Friday, August 19, 2016

The Jose Flash Review
The Nice Guys

Dikenal sebagai penulis naskah buddy-cop yang kemudian berkembang menjadi salah satu all-time franchise, Lethal Weapon, Shane Black punya deretan filmografi yang impressive baik sebagai penulis naskah maupun sutradara. The Last Boy Scout (1991), Last Action Hero (1993), The Long Kiss Goodnight (1996), hingga yang mendapatkan rekoknisi paling tinggi, Kiss Kiss Bang Bang (2005), dan dipercaya menggarap Iron Man 3 serta konon kabarnya upcoming, The Predator yang direncanakan rilis 2018. Ia punya ciri khas baik dari naskah dengan bubuhan komentar pribadi maupun signatural-signatural lainnya di layar. Menilik dari karya-karya terbaiknya, Black punya kekuatan lebih di action-comedy dengan dua karakter utama (baca: buddy-cop). Untuk itu ia kembali menyusun sebuah naskah yang sudah ia garap bersama Anthony Bagarozzi (the upcoming Death Note) sejak 2001  tapi ternyata tidak menarik minat siapapun untuk mewujudkannya. Sempat pula naskah ini dirombak untuk menjadi serial TV, tapi akhirnya di tahun 2014 menemukan titik terang produksi. Dalam sebuah wawancara, Black mengakui peran duo aktor utama; Russell Crowe dan Ryan Gosling yang membuat Joel Silver dan WarnerBros. tertarik memproduksi film bertajuk The Nice Guys (TNG) ini.

Seorang tukang pukul yang lebih sering menerima job untuk menghajar penggoda gadis-gadis remaja di bawah umur, Jackson Healy, menerima job dari seorang gadis muda bernama Amelia untuk menghajar pria bernama Holland March dan memperingatkan untuk berhenti mencari dirinya. Holland March ternyata seorang detektif swasta berlisensi yang diutus oleh seorang nenek bernama Mrs. Glenn untuk mencari keponakannya, bintang porno terkenal, Misty Mountains yang ditemukan tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas beberapa hari sebelumnya. Mrs. Glenn yakin Misty belum meninggal karena ia melihat sendiri keponakannya muncul di rumahnya dan Amelia adalah petunjuk penting. Setelah diserang oleh dua pria di rumahnya yang mencari keberadaan Amelia, Healy memutuskan untuk bekerja sama dengan March untuk mencari Amelia sebelum dua pria yang menyerangnya. Dibantu Holly, putri March yang sangat tertarik dengan pekerjaan sang ayah tapi membenci sosoknya, pencarian mereka akan Amelia berujung pada kaitan kematian Misty Mountains, sutradara film amatir eksperimental sekaligus pacar Amelia, Dean, dan produser film porno, Sid Shattack. Tentu kesemuanya membawa mereka ke sebuah konspirasi yang lebih serius dan membahayakan.

Mengambil setting 1977, Black memang sengaja membawa TNG ke atmosfer psikadelik yang penuh warna dan groovy. Apalagi cerita detektif semacam ini memang populer di era tersebut. Konsep ini jelas membawa nostalgia film-film bertema serupa di eranya. Namun yang patut mendapatkan highlight lebih besar adalah ini film Black dengan berbagai kelebihan serta signatural-nya. Terutama kepiawaian-nya dalam menyelipkan joke-joke hilarious lewat penulisan karakter-karakter (utama)-nya. Ditambah lagi dengan kepiawaian Black menyusun plot mulai adegan pembuka yang ‘eye-catchy’ yet inviting curiosity, kemudian perkenalan karakter utama, Healy dan March dengan sudut pandang masing-masing serta identikal keduanya, pengembangan clue demi clue yang terkuak, hingga aksi penyelesaian yang seru sekaligus menggelitik. Keseluruhan menghasilkan tontonan yang bikin penasaran untuk diikuti dan sangat menghibur dengan berbagai joke-joke yang lebih banyak bertumpu pada tingkah slapstick karakter (terutama March) dan kebetulan demi kebetulan dalam menggerakkan plot. Bagi penonton yang terlampau serius mungkin akan menganggap ini something stupid atau ‘maksa’, tapi sebenarnya ini disengaja sebagai konsepnya yang memang black comedy.  Sebaliknya, penonton yang ingin bersenang-senang dan paham guyonannya akan menemukan kebetulan demi kebetulan ini sebagai hiburan yang menggelitik. Juga berbagai sindiran sosial sesuai setting-nya, seperti tentang gaya hidup remaja dan demonstrasi massa, serta guyonan-guyonan bereferensi pada pop culture sesuai eranya, seperti serial The Waltons, The Comedy Store, dan Baryshnikov. Tak ketinggalan signatural Black, seperti penculikan sebagai plot device dan adegan di momen Natal.

Menjadi daya tarik terbesar TNG, duet Russell Crowe dan Ryan Gosling mampu membangun chemistry love-hate yang groovy dan sparkling. Sebagai masing-masing karakter, keduanya pun mampu menyeimbangkan antara keseriusan dan comedic-character dengan amat baik. Terutama sekali Gosling yang ternyata lucu juga untuk peran agak pinpinbo (pintar-pintar bodoh). Sementara Crowe seperti biasa, menampilkan kharisma kuat dan toughness tanpa sedikitpun meninggalkan kesan fun. Jangan lupakan penampilan aktris muda, Angourie Rice sebagai Holly yang di setiap kemunculannya selalu berhasil mencuri perhatian, terutama ketika beradu akting dengan Gosling. Kim Basinger dengan porsinya yang tak banyak (mungkin juga disengaja hanya semacam bentuk homage) masih mampu punya daya tarik untuk membuat penonton menunggu kemunculannya. Margaret Qualley sebagai Amelia tampil menarik meski masih belum menunjukkan sesuatu yang cukup berkesan. Notable performances di balik porsi yang tak begitu banyak lainnya, ada Matt Bomer sebagai pembunuh bayaran dingin yang dandanannya mengingatkan saya akan Tom Cruise muda, Yaya DaCosta sebagai Tally yang mewakili simbol cewek kulit hitam seksi sesuai eranya, Lois Smith sebagai Mrs. Glenn, dan putra Val Kilmer, Jack Kilmer, sebagai Chet. Buat penggemar cewek yang menggoda, penampilan singkat Murielle Telio sebagai Misty Mountains bisa jadi bonus tersendiri.

Menggunakan setting 70-an, tentu desain produksi Richard Bridgland punya peran yang paling penting. Ditambah sinematografi Philippe Rousselot yang mem-framing segala elemen dengan angle-angle yang mendukung keseruan banyak adegan dan sinematis. Editing Joel Negron juga berhasil menyusun adegan-adegannya menjadi plot investigatif yang bikin penasaran tanpa kesan membingungkan, pun menjelaskan tiap karakter secara serba seimbang. Scoring David Buckley dan John Ottman mungkin memang tak sampai memorable ataupun hummable, tapi mendukung atmosfer witty dengan cukup maksimal. Terakhir, pemilihan soundtrack-soundtrack populer yang meski beberapa out of time, sangat mewakili semangat psikadelik sesuai energi filmnya sendiri. Mulai Papa was a Rollin’ Stone dari The Temptations, Rock and Roll All Nite dari KISS, Boogie Wonderland dan September dari Earth Wind & Fire, Jive Talkin’ dari The Bee Gees, hingga Get Down on It dari Kool & The Gang.

Memadukan black comedy, buddy cop, investigatif, father-and-daughter, political conspiracy, porn industry, dan atmosfer 70’s groovy psychadelic, TNG menjadi sajian hiburan yang tak hanya sangat menghibur, tapi juga dirangkai dari berbagai elemen secara rapi. Bahkan mungkin duet Healy-March nantinya dikembangkan menjadi franchise tersendiri, karena menurut saya punya perpaduan karakteristik yang menarik. Siapa tau, bukan?


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates