Sunday, August 7, 2016

The Jose Flash Review
3 Srikandi

Film bertemakan sport terhitung masih jarang di perfilman nasional. Alasan utamanya adalah tak banyak cabang olahraga yang populer sehingga sulit pula untuk menarik minat penonton. So far hanya sepak bola yang paling sering diangkat ke layar nasional karena memang merupakan olahraga paling populer dengan sejuta umat di tanah air. Misalnya Tendangan dari Langit (2011), Hattrick (2012), Hari Ini Pasti Menang (2013), Garuda di Dadaku (2009) dan sekuelnya (2011), serta Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014). Di luar sepak bola, ada biografi legenda bulu tangkis, Liem Swie King lewat King (2009) dan Mari Lari (2014). Tahun 2016 ini Multivision Plus mencoba menghadirkan olahraga yang sebenarnya termasuk eksklusif tapi pernah menorehkan prestasi besar dalam sejarah Indonesia di Olimpiade; panahan. Membidik kiprah tiga pemanah wanita yang berhasil membawa pulang medali Olimpiade pertama bagi Indonesia, 3 Srikandi (3S) dirilis berdekatan dengan event Olimpiade 2016 yang mana sebuah keputusan yang sangat tepat, baik untuk mempromosikan filmnya maupun menggugah masyarakat untuk lebih peduli dan mendukung terhadap kiprah atlet-atletnya di ajang bergengsi tingkat dunia. Menyatukan aktor-aktris papan atas tanah air seperti Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, dan Tara Basro, bangku sutradara dipercayakan kepada Iman Brotoseno (debut layar lebarnya setelah selama ini lebih dikenal di penggarapan TVC) yang sekaligus menulis naskahnya bersama Swastika Nohara yang pernah menulis naskah untuk Hari Ini Pasti Menang dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku.

Tahun 1988, Indonesia berniat mengirimkan wakil-wakilnya di Olimpiade 24 di Seoul. Salah satu cabang olahraga yang menjadi perhatian adalah panahan putri. Di tengah kebingungan memilih pelatih yang layak, Udi berupaya membujuk mantan Robin Hood Indonesia yang dulu gagal berangkat ke Olimpiade Rusia karena urusan politik agar mau menjadi pelatih panahan putri Indonesia. Meski awalnya menolak karena masih sakit hati, Donald Pandiangan akhirnya setuju dengan syarat tidak ada intervensi dari organisasi atas metode yang ia gunakan. Akhir penyaringan menyisakan Nurfitriyana atau yang biasa dipanggil Yana dari Jakarta, Lilies dari Surabaya, dan Kusuma dari Ujung Pandang. Gemblengan keras dari Donald berbenturan dengan problema-problema pribadi serta keluarga masing-masing menjelang keberangkatan ke Seoul. Above all, kiprah ketiganya saat pertandingan lah yang menjadi penentuan atas apa yang telah mereka lalui dan upayakan selama ini.

Meski merupakan sebuah biopic, 3S lebih menggunakan formula-formula film keluarga (dan sport) a la Disney. Alih-alih menjadi tontonan yang berat dan serius, ia lebih memilih menjadi sajian tontonan hiburan yang menyenangkan. Ada momen-momen dramatis yang tak sampai berlebihan tapi lebih dari cukup untuk membuat penonton bersimpati, momen-momen romantis yang manis tanpa jatuh menjadi terasa cheesy, momen-momen keluarga yang hangat, persahabatan dan perjuangan yang seru, menggelitik, sekaligus menyenangkan, sampai momen puncak yang menegangkan. Kesemuanya ditampilkan dengan keseimbangan serta momentum yang serba pas, mengisi durasi yang sekitar dua jam tanpa begitu terasa. Pengalaman Iman di penggarapan TVC yang mewajibkan kemampuan visualisasi dan bercerita dengan lugas dan timing singkat tentu menjadi faktor utama bagaimana 3S bisa bercerita dengan lancar.

Kendati terasa ringan dan menyenangkan, naskah 3S terasa disusun dengan baik, efektif, serta detail di atas rata-rata. Termasuk yang menjadi perhatian utama saya (serta memikat saya) adalah detail latar belakang masing-masing atlet (dan bahkan Donald Pandiangan sendiri) yang bisa mewakili kondisi warna-warni sosiokultural keluarga di Indonesia pada umumnya, termasuk pola pikir masyarakat tentang profesi dan masa depan. Meski bersetting 1988, nyatanya masih sangat relevan sampai saat ini. Bukti bahwa pola pikir masyarakat kita basically belum banyak berkembang? Bisa jadi. Naskah juga melakukan permainan tricky-plot yang mampu membuat penonton penasaran sekaligus memberikan penjelasan yang memuaskan.

Tak perlu meragukan lagi performa Reza Rahadian yang mungkin sampai membuat penonton berujar ‘Reza lagi, Reza lagi’. Mau bagaimana lagi, Reza adalah pilihan dengan kharisma paling tepat untuk peran Donald Pandiangan. Tak hanya ekspresi dan gesture yang dengan sangat kuat menjelaskan watak karakter (favorit saya, trembling hand ketika emosi  setelah ditegur Udi), tapi juga sorot mata dan semua elemen yang memungkinkan mampu membuat penonton memahami karakter Donald. Dari deretan tiga Srikandi, Chelsea Islan sebagai Lilies menjadi highlight paling terang, terutama berkat gesture dan aksen khas Suroboyoan yang begitu kuat. Sesekali masih ada penggunaan bahasa dan aksen yang kelepasan, tapi overall Chelsea lah yang berhasil paling bersinar. Bunga Citra Lestari berada di porsi berikutnya dengan performa yang setara di film-filmnya yang lain. Terakhir, Tara Basro sebagai Kusuma yang tergolong paling pendiam dan kalem terasa punya porsi paling sedikit, tapi ia cukup memanfaatkan porsi yang ada dengan maksimal. Family moment yang manis dan menyentuh melibatkan karakternya. Tak perlu meragukan aksen khas Ujung Pandang (sekarang Makassar) yang dituturkan dengan luwes dan convincing oleh Tara karena ia sendiri memang berasal dari Makassar. Di deretan pemeran pendukung, ada Donny Damara, Mario Irwinsyah, Joshua Pandelaki, Ivanka Suwandi, Detri Warmanto, dan Indra Birowo yang cukup noticeable dalam membawakan peran masing-masing dengan porsi yang terbatas.

Teknis 3S terasa digarap dengan maksimal dan mumpuni pula. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful yang tak hanya mampu mem-framing adegan-adegan dengan efektif dalam bercerita, tapi juga pergerakan kamera yang dinamis terutama untuk adegan musikal Yana, Lilies, dan Kusuma, serta slow-motion dengan detail dan smooth movement luar biasa. Editing Sastha Sunu pun menjaga pace cerita menjadi serba pas. Desain produksi yang cantik, terutama terlihat pada desain kostum dan setting yang so 80’s. Ada kelepasan minor terkait setting waktu, seperti logo KAI dan billboard Smart TV di Korea Selatan, tapi bagi saya masih bisa dimaklumi kesulitannya yang tak sebanding dengan fungsi. Aghi Narottama seperti biasa menghadirkan scoring yang serba sesuai dengan kebutuhan adegan, terutama membawa nuansa grande di banyak kesempatan. Pengiring opening title-nya mungkin sedikit mengingatkan saya akan intro Crazy in Love dari Beyoncé, tetapi ternyata berbeda secara keseluruhan. Tak boleh ketinggalan juga kemunculan lagu-lagu 80-an seperti Ratu Sejagad­-nya Vina Panduwinata, Astaga dari Ruth Sahanaya, dan  Tentang Kita dari KLa Project yang tak hanya menyemarakkan suasana tapi juga berhasil membawa nostalgia bagi penonton yang relate. Terakhir, theme song Tundukkan Dunia yang dibawakan BCL terdengar begitu bersahaja bak sebuah hymne atau lagu nasional.

Secara keseluruhan, 3S merupakan biopic yang digarap dengan keseimbangan yang sangat baik dari hampir seluruh aspeknya. Mulai naskah, teknis, sampai elemen-elemen pendukung setting. All the right moves in the right proportion dalam menyampaikan kisahnya yang klise tetapi jadi tetap menarik untuk diikuti, dengan latar sosiokultural yang relevan sampai saat ini, fun factor yang seimbang, dan yang terpenting, semangat nasionalisme yang jauh dari kesan pretensius. Tak berlebihan sebenarnya jika saya menobatkan 3S sebagai salah satu film bertemakan olahraga sekaligus biopic Indonesia terbaik yang pernah dibuat sampai saat ini. Sayang untuk dilewatkan di layar lebar.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates