Thursday, August 4, 2016

The Jose Flash Review
Jason Bourne

Meski merupakan adaptasi bebas berdasarkan karakter dan premise yang ditulis oleh Almarhum Robert Ludlum, Jason Bourne menjelma menjadi franchise yang sangat berharga bagi Universal Pictures. Bagaimana tidak, ketiga installment pertama sesuai judul asli novel yang ditulis oleh Ludlum total mengumpulkan lebih dari US$ 945 juta. Sama seperti novelnya yang masih terus dilanjutkan dengan penulis lain, Universal Pictures tak mau semudah itu menyudahi franchise layar lebar ini. Sayang, antusiasme ini tak diikuti Paul Greengrass dan Matt Damon yang belum tertarik untuk segera menggarap installment keempat setelah The Bourne Ultimatum (TBU, 2007). Universal tak kehabisan akal. Dibangunlah sebuah universe yang lebih luas demi memperpanjang ‘usia’ franchise. The Bourne Legacy (TBL, 2012) dengan aktor utama Jeremy Renner sebagai karakter yang memegang tongkat estafet Jason Bourne, Aaron Cross dan disutradarai Tony Gilroy. Hasilnya tak buruk sebenarnya, dengan total penghasilan lebih dari US$ 276 juta.

Sesaat kemudian tiba-tiba Damon dan Greengrass menyatakan tertarik untuk menggarap installment Bourne selanjutnya. Dengan naskah yang disusun oleh Greengrass sendiri bersama sang editor, Christopher Rouse. TBL sendiri yang sempat direncanakan dibuatkan sekuel dengan sutradara Justin Lin, terpaksa mengalah sampai 2018. Dengan mengusung nama Damon dan Greengrass, tentu Universal Pictures berharap fans seri aslinya kembali antusias dengan keseluruhan franchise yang mereka bangun.

Beberapa tahun setelah operasi Brackbriar terbongkar, Jason Bourne memilih untuk hidup low profile sebagai petarung bayaran di ring bawah tanah. Tiba-tiba Nicky Parsons mendatanginya dan mengabari bahwa ia baru saja menemukan dokumen rahasia CIA tentang keterlibatan sang ayah, Richard Webb dalam program Treadstone. Direktur CIA, Robert Dewey, pun tak tinggal diam. Dibantu kepala divisi operasi cyber, Heather Lee, mereka memburu Bourne dan Nicky. Berbekal data-data yang dibawa Nicky, Bourne pun kembali melacak kepingan masa lalunya yang hilang. Ternyata kembalinya Bourne membuat rahasia operasi rahasia CIA berikutnya yang melibatkan CEO media sosial Deep Dream, Aaron Kalloor, terancam terbongkar. Maka Bourne dan Dewey saling memburu demi kepentingan masing-masing.

Jika Anda mengikuti ketiga film pertamanya, Anda pasti paham bagaimana sebenarnya plotline Jason Bourne tak perlu lagi di-panjang-panjang-kan jika hanya mengutak-atik masa lalunya. Berbeda dengan franchise mata-mata lain seperti James Bond yang memang fokus ‘maju ke depan’, dalam artian selalu ada kasus baru untuk dipecahkan. Jika Bourne mau mengembangkan ke arah yang sama (atau jika mau melibatkan flashback masa lalu sebagai setup cerita, boleh lah sedikit-sedikit), menurut saya, adalah opsi yang lebih baik tanpa terkesan ‘dipaksakan’. Sayangnya, Jason Bourne (JB) memilih untuk masih bermain-main dengan puzzle masa lalu karakter Jason Bourne. Memang ada sih elemen ‘ke depan’, tapi ternyata hanyalah sebagai dampak dari konflik semata, bukan fokus maupun porsi terutama. Apalagi ternyata permainan ‘masa lalu Jason Bourne’ ini terkesan benar-benar baru dan mengabaikan hasil-hasil discovering dari ketiga seri sebelumnya. Bahkan di sini tidak ada kejadian di trilogi pertama yang disinggung maupun ditampilkan sebagai flashback, termasuk karakter-karakter kunci yang seolah tak pernah ada, kecuali hanya nama operasi Brackbriar dan Treadstone. Mungkin ini ditujukan untuk penonton baru yang tidak mengikuti trilogy utama agar masih memahami plotnya, tapi bagi fans lama, ini adalah rangkaian kejanggalan.

Jika mau dianalisis dan diambil kesimpulan, JB hanya menawarkan daur ulang plot dari trilogi utama (terutama The Bourne Supremacy), lengkap dengan adegan-adegan identik bak membentuk template tersendiri. Tak ada perkembangan karakter yang berarti, termasuk untuk karakter Jason Bourne sendiri. Maka jangan mengharapkan akan menemukan fakta baru atau mengenal lebih dalam tentang karakter Jason Bourne di sini. It’s a pure hide-and-seek dengan bumbu adu kecerdasan action thriller khas trilogy utama yang coba ditampilkan kembali untuk me-revive signature-signature-nya atau sekedar menawarkan nostalgia bagi fans yang sudah terlanjur ‘cocok’ dengan style-style khasnya. Masih menghibur, meski tak seintens, se-gripping, maupun se-klimaks trilogy utama. Bahkan adegan kejar-kejaran dengan melibatkan kendaraan SWAT di Vegas terkesan ‘kasar’, random, dan less choreographed jika dibandingkan adegan-adegan serupa di seri-seri sebelumnya.

Seperti yang saya bahas sebelumnya, tak ada perkembangan karater berarti termasuk Jason Bourne sendiri, ditampilkan di sini. Maka dari segi akting, Matt Damon juga tak memberikan performa sekuat di trilogy utama. It’s all the same, even in less proportion. Satu aspek yang ‘baru’ mungkin tampilan fisiknya di sini yang terlihat lebih berisi dan kekar dibandingkan di trilogy utama. Highlight yang lebih bersinar justru pada performa Alicia Vikander sebagai Heather Lee. Karakter template seperti Nicky Parsons di installment-installment sebelumnya sih, tapi berkat kharismanya dalam menghidupkan karakter, Heather Lee menjelma menjadi karakter yang menarik, sedikit misterius, dan bikin penasaran.

Tommy Lee Jones sebagai direktur CIA, Robert Dewey, seperti biasa, memberikan kharisma yang memang sesuai dengan karakternya. Tak buruk, tapi juga tak istimewa. He’s just so fit in such role. Vincent Cassel sebagai The Asset juga cukup berhasil menjelma menjadi pembunuh berdarah dingin penuh dendam pribadi. Begitu pula Riz Ahmed sebagai Aaron Kalloor yang punya keseimbangan pas dan jelas dalam menampilkan kekhawatiran sekaligus keberanian mengungkap kebenaran. Terakhir, kembalinya Julia Stiles ternyata tak lebih dari sekedar sebagai penyambung plot sekaligus penghantar ke konflik di seri ini.
Paul Greengrass masih menggunakan pendekatan-pendekatan teknis yang sama untuk JB. Seperti sinematografi Barry Ackroyd dengan shaky dan dynamic camera movement serta editing serba dinamis dari Christopher Rouse untuk menghadirkan thrill-thrill serupa trilogy utama. Begitu pula scoring John Powell dibantu David Buckley, masih identik dan tetap berhasil mengiringi nuansa-nuansa thrilling-nya. Penggunaan Extreme Ways dari Moby yang sudah menjadi theme song wajib di credit dengan remix yang cukup ‘menggigit’, berhasil sekali lagi menutup film dengan vibe asyik. Sound design tergolong just okay, dengan takaran yang serba pas untuk genrenya. Cukup dalam menghadirkan nuansa-nuansa yang hidup, tapi memang tak ada yang benar-benar spesial.


Memang tak boleh mengharapkan banyak dari JB. Jika Anda penonton yang mengikuti sejak film pertama, anggap saja sebagai obat pelepas rindu terutama karena energi dan style visual identik. Rasakan kembali nuansa thrill yang coba dibangun kembali meski plotline-nya bisa dengan mudah Anda baca. Bagi Anda penonton baru yang belum pernah menyaksikan installment-installment sebelumnya atau sudah lupa, welcome to the club. Cicipi saja ‘rasa’ action thriller khasnya. Bila cocok, silakan mencoba nonton trilogy utama yang memang penting untuk mendapatkan ‘the ultimate experience’. Sebaliknya, ya anggap saja sebagai instant entertainment.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates