Thursday, August 4, 2016

The Jose Flash Review
Ice Age: Collision Course

Sejarah membuktikan tak mudah membuat franchise berumur panjang untuk film animasi. Bahkan sekelas dan se-berpengalaman Disney pun kerap merilis sekuel film-film hitsnya direct-to-video, sejak bersama Pixar lah baru ‘berani’ merilis sekuel yang jumlahnya masih belum banyak. Sementara DreamWorks Animation lebih berani dan terbukti berhasil melahirkan banyak franchise besar, seperti Shrek yang punya sampai empat installment, tak termasuk spin-off Puss in Boots (tahun 2019 direncanakan rilis installment kelima), Madagascar tiga installment ditambah satu spin-off, Penguins of Madagascar, Kung Fu Panda tiga installment, dan How to Train Your Dragon dua installment. Siapa sangka setelah diakuisisi oleh 20th Century Fox pada 1997, justru Blue Sky Studios yang menorehkan sejarah melahirkan franchise animasi dengan installment layar lebar terbanyak so far lewat Ice Age (IA). Dengan penghasilan yang terus meroket dari installment ke installment, maka bisa dipastikan usianya semakin panjang, terlepas dari kritik negatif yang sudah sejak lama me-warning betapa ‘melelahkan’-nya franchise ini. Tak terkecuali installment ke-lima, Ice Age: Collision Course (IACC) yang sampai minggu kedua penayangannya di seluruh dunia sudah melewati angka US$ 254 juta. Termasuk melempem dibandingkan installment-installment sebelumnya (di Amerika Utara saja ‘baru’ menyumbangkan US$ 42 juta lebih), tapi tetap saja termasuk menguntungkan, sehingga installment ke-enam pun segera mendapatkan lampu hijau. Mike Thurmeier kembali menduduki bangku sutradara untuk ketiga kalinya, sementara Michael Berg kali ini dibantu Michael J. Wilson dan Yoni Brenner dalam menyusun naskahnya.

Scrat, karakter IA yang selalu tampil sendiri, terpisah dari karakter-karakter sentral lain dan selalu mengejar acorn-nya, kali ini tak sengaja menemukan sebuah piring terbang yang membawanya ke luar angkasa. Kecerobohan Scrat membuat posisi planet-planet porak poranda sekaligus menimbulkan serpihan-serpihan meteor ke bumi. Kesannya sepele, tapi bagi yang tinggal di bumi ini merupakan bencana yang bisa mengancam terjadinya kepunahan. Padahal di bumi Manny dan Ellie sedang was-was menantikan pernikahan putri tunggal mereka, Peaches dengan Julian. Manny kurang sreg dengan sosok Julian, apalagi setelah mendengar kabar keduanya akan pergi merantau meninggalkan mereka berdua setelah menikah. Sementara Diego dan Shira mendambakan anak dalam keluarga, Sid galau karena baru saja diputuskan sang kekasih ketika ia berniat untuk melamar. Problema-problema mereka akhirnya harus dikesampingkan sementara untuk menyelamatkan makhluk hidup di atas bumi dari kepunahan. Sebagai pemandu, muncul kembali Buck yang ternyata punya banyak pengetahuan sekaligus cerdas dalam menganalisis. Dimulailah petualangan mereka hingga menemukan sebuah utopia bak kahyangan bernama Geotopia yang bisa menggagalkan bencana. Namun ternyata masih ada trio dromaeosaurus Gavin, Gertie, dan Roger, yang berniat membalas dendan terhadap Buck dengan menggagalkan rencana Buck.

Kesan ‘kelelahan’ dalam menggali cerita dari franchise ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak installment ketiga, Ice Age: Dawn of the Dinosaurs. Rupa-rupanya karakter-karakter sentral IA tak (atau belum) memiliki aspek yang menjadi daya tarik untuk dikembangkan lebih luas ketimbang sekedar eksploitasi humor semata seperti Scrat dan Sid yang harus diakui selalu menjadi magnet utama. Berbeda, misalnya pada Shrek, yang mengikuti fase-fase kehidupan karakter sentral Shrek yang memang relate dengan siapa saja. IA sebenarnya punya karakter Manny dan Ellie untuk dikembangkan dengan formula serupa. Namun Manny dan Ellie rupanya tak cukup kuat pula sebagai karakter sentral yang signatural, terutama dalam hal sisi komedik yang di franchise animasi manapun menjadi salah satu faktor terpenting. Di IACC pun sebenarnya terlihat upaya untuk mengembangkan karakter keluarga Manny dengan formula ‘fase hidup’, yaitu tentang parenthood setelah sang anak siap untuk membina rumah tangga sendiri beserta kekhawatiran-kekhawatirannya. Sayangnya pada prakteknya, upaya ini tersa kurang kuat selain karena tema yang terlalu umum dan sering diangkat, serta eksekusi yang tergolong biasa, juga harus tumpang tindih dengan sub-plot karakter-karakter lain, termasuk plot utama tentang misi survival. Kesemuanya berebut porsi sehingga keseluruhan film terasa begitu penuh dijejali berbagai kepentingan yang sebenarnya penonton pun tak begitu peduli.

Kemudian kualitas dan intensitas komedi lah yang menjadi 'tulang punggung' dalam menjaga mood penonton agar tetap betah. IACC sebenarnya menginjeksikan cukup banyak (bahkan mungkin di atas rata-rata installment-installment sebelumnya) jenis guyonan yang bisa dipahami (dan dinikmati) berbagai kalangan. Mulai dari jenis slapstick yang dengan mudah membuat tertawa penonton kecil sekalipun, terutama lewat attitude-attitude kekanakan dan agak ‘bodoh’, sampai humor-humor bereferensi pada budaya pop, sarkasme, plesetan, jargon-jargon Amerika kekinian, dan permainan words rhyme yang tentu hanya bisa dipahami oleh sebagian kecil penonton saja (baca: penonton dewasa). Bisa dibilang hampir semua karakter sentral, termasuk duo Crash dan Eddie, dibekali kemampuan bersilat lidah tingkat tinggi untuk mengisi sepanjang durasi film. Menurut saya, dengan porsi dan style humor yang ditawarkan, IACC lebih sering membuat penonton dewasa (yang cukup fasih dengan budaya pop dan isu-isu terkini) tertawa ketimbang penonton anak. Saya patut memberikan kredit tersendiri atas kepiawaian penulis dialog-dialog witty bin menggelitik, meski lama-lama memang terasa overdosed. Satu hal yang sebenarnya menarik adalah pada bagaimana IACC memasukkan serta menjelaskan  edukasi science lewat storytelling yang terkesan ‘mabuk’ dan ngaco.

Voice talent karakter-karakter utama seperti Ray Romano sebagai Manny, Queen Latifah sebagai Ellie, John Leguizamo sebagi Sid, dan Denis Leary sebagai Diego, masih memberikan performa yang sama seperti installment-installment sebelumnya. Pun juga Keke Palmer sebagai Peaches, Adam DeVine sebagai Julian, Wanda Sykes sebagai Granny, bahkan Jennifer Lopez sebagai Shira, tampil biasa saja, tanpa ada sesuatu yang membekas di benak saya. Yang berhasil menarik perhatian saya justru Simon Pegg yang semakin ‘digali’ kemampuannya dalam menghidupkan karakter se-nyentrik Buck. Kemudian diva pop Inggris, Jessie J sebagai Brooke yang mana aksen British-nya begitu mencuri perhatian, diikuti Seann William Scott dan Josh Peck sebagai duo Crash-Eddie yang makin menggelitik. Tak ketinggalan Jesse Tyler Ferguson sebagai Shangri Llama yang tak kalah nyentriknya.

Tak ada perkembangan animasi yang cukup noticeable di IACC. Namun kepiawaian Renato Falcão dalam menata kamera sehingga menjadikan adegan-adegan menjadi terkesan dinamis, patut mendapatkan kredit. Jempol juga layak saya sematkan untuk sound design yang memainkan fasilitas surround dengan variasi yang menarik dan kesan asyik serta seru berhasil dihidupkan sepanjang film. Scoring John Debney masih se-playful installment-installment sebelumnya. Sementara format 3D, seperti installment-installment sebelumnya, menawarkan upgrade pengalaman yang lebih. Tak hanya depth of field yang mempercantik latar-latarnya, tapi juga beberapa kali gimmick pop-out the screen yang disertai trik sinematografi dan editing sehingga mampu membuat saya terhenyak. Mungkin tak secantik maupun semenarik 3D Ice Age: Dawn of the Dinosaurs, tapi tetap saja memberikan value lebih daripada format 2D biasa.


Dibandingkan installment-installment sebelumnya, IACC mungkin terasa punya penceritaan yang paling ngaco dan mabuk, dengan poin-poin menarik yang sayangnya saling tumpang tindih sehingga tak ada yang benar-benar stand out. Bagi Anda yang fasih dengan budaya pop dan jargon-jargon Amerika Serikat, atau paham bahasa Inggris tanpa membaca subtitle, mungkin akan sering dibuat tertawa terbahak-bahak. Di sisi lain, tak salah pula jika penonton cilik jadi lebih sering terdiam melongo karena berusaha mencerna segala elemen yang dijejalkan ketimbang mentertawai tingkah laku slapstick dari beberapa karakter. Masih menghibur, tapi harus diakui punya storytelling ter-lazy dan stray di antara installment lainnya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates