Friday, July 15, 2016

The Jose Flash Review
Sultan

Tak beda jauh dengan Indonesia, Hari Raya Idul Fitri (Eid) juga menjadi ajang perilisan film-film hi-profile dan blockbuster di ranah perfilman Hindi, terutama dengan formula masala (gabungan berbagai genre yang diracik menjadi satu: seringkali drama keluarga, romantis, dan action) yang menjadi signatural Bollywood. Sejak 2009 lewat Wanted, Salman Khan menjadi aktor favorit pengisi film-film Lebaran di India. Dilanjutkan Dabangg tahun 2010, Bodyguard 2011, Ek Tha Tiger 2012, Kick 2014, dan tahun 2015 lalu, Bajrangi Bhaijaan. Dari film ke film selalu mengalami peningkatan pendapatan. Tak heran jika Salman Khan menjadi ikon liburan Eid yang diincar major studio. Tahun ini Yash Raj yang merupakan salah satu studio terbesar di India, sekali lagi bekerja sama dengan Salman setelah Ek Tha Tiger. Mengangkat karakter pegulat India fiktif yang berjaya di Olimpiade, Yash Raj tampak menggarap serius Sultan dengan berbagai buzz yang menarik perhatian. Mulai ditunjuknya sutradara/penulis naskah Ali Abbas Zafar (sebelumnya bekerja sama dengan Yash Raj di Mere Brother Ki Dulhan dan Gunday), rumor bergabungnya berbagai aktor populer yang mengisi peran pelatih Sultan, seperti Sylvester Stallone dan Sanjay Dutt, sampai Farah Khan yang ditunjuk sebagai koreografer. Untuk peran yang dilakoni pun Salman dan Anushka Sharma menjalani pelatihan gulat yang tak main-main.

Liga pertunjukan MMA (Mixed Martial Arts) campuran milik Aakash Oberoi terus-menerus mengalami penurunan penonton yang ikut mempengaruhi minat investor. Atas saran sang ayah, ia mencoba menemui mantan pegulat India (satu-satunya) yang pernah menang di Olimpiade, Sultan Ali Khan di sebuah kota kecil bernama Haryana. Melihat kondisi fisik Sultan yang sekarang, Aakhash sempat ragu. Namun setelah melihat aksinya menarik traktor, Aakash bersikeras ingin Sultan ikut dalam liga ‘pertarungan bebas’-nya. Karena aiming-iming uang sebesar apapun tak mempan, Aakash menemui sahabat Sultan, Govind, yang akhirnya menceritakan masa lalu dan bagaimana Sultan bisa menjadi atlet gulat yang sampai berhasil meraih medali emas di Olimpiade. Semuanya melibatkan ambisi, seorang pegulat wanita bernama Aarfa Hussain yang kelak menjadi istrinya, sampai tragedi yang membuatnya membenci gulat.

Secara garis besar plotline, Sultan sangat setia pada pakem generik masala Bollywood. Dibuka dengan sebuah krisis yang membutuhkan karakter utama sebagai solusi, kemudian kembali ke flashback yang membuat sang karakter menolak untuk menjadi solusi krisis. Tentu saja flashback melibatkan pula kisah asmara klasik dan struggle dengan ambisi tinggi untuk mencapai tujuan, tapi akhirnya berakhir tragedi. Pasca overture/interval, barulah masuk ke struggle utama dengan setting masa kini yang memuat klimaks penebusan. Very formulaic, very generic in Bollywood term. Tapi jangan salah, dengan penggarapan serta penyutradaraan Zafar yang tepat, hikayat perjalanan panjang Sultan disampaikan dengan begitu menghibur lewat adegan-adegannya, mulai atraksi kecekatanan Sultan yang mengundang decak kagum sekaligus tawa, drama keluarga yang sangat menyentuh, musical performances yang memanjakan mata serta telinga, dan tentu saja adegan-adegan pertarungan mixed martial arts yang menegangkan sekaligus bikin penonton cemas akan keadaan Sultan. Durasi yang mencapai 170 menit berhasil membuat perjalanan hidup Sultan terasa begitu epic dengan berbagai ups and downs, padat namun mengalir dengan sangat lancar dan porsi yang serba pas, tak sedikit pun terasa membosankan.

Memerankan Sultan, Salman Khan dituntut tak hanya memainkan karakter utama secara kuat, tapi juga fisik yang prima dan koreografi yang tergolong rumit. Hasilnya, menurut saya ini adalah salah satu performance terbaik Salman sampai saat ini. Terutama sekali perkembangan karakter yang berhasil dimainkannya dengan perpindahan yang smooth dan natural. Mulai pria 30-an yang ceria, berubah menjadi highly ambitious atas nama cinta, arogan, hingga penyesalan yang luar biasa. Bak sebuah rangkaian track roller coaster yang berliku-liku, kadang signifikan, tapi semuanya terasa mengalir begitu saja. Chemistry yang dibangun dengan Anushka Sharma (ups and downs pula) pun terbangun dengan begitu convincing. Manis, heartbreaking, tapi we all obviously can feel the love aroung them both. Tentu ini juga tak lepas dari peran Anushka Sharma yang memainkan karakter Aarfa dengan tak kalah powerfulnya meski secara porsi masih sedikit di bawah karakter Sultan. Sementara Anant Sharma sebagai Govind, Amit Sadh sebagai Aakash Oberoi, dan Randeep Hooda sebagai Fateh Singh, pelatih Sultan, memberikan performa yang cukup memorable sesuai porsi masing-masing. Terakhir, tentu saja jajaran petarung asli yang jelas membuat adegan-adegan pertarungan makin seru dan mendebarkan.

Layaknya Bollywood’s masala kebanyakan, Sultan didukung teknis serba mumpuni untuk menghidupkan adegan-adegannya. Terutama sinematografi Artur Zurawski yang pergerakan kameranya selaras dengan pace film yang enerjik, mem-framing desain produksi Rajnish Hedao yang serba cantik, sekaligus membuat koreografi Farah Khan terkesan begitu nyata dan brutal. Dengan editing Rameshwar S. Bhagat yang juga membuat film terasa dinamis, tapi tetap berhasil mengeksploitasi emosi di momen-momen yang tepat. Score dari Julius Packiam masih tergolong generik di genre masala, tapi setidaknya cukup berhasil ‘mewarnai’ adegan-adegan menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Begitu pula lagu-lagu dari Vishal-Shekhar yang cukup catchy, terutama favorit saya, Baby Ko Bass Pasand Hai, Jag Ghoomeya, dan tentu saja main title yang terus bergema dalam ingatan jauh setelah film berakhir. Tak boleh diabaikan pula kredit untuk sound design terutama dalam menghidupkan arena MMA dengan maksimal.


Sebagai tontonan khas Lebaran, Sultan jelas menjadi paket masala yang highly entertaining, termasuk jika Anda merindukan film Hindi dengan musical performance yang semakin jarang akhir-akhir ini. Tak berlebihan dan diletakkan pada momen-momen yang pas sehingga tak mengganggu rollercoaster emosi film, sajian musical performance Sultan termasuk mengesankan. Tak heran jika sampai tulisan ini dibuat, Sultan sudah menduduki posisi ketiga penghasilan tertinggi di India sepanjang masa sekaligus mengejar posisi My Name is Khan untuk pasar luar negeri terbesar. Tentu ini juga semakin mengukuhkan Salman Khan sebagai ikon Raja Film Lebaran.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates