Friday, August 12, 2016

The Jose Flash Review
Solace

Se7en (1995) memang menjadi semacam milestone untuk genre serial killer investigation thriller. Tak hanya materi naskah yang memang bagus, kepiawaian sutradara David Fincher dalam memvisualisasikannya pun menjadi faktor terpenting sehingga menjadi sekuat dan se-klasik itu. Ide untuk membuat sekuelnya pun sempat muncul setelah New Line Cinema (anak perusahaan dari Warner Bros.) selaku studio memilih sebuah naskah karya Sean Bailey dan Ted Griffin (Ocean’s Eleven versi 2001 dan Matchstick Men) ditulis ulang dengan judul Ei8ht dan kembalinya karakter Detektif William Somerset. Sayang akhirnya batal karena Fincher tak menyukai ide cerita dari naskah tersebut. Warner Bros. akhirnya memilih untuk tetap memproduksi naskah ini sebagai film yang berdiri sendiri dengan sutradara Brazil, Afonso Poyart (Two Rabbits – 2012) dan aktor Anthony Hopkins. Setelah berhasil diselesaikan pada 2013, jalan film bertajuk Solace ini lagi-lagi sempat mengalami jalan buntu untuk peredarannya. Ia masih harus tersimpan selama hampir dua tahun di ‘bank’ Warner Bros. hingga akhirnya hak distribusi dioper ke Relativity Media yang akhir 2015 lalu mengalami kebangkrutan. Sementara rilis di negara-negara lain terlebih dahulu, Solace baru rilis di negara asalnya, Amerika Serikat, 2 September 2016 nanti. Indonesia termasuk salah satu negara yang mendapatkan jadwal rilis lebih awal.

Agen FBI Joe Merriwether dan Katherine Cowles mengalami jalan buntu ketika harus mengungkap serangkaian kasus pembunuhan dengan modus identik. Mereka menduga pelakunya adalah orang yang sama. Joe meminta bantuan pada kolega lamanya, Dokter John Clancy yang punya intuisi untuk melihat masa lalu sekaligus masa depan seseorang hanya dengan menyentuhnya. John yang sudah dua tahun mengisolasi diri dari dunia luar sejak kematian sang putri karena leukemia, awalnya menolak untuk membantu. Namun ketertarikan membuatnya setuju untuk membantu. John menemukan lebih banyak persamaan dari para korban yang belum disadari FBI sebelumnya. Siapa sangka sang pelaku sebenarnya sudah menyiapkan perangkap berbahaya untuk mereka semua.

Secara premise dan susunan plot, Solace sebenarnya identik dengan Se7en. Bahkan elemen-elemen pendukungnya pun bak comot sana-sini dari berbagai film thriller invetigasi. Misalnya saja, intuisi bisa melihat masa lalu dan masa depan untuk membantu penyelidikan. Sah-sah saja sebenarnya selama masih bisa bikin penonton penasaran. Di awal Solace mungkin masih bisa bikin saya penasaran. Sayangnya setelah satu per satu petunjuk ditemkukan, plot seperti kehilangan arah dan membuat saya tak lagi penasaran apa yang bakal terjadi selanjutnya (baca: revealing moment, klimaks, dan konklusi-nya). Faktor utamanya adalah kegagalan naskah untuk menyatukan elemen-elemen yang dimiliki menjadi kesatuan yang solid dan bold. Ditambah pengarahan adegan dari Poyart yang jangankan memberikan style khas yang unik seperti Fincher, menjaga pace thriller-nya menjadi ‘gripping’ saja masih belum. Banyak momen yang akhirnya jatuh menjadi biasa saja. Padahal sebenarnya Solace membahas konsep moralitas tentang hidup dan mati yang lebih besar serta menarik ketimbang sekedar thriller investigatif biasa. Konsep ini tersampaikan sih, tapi tetap saja terasa masih mentah.

Naskah yang masih jauh dari kesan solid akhirnya mempengaruhi pula performa aktor-aktor utama. Seperti misalnya Anthony Hopkins sebagai Dokter John Clancy yang sebenarnya tampil penuh kharisma seperti biasa, jadi terasa tanggung dan kurang memorable di mata saya. Padahal ia mencoba untuk menjalin chemistry dengan karakter Joe Merriwether yang diperankan Jeffrey Dean Morgan dan Katherine Cowles yang diperankan Abbie Cornish. Sayang koneksi antar karakter ini masih terasa ‘canggung’ dan kurang kuat di layar. Begitu pula penampilan Morgan dan Cornish yang sebenarnya tak buruk dan terlihat mencoba memberikan performa maksimal, tapi ternyata belum cukup untuk menarik simpati penonton. Colin Farrell yang memerankan karakter antagonis sebenarnya punya dilema moral yang menarik. Lagi-lagi faktor naskah yang membuat motif mendalam ini hanya tersampaikan secara verbal, tak sampai ‘mengusik’ benak maupun emosi saya. Screen presence dan pace yang membuat upaya Farrell terkesan sia-sia.

Secara teknis, Solace menawarkan beberapa visualisasi menarik, terutama penglihatan John yang melibatkan dramatic slow motion, one shot dengan kamera yang mengikuti, serta multiplied character sequence. Memang tak benar-benar baru, tapi bagi saya tetap saja menarik untuk dicatat. Editing Lucas Gonzaga yang sudah bekerja sama dengan Poyart sejak Two Rabbits dan film selanjutnya, biografi José Aldo, juara UFC kelas bulu, Mais Forte que o Mundo: A História de José Aldo, mungkin tak ada yang salah karena permasalahan pace sebenarnya berasal dari pengarahan Poyart sendiri. Sementara scoring dari BT mungkin tak sampai jadi sesuatu yang memorable, tapi terdengar cukup unik dan masih mendukung adegan pada level ‘secukupnya’.

Jika Anda termasuk penggemar thriller investigatif, Solace masih bisa jadi pilihan tontonan yang menarik meski punya elemen-elemen yang tentu tak unik lagi. Namun jika juga mengharapkan jalinan cerita yang solid dan bikin penasaran atau momen-momen thriller yang gripping, rasanya Anda akan agak kecewa. So, just enjoy the plotline although you’ve known its flaws.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates