Wednesday, August 31, 2016

The Jose Flash Review
Train to Busan [부산행]

Zombie adalah salah satu sub-genre horor yang sejarahnya sudah cukup panjang. Tak hanya di Hollywood dan Eropa, tapi juga Asia bahkan Afrika yang menyumbangkan Last Ones Out tahun 2015 lalu. Indonesia tahun lalu juga punya ‘start-up’ lewat Kampung Zombie setelah sebelumnya ada beberapa segmen dari omnibus Takut: Face of Fears (2009) dan Fisfic Vol.1 (2011). Sebagai salah satu industri film besar di Asia, Korea Selatan juga pernah membuat beberapa judul film zombie, seperti A Monstrous Corpse (1981), Zombie School (2014), dan segmen I Saw You di omnibus Mad Sad Bad (2014). Tahun 2016 ini giliran sutradara/penulis naskah Sang-ho Yeon mencoba kembali menghadirkan sub-genre zombie. Ini merupakan debutnya menggarap live-action feature setelah selama ini dikenal sebagai sineas animated feature dewasa yang sarat dengan tema-tema sosial maupun humanity, seperti The King of Pigs (2011) yang menjadi film animasi Korea Selatan pertama yang diundang di Cannes Film Festival dan The Fake (2013) yang world premiere di Toronto International Film Festival serta memenangkan kategori Best Animated Feature Film di Sitges Film Festival. Tak hanya film live action panjang bertajuk Train to Busan (TtB), tapi juga sebuah prekuel berformat animasi bertajuk Seoul Station yang dirilis sekitar sebulan setelah TtB di Korea Selatan. TtB sendiri mencetak pendapatan fantastis. US$ 80.2 juta dari peredaran seluruh dunia dan rekor film Korea Selatan dengan penonton terbanyak, yaitu 10 juta penonton berhasil diraih oleh TtB. Beruntung penonton Indonesia punya kesempatan mengalami TtB di layar bioskop, bahkan di Premium Large Format dan 4DX.

Seok-Woo adalah seorang manajer keuangan di Seoul yang sedang menjalani proses perceraian dengan sang istri. Kesibukan pekerjaan membuatnya berjarak dengan sang putri, Su-an. Saat Su-an sangat merindukan sang ibu dan berniat mengunjunginya di Busan, Seok-Woo berusaha membujuk untuk mengunjungi bersama lain waktu karena dirinya sedang sibuk. Seok-Woo akhirnya luluh dan memilih mengantarkan putrinya naik kereta api cepat KTX menuju Busan. Perjalanan kali ini membuat Su-an bertemu pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak pertama, Sang-hwa dan Seong-kyeong, sepasang saudari lanjut usia; In-gil dan Jong-gil, satu tim baseball SMA, dan seorang kakek gelandangan aneh yang terus-terusan bergumam tentang kematian. Tak lama setelah kereta berangkat, muncul seorang gadis muda dengan perilaku aneh menyerang seorang pramugari. Tak lama kemudian satu per satu penumpang berubah menjadi zombie. Seok-Woo, Su-an, Sang-hwa, Seong-kyeong, dan beberapa penumpang lain yang masih belum terinfeksi terus mengupayakan penyelamatan diri. Apalagi ternyata manusia-manusia di beberapa stasiun ternyata juga sudah terinfeksi.

Speaking of train, Korea Selatan rupanya begitu familiar dengan moda transportasi satu ini sehingga sering menjadi materi utama film. Masih hangat dalam ingatan saya (dan mungkin akan terus bertahan dalam ingatan saya untuk jangka waktu panjang), Snowpiercer (2013), sebuah dystopian Korea dengan aktor-aktris Hollywood tentang kereta api tanpa ujung sebagai last resort for the survivors yang terbagi dalam kelas sosial. Gerbong kereta api yang sempit dimanfaatkan oleh TtB sebagai modal utama menghadirkan horor claustrophobic. Benar saja, modal utama ini termanfaatkan secara maksimal, apalagi dalam menghadirkan ‘petulangan’ dari gerbong ke gerbong lain berisi puluhan zombie agresif yang siap memangsa atau bersembunyi di washroom yang lebih sempit lagi sambil menerka-nerka yang terjadi di balik pintu. Benar-benar rangkaian hide-and-seek yang mendebarkan jantung. Menemukan kelemahan sosok zombie dan trik-trik mendistraksi turut menjadi elemen cerita yang membuat keseluruhan cerita jadi makin seru dan mendebarkan. Konsep sosok zombie yang agresif mengingatkan saya akan World War Z, bahkan ada beberapa adegan yang identik, seperti para zombie yang bertumpuk-tumpuk dan berjatuhan, namun tetap saja berhasil menjadi jump-scare serta thrilling moment yang efektif di banyak kesempatan. Semuanya tanpa menampilkan visual gore secara eksplisit seperti potongan organ tubuh atau muncratan darah.

Seperti beberapa film bertema zombie yang beredar beberapa tahun terakhir, aspek humanity menjadi highlight yang tak kalah pentingnya untuk diangkat. Terutama moral dilema ketika harus memilih merelakan keselamatan beberapa orang demi keselamatan lebih banyak orang dan ketika harus menghabisi orang-orang tersayang yang sudah terinfeksi dan berubah menjadi zombie ganas. TtB pun tak mau kalah menghadirkannya. Bedanya TtB menyajikan porsi yang serba pas untuk semua karakternya, sehingga tak ada kesan tumpang tindih, pun tetap punya efek emosional yang maksimal bagi penonton. Terutama antara karakter utama Seok-Woo dan Su-an serta Sang-hwa dan Seong-kyeong yang paling banyak menyedot simpati penonton. Bahkan simpati untuk Seok-Woo dan Su-an sudah ditanamkan ke benak penonton  sejak awal film lewat relasi serta perkembangan karakter yang solid. Ini menjadi ‘investasi’ penting untuk menghadirkan konsep karma yang konsisten berjalan di banyak momen dan pada hampir semua karakter, termasuk karakter antagonis pendukung, seperti Yong-suk yang praktis membuat penonton geregetan. Konsep yang sebenarnya membuat nasib karakter-karakternya bisa terbaca dengan jelas terutama oleh penonton yang jeli dan punya banyak referensi film sejenis, tapi kepiawaian Yeon membuat tiap momen dramatis terpentingnya punya kekuatan menekan emosi penonton semaksimal mungkin. Presisi porsi serta durasi tiap momen menjadi alasan bagaimana TtB menjadi begitu efektif, baik dalam membuat penontonnya sport jantung, terdiam merenung, sampai brokenhearted.

Mengisi peran utama, Seok-woo, Gong Yoo punya keseimbangan serta perkembangan karakter yang sangat baik dari sosok egois hingga mau bekerja sama dalam upaya bertahan hidup, pun juga sebagai sosok ayah yang rela melakukan apa saja demi keselamatan sang putri. Penonton dengan mudah dibuat muak dan benci padanya, namun juga bisa menarik simpati (serta mungkin juga air mata) di kesempatan yang lain. Aktris cilik Kim Su-an sebagai Su-an pun tak hanya memberikan performa yang mengundang simpati paling besar dari penonton, tapi juga membentuk chemistry sangat kuat dengan Gong Yoo, terutama di adegan klimaks yang sangat emosional itu. Di urutan beriktunya ada Ma Dong-seok sebagai Sang-hwa yang juga dengan mudah dicintai penonton lewat sosok yang nyinyir mengundang tawa, sekaligus berjiwa patriotik tinggi. Kim Eui-sung sebagai antagonis yang super-egois dan oportunis, Yong-suk menjadi highlight yang berhasil ‘menggelitik’ emosi penonton di tiap kemunculannya. Sementara pemeran pendukung lain, seperti Jung Yu-mi sebagai Seong-kyeong, Choi Woo-shik sebagai Young-guk, Ahn So-hee sebagai Jin-hee, Choi Gwi-hwa sebagai si pria gelandangan misterius, serta Ye Soo-jung dan Park Myung-sin sebagai saudari lansia In-gil dan Jong-gil, meski porsinya tak sebanyak serta tak mengundang emosi sebesar karakter-karakter utama lainnya, tetap saja bisa dengan mudah diingat penonton bahkan mungkin untuk jangka waktu yang lama setelah film berakhir.

Teknis TtB serba mendukung semua nuansa maupun emosi yang ingin ditampilkan. Mulai sinematografi Lee Hyung-deok dengan aspect ratio 1.85:1 yang memungkinkan fokus penonton lebih terarah terutama karena konsep horor claustrophobic serta dalam menghadirkan adegan-adegan jump-scare. Editing serba presisi dari Yang Jin-mo membuat tiap momen dan emosi yang ingin dibangun benar-benar efektif. Dinamis sehingga menimbulkan kesan mencekam untuk adegan kejar-kejaran dan melunak untuk adegan-adegan dramatis yang ‘menguras’ hati. Pendukung terpenting lainnya adalah score dari Jang Young-gyu yang ‘menyayat-nyayat’, both in thrilling and emotional moments. Visual effect dan make-up termasuk tergarap baik meski tak sampai menjadi signatural ataupun breakthrough. Bukan sebagai kekuatan utama, tapi tetap menjadi pendukung konsep besar yang sangat efektif.


Kecuali tambahan elemen horror claustrophobic di gerbong kereta api, formula-formula lain yang dimasukkan Yeon ke dalam TtB mungkin tergolong generik di sub-genre zombie, tapi ia berhasil memadukan kesemuanya dengan konsep besar yang serba solid dan eksekusi dengan craftsmanship tinggi sehingga kesemuanya berhasil ‘menguras’ emosi penonton semaksimal mungkin. Saya tak akan heran jika judul TtB nantinya akan sering disebut di berbagai daftar film zombie maupun daftar film Korea Selatan penting sepanjang sejarah sinema.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates