Wednesday, August 31, 2016

The Jose Flash Review
Don't Breathe

Sebelum memulai debut menggarap remake Evil Dead (ED - 2013), nama Fede Alvarez dikenal sebagai sineas film pendek Ataque de Pánico! (Panic Attack! - 2009) yang membuatnya dilirik Ghost House Pictures untuk menggarap remake film klasik Sam Raimi tersebut. Nasib sineas asal Uruguay ini pun berubah seketika. Kesuksesan ED baik secara kualitas maupun angka penonton membuatnya dilirik banyak studio untuk menggarap franchise-franchise besar, bahkan Marvel Studios yang konon menawarinya menggarap salah satu film mereka tapi ditolak mentah-mentah oleh Alvarez karena khawatir tidak punya banyak kontrol kreatif dalam penggarapan. Alvarez justru menggarap film horor berbudget kecil (‘hanya’ US$ 9.9 juta) bertajuk Don’t Breathe (DB). Berikutnya, Alvarez dikabarkan akan menggawangi adaptasi video game Dante’s Inferno. DB melanjutkan kerjasamanya dengan penulis naskah Rodo Sayagues setelah El cojonudo, Panic Attack!, dan Evil Dead, composer Roque Baños, produser Sam Raimi dan Rob Tapert, serta aktris Jane Levy dari ED. Jika kebanyakan trend tema home invasion di genre thriller/horror beberapa tahun belakangan ini lebih sering dari sudut pandang pemilik rumah, maka kali ini Alvarez mencoba membalikkan keadaan, yaitu dari sudut pandang sang home invader dan ancamannya berasal dari pemilik rumah yang ternyata jauh lebih beringas.

Money, Alex, dan Rocky adalah sahabat asal Detroit yang mengadu nasib menjadi penjarah rumah. Berbekal kunci pengamanan yang dicuri dari ayah Alex yang merupakan pemilik sebuah perusahaan home security, mereka sering dengan mudah menjarah rumah-rumah klien ayah Alex. Mereka menerapkan aturan tidak mencuri uang dan hanya benda-benda bernilai di bawah US$ 10.000 untuk menghindari hukuman penjara. Sayangnya benda-benda yang mereka curi dianggap tidak punya nilai bagi sang penadah. Ia menyarankan mereka merampok sebuah rumah di jalan Buena Vista yang ditinggali sendirian oleh seorang tentara veteran tuna netra. Konon setelah memenangkan kasus dimana putrinya menjadi korban tabrak lari beberapa tahun lalu, ia menyimpan ratusan ribu dolar. Bagi Rocky, ini adalah pencurian terakhir untuk membiayai rencana kepindahannya ke California demi hidup yang lebih baik. Rencana pun disusun untuk masuk dan merampok rumah sang veteran tuna netra. Di luar dugaan, sang veteran tuna netra adalah sosok yang sangat brutal dan jauh dari kesan tak berdaya seperti yang mereka duga. Belum lagi rahasia sang veteran yang membawa mereka ke dalam perangkap minim harapan untuk lolos.

Selain memang menarik secara premise dasar yang merupakan sudut pandang kebalikan dari tema home invasion, menggunakan karakter tuna netra sebagai villain punya advantage yang sangat kuat. Memang secara umum kebutaan adalah sebuah ‘kelemahan’ yang menjadi keuntungan bagi ketiga karakter perampok. Namun sebenarnya justru membuat tindakan seseorang menjadi tak terduga dan seringkali membabi-buta. Tentu ketiga karakter perampok harus ekstra hati-hati jika tidak mau nasibnya segera berakhir. Dari konsep itu saja DB punya potensi yang luar biasa untuk menjadi sebuah hide-and-seek thriller yang menggigit. Alvarez dan Baños menuliskan naskah dari kisah sederhana dengan lika-liku yang serba tepat momen, mulai introduction sampai penyikapan rahasia, bahkan konklusi yang beberapa kali membuat saya terus menebak-nebak konsep mana yang akan dipilih: our main characters win, morally correct, the blindman wins, or else. Untungnya jika mau dianalisis, naskah memberikan konklusi yang ‘terbaik’. Tak ketinggalan detail-detail tersembunyi di gambar yang bisa membuat penonton saling berdiskusi tentang hal-hal yang tak dijelaskan secara gamblang, serta penggunaan alegori kumbang sebagai 'harapan'.

Sementara itu eksekusi Alvarez selaku sutradara pun berhasil menghidupkan DB secara maksimal. Ia menjelma menjadi sebuah non-stop hide-and-seek thriller yang begitu menegangkan, mulai ketiganya menginjakkan kaki ke rumah the blindman hingga konklusi, which mean sepanjang durasi film minus sekitar 15 menit introduction. Begitu ‘hidup’-nya nuansa mencekam yang dihadirkan, bahkan saya akan merasa ikut bertanggung jawab jika mengeluarkan suara sekecil apapun atau sekedar menghela nafas.

Sebagai sosok the blindman, Stephen Lang menjadi cast performance dengan kekuatan terbesar sepanjang film. Tanpa banyak berkata-kata (terhitung hanya punya dialog sebanyak 13 baris saja sepanjang film!), Lang berhasil menunjukkan kebengisan lewat ekspresi wajah, perilaku membabi buta dan brutal. Dengan bantuan contact lens yang mengaburkan penglihatannya bak tuna netra sungguhan, semakin memaksimalkan dan meyakinkan sebagai sosok tuna netra yang brutal. Jane Levy yang pernah kita lihat sebagai Mia di remake ED, sebagai Rocky, karakter cewek tough yang harus punya keseimbangan antara pribadi yang rapuh, punya ketakutan yang cukup besar, namun juga strong, brave, yet smart survivor. Jane Levy cukup berhasil melakoninya hingga penonton akhirnya bisa memberikan simpati terbesar pada karakter meski basically, morally wrong. Kemudian Dylan Minnette sebagai Alex yang diset sebagai karakter ‘malaikat’ dengan batas-batas moral yang tegas, tapi juga bisa luluh demi menyelamatkan orang yang disayangi, sebenarnya juga berhasil menarik simpati penonton. Sayangnya, porsi membuat karakternya tidak mengundang simpati sebesar kepada Rocky. Terakhir, Daniel Zovatto sebagai Money tetap saja menarik perhatian meski porsinya tak banyak.

DB didukung oleh teknis yang luar biasa sehingga menghasilkan eksekusi yang maksimal pula. Sinematografi Pedro Luque menyumbangkan pergerakan kamera yang mengeksplorasi rumah sang veteran dengan maksimal. Long shot yang efektif dengan pencahayaan yang begitu pas seolah-olah penonton menjadi bagian dari ketiga karakter utama. Begitu pula adegan di kegelapan basement yang sangat breath-taking. Didukung pula editing Eric L. Beason, Louise Ford, dan Gardner Gould yang menyusun gambar-gambar dengan presisi momen yang luar biasa pas. Menjadikan tiap detiknya berhasil menyusun ketegangan sampai klimaks-klimaks yang mencekam. Sedikit bloopers yang sebenarnya tak terlalu penting, tapi bisa jadi mengganggu bagi yang notice. As for me, it won’t be a problem at all. Ketegangan yang dihadirkan membuat saya mengabaikan bloopers detail ini.

Yang tak kalah penting adalah sound design yang gila-gilaan kerennya. Favorit saya ketika di basement dan adegan mesin cuci. Penggabungan sound effect yang mendukung nuansa mencekam dengan pemanfaatan fasilitas surround yang begitu maksimal. Ketepatan durasi (serta kejernihan suara) silent moment turut memompa adrenalin penonton, hingga suara tembakan yang sebenarnya sudah kita ketahui kemunculannya tetap saja membuat saya terhenyak dari bangku. Ini masih ditambah scoring Roque Baños yang gila-gilaan ‘menyiksa’ penonton. In short, DB benar-benar berhasil memanfaatkan semua teknisnya dalam menghadirkan experience audio-visual yang luar biasa mencekam. Bravo!

Lewat DB, Fede Alvarez seperti semakin membuktikan diri sebagai sutradara film horor berkelas dengan visi dan konsep kuat serta menarik di balik serba kesederhanaan cerita. DB bisa jadi salah satu masterpiece horror/thriller modern, tak hanya dengan formula-formula yang tergolong baru di tengah kebanyakan film di genrenya, tapi juga craftsmanship yang sangat mumpuni. Setelah film berakhir, saya langsung memutuskan untuk membeli BD-nya kelak. Sungguh sebuah audio-visual experience yang ingin saya alami lagi dan lagi.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates