik gubahan Juang Manyala pun menjadi salah satu elemen yang luar biasa dari produksi Athirah. Iringan musik-musik bernuansa etnik mengiringi sekaligus mengisi emosi-emosi banyak adegan. Sayang musik seringkali dipangkas dengan fade out yang memberikan kesan tidak utuh.

Dibandingkan berbagai biopic yang ditawarkan beberapa tahun belakangan maupun film-film bertemakan poligami di ranah perfilman Indonesia, Athirah tentu memberikan kesegaran warna tersendiri. Terutama lewat kemasan storytelling yang mengedepankan visual ketimbang verbal. Durasi yang hanya sekitar satu setengah jam berlalu dengan tanpa terasa, bahkan mungkin terasa terlalu cepat jika Anda hanya melibatkan ‘rasa’. Namun ketika dipikir-pikir lagi, nyatanya ia sudah cukup mencapai klimaks, titik balik, dan konklusi yang ingin dituju. Dalam gaya storytelling yang tergolong masih jarang itulah Athirah bisa dikatakan pencapaian visual yang cukup penting di ranah perfilman Indonesia tahun ini. Malah, salah satu film Indonesia terbaik tahun 2016 ini. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates