Sunday, August 28, 2016

The Jose Flash Review
Alice Through the Looking Glass (2016)

Alice in Wonderland (AiW - 2010) menandai salah satu prestasi besar dari kegemaran Walt Disney Pictures mengangkat animasi-animasi klasiknya ke format live action. Bagaimana tidak, sebanyak US$ 1.025 milyar berhasil dibukukan dari peredaran di seluruh dunia. Maka pembuatan sekuel dan menjadikannya salah satu franchise paling berharga jelas sebuah opsi. Apalagi sumber aslinya, novel karya Lewis Carroll memang punya sekuel bertajuk Alice Through the Looking Glass (ATtLG). Selama ini sebenarnya novel sekuel ini sudah beberapa kali diangkat ke film, meski hanya berupa film TV (terakhir versi tahun 2008 dengan bintang Kate Beckinsale) maupun yang dijadikan satu dengan materi cerita dari novel pertamanya. Ada alasan mengapa Disney selama ini belum pernah mengangkat ATtLG ke dalam format animasi seperti prekuelnya yang menjadi sebuah karya klasik. ATtLG punya materi cerita yang jauh lebih gelap dan rumit untuk target audience utama anak-anak. Apalagi jika dicermati, Carroll menggunakan pendekatan semacam permainan catur untuk menyusun narasi ATtLG. Maka ketika dirasa dunia sudah siap dengan kisah gelap dan rumit, Walt Disney Pictures akhirnya berani mengangkatnya ke layar lebar untuk pertama kali. Itu pun dengan melakukan perombakan cerita besar-besaran sehingga hanya menyisakan beberapa elemen minor dari cerita aslinya serta, tentu saja, titel yang masih dipertahankan. Tim Burton tak lagi duduk sebagai sutradara dan mempercayakannya kepada James Bobin yang sebelumnya sukses mengangkat kembali The Muppets versi 2011 dan sekuelnya, Muppets Most Wanted (2014), dengan naskah yang masih disusun oleh Linda Woolverton. Sementara para cast utama kembali melanjutkan peran masing-masing yang sudah termasuk ikonik.

Tiga tahun terakhir setelah meninggalkan Underland, Alice Kingsleigh mengikuti jejak sang ayah menjadi kapten kapal menjelajahi dunia. Ketika kembali ke London, ia mendapati perusahaan pelayaran sang ayah jatuh ke tangan mantan tunangannya, Hamish Ascot, termasuk kapal peninggalan dari sang ayah sebagai ganti dari rumah keluarganya. Meski sama sekali tak menyetujuinya, Alice tak punya pilihan lain. Di saat gundah, ia menemukan sebuah cermin yang ditunjukkan oleh Absolem dan membawanya kembali ke Underland. Sekali lagi ia bertemu kawan-kawan lamanya, seperti White Queen, White Rabbit, Cheshire Cat, dan si kembar Tweedles.

Mereka menyambut kunjungan Alice dengan gundah juga. Penyebabnya adalah Mad Hatter yang beberapa hari belakangan mengurung diri di rumah. Benar, hanya Alice yang bisa disambut oleh Mad Hatter. Mad Hatter baru saja menemukan sesuatu yang membuatnya yakin bahwa seluruh keluarganya masih hidup. Karena kondisi Mad Hatter yang terus memburuk, Alice bertekad untuk mencari keluarga Mad Hatter. White Queen menunjukkan portal menuju Sang Waktu (Time) untuk meminjam semacam mesin waktu bernama Chronosphere yang bisa membawa Alice kembali ke momen dimana terakhir kali keluarga Mad Hatter diketahui. Petualangan Alice pun dimulai sekali lagi.

Membandingkan materi cerita dari novel dengan versi live-action, ATtLG versi 2016 jelas lebih mencoba untuk menyambung secara langsung kisah dari AiW. Bahkan ada konflik dari AiW, terutama tentang relasi antara White Queen dan Red Queen yang diangkat dan diselesaikan di installment ini. Dengan setup cerita yang masih serupa AiW, ATtLG ternyata menyuguhkan kisah petualangan yang lebih terasa ketimbang sebelumnya. Tentu ini juga merupakan kesempatan untuk membawa penonton menjelajahi lebih jauh universe ajaib nan penuh warna yang sudah dipamerkan di installment sebelumnya. For that purpose, ATtLG bagi saya jauh lebih impressive sebagai sebuah tontonan petualangan seru yang mengasyikkan. Ditambah value yang lebih banyak, tak hanya menyoroti emansipasi wanita di tengah budaya patriarki, pun juga berhasil menyatu dengan konsep besar cerita, terutama tentang waktu dan makna sebuah kata ‘maaf’, konsep yang ditawarkan ATtLG tergolong pengembangan yang bagus dan solid. Secara keseluruhan, konsep ATtLG terasa kaya value, solid, seimbang, dan tak ada yang terasa tumpang tindih.

Speaking of Burton’s legacy, adegan-adegan serta elemen-elemen ATtLG mungkin tidak se-signatural AiW, tapi bukan berarti buruk pula. Bobin masih menjalankan perannya sebagai sutradara sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, terutama dalam menggarap kisah petualangan yang tetap menarik untuk diikuti dan aman (serta mudah dipahami) untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga.
Most of the returning original cast masih memberikan kualitas performa yang tak jauh berbeda dari installment sebelumnya. Terutama Mia Wasikowska yang tetap memikat sebagai Alice Kingsleigh yang tangguh dan lovable. Anne Hathaway sebagai Mirana alias White Queen punya momen yang heartbreaking di klimaks. Helena Bonham Carter sebagai Red Queen alias Iracebeth kali ini juga diberi kedalaman lebih yang memberikannya kesempatan menarik simpati penonton. Begitu pula Johnny Depp sebagai Mad Hatter yang turut kebagian emotional part yang cukup menyentuh. Sacha Baron Cohen sebagai karakter baru, Time (Sang Waktu), seperti biasa berhasil mencuri perhatian lewat performa eksentriknya. Tak ada aktor yang lebih tepat memerankan karakter Time selain Cohen. Terakhir, tak boleh ketinggalan voice performance terakhir mendiang Alan Rickman sebagai Absolem yang kali ini sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.

Seperti halnya AiW, ATtLG masih memberikan visual spectacle yang luar biasa, terutama dari desain produksi universe yang begitu memanjakan mata. Penyutradaraan Bobin ditambah sinematografi Stuart Dryburgh yang secara efektif mengeksplorasi desain produksinya bersinergi dengan plot adventure menjadi menarik serta seru untuk diikuti. Experience di layar IMAX jelas menjadi opsi terbaik untuk memaksimalkan segala visual spectacle-nya. Apalagi aspect ratio 1.85:1 yang memaksimalkan fasilitas layar IMAX. Efek 3D-nya menurut saya tergolong biasa-biasa saja. Depth of field yang cukup dan tak banyak gimmick pop-out yang ‘mencolok’. Experience 3D mungkin berbeda dengan versi Large Picture Format lainnya, seperti Sphere-X yang konon punya efek 3D yang lebih memanjakan. Editing Andrew Weisblum turut andil dalam menjaga pace serta porsi menjadi serba pas. Scoring Danny Elfman masih se-‘magis’ di AiW, membawa kembali feel adventurous yang serupa. Sayangnya ATtLG hanya punya Just Like Fire dari P!nk sebagai soundtrack. Tak se-‘meriah’ AiW yang sampai punya satu album khusus kumpulan lagu-lagu inspired by the movie yang dihiasi musisi-musisi bergengsi.


However flop-nya ATtLG (‘hanya’ berhasil mengumpulkan sekitar US$ 76 juta di Amerika Utara saja dan US$ 287 juta di seluruh dunia which is tak sampai sepertiga penghasilan AiW) dan review negatif dari media luar negeri sempat menurunkan minat saya untuk menonton. Nyatanya ketika menyaksikannya, I have to say I love ATtLG way more than AiW. Baik sebagai sajian petualangan seru yang sangat menghibur dan memanjakan panca indera, maupun konsep dengan values yang bersinergi dengan solid. Jika Anda suka dengan AiW dan tertarik akan tawaran ATtLG, I suggest to go for it. Abaikan review negatif dan penghasilan box office-nya. Siapa tahu Anda termasuk yang setuju dengan pendapat saya atas ATtLG.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates