Sunday, August 28, 2016

The Jose Flash Review
The Secret Life of Pets

Illumination Entertainment di bawah Universal Studios semakin percaya diri memproduksi franchise-franchise baru setelah kesuksesan luar biasa franchise Despicable Me (DM) dan spin-off-nya, Minions yang sukses melewati angka US$ 1 milyar. Salah satunya adalah The Secret Life of Pets (TSLoP) yang digarap oleh Chris Renaud (DM 1-2 dan The Lorax). Masih dengan tim yang tak jauh beda dari produksi DM, seperti tim penulis naskah terdiri dari Cinco Paul, Ken Daurio, dan Brian Lynch, TSLoP sudah berhasil menarik perhatian berkat desain karakter-karakter yang menggemaskan begitu trailernya dirilis. Tak heran jika TSLoP lantas berhasil membukukan US$ 724.4 juta di seluruh dunia sampai tulisan ini dibuat dan akan terus bertambah mengingat masih ada negara-negara yang masih belum memutar. Tentu rencana sekuel segera diumumkan dan kedigdayaan Illumination Entertainment makin kokoh bersaing dengan Walt Disney, Pixar, DreamWorks, maupun BlueSky.

Seekor anjing terrier bernama Max hidup tentram bersama majikannya, Katie  yang tinggal di sebuah apartemen. Ketika Katie meninggalkan apartemen, Max menjalin hubungan dengan hewan-hewan peliharaan di kompleksnya, seperti kucing tabby yang pemalas dan tidak pedulian, Chloe; anjing pug, Mel; dachshund, Buddy; anjing Pomeranian, Gidget yang naksir Max, serta burung budgerigar, Sweetpea. Kehidupan tentram Max terancam ketika Katie membawa pulang anjing shaggy berbadan raksasa bernama Duke. Apalagi Katie ternyata lebih perhatian kepada Duke dan Duke sendiri menunjukkan sikap arogan terhadap Max. Kebencian membuat keduanya saling mengatur siasat untuk menyingkirkan yang lain hingga sama-sama terdampar di dunia underground dimana seekor kelinci bernama Snowball menjadi semacam ketua gang “The Flushed Pets”- geng binatang-binatang peliharaan yang dibuang oleh manusia. Tujuan mereka adalah membalas dendam kepada manusia. Awalnya Duke dan Max berpura-pura mendukung mereka untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya terbongkar dan mereka berdua menjadi buruan para “The Flushed Pets”. Belum lagi tim Animal Control yang memburu kedua kubu ini.

Di sisi lain, Gidget mencoba mencari keberadaan pujaan hatinya dengan mengumpulkan timnya sendiri; para hewan peliharaan tetangga, ditambah Tiberius, si burung elang yang konon punya penglihatan tajam; dan anjing basset hound tua dan pincang, Pops yang punya kenalan di seluruh penjuru New York. Petualangan Max dan Duke serta tim Gidget dari Manhattan sampai Brooklyn pun dimulai.

Dari premise, jelas-jelas TSLoP mencoba menggunakan (jika tidak ingin menyebut meng-‘copy-paste’) formula sukses film animasi klasik, Toy Story. Max adalah Woody sementara Duke adalah Buzz Lightyear. Belum lagi tim penyelamat yang diketuai Gidget juga ada di Toy Story. Tak masalah sebenarnya jika masih berhasil membuat karakter-karakternya dicintai penonton dan punya momen-momen memorable. Sayangnya, TSLoP ternyata lebih fokus untuk membuat karakter-karakternya menggemaskan secara fisik dan attitude-attitude yang super slengean (bahkan seringkali kelewat kasar dan ‘jahat’), baik dari karakter protagonis seperti Max dan Duke, apalagi karakter villain seperti Snowball. Fisik boleh saja imut-imut dan menggemaskan, tapi tunggu sampai ia mulai membuka mulut. Seketika image-nya di mata Anda berubah bak anggota gangster seperti Tre dari Boyz n the Hood (1991 – karakter Snowball dan Ricky memang sebuah homage dari film ini). Memang tak sampai ada kata-kata explicit keluar dari mulut para karakter, tapi intonasi bicara dan penggunaan beberapa kata umpatan ringan menurut saya agak berlebihan untuk penonton cilik. Sementara bagi para penonton remaja dan dewasa, ini bisa menjadi materi humor yang menggelitik, terutama faktor kekontrasan antara fisik dan attitude. Jika Anda mau mencermati lebih jauh, karakter-karakter di TSLoP memang jelas-jelas punya referensi ke karakter-karakter dari film-film populer lain, seperti misalnya ketika melihat karakter Pops, kita bisa dengan mudah mengingat sosok Robert DeNiro atau Marlon Brando sebagai The Godfather.

Untuk menggerakkan plot petualangannya, TSLoP lebih banyak mengandalkan formula keberuntungan, kebetulan, dan slapstick, seperti halnya di Baby’s Day Out. Selebihnya, TSLoP mengabaikan perkembangan maupun pendalaman karakter sehingga baik secara personal maupun relasi antar karakter (seperti Max dan Duke) belum mampu mengikat penonton secara emosi. Perkembangan plot pun masih jauh dari ke-solid-an Toy Story dalam menyampaikan ceritanya. Bahkan mungkin bisa dibilang perkembangan plotnya hanya sekedar untuk memancing humor semata yang untungnya cukup banyak yang berhasil bikin tertawa. Bagi saya pribadi, Chloe dengan celetukan-celetukan witty a la karakter-karakter Melissa McCarthy adalah joke material yang paling ampuh.

Elemen menarik lain dari TSLoP sebenarnya adalah sebuah tribute sekaligus kritik bagi manusia yang sering mengaku pecinta hewan tapi seringkali mengabaikan mereka. Sayangnya kedua elemen menarik ini terkesan hanya bonus (jika tak mau disebut tempelan semata) di beberapa bagian. Keduanya gagal menyatu dengan jalinan plot secara mulus. Kritik terasa terlalu sentimental dan meledak-ledak terutama dari karakter geng “The Flushed Pets”, tapi bagi saya berhasil menyentil. Untungnya tribute kepada para pecinta hewan di ending berhasil menjadi bonus yang terasa hangat dan manis.

Dari pemilihan voice cast, TSLoP terlihat tak begitu mementingkan popularitas selebriti sebagai penarik massa. Dengan naskah yang ada, tak ada pula voice talent yang benar-benar signatural. Misalnya Louis C.K. dan Eric Stonestreet sebagai Max dan Duke yang tidak terlalu populer secara global. Yang paling menonjol mungkin Kevin Hart sebagai Snowball yang super slengean bak gangsta, Jenny Slate sebagai Gidget yang genit manja, Albert Brooks sebagai Tiberius yang gagah, Dana Carvey sebagai Pops yang wise dan berwibawa, serta Lake Bell sebagai Chloe yang ‘nyinyir’ santai.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kekuatan utama TSLoP adalah desain karakter, terutama secara fisik, yang memang adorable dan  loveable, bahkan untuk karakter-karakter villain seperi Snowball dan Tattoo sekalipun. Desain produksi juga berhasil memvisualisasikan lanskap New York dengan sangat memanjakan mata. Tentu ini tak lepas dari pergerakan kamera yang memaksimalkan eksplorasi tiap sudut desain produksinya sekaligus mengeksploitasi potensi gimmick pop-out 3D. Dengan aspect ratio 1.85:1, TSLoP memang terasa maksimal di layar IMAX, tapi di layar biasa pun visualnya masih memanjakan mata. Tak ada yang benar-benar istimewa dari segi desain suara selain pas sesuai dengan kebutuhan adegan. Scoring Alexandre Desplat menjadi salah satu elemen favorit saya di TSLoP, terutama karena tune New Yorker jazz yang membuat film menjadi lebih berkelas dan mengalun elegan tanpa meninggalkan kesan keseruan petualangan. Pemilihan soundtrack pun termasuk menarik meski tak sampai menimbulkan signatural tertentu. Mulai Welcome to New York dari Taylor Swift sebagai opening, Stayin’ Alive versi N-Trance, You’re My Best Friend dari Queen, sampai Lovely Day dari Bill Withers, serta tak ketinggalan We Go Together dari The Sausage Factory Singers yang menggelitik.

Dengan template utama dari Toy Story, sebenarnya tak banyak yang ditawarkan TSLoP selain sekedar homage berbagai materi dari film-film populer, guyonan-guyonan hasil dari kebetulan demi kebetulan yang digunakan sebagai plot device petualangannya, dan desain karakter-karakter yang menggemaskan. Selebihnya, ia tak lebih dari mediocre superlight entertainment yang mungkin akan mudah dilupakan jika tak ada follow-up berkelanjutan. Minions juga sajian super ringan minim isi, tapi konsep jokes-nya secara keseluruhan masih lebih memorable ketimbang TSLoP. Semoga saja ada perbaikan dan pembenahan sehingga ia bisa menjadi franchise yang lebih kuat ke depannya. Sambil menunggu, tak ada salahnya menghibur diri dengan sajian Illumination Entertainment kali ini. Apalagi jika Anda termasuk yang mengaku pecinta hewan peliharaan. Atau jika Anda penggemar berat minion, opening animated short Mower Minions bisa jadi obat rindu yang cukup mujarab.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates